KAYANA

KAYANA
27



"kakak udah siap belum? Mereka sudah mau sampai." ucap qiana, aku mengangguk.


"yaudah qian tunggu di bawah ya kak." ucap qiana tanpa menunggu jawaban ku. Jantung ku berdegup kencang, bahkan aku tak segerogi ini ketika ta'aruf dengan mas rahman dulu.


Ku dengar suara mobil, mungkin itu mereka. Ku perhatikan diriku sekali lagi di cermin hanya untuk memberi dukungan pada diri ku sendiri, lalu aku turun kebawah.


"abiiiii.." teriak aisyah. Satu-satunya laki-laki yang di panggil abi cuma mas akbar, karena semua murid di TK memang memanggil mas akbar dengan sebutan abi dan semua guru (yang semuanya perempuan) di panggil ummi.


"mungkin mas akbar diundang oleh alif atau mungkin ia juga temannya "Mbesar" pikir ku. Aku hanya tak mau berharap lebih dengan mengharapkan mas akbar yang mengajakku ta'aruf.


Aku berjalan terus ke ruang tamu ku lihat mas akbar duduk diruang tamu dengan aisyah di pangkuannya, di kursi sebelahnya ada umminya dan tante dea. Sedangkan Aku duduk di sebelah bunda dan alif duduk di kursi tambahan diantara aku dan ayah. Ku lirik kearah pintu, mungkin si "Mbesar" masih belum masuk.


"nyari siapa kak?" tanya alif sambil mengulum senyum.


"orangnya mana dek?" tanya ku bingung karena sepertinya gak ada lagi orang di luar.


"lah itu orangnya yang lagi pangku aisyah." ucap alif sumringah. Aku terbelalak saking gak percayanya. Mereka semua yang mendengarnya hanya tersenyum penuh kemenangan.


"akbar artinya kan besar kak." ucap qian yang melewati ku sembari membawa nampan berisi minuman. Ya mana aku kepikiran kalau besar itu akbar atau akbar itu artinya besar.


"kita sengaja kak, karena setiap kita tanya kakak mau gak di jodohkan dengan mas akbar kakak selalu langsung minder, selalu merasa gak layak buat mas akbar karena statusnya kakak yang janda anak satu. Padahal mas akbarnya sendiri gak mempermasalahkannya, mas akbar malah jadi takut buat ngajak kakak ta'aruf, takut kakak jadi gak nyaman makanya qian kasih ide kaya gini." ucap qian. Aku gak tau harus bicara apa lagi, aku hanya bisa menangis dan bersyukur untuk segala nikmat yang Allah beri dalam hidup ku, termasuk saat ini.


"kita udah saling kenal, dan akbar juga sudah matap untuk menikah dengan nak kay, begitu pun dengan ummi, jadi apa nak kay setuju untuk melanjutkannya ke tahap selanjutnya yaitu pernikahan?" tanya umminya mas akbar.


"bismillah" aku mengangguk. "insyaAllah bersedia." ucap ku.


"Alhamdulillah" ucap mereka semua. Umminya mas akbar langsung memeluk dan mencium kedua pipi ku. Aisyah hanya melihat ku dengan tatapan bingung.


"jadi nak akbar kapan kita laksanakan pernikahannya?" tanya ayah.


"semakin cepat semakin baik pak." jawab mas akbar.


"kay ada syarat atau mau mahar apa gitu?" tanya tante dea.


"hmm.. Kay cuma gak mau ada resepsi, cukup keluarga dan teman dekat aja yang datang." ucap ku malu-malu.


"saya setuju." jawab akbar.


"untuk mahar, kamu mau apa, itu hak kamu?" tanya akbar.


"apapun yang terbaik yang bisa mas akbar berikan, saya terima dengan ikhlas dan senang hati." jawab ku. mas akbar tamoak tersenyum.


"mas akbar ada yang mau disampaikan?" tanya alif.


"saya hanya tinggal berdua dengan ummi saya, kamu keberatan setelah menikah kita tinggal bareng ummi?" tanya akbar lagi.


Aku menggeleng. "saya gak keberatan, tapi apa boleh saya sesekali menginap dirumah orang tua saya?" tanya ku.


"boleh, 4 hari dirumah ummi dan 3 hari dirumah orang tua kamu. Bagaimana?" tanya mas akbar lagi. Ku lihat bunda menangis, begitu pun dengan ayah walau tak sampai meneteskan air mata tapi terlihat jelas matanya sudah berkaca-kaca.


"setuju." jawab ku.


"ada lagi yang mau saling ditanya kan? Lebih baik ditanyakan sekarang biar gak ada miss comunication" ucap alif.


"jadi kira-kira kapan nih dilangsungkan pernikahannya, toh gak ada resepsi, hanya dihadiri keluarga dan teman dekat saja." tanya ayah.


