
"tumben main gitar, di teras rumah lagi" kata papa mengagetkan ku.
"lagi pengen aja pa." jawab ku.
"ada yang lagi seneng nih kayanya." tanya papa.
"biasa aja pa. oh ya papa sampai rumah jam berapa? Ardi pulang papa lagi tidur." kata ku mengalihkan pembicaraan.
"tadi sekitar jam tigaan kayanya." jawab papa.
"ooh.. Enak di Bima pa?" tanya ku.
"gerah. Apalagi musim kemarau gini. Untung papa lebih banyak di kantornya daripada di lapangan. Lumayan ngadem di AC. Hehehe... " jawan papa.
"oleh-olehnya mana?" tadah ku.
"kamu udah "segede" ini masih aja excited nanyain oleh-oleh." kata papa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"oleh-oleh itu hukumnya wajib." jawabku sekenanya.
"jadi mana oleh-olehnya pa?" sambung ku.
"itu di dapur" jawab papa cepat.
"batiknya?" tanyaku.
"ada di kamar. Tumben minta 2, kembar lagi. Mau couple-an sama siapa? Siska ya?" tanya papa.
"bukan" jawab ku.
"jadi?" tanya papa bingung.
"papa kepo banget sih" kata ku sambil ketawa, dan papa hanya bisa pasrah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"mama kamu jadi balik kesini?" tanya papa.
"jadi kayanya." jawabku.
"kapan?" tanya papa lagi.
"minggu depan kalau gak salah pa. Cuma kayanya 3 atau 4 hari lagi mama udah disini, kata mama sih sementara nginap di kosannya siska sampai pindahan." jelas ku. Papa mendengarkan ku sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda bahwa ia mengerti dengan ucapan ku.
"siska nanti balik tinggal dengan mama mu?" tanya papa.
"gak kayanya. Siska tetap ngekos." jawabku.
"loh kenapa?" tanya papa heran.
"katanya siska jauh ke kampusnya. Kalau dari kos nya ke kampusnya jalan kaki 5 menit juga nyampe." jawab ku, dan papa kembali mengangguk-anggukan kepalanya tanda bahwa ia mengerti.
"besok anterin papa kerumah kay ya di." kata papa.
"ngapain? Tumben?" tanyaku.
"ngasih oleh-oleh" jawab papa.
"tumben." kata ku.
"iya sekalian mau silaturahmi sama calon besan" ucap papa datar. Ucapan papa langsung bikin muka ku memerah karena malu.
Sesuai janji, sore ini aku nganterin papa kerumah kay, buat nganter oleh-oleh.
"assalamu'alaikum" ucap ku dari balik pagar
"waalaikumsalam." jawab seorang wanita dari dalam rumah.
"eeh ardi dan mas surya.. Mari silahkan masuk." ucap bundanya kay sembari membuka pintu pagar.
"ayo duduk, sebentar saya panggil ayahnya kay dulu." ucap bunda lalu masuk kedalam rumah. Gak lama kemudian ayahnya kay keluar dari dalam rumah.
"eh.. Surya.. Tumben.. Ada yang penting, sampai datang langsung, biasanya juga nelpon." kata ayahnya kay, gak lama bundanya kay juga keluar dengan memegang nampan yang berisi 4 gelas teh manis hangat diatasnya.
"iya nih mas habib, ada yang penting yang mau saya sampaikan ke mas habib sekeluarga." kata papa serius. Ku lihat ekspresi ayah dan bundanya kay, sama bingung dan penasarannya dengan ku.
"jadi gini mas.." ucap papa sepotong semakin membuat kami yang mendengarkannya semakin penasaran.
"maksud kedatangan kami kesini, saya mau melamar kay buat ardi." ucapan papa bikin aku terbatuk-batuk karena tersedak oleh teh yang baru aku seruput sedikit.
"apaan sih pa, bercandanya kelewatan. Duh ayah, bunda jangan dengerin papa, yang tadi cuma bercanda. Kita cuma ngantar oleh-oleh kok." kata ku gelagapan. Melihat ku yang gelagapan seperti ini, papa hanya tertawa senang.
"hahaha... Maaf.. Maaf mas habib, saya cuma bercanda kok. Saya cuma gak tahan buat godain ardi. Hahaha." jelas papa.
"oalah.. Kirain beneran. Kita kaget beneran loh sur. Ya kan bun?" kata ayahnya kay.
"iya, saya sampai kaget. Kirain beneran mau ngelamar kay. Hehehe." jawab bunda.
"hehehe.. Maaf.. Maaf.. Biar suasananya gak tegang." jawab papa.
"jadi gini mas habib, aku kemarin kan tugas ke bima. Nah sewaktu disana aku gak sengaja ketemu anto. Dia nitip ini buat mas habib sekeluarga." jelas papa sambil menyodorkan undangan ke ayahnya kay.
"anto siapa sur?" tanya ayahnya kay.
"antonius. Itu loh mas, junior kita di mapala. Ketua mapala setelah kamu mas." jelas papa.
"ooh ya ya ya. Undangan pernikahan ya?"
"iya mas, ini anak perempuannya yang nomor 2. Akadnya minggu depan di Bima, nah resepsinya bulan depan disini. Tadinya mau di kirim lewat pos, cuma karena kebetulan kami ketemu sekalian dititip ke aku. Buat teman-teman yang lain juga ada sama aku." jelas papa.
"oalah.. Jadi ngerepotin, pake dianterin segala. tapi kok resepsinya disini ya?" jawab ayahnya kay.
"gak kok mas, sekalian ini juga ada sedikit oleh-oleh dari bima. anak dan calon mantunya kan kerja dan udah lama jg tunggal disini mas" jelas papa sambil menyodorkan sekantung plastik berisi oleh-oleh.
"duh.. Ini namanya ngerepotin kuadrat, kita jadi enak kan hehee" jawab ayahnya kay.
"hahaha... Kita sekalian mau nganterin ke saudara yang lain kok mas." jawab papa.
"yaudah kalau gitu kita pamit dulu ya mas, kita mau kerumah tantenya ardi dulu, takut kesorean." jelas papa.
"diminum dulu tehnya." jawab bundanya kay. Setelah minum teh nya papa lalu pamit pulang.
"bun, titip buat kay ya. Tadi ardi udah bilang ke kay" kata ku sambil memyodorkan bungkusan yang ku ambil dari dalam tas lalu mlsegera ku susul papa ke mobil.
"ternyata mau couple-an dengan kay toh. Hehehe." ucap papa sesaat setelah aku menutup pintu mobil. Duh.. Muka ku udah kaya kepiting rebus di godain papa terus.
Setelah dari rumah kay, aku dan papa keliling kerumah saudara mengantar oleh-oleh, dan terkadang juga mampir kerumah temannya papa yang searah dengan tujuan kami untuk mengantar "titipan" undangan.