KAYANA

KAYANA
11



Setelah deklarasi ku malam itu, Ardi masih sering mengusik ku, terus menelpon dan mengirimi ku chat setiap waktu. Terkadang dia nekat datang ke rumah tapi selalu diusir oleh ayah. Terakhir kata tetangga dia di seret ke kantor RT karena mengganggu ketentraman warga. Pasalnya dia teriak-teriak didepan pagar rumah seperti orang gila. Saat itu kami sekeluarga sedang pergi kerumah nenek, jadi kami tak tahu menahu tentang tingkah laku Ardi.


Pernah juga dia menyamperin aku ke TK tempat aku mengajar dan bikin keributan disana. Saat itu aku sedang ngobrol didepan ruang kelas ku dengan temen ku sesama guru di TK ini, tiba-tiba Ardi datang dan dia menarik paksa tangan ku di depan orang banyak dan mengancam akan berlaku kasar bagi siapa saja yang berani mencoba menolong ku.


Ahh.. Sungguh bodohnya diriku pernah mencintai laki-laki pshyco seperti dia. Tidak berapa lama untungnya ada seorang laki-laki yang berani mencoba untuk menolongku.


*Flashback on


"maaf akhi, jangan kasar sama perempuan!" katanya.


"jangan ikut campur!! Ini bukan urusan lo!! Ini urusan gue sama calon istri gue!!" bentaknya lalu kembali menarik tangan ku kasar. Aku meringis karena rasa sakit dipergelangan tangan ku.


"maaf akhi, sekali lagi jangan kasar, apalagi sama calon istri sendiri!!" hardiknya.


Teguran laki-laki itu mampu membuat Ardi melepaskan tangan ku, namun sejurus dengan itu Ardi malah menarik kerah baju laki-laki tersebut. Sontak aku langsung berusaha untuk menghalangi Ardi yang hendak memukul lelaki tersebut. Namun aku terlambat, karena tidak butuh waktu lama untuk Ardi memukul laki-laki itu. Melihat laki-laki itu jatuh tersungkur, aku langsung lari untuk melihat kondisi penyelamatku.


"akhi baik-baik saja? Maaf karna saya akhi jadi terlibat per.. Mas akbaaarr!" belum sempat ku selesaikan perkataan ku, aku di kejutkan dengan kenyataan bahwa laki-laki yang datang menolong ku adalah Akbar.


Tak ku pungkiri terbersit rasa senang didalam hatiku bisa bertemu kembali dengan Akbar. Ku lihat ada sedikit darah diujung bibirnya, dan itu sukses bikin aku panik dan semakin merasa bersalah. Segera ku buka tas ku dan mengambil tisu, namun belum sempat ku berikan tisu itu kepada akbar tanganku keburu di tarik oleh Ardi.


"AAUUU!! Lepas Di!!" teriak ku. Belum sempat Ardi menjawab perkataan ku terdengar suara yang sangat familiar bagi ku meneriakan nama Ardi.


"ARDI!!! Lepaskan tangan anak saya!! Sudah berulang kali saya peringatkan kamu untuk tidak mengganggu Kay lagi!! Ini yang terakhir!! Sekali lagi kamu seperti ini, saya seret kamu ke kantor polisi!!" teriak ayah. Sontak Ardi langsung melepaskan cengkramannya pada tangan ku.


"yah, Ardi hanya ingin minta maaf ke Kay. Siska..."


"tapi bukan berarti kami menerima kamu kembali!! Jangan pernah kamu ganggu Kay lagi!! sekali lagi saya peringatkan kamu, jangan pernah kamu ganggu Kay lagi!!" ucap ayah tegas


"Ayo Kay kita pulang." kata ayah.


"sebentar yah, temen Kay tadi dipukul Ardi sewaktu nyoba nolong kay. kay belum sempat berterimakasih yah" jelasku.


"yaudah tapi jangan lama-lama" jawab ayah. Ku lewati Ardi yang hanya berdiri lesu dan menundukkan kepalanya, lalu segera ku hampiri akbar dengan cepat.


"Mas Ajbar, terimakasih sudah mau menolong saya tadi" kata ku sambil menyerahkan tisu.


"darahnya di lap dulu" sambungku.


"ah iya terima kasih" jawabnya.


"maaf ya mas, mas Akbar jadi terlibat begini. Sekali lagi terima kasih sudah menolong saya. Dan maaf karena mencoba menolong saya.. Mas Akbar jadi terluka begini" kata ku sambil menunduk malu.


"ahh ini tidak apa-apa kok. Kalau gitu saya pamit duluan ya mbak. Terima kasih tisunya. Assalamualaikum" jawabnya.


"waalaikumsalam".. Jawab ku sambil menatap punggung Akbar makin menjauh dari ku.


*Flashback off