
*Author POV
"kamu sudah selesai packingnya?" ucapnya lembut namun tetap membuat kay sedikit terkejut.
"belum mas, ini tinggal oleh-oleh aja yang belum di packing." jawab kay.
"yaudah kamu istirahat aja dikamar, biar mas yang ngelanjutin packingnya." titahnya lembut.
"tapi ini masih jam 8 mas." ucap kay sedikit memelas.
"ayo ingat apa kata dokter." ucapnya.
"tapi masih belum ngantuk mas." jawab kay sambil manyun.
"masyaallah istrinya mas kok gemesin banget sih. Mas jadi makin sayang deh sama kamu. Hehehe." ucapnya sambil mencubit gemas sebelah pipi kay. Pipi kay langsung memerah dan sedikit salah tingkah mendengar gombalan dari suaminya itu. Padahal sudah lebih dari dua tahun dia menikah, tapi ia masih saja tersipu malu ketika dipuji atau di rayu oleh suaminya itu.
"Yaudah kalau gak mau istirahat dikamar, kamu istirahatnya di sofa aja, biar mas yang nerusin packingnya" ucapnya yang dijawab anggukan oleh kay. Bagi kay masih lebih baik ia istirahat di sofa dari pada sendirian dikamar.
"oiya mas, besok kita yang jemput om dan tante atau kita yang di jemput mereka atau langsung ketemu di bandara?" tanya kay sembari merebahkan dirinya di sofa.
"gak tau juga, coba deh kamu tanya anis."
Kay langsung mengambil hp yang sedari tadi ia letakkan di atas meja untuk menghubungi anis -sepupunya. Annisa atau biasa di sapa anis adalah anak dari om dan tantenya kay. Usianya saat ini baru menginjak 17 tahun namun status pendidikan ia saat ini adalah sebagai mahasiswi kedokteran semester 4 di salah satu universitas di Surabaya. Yaa.. Anis lulus SMA diusianya yg ke 15 tahun. Ah.. Anis memang jenius!
"kata anis langsung ketemu di bandara aja mas, soalnya mereka naik ojek online." jelas kay dan hanya mendapat anggukan dari suaminya itu.
Kay memerhatikan tumpukan oleh-oleh yang beberapa hari yang lalu ia beli bersama anis untuk nanti ia bagikan kepada sanak saudaranya di Jakarta, tak kurang dari 5 dus mie instan berisi oleh-oleh yang akan ia bawa pulang ke Jakarta, bahkan ada beberapa yang sudah ia pisahkan didalam kopernya khusus untuk ayah, bunda, qiana, dan beberapa sahabatnya.
a
"kayanya oleh-oleh kita kebanyakan deh mas, cukup gak ya bagasinya?" ucap kay lagi.
"gak apa-apa. Lagian sejak kamu ngelanjuti kuliah disini terus nikah kamu juga belum pernah pulang ke Jakarta, jadi gak apa-apa kalau oleh-oleh nya sedikit lebih banyak. InsyaAllah bagasinya masih cukup kok, kan bareng sama om dan tante juga." jawabnya sambil tersenyum. Melihat lesung pipi di kedua pipi suaminya itu selalu membuat hatinnya berdesir dan hangat, dia kembali jatuh cinta seperti saat awal ia menikah dulu.
Pikiran kay mendadak melayang kembali ke dua setengah tahun yang lalu, saat pertama kali ia mencium tangan suaminya setelah selesai akad nikah, saat itu juga ia merasakan desiran hangat di hatinya. Ia kembali jatuh cinta, jatuh cinta pada lelaki yang telah sah menjadi suaminya.
"kamu kenapa lihatin mas begitu sih? Mas jadi grogi nih diliatin kamu begitu hehehe" ucapnya membuyarkan lamunan kay.
"mas ganteng banget sih." ucap kay malu.
"makasih sayang. Kamu juga cantiiiiiiiik banget banget bangeet." ucapnya sambil berjalan mendekat kearah kay.
"inni uhibbuka fillah, suami ku." ucap kay.
"ahabbakaladzi ahbabtani lahu. Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya. Aamiin Allahumma aamiin.." ucapnya setelah mengecup lembut kening kay lalu memeluknya.
"semoga Allah selalu menjaga dan merahmati pernikahan kita. Menyatukan kita di dunia dan di jannah-Nya. Aamiin." lanjutnya.
"aamiin allahumma aamiin." ucap kay
"mas.." ucap kay
"hmm.."
"di kulkas bukannya masih ada kan?"
"udah habis tadi sore kay makan. Hehehe." jawab kay.
"yaudah mas beli ke minimarket depan dulu ya."
"ikuuuut." ucap kay manja.
"nanti kamu capek."
"gak mas, gak capek kok. pokoknya kay mau ikuut." ucap kay manja.
"iya sayang." jawabnya mengalah. Baru beberapa langkah mereka berjalan kay mendadak merubah keinginannya.
"mas kayanya gak jadi deh makan eskrimnya, kay maunya sate padang aja, tapi maunya yang di dekat kampus." ucap kay.
"yakin gak jadi nih beli eskrimnya?"
"iyaa yakin gak jadi." jawab kay mantap.
"yaudah mas keluarin mobil dulu." dan dijawab anggukan oleh kay. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di tempat tujuan, sate padang ini memang sudah menjadi favorit kay sejak awal ia kuliah dulu.
"saayaang, ayo bangun kita udah sampai." ucapnya lembut sambil mengelus pipi kay yang sekarang semakin chubby. Kay mengerjap-ngerjapkan matanya meneliti keadaan sekitarnya.
"loh kok kesini mas?" tanya kay.
"loh kan kata kamu kepengen sate padang yang didekat kampus." jawabnya
"bukan sate padang yang ini mas." jawab kay.
"jadi yang mana dong? Kan disini cuma ini yang jual sate padang sayang." jelasnya.
"bukan yang disini mas. Maksud kay sate padang yang didekat kampus mas ngajar." jawab kay mayun.
"astagfirullah, mas salah ya. Yaudah mas puter balik deh." Ucapnya sembari menepuk jidatnya, dia gak menyangka kampus ulia dimaksud adalah tempatnya mengajar, pasalnya ia pernah bercerita bahwa ini adalah sate padang favoritnya.
"pulang aja deh mas, ngantuk, mau tidur aja." jawab kay cemberut.
"jangan ngambek dong. Atau makan sate yang disini aja dulu. Kan favorit kamu juga." bujuknya.
"gak ngambek kok." ucap kay manyun.
"masyaallah, istri mas lagi manyun aja cantik banget, apalagi kalau senyum yaa bisa langsung diabetes ini mas, hehehe.."
"gombal!" ucap kay menahan senyum.
"coba mana-mana lihat senyumnya." ucapnya sambil mengelus lembut pipi kay. Kay yang gak bisa lagi menahan senyumnya hanya sumringah malu menanggapi perlakuan manis suaminya.
"yaudah deh, kita makan disini aja, tapi nanti sebelum pulang beli eskrim yaa mas." ucap kay.
"siap 86!!" ucapnya.