KAYANA

KAYANA
08



Aku yang mendapatkan beasiswa S2 di luar kota terpaksa harus menangguhkan janji ku pada ummi untuk mencari Kayana. Selama aku kuliah di luar kota, aku dan ummi hanya mampu mengucap nama kayana dalam setiap doa-doa kami. Siapa sangka Allah mengijabah doa-doa ku dan ummi selama ini. Pagi itu setelah briefing dengan para panitia untuk seminar pra menikah disalah satu kampus aku melihat kayana didepan mata kepala ku sendiri.


Senyumnya masih sama manisnya seperti dulu, tapi kini ia menjadi semakin cantik dengan hijab yang di kenakannya. Aku hanya mampu bertakbir dalam hati untuk rasa bahagia yang serta merta masuk dalam hati ku. Tak sabar rasanya aku untuk memberitahu ummi, bahwa kayana yang selama ini kami cari-cari sekarang ada didepan ku, tersenyum dengan manisnya.


"astaghfirullah.." ucap ku "lindungi aku dari zina mata dan hati ya Allah" ucapku dalam hati. Seminarnya pun di mulai, aku yang sebagai salah satu pembicara dalam seminar ini di beri tempat duduk khusus. Dari tempat duduk ku, terlihat jelas raut wajah kayana seperti orang yang sedang gelisah.


"apa dia sedang dalam masalah?" ucap ku dalam hati. Ahh.. Dia mengangkat tangan.


"assalamualaikum.. Nama saya Kayana Adera. Usia saya 22 tahun, saya seorang guru TK" ucap kayana


"ooh.. Dia sekarang jadi guru TK. Pekerjaan yang benar-benar cocok untuknya." ucap ku dalam hati.


"menurut mas akbar apa sih esensi dari pernikahan itu?" tanya kayana.


"dia bertanya tentang pernikahan, apa dia mau segera menikah?" tanya ku pada diri ku sendiri.


"menurut mas akbar, apa penyebab gagalnya rencana pernikahan?" tanya kayana lagi.


"apa dia sedang ada masalah selama menuju ke pernikahannya?" tanya ku lagi dalam hati.


Setelah acara selesai aku bermaksud untuk mencari kayana, tapi kemana pun aku cari tetap gak ketemu dengan kayana.


"apa dia udah pulang duluan ya.." tanya ku dalam hati.


"mas akbar sedang mencari sesuatu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pantia seminar.


"ahh iya saya tadi lagi nyari teman saya, tapi sepertinya dia udah pulang." jawab ku.


"ooh gitu. Yaudah kalau mas akbar perlu sesuatu jangan sungkan bilang ke saya atau panitia yang lain." ucapnya.


"ooh iya mas, terima kasih." jawab ku.


"duh hilang jejak lagi." ucap ku dalam hati. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi saat kayana ngobrol dengan bu Melinda di ruang panitia.


"bu melinda udah pulang mas dari tadi." jawabnya.


"kalau gitu saya boleh minta nomor telponnya bu melinda mba?" tanya ku.


"ooh sebentar saya tanya ke ketua panitia dulu ya mas." ucapnya. Tak lama ia kembali dan memberi ku sebuah kartu nama. Tertulis nama Hj. Melinda, PH.d beserta nomor telpon dan alamat rumahnya.


"alhamdulillah. Masih ada jalan." ucap ku dalam hati.


Di rumah setelah pulang sholat isya di mesjid dan maman malam bersama ummi, aku menceritakan pada ummi tentang pertemuan ku dengan kayana tadi.


"ayo telpon ibu melinda melinda itu bar. Terus tanya alamat rumah kayana. Ummi gak sabar mau ketemu dengan kayana. Ummi kangen." desak ummi.


"ini udah malam ummi, gak sopan. Besok aja akbar telponnya ya.." ucap ku pada ummi.


"hmm... Yaudah deh." jawab ummi.


"tapi kayanya dia udah punya calon suami deh mi." ucap ku.


"siapa? Kayana?" aku mengangguk.


"kan masih calon, masih bisa kamu tikung. Hehehe." ucap ummi sambil cengengesan.


"astaghfirullahal adziim.. Ummi." ucap ku.


"kamu patah hati yaa??" tanya ummi.


"apa sih mii, gak gitu" jawab ku bohong.


"bercanda bar. Lagian emang kenapa kalau udah punya calon suami. Ummi kan cuma kangen sama kayana." ucap ummi.


"iya deh iya.." jawab ku.