
Malamnya ba'da isya, aku, mas rahman, ayah, bunda, qiana dan alif pergi ke toko perlengkapan bayi untuk membeli kebutuhan untuk bayi ku nanti. Selepas membeli perlengkapan bayi, kami pergi untuk makan. Sudah lama rasanya gak makan malam sekeluarga diluar, terakhir itu saat qiana lulus SMA.
Bukan pelit, tapi bagi kami (aku, ayah, dan qiana) masakan bunda itu lebih enak dari masakan resto. Walau lelah, tapi aku senang bisa quality time dengan keluarga seperti ini, setidaknya bisa membuat ku melupkan sejenak ocehan aca siang tadi.
"sayang, lusa ada reunik di kampus mas dulu. Kita datang ya." ucap mas rahman.
"kay juga ikut?" tanya ku. Sejujurnya aku males ikut ke reunian dengan mas rahman, apalagi semakin hari aku merasa semakin gampang merasa lelah dan terkadang suka "moody" juga.
"iya. Kalau kamu gak ikut nanti mas digodain lagi" ucap mas rahman. Aku tau mas rahman cuma bercanda, tapi tetap aja kesel dengarnya apalagi karnanya aku jadi mengingat kembali semua ucapan aca tadi siang.
"awas aja kalo tergoda!" ancam ku ketus.
"makanya kamu ikut ya. Biar ada pawangnya, jadi gak ada yang berani godain mas. Hehehe" jawab mas rahman.
"acaranya jam berapa mas?" tanya ku
"acaranya dari jam 2 siang sampai jam 5 sore"
"nih undangannya." ucap mas rahman sambil menyodorkan undangan reuninya. ku ambil kartu undangan yang disodorkan mas rahman pada ku. Ternyata mas akbar ketua panitianya.
"Eeh. Nama akbar kan bukan cuma dia!" pikir ku dalam hati.
"yaudah, tapi begitu acara selesai kita langsung pulang ya mas. Jangan ngumpul-ngumpul lagi, PR banget dijalan pulang nanti pasti macet." ucap kay.
"siaap!!" jawab mas rahman.
***
"loh.. Kay!!" ucap fira.
"eeh.. Fira!" ucap kay kaget.
"lo kok disini?" tanya fira bingung.
"suami ku alumni kampus ini." jawab ku.
"kamu sendiri?" tanya ku gantian .
"gue nemenin mamanya aca. Papanya aca kan kajur disini, terus aca juga kerja disini. Mamanya aca takut gak ada yang nemenin, karena pasti aca sama papanya bakalan sibuk." jelas fira.
Sebenarnya aku masih kesal dengan aca, aku cuma bisa berharap semoga hari ini aku gak bertemu dengan aca tapi gak mungkin karena dimana ada fira pasti ada aca, di tambah lagi ternyata aca kerja di kampus ini. cepat atau lambat oasti bakalan ketemu dia. Dan bener aja, didalam aula ternyata udah ada aca disana. Dia tambah sedang bercakap-cakap dengan beberapa wanita disana, mungkin rekan kerjanya atau alumni kampus ini.
Acara pembukaan reuni berjalan lancar, mas rahman tampak asyik bercengkrama dengan dosen maupun teman-teman seangkatannya dulu.Teman-teman mas rahman juga ramah terhadap ku, sesekali mereka membicarakan kejadian-kejadian konyol yang mereka lakukan semasa kuliah dulu.
Udah lama aku gak melihat raut wajah sebahagia ini di wajah mas rahman. Senyuman di wajah mas rahman terus mengembang saat ia mengobrol dengan teman-teman atau dosen-dosennya dulu.Tapi ternyata bukan hanya aku yang menikmati hangatnya senyuman mas rahman. Ada sepasang mata yang tak berhenti menatap mas rahman sejak kami memasuki aula. Tatapan yang bikin aku merasa risih, dan bikin udara di sekeliling mendadak menjadi gerah. Ya tebakan kalian benar! Yang menatap mas rahman adalah aca!!
"ca aku mau ngomong!!" ketik ku pada kolom chat lalu megirimnya pada aca.
"ngomong apa sih? Gue sibuk!" balas aca.
"penting!!!"
"cih.. sibuk apa?? sibuk menatap suami orang?!" sungut ku dalam hati.
"Mau ngomong dimana?" balas aca. Terlihat oleh ku raut wajah aca yang berubah kesel.
"toilet." balas ku.
"jangan lama-lama!" balas aca. Tak lama ku lihat aca berdiri dari tempat duduknya lalu pergi keluar aula. Tak lama fira juga keluar menyusul aca.
"mas, kay ke toilet dulu ya." izin ku pada mas rahman.
"gak usah mas. Kay sendiri aja." jawab ku. Aku segera keluar aula, tujuan ku kamar mandi. Ada aca dan fira di depan kamar mandi, ternyata benar dugaan ku, fira mengejar aca sampai ke kamar mandi.
