
Author POV
Keluarga kay satu persatu mulai berdatangan, dan begitu sampai yang terdengar oleh telinga kay adalah omelan mereka karena diberi tahu dadakan. Tapi berakhir dengan memeluk dan mendoakan kay. mereka turut bahagia dengan pernikahan kay ini.
"semoga Allah selalu menjaga mu, aisyah dan pernikahan mu nanti. Tante/om/mbak/mas senang. Semoga kamu bahagia selalu." kurang lebih begitu lah yang mereka ucapkan pada kay.
Pernikahan dadakan yang persiapannya kurang dari 4 jam nyatanya memang sedikit merepotkan banyak orang. Tapi dengan cekatan bunda mengkordinir semuanya, dan semuanya mengerjakaan arahan bunda dengan rapih dan cekatan. Para lelaki memindahkan kursi dan meja ke teras rumah, lalu mengganti gorden pintu dan jendela.
Sedangkan para ibu-ibu sibuk didapur membersihkan peralatan makan. Sebagian juga ada yang membereskan dan merapikan kamar kay, bahkan ada yang berinisiatif membentuk 2 handuk menjadi bentuk angsa dan menaburkam kelopak mawar plastik di atas kasur. Handuk dan kelopak mawarnya ia beli ketika dalam perjalanan kerumah kay tadi.
Sedangkan para anak gadis, juga sibuk mendekor ruang tamu untuk dijadikan ruang akad nikah. Mereka bahkan ada yang sengaja membawa lampu tumbler untuk menjadi latar saat ijab kabul nanti.
Sedangkan ayahnya kay dan alif pergi kerumah RT dan RW untuk meminjam tenda dan kursi sekaligus mengundang mereka untuk hadir diacara pernikahan kay nanti. Tak lupa pula ayahnya kay juga mengundang tetangga disekitar rumahnya untuk ikut hadir. Dan terakhir ayahnya kay juga mengundang ayahnya ardi sekeluarga, karena bagaimana pun ayahnya kay dan ayahnya ardi sudah berteman sejak masa mereka kuliah dulu.
Sebenarnya kay ingin membantu, tapi dilarang oleh tante-tantenya. Kata mereka calon pengantin harus di pingit dan kay di suruh untuk istirahat agar nanti malam bisa lebih fresh. Sedangkan qiana di beri tugas untuk mengawasi 2 bocah yang semakin menjadi-jadi ulahnya karena banyak orang di rumahnya, dan berlarian kesana kemari karena hampir kursi dan meja sudah dibawa keluar hingga rumah jadi terasa lebih lapang dari biasanya.
Di lain sisi ada akbar yang sedang menangis di pangkuan umminya saat meminta restu. Ia bahkan masih gak percaya akan menikah dengan wanita yang ia cintai sejak bertahun-tahun lalu.
Ia gak menduga Allah menjawab doa-doa dirinya dan umminya sedari dulu. ia mengingat bagaimana perjuangannya dulu ketika berusaha mencari info tetang kay yang selalu berakhir dengan kegagalan, namun saat ia hampir menyerah ia malah dipertemukan tanpa sengaja dengan kay, gadis yang sudah ia cari-cari sejak dulu.
Bahkan ia sempat merasakan patah hati saat ia tau bahwa kay sudah punya tunangan dan akan segera menikah, namun begitu ia tau kalau kay batal menikah ia kembali bersemangat untuk segera melamar kay. namun ia kembali gagal mewujudkan niatannya tersebut karena kay pindah ke surabaya untuk melanjutkan kukiah S-2 nya.
Ia dan umminya kembali menaruh harapan untuk meminang kay ketika mereka menemai alif melamar qiana. Ia begitu yakin bahwa kay belum menikah karena dirinya tak melihat satu pun foto pernikahan kay yang terpajamg disana, bahkan ia sempat berhayal ketika ia dan kay telah menikah dan memiliki anak nantinya. Tapi Allah kembali meruntuhkan kesombongannya dengan menyajikan fakta bahwa kay sudah menikah dan suaminya adalah salah satu senior yang paling ia hormati semasa kuliah dulu.
Sejak saat itu ia mencoba untuk mengikhlaskan cintanya pada kay, dan memulai hidup baru. Tapi siapa yang menyangka, bahwa suaminya kay akan meninggal hingga akhirnya timbul kembali niat dalam dirinya untuk menikahi kay, bahkan umminya juga mendesaknya untuk segera meminang kay setelah selesai masa iddahnya.
Namun kay yang merasa rendah diri dan selalu merasa tidak layak untuk dirinya membuatnya mengurungkan niatnya untuk melamar kay, ia hanya tak ingin kay merasa terbebani jika ia melamar kay. Bahkan ia sampai beberapa kali berta'aruf dengan wanita lain, tapi belum pernah mendapatkan wanita yang cocok dengan dirinya.
Sampai akhirnya ia bertemu kay dalam mimpinya beberapa bulan lalu, dan rasa itu kembali hadir dalam hatinya. Setelah ia istikhoroh berbulan-bulan lamanya akhirnya ia mantap untuk melamar kay, apapun jawaban kay ia akan terima, setidaknya ia pernah mencoba. Dan siapa yang menyangka, hari ini yang seharusnya hanya untuk perkenalan saja malah menjadi hari pernikahannya.
