
3 bulan berlalu sejak kejadian di Bali, hubungan ku dengan siska kembali seperti dulu lagi. Siska kembali seperti siska yang aku kenal dulu. Aku juga kembali sering ke kosan siska sekedar untuk curhat ataupun main playstation. Semakin dekat menuju hari pernikahan, semakin sering juga aku dan kay bertengkar. Masalah yang bagi orang lain sepele tapi bagi ku bisa menjadi masalah besar. Aku sendiri juga heran kenapa aku bisa berubah begitu emosional.
Tling.. Tling..
Ada chat masuk dari ijal. Sebuah foto. "Ck.. Pasti spam gak penting lagi." gumam ku. Sejak aku bertunangan dengan kay, Ijal memang sering mengirim foto-foto aneh seperti gaya-gaya olahranjang pada ku. Dia gak tau aja kalau aku jauh berpengalaman daripada yang dia bayangkan.
Tling.. Tling.. Chat dari ijal lagi.
Ijal : udah lo liat belom gambar yang gue kirim?
Ardi: udah. (jawab ku bohong)
Ijal: mirip kay kan?
Chat terakhir ijal bikin ku penasaran. Ku unduh foto yang dikirim ijal. Ternyata foto seorang perempuan dan laki-laki yang sedang berangkulan mesra didepan sebuah meja resepsionis hotel. Ku lihat dengan lebih seksama, perempuan yang hanya memperlihatkan wajahnya dari samping itu ternyata begitu mirip dengan kay. Hati ku panas, emosi ku seakan meluap hingga ke ubun-ubun.
Ardi: GAK MIRIP SAMA SEKALI!!! Balas ku pada ijal.
Jari-jari tangan ku boleh berdusta pada ijal tapi hati dan fikiran ku terlalu singkron untuk mempercayai bahwa wanita dalam foto itu benar kay dan laki-laki itu adalah selingkuhannya. Ku ambil dengan kasar kunci motor