"mau ngomong apa? Cepetan! Gue sibuk" ucap aca ketus ketika aku di dekatnya.
"ca, aku minta tolong. Tolong jaga pandangan kamu." ucap ku.
"maksud lo apaan sih!! Langsung ke intinya aja, gue sibuk!" ketus aca.
"tolong jangan mandangin suami aku sampai segitunya. Suami ku bukan pajangan yang bisa kamu lihat terus menerus." ucap ku.
"lebay banget sih lo!! PD banget lo bilang gue ngeliatin suami lo terus." ucap aca sewot.
"jangan mangkir ca, meja kita berhadapan. Fira juga pasti lihat." ucap ku dan beralih menatap fira.
"gue.. Gue.." ucap fira gugup. Wajar sih kalau fira gugup, mungkin dia bingung harus membela siapa. Satu sisi sahabatnya dan satu sisi lagi sepupunya.
"mana hp kamu?" ucap ku tegas.
"buat apa!" tanya aca sedikit panik.
"buat nyari barang bukti." ucap ku.
"hp itu privasi, gak sopan banget sih lo!" ucap aca semakin panik.
"kalau gak ada yang salah, kamu gak bakalan panik ca."
"gue gak panik." beberapa orang yang melewati toilet mulai berhenti dan menonton karena penasaran, beberapa orang terlihat bisik-bisik sambil melihat kearah kami.
"siniin deh hp lo. Biar cepat kelar, gak malu lo dilihatin banyak orang gini." ucap fira sambil merebut hp aca dari tangan aca. Nampaknya fira juga cukup penasaran dengan barang bukti di hp aca.
"pola nya!" ucap fira memerintah. Setelah aca membuka kunci layar, fira menyerahkan hp nya aca pada ku. Aku langsung membuka galeri foto di hp nya aca, benar dugaan ku, banyak foto mas rahman di dalamnya. Bahkan mulai dari kami masuk ke aula, aca sudah ngambil foto mas rahman.
Aku menunjukan foto-foto tersebut pada fira dan aca. Fira nampak terkejut dan gak percaya dengan perbuatan sepupunya itu. Sedangkan aca merasa seperti ditelanjangi di tengah orang ramai.
"tadinya aku mau diam aja waktu kamu terus melihat suami ku, tadinya aku cuma menegur mu lewat chat, tapi kamu udah benar-benar keterlaluan ca." ucap ku sambil menangis.
"kemarin aku masih mentolerir kamu, mungkin karna kamu gak tau kalau itu suami aku makanya kamu bisa dengan entengnya ngomong seperti kemarin. Tapi kali ini aku gak bisa tolerir lagi, apa gak cukup kamu mandangin suami aku, padahal selalu ada aku di sebelahnya! Terus buat apa kamu ngambil foto-foto suami aku? Buat apa ca!" tanya ku sedikit berteriak. Aku udah berusaha sekuat tenaga untuk meredam emosi ku, tapi aku juga manusia biasa yang juga bisa lepas kontrol.
Semakin banyak orang yang berhenti dan menonton pertengkaran kami, sesekali ku lihat mereka sedang berbisik-bisik. aah.. aku udah gak peduli dengan pandangan orang lain lagi. langit pun terlihat sama mendungnya dengan hati ku, tak lama hujan turun dengan derasnya seakan langit pun ikut bersedih bersama ku.
"jawab ca, buat apa!!" ucap ku setengah membentak. Perut ku terasa sedikit keram.
"jawab ca!!!" ucap fira emosi.
"gue cuma iseng!! Kalo lo gak mau suami lo di lihatin perempuan lain, lo kurung aja suami lo!" ucap aca marah, tak ada sedikitpun rasa bersalah atau penyesalan di wajahnya.
"astaghfirullah.." ucap ku. Bukannya minta maaf tapi aca malah balik nyalahin aku. Kepala ku mendadak menjadi pusing, pandangan juga jadi berkunang-kunang.
"balikin hp gue!!" ucap aca sambil mencoba merebut hp nya dari tangan ku.
"nggak!! Sebelum aku hapus semua foto suami ku di hp kamu. Nggak akan ku kembalikan." ucap ku disisa-sisa tenaga yang aku punya. Aca kembali mencoba merebut hp nya dari tangan ku tapi di halangin oleh fira.
"iya bakal gue hapus! Sini balikin hp gue." ucap aca.
"ya biarin kay yang hapus. Sama aja kan!" ucap fira. Aca jadi emakin marah dan semakin gak terima ketika fira -sepupunya, yang seharusnya ngebelain dia tapi malah ikutan memojokan dirinya dan lebih memilih u tuuk membela kay. Aca dengan paksa menarik hp nya dari tangan ku, aku yang sudah merasa lemas sedari tadi jatuh tersungkur akibat hentakan tangan aca yang lumayan kuat.
"kay...!!" ucap fira panik.