"Allah sudah menjawab doa-doa ummi bar, bahkan ummi gak perlu nunggu lama, ummi langsung dapat cucu yang sholeha. Hari ini hari yang paling membahagiakan buat ummi. Semoga Allah meridhoi pernikahan kalian, cepat memberikan adik-adik yang sholeh dan sholeha buat aisyah." ucap ummi.
"aamiin allhumma aamiin." jawab akbar.
"Allah menjawab doa-doa kita di waktu yang tepat bukan di saat yang kita inginkan. benar kan mi?" ucap akbar. Umminya hanya mengangguk.
"kamu sudah beres-beres?" tanya umminya. Akbar mengangguk.
Setengah jam kemudian akbar dan umminya sudah bersiap untuk kerumah tante dea. Akbar mengambil tas umminya dan memasukannya kedalam mobil, karena untuk sementara umminya akan tinggal di rumah tante dea.
Benar saja, rumah tante dea sudah rame dengan saudara-saudara mereka. Tak sedikit dari mereka yang menyayangkan keputusan akbar untuk menikah dengan kay. Bagi mereka akbar layak mendapat yang lebih baik setidaknya akbar harus menikah dengan seorang gadis, bukan janda apalagi dengan janda anak satu. Tapi mereka yang sudah bertemu dan mengenal kay, mereka merasa bahagia dan mendukung keputusan akbar. Bagi mereka kay punya kualitas untuk bersanding dengan akbar.
"masih banyak gadis yang berkualitas, kenapa kamu pilih janda? Punya anak lagi. Cuma bikin repot ummi kamu aja." ucap om darto, ia adalah satu-satunya adik kandung almarhum ayahnya akbar. Walau saudara kandung, tapi sifatnya bertolak belakang dengan ayahnya akbar.
Om datro ini sangat suka menilai seseorang melalui materinya, suka merendakan orang lain juga, dan selalu membangga-banggakan anaknya yang kuliah di luar negeri. Tapi dimasa tuanya kini, tak ada satu anaknya pun yang mau merawatnya.
"lebih baik janda tapi sholeha dan bisa menjaga dirinya daripada mengaku gadis tapi harga diri diobral sana sini akhirnya nikah dini karena dihamili." sindir tante dea. Ya memang anak bungsu om darto, baru menikah beberapa bulan lalu. Usianya baru 19 tahun, belum genap kuliah 1 semester tapi harus berhenti kuliah dan terpaksa dinikahkan dengan pacarnya karena telah hamil 6 bulan.
"kamu nyindir?" tanya om darto dengan marah.
"iya. Emang faktanya begitu kan?" ucap tante dea tak kalah galaknya. Ia tak terima kakak ipar dari anaknya sekaligus calon istri keponakannya di rendahkan oleh orang lain, bahkan ia pernah berfikir seandainya ia punya satu lagi anak laki-laki maka akan ia jodohkan dengan kay.
"kamu!!" ucap om darto geram.
"cukup om. Tolong hormati keputusan akbar. Dia wanita pilihan akbar, dia wanita terhormat malah akbar yang merasa bersyukur karena dia mau menikah dengan akbar. Dan untuk yang lain, kayana akan jadi istri akbar dan anaknya juga akan menjadi anak akbar, mereka akan menjadi bagian dari keluarga kita. Akbar gak minta agar kalian semua bisa suka dengannya tapi tolong jangan menunjukan ketidaksukaan kalian dengan menghinanya, karena itu sama juga dengan menghina akbar, ummi dan jodoh Allah pilih untuk akbar.." ucap akbar tegas dan mampu membungkam mulut-mulut yang mencemooh dirinya dan calon istrinya sedari tadi.
"kalau ada yang keberatan dengan keputusan akbar, akbar gak memaksa untuk ikut. akbar menikah untuk ibadah, untuk mencari pahala, jadi akbar juga butuh doa restu setulus hati bukan karena paksaan." ucap akbar lagi, namun tak ada satu pun yang beranjak untuk pulang. Daripada menerima keputusan akbar, mereka lebih penasaran dengan wanita yang akan dinikahi oleh akbar, bahkan tante dea bisa sampai segitunya membela wanita tersebut.
Selepas sholat isya, mereka berangkat menuju rumah kay. Rumah kay juga sudah tampak rame dengan para saudara, sahabat dan tetangga mereka. Keluarga akbar disambut dengan ramah oleh orang tua dan saudara-saudaranya kay. Keluarga akbar tampak kaget karena calon istri akbar ternyata adalah kakak ipar dari alif. Mereka tentu tau bagaimana bibi bebet dan bobot dari keluarga istrinya alif.
"siapa yang menjadi saksi dari pihak kamu?" tanya ayahnya kay pada akbar.
"om darto pak. Dia satu-satunya adik almarhum ayah saya." ucap akbar. Om darto kaget, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Bahkan ia sempat merasa akan dikucilkan akbar karena insiden sebelum berangkat tadi. Tapi nyatanya akbar masih menghargainya sebagai om nya. Ayahnya kay menyambut om darto dengan hangat dan lalu mengajaknya mengobrol. Dalam waktu singkat, om darto dan ayahnya kay tampak telah akrab.
"sebaiknya kita mulai aja acaranya yah, takut nanti kemalaman, besok masih pada kerja yah." ucap alif.
"gimana? Calon mantu sudah siap?"
"bismillah. Saya siap." jawab akbar mantap.
"yaudah kamu kasih tau kakak mu, akad nikahnya mau kita mulai." ucapnya pada alif.
***