KAYANA

KAYANA
16



"ternyata kay bisa marah juga ya. Seumur-umur baru ini gue liat kay marah." ucap fira.


"jangankan lo, gue aja yg udah temenan sama kay dari jaman putih biru baru ini gue liat kay marah." balas bina.


"masa sih?" tanya fira gak percaya dan bina hanya mengangguk untuk jawabannya.


"lo kenapa ca? Tumben lo diam aja? Masih shock lo ya?" tanya bina. Aca hanya mengangguk.


"makanya punya mulut itu dijaga. Saring sebelum sharing." cibir fira.


"kaynya aja yang lebay. Gue mana tau kalau cowok yang gue ceritain itu suaminya kay." ucap aca membela diri.


"lah.. emang lo gak tau muka suaminya kay? Gue aja tadi langsung tau itu suaminya kay?" ucap bina, aca menggeleng.


" Kay kan pernah ngirim fotonya sama suaminya sewaktu mereka nikahan" sambung bina.


"gak gue download. Gak penting juga buat gue." jawab aca.


"lo fir? Masa lo gak tau cowok yang di maksud aca itu suami kay!" omel bina.


"lah si aca abis sholat kan main nyelonong keluar mesjid, gue ditinggal sendiri di mesjid. Gue juga baru taunya dirumah, ni anak cerita kalo ketemu cowok ganteng." jelas fira.


"minta maaf lo ca sama kay." ucap fira dan disetujui oleh bina.


"buat apa? Mau di taruh di mana muka gue!" bantah aca.


"didepan lah!! Emang muka lo bisa pindah kemana kalo lo minta maaf sama kay!!" ucap fira mulai sewot.


"emang gue salah apa coba? Gue kan gak tau cowok itu suaminya kay, kalau tau juga gue gak bakalan ngomong kaya tadi!!" ucap aca tak kalah sinisnya.


"omongan lo tuh salah semua! Gue yang dengernya aja panas ni kuping gue, padahal tu cowok juga gak ada hubungannya sama gue, apalagi kay!!" ucap fira ketus.


"kenapa sih lo berdua dari dulu sampai sekarang kay mulu yang di bela!!" ucap aca sedikit mengalihkan dari topik pembicaraan sebelumnya.


"lo kok jd out of topick gini." ucap fira.


"yang ada malah kita yang heran, lo kok segitu gak sukanya sama kay?" sambung fira. Aca cuma bisa diam. Benar kata sepupunya, dia memang gak suka sama kay.


"jangan bilang gara-gara ardi?!" ucap fira.


"apa hubungannya sama ardi? Jangan bilang lo dulu suka sama ardi ca?" tanya bina bingung.


"gak la. Ardi standart gitu!" ucap aca.


"jadi?" tanya bina masih dalam kebingungan yang sama dengan sebelumnya.


"jadi nih anak pernah nanya ke ardi kenapa bisa suka sama kay, niatnya baik cuma mau tau si ardi serius apa gak sama si kay, tapi omongan dia ini yang gak ada benernya. Pake ngatain kay, terus ngebandingin kay sama "dirinya sendiri" lagi." jelas fira.


"terus??" tanya fira.


"ya disemprot lah sama ardi. Lo tau sendiri sebucin apa dulu ardi sama kay." jawab fira.


"terus hubungannya sama si aca jadi gak suka kay apa?" tanya bina yang masih sama bingungnya dengan tadi.


"si ardi bilang gini ke aca. "lo seperseribunya kay juga gak ada, PD banget lo ngebandingin diri lo sama kay." nah ni anak merasa kalah saing sama si kay, padahal yang ngomong si ardi tapi dia malah keselnya sama kay. Belom lagi nih, mamanya dia pernah ngebandingin dia sama kay. kata mamanya dia itu harus bisa niru kay, udah cantik, lemah lembut, pinter, jago masak lagi. Makin-makin deh dia keselnya sama si kay." beber fira.


"bener sih kata ardi, jangan kan seperseribu, sepersejutanya kay juga lo gak ada ca." ucap bina sinis. Hati aca semakin panas, dia ngerasa sial hari ini. Tadi di semprot kay, sekarang di semprot sama fira dan bina. Belum lagi sehabis ini dia harus balik ke kampus karena ada rapat panitia untuk acara reuni akbar dikampusnya 2 hari lagi. Dan yang bikin aca semakin frustasi karena ketua panitianya adalah akbar, laki-laki yang paling di bencinya saat ini.