"kita ngikut pihak perempuan aja." jawab umminya mas akbar.


"kalau malam ini ba'da isya, nak akbar siap?" tanya ayah, aku melirik ayah, ayah tersenyum.


"insyaAllah saya siap pak." jawab mas akbar mantap, aku terharu mendengarnya.


"kalau kamu kay? Siap tidak?" tanya ayah kini pada ku.


"insyaAllah kay siap yah." jawab ku.


"maharnya?" tanya alif.


"ada, kalung seberat 7gram. Kalau mbak kay menerimanya itu bisa dijadikan mahar." ucap akbar.


"wow.. Udah persiapan ya mas akbar?" tanya qiana.


"udah belajar dari pengalaman alif dulu dia mah." jawab mamanya alif. Akbar hanya tersenyum. Manis sekali.


"gimana kay?" tanya bunda. Aku mengangguk sebagai jawaban.


"kalau gitu sudah di putuskan akad nikahnya malam ini ba'da isya, maharnya kalung seberat 7gram." ucap ayah kali ini ia tak mampu lagi menahan air matanya, begitupun dengan bunda dan umminya mas akbar.


"tapi pengesahan pernikahan setelah nikah siri cukup ribet yah." ucap qiana.


"nanti kita urus surat nikah seperti biasa saja, lalu menikah ulang, toh gak melanggar syariat juga ya kan nak akbar?" tanya ayah.


"iya benar, tujuannya bisa untuk melengkapi pernikahan pertama yang berlangsung secara agama atau siri, dan juga untuk mendapat pengesahan secara hukum negara, agar anak-anak yang lahir nanti dapat di akui oleh negara dan dapat tercatat pada catatan sipil." jelas mas akbar. Kami hanya mengangguk tanda paham.


"kenapa gak nunggu surat-suratnya selesai aja yah?" tanya alif.


"awalnya ayah cuma bercanda sama seperti ke kamu dulu lif, ternyata mas dan kakak mu siap, jadi gak ada alasan ayah buat nunda sesuatu yang baik kan. Lagian syarat nikah sudah terpenuhi tinggal mencari saksi, kamu bisa jadi saksi mas mu, ayah nanti bisa minta pak ustad dan pak RT untuk jadi saksi untuk kakak mu." jawab ayah. Kadang aku suka gak habis pikir dengan candaan ayah, tapi sejauh ini candaan ayah belum pernah menyakiti hati siapa pun.


"kenapa harus takut? Kita gak salah malah kita harus berterima kasih sama mereka yang menggosipkan kita, berkat mereka pahala kita bertambah. Ya kan calon mantu?" tanya ayah lagi. Mas akbar nampak tersenyum malu karena ayah memanggilnya calon mantu.


"iya benar, calon mertua." jawab akbar dengan pedenya.


"wah ayah dapat imbang nih." ucap qiana mengubah suasana yang sebelumnya haru biru jadi lebih santai dan ceria.


Sedangkan dua bocah sholeha sudah gak kedenngaran suaranya dari tadi. Naura ntah sejak kapan tertidur di pangkuan omanya, sedangkan aisyah masih asik ngemil kue dipangkuan akbar.


"tapi saya ingin sampai surat-surat selesai kay dan akbar tinggal disini dulu bersama kami, bagaimana buk?"tanya ayah pada umminya mas akbar. Akbar melihat kearah umminya yang tampak berfikir, jika umminya tidak setuju maka ia juga tidak akan menyetujuinya.


"kalau boleh tau alasannya apa ya pak, kenapa harus menunggu surat-surat terlebih dahulu baru kay boleh tinggal bersama kami?" tanya ummi mas akbar.


"saya takut ada fitnah buk, walau mereka nanti sudah sah secara syariat islam tapi mereka belum sah secara hukum negara. Saya takut nanti mereka dianggap kumpul kebo karena gak bisa menunjukan buku nikah. Sedangkan kalau disini insyaAllah mereka akan terhindar dari fitnah, karena nanti saya juga akan mengundang RT, RW, dan beberapa warga disini untuk menyaksikan pernikahan mereka." jawaab ayah. Umminya mas akbar tampak tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"saya setuju." jawab umminya mas akbar. Mas akbar menatap umminya, mungkin ia khawatir kalau umminya tinggal seorang diri.


"ummi bisa tinggal dirumah tante dea buat sementara." ucap umminya mas akbar. Mas akbar mengangguk.


"kalau gitu kita pamit dulu ya besan, nanti ba'da magrib kita balik kesini lagi." ucap tante dea. Ayah dan bunda mengangguk. Sebelum mereka pulang, mamanya mas akbar kembali memeluk dan mencium kening ku agak lama.


"calon mantu ummi." ucap ummi mas akbar dengan tersenyum, membuat ku malu. Ahh begini ternyata rasanya punya mertua, eeh calon mertua hehehe.


