
"Assalamualaikum wr wb. Nama saya Kayana Adera. Usia saya 22 tahun, saya seorang guru TK. Penjelasan mas Akbar tadi begitu runut dan mudah di cerna, membuka nalar saya dengan sendirinya. Disini saya hanya ingin menambahkan pertanyaan sebelumnya. Ini masih tentang kalimat penutup mas Akbar. Sebelumnya mas akbar menyatakan bahwa "lebih baik menyesal karena gagal menuju pernikahan, daripada menyesal setelah pernikahan. Pernyataan mas Akbar disini begitu gamblang dan mudah dicerna.
"Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan satu persatu, yang dalam artian saya akan menanyakan pertanyaan selanjutnya setelah saya mendapat jawaban yang menurut saya memuaskan dari pertanyaan sebelumnya. Sampai disini, apakah mas Akbar bersedia?" tanya ku.
"saya akan menjawab semampu saya, apakah ini cukup memuaskan untuk mbak Kayana?" jawabnya
"Itu sudah cukup bagi saya, baik saya mulai pertanyaan pertama saya. Menurut sudut pandang mas Akbar, apasih esensi pernikahan itu?" tanyaku.
"Menurut hemat saya, pernikahan merupakan satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang islami. Dan juga penghargaan islam terhadap ikatan pernikahan sangatlah tinggi. Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.
"Anas bin Malik r.a berkata, telah bersabda rasulullah saw: " barang siapa menikah, maka ia telah menggenapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa dalam memelihara yg separuhnya lagi."
"bagaimana dengan sangat jelas islam telah mengatur pernikahan bagi umatnya. Mulai dari memilih calon pasangannya, khitbah/melamar, akad nikah, sampai pada membentuk keluarga yang islami. Pernikahan mempunyai tujuan yang komperhensif. Mulai dari kepentingan masa sekarang sampai tujuan masa yang akan datang. Mulai dari tujuan yang sifatnya personal sampai tujuan pembentukan generasi yang unggul. Pernikahan adalah sebuah midzagon gholidzo, perjanjian yang agung manusia kepada manusia juga manusia kepada Allah.
"Jadi pada dasarnya esensi dari pernikahan adalah cinta yang mana dalam cinta tersebut bersemayam kekuatan besar berupa ketaqwaan kepada Allah. Apakah jawaban saya cukup memuaskan?" tanyanya.
"Alhamdulillah sampai disini dapat saya terima dengan cukup memuaskan. Baiklah saya akan lanjut kepertanyaan saya selanjutnya. Menurut mas Akbar, apa penyebab gagalnya sebuah rencana pernikahan, padahal pada awalnya kedua calon pasutri ini sudah sangat yakin untuk melangkah kepelaminan, sudah dikhitbah, dan dalam perjalanan menuju hari pernikahan ternyata ada saja hal-hal yang menggoyahkan langkah mereka hingga akhirnya mereka mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan yang sudah ada didepan mata." tanya ku lagi
"ya mungkin karena mereka tidak berjodoh, hehehe" candanya.
"jawaban mas Akbar terlalu klise, kalau itu saya juga tau" jawab ku sedikit dongkol.
"hehehe maaf-maaf. Biar suasananya tidak terlalu tegang." jawabnya sambil tersenyum, manis sekali. Astaghfirullah, sadar kay, sadar... lalu Akbar pun kembali melanjutkan jawabannya.
"Banyak hal yang dapat menjadi penyebab gagalnya rencana pernikahan. Bisa jadi sejak awal mereka telah salah langkah, salah satunya mereka menempuh jalur pacaran yang jelas-jelas dilarang Allah, setelah bertahun-bertahun lamanya akhirnya mereka memutuskan menikah, mereka merasa yakin bahwa mereka sudah mengenal dengan baik calon pasangan hidupnya hingga mereka tidak pernah melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang mereka ambil.
"Ketika waktu terus berjalan mendekati hari pernikahan, biasanya setiap pasangan dihadapkan tekanan-tekanan mental yang datangnya entah dari mana yang menyebabkan lonjakan emosi pada diri mereka, mereka menjadi lebih sensitif, lebih egois, masalah kecil menjadi besar, hingga tiba-tiba muncul keraguan dalam diri, muncul pertanyaan didalam diri seperti "kok sekarang dia seperti ini ya?", "seperti ini ternyata sifat aslinya", "aku tidak bisa nerima dia yang seperti ini" dan masih banyak lainnya..
"Ya bisa jadi juga karena godaan syetan. Toh syetan tidak pernah suka jika manusia ingin beribadah dan berbuat baik bukan? Yang terpenting semua harus kita kembalikan pada Allah. Jika terbersit keraguan dalam hati kembalikan kepada Allah, perbanyak sholat sunnah, jangan tinggal tahajudnya, minta petunjuk dengan istikhoroh. Kalaupun setelah istikhoroh mantap untuk mengakhiri rencana pernikahan, inshaAllah itu jawaban yang terbaik dari Allah. Dan mungkin Allah sedang mempersiapkan jodoh yang lebih baik untuk Anda."
"maaf, sebelumnya saya potong, waktu untuk sesi tanya jawab tinggal 10 menit lagi, saya tau masih banyak pertanyaan yang ingin pata audience tanyakan tapi karena mengingat waktu yang tinggal sedikit lagi, saya hanya memberikan 1 pertanyaan terakhir untuk mbak Kayana, kepada mbak Kayana saya persilahkan" potong moderator yang lagi-lagi sambil tersenyum melirik ku. Dasar Qiana, batin ku.
"Terima kasih sebelumnya kepada moderator yang telah mengingatkan. Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada mas Akbar, mungkin di lain kesempatan.
"Pertanyaan terakhir saya, jika mas Akbar dihadapkan kepada 2 pilihan yang sama-sama tidak mengenakan, pilihan mana yang akan mas Akbar ambil? Studi kasusnya seperti ini. Mas Akbar sudah mengkhitbah selama 4 bulan dan 2 bulan lagi menuju hari H, nah sejak 3 bulan terakhir mas Akbar mulai merasa ragu terhadap calon istri mas Akbar dan sejak 3 bulan lalu juga mas Akbar sudah istikhoroh memohon petunjuk dari Allah, namun selama 3 bulan ini juga rasa ragu itu semakin besar hingga berujung kekecewaan, suatu ketika mas Akbar sampai dikeputusan final, yaitu membatalkan rencana pernikahan, tapi mas Akbar dihadapkan pada dua keputusan sulit.
"Yg pertama, jika mas Akbar membatalkan rencana pernikahan, maka bukan hanya menyakiti hati orang tua sendiri tapi juga orang tua calon pasangan anda, dan juga mempermalukan nama baik kedua keluarga karena pasti akan menjadi bahan gosipan para tetangga. Bahkan kemungkinan terburuknya adalah rusaknya silaturahmi antara dua keluarga yang mana sudah berjalan baik hampir seumur hidup anda.
"Yg kedua, jika mas Akbar memutuskan untuk melanjutkan pernikahan, ternyata sesuai dengan prediksi mas Akbar, bahwa hubungan yang dijalani itu hanya akan menjadi hubungan yang saling menyakiti. Jadi pilihan mana yang akan mas Akbar ambil, dan mohon penjelasannya. Terimakasih." tanya ku.
"seperti yang saya katakan sebelumnya, lebih baik menyesal karena gagal menikah daripada menyesal setelah menikah. Jadi saya akan memilih yg pertama.
"alasannya??" tanya ku lagi.
"Alasan saya yang pertama, saya sudah tahajud dan istikhoroh berbulan-bulan namun hati masih dalam keraguan malah cenderung menjadi semakin berat untuk melangkah maju, bisa jadi itu jawab dari Allah atas doa-doa dalam setiap sholat saya.
"Yg kedua, mungkin pada awalnya berat untuk orang tua memahami keputusan yang kita ambil, tapi kebanyakan orang tua akan mendengarkan alasan anaknya terlebih dahulu baru bersedih memikirkan nama baik keluarga yang tercoreng karena gagal menikah dan menjadi bahan gosipan tetangga."
"Yang ketiga, orang tua pasti lebih memikirkan kebahagian anaknya daripada rasa malu yang timbul dari keputusan anaknya. Untuk kemungkinan putusnya silaturahmi karena gagalnya rencana pernikahan pasti ada, saya juga tidak tau harus memberi saran apa jika hal ini terjadi. Ya mungkin bisa kita awali dengan tidak membencinya secara berlebihan, sedikit demi sedikit memaafkan hal-hal yang telah menyakiti hati kita, mungkin kedepannya silaturahmi yang sempat rusak bisa kembali lagi.
"Mungkin sekian dari saya, karena moderator juga sudah sedari tadi mengingatkan waktu telah habis. Untuk pertanyaan yang tidak sempat ditanyakan kalian bisa langsung bertanya di official email saya, inshaAllah akan saya jawab satu per satu. Terima kasih dan assalamualaikum wr. Wb." katanya mengakhiri sesi kedua seminar hari ini.
Jawaban akbar sungguh menakjubkan, sekaligus membuat ku bimbang karena muncul kemungkinan-kemungkina baru yang akan terjadi dari setiap keputusan yang akan aku ambil. Mendadak kepalaku terasa penuh seperti mau pecah rasanya jadi aku memutuskan untuk pulang setelah selesai sholat berjamaah, toh sesi ketiga hanya tinggal penutupan dan sesi foto bersama. Lebih baik aku pulang dan merenungkan semua permasalahan ku dirumah, jangan sampai terus berlarut-larut karena waktu terus berjalan maju.