***


Kayana POV


"gak jadi belanja keperluan bayinya?" tanya mas rahman.


"gak mas, nanti malam atau besok aja. Beli di dekat rumah. Kay capek." ucap ku. Capek hati lebih tepatnya.


Saat aku dan mas rahman berjalan kearah parkiran, perut ku mendadak keram. Semakin aku jalan perut ku semakin keram. Rasanya seperti balon yang hampir mau meletus.


"mas..." panggil ku.


"hmm.." jawab mas rahman sambil menoleh kearah ku.


"perutnya sakit banget." ucap ku sambil meringis.


"kenapa sayang?." tanya mas rahman panik.


"keram mas." ucap kay.


"kita kerumah sakit ya.." ucap mas rahman, aku mengangguk tanda setuju.


Aku di bawa mas rahman kerumah sakit terdekat dari mall ini. Beruntung saat sampai dirumah sakit masih ada dokter obgyn, jadi aku bisa langsung di periksa oleh dokter obgyn.


"bayinya belum masuk panggul ya bu, posisinya juga masih melintang ini. Tapi air ketuban masih banyak dan jernih, jadi gak usah takut ya pak bu.." jelas dokter Rahmi -dokter obgyn yang memeriksa ku- setelah melihat layar USG.


"rencananya mau lahiran normal atau sesar bu?" tanya dokter rahmi pada ku.


"saya pinginnya sih normal dok." jawab ku.


"kita lihat semingguan ini ya bu, semoga bayinya cepat masuk panggul. Kalau bisa ibu lebih banyak nungging ya.." jelas dokter rahmi.


"kandungan istri saya gak apa-apa kan dok?" tanya mas rahman.


"selama gak ada perdarahan atau pecah ketuban gak apa-apa kok pak." jawab dokter rahmi.


"Tapi pola pikir ibunya juga harus lebih dijaga, jangan sampai stress ya bu." ucapnya beralih pada ku.


"banyak pikiran atau stres juga berpengaruh pada janin ya bu, juga bisa menyebabkan kontraksi seperti ini."


"eeh.. Iya dok." ucap ku.


"ini saya resepkan vitamin, diminum yang teratur ya bu." ucap dokter rahmi.


Setelah selesai menebus obat dan menyelesaikan administrasi aku diperbolehkan untuk pulang. Keram diperut juga sudah mulai mereda, tapi hati masih terasa panas sewaktu mengingat ucapan aca tadi.


"kamu kenapa?" tanya mas rahman.


"gak kenapa-kenapa kokbmas." jawab ku bohong.


"ayo cerita sama mas. Jangan disimpen sendiri, gak baik untuk kamu dan anak kita." ucap mas rahman sambil mengelus kepala ku. Tanpa sadar aku mulai menangis, untung kami sudah berada didalam mobil, kalau tidak pasti sangat memalukan menangis di tengah keramaian.


Akhirnya aku me ceritakan kejadian tadi antara aku dan aca. Mas rahman mendengarkan ku hingga aku selesai bercerita, ia hanya menatap ku dalam-dalam tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.


"apa yang kamu bilang ke aca udah benar kok sayang. Mungkin kalau mas yang disituasi seperti kamu, mungkin teman mas itu sudah habis mas pulukin. Hehehe." ucap mas rahman.


"gak usah kamu pikirin ucapan teman kamu. Mas gak ada niat buat poligami. Poligami itu berat, mas gak akan kuat. Gak tau deh kalo nanti...


"iihh... Mas..." ucap ku kesel. Padahal aku tau mas rahman hanya bercanda tapi tetap aja aku merasa kesel sama ucapan mas rahman.


"udah kamu jangan nangis lagi ya.. Ntar dedenya ikutan sedih loh." ucap mas rahman menenangkan.


Ku hapus air mata ku, aku bersyukur Allah memberikan ku jodoh seperti mas rahman. Tak hanya fisik tapi juga akhlaknya juga sama rupannya dengan fisiknya. Sesampainya dirumah, aku langsung bersih-bersih lalu rebahan dikamar. Rasanya hari ini begitu melelahkan. Terlalu menguras emosi jiwa.