"hhhwwwwaaa.... abiii..." teriak aisyah saat mas akbar beranjak untuk pulang.


"ais ikuut abiii... Hhhwwaaa." teriak aisyah lagi.


"aisyah mau ikut abi?" tanya mas akbar. Aisyah mengangguk.


"terus umma gimana?" tanya mas akbar lagi.


"umma ikut" ucap ais sambil melihat kearah kay. Mas akbar tersenyum.


"aisyah disini dulu ya sama umma, nanti abi datang lagi. Abi cuma pulang sebentar." ucap mas akbar pada aisyah..


"ikuut.. Hwaaa..." teriak aisyah lagi.


"siapa anak sholeha?" tanya mas akbar.


"saya.." jawab aisyah spontan, karena memang sering ia dengar saat di TK.


"anak sholeha harus nurut sama orang tuuu?" ucap mas akbar gantung.


"waaa.." jawab ais.


"pinter.." puji mas akbar.


"kalau aisyah ikut abi, kasian umma, gak ada temennya. Nanti umma jadi sedih deh. Terus nanti kalau dedek naura bangun terus nyariin aisyah gimana? Nanti dedek nauranya sedih, nyariin, kakak ais kakak ais." ucap mas akbar, aisyah tampak berhenti menangis walau masih sesekali sesenggukan.


"aisyah anak sholehanya abi kan?" tanya mas akbar pada aisyah. Aisyah mengangguk, walau bibirnya masih manyun.


"kalau gitu nurut ya, aisyah disini dulu sama umma, nanti abi datang lagi, nanti kita main lagi. Oke?" ucap mas akbar. Hati ku rasanya seperti ada yang menusuk melihat pemandangan barusan, tapi anehnya tak terasa sakit sama sekali. Mas akbar berjalan menghampiri ku dan memberikan aisyah pada ku. Mas akbar tersenyum, Aku tertunduk malu.


"ais.. Hikss... Anak sholeha.. Hikss umma.." ucap aisyah terbata-bata.


"pinternya anak sholeha umma." ucap ku sambil mencium pipi aisyah. Lalu akhirnya mas akbar dan keluarganya pamit pulang.


"ciieee... Yang awalnya hari ini untuk perkenalan berakhir jadi pernikahan." goda qiana. Aku jadi malu sendiri. Aku sendiri juga bingung, kenapa aku bisa seyakin dan semantap itu menjawab pertanyaan ayah tadi.


"ciiee calon manten. Ayoo kita maskeran, luluran dulu, biar kakak makin cantik nanti malam." ucap qiana, aku tau dia sebenarnya sedang menahan tangis dengan candaannya.


"iya, ayo dek." jawab ku.


Di dalam kamar, qiana sedang meracik lulur untuk ku yang kemudian ikut diacak-acak oleh aisyah dan naura.


Tok.. Tok...


"siapa?" tanya qiana.


"yanda bun." jawab alif.


"yanda jangan masuk, kak kay mau luluran." jawab qiana. Ya kami memang saat ini sedang dikamar qiana, karena kamar ku akan jadi kamar pengantin jadi jangan sampai kotor karena ulah dua bocah yang main dengan lulur.


"tolong ambilkan kunci mobil sama dompet yanda dong bun, yanda mau pesen makanan." ucap alif. Lalu qiana beranjak dari duduknya dan mencari apa yang di minta suaminya. Lalu memberikannya pada alif setelah ia menemukannya.


"maaf ya dek, jadi ngerepotin kalian." ucap ku sedikit merasa bersalah.


"santai kak, gak ada yang merasa di repotin


kok. Malah pada senang semua ini. Terutama dua bocah ini." ucap qiana sambil mnunjuk aisyah dan nurul yang juga sibuk mengoleskan lulur ke tangan dan kaki mereka, bahkan juga ke lantai.


"kakak gak ngasih tau kak bina sama kak fira?" tanya qiana.


"oiya. Untung kamu ingetin dek." jawab ku. Lalu aku mengabarkan pada mereka melalui video call. sesuai dugaan mereka kaget luar biasa. Bina katanya bakalan segera datang kerumah untuk bantu-bantu persiapan nanti malam, sedangkan fira mungkin baru bisa datang nanti malam karena sedang ada kerjaaan yang gak bjsa di tinggal. Dan aca.. Ahh ya.. Akhirnya aku bisa memaafkan aca, tapi ibarat kertas yang sudah digenggam erat takan kembali mulus seperti semula. Dan tahun lalu aca juga sudah menikah dengan pria yang di jodohkan oleh papanya, dan saat ini tinggal dengan suaminya di Bali. Sedangkan bina juga sebenarnya sedang mempersiapkan pernikahannya bulan depan, dan dia juga sudah resign dari kantornya yang lama dan mencoba beruntungannya di dunia bakery and pastry, ya bina memang senang membuat kue dari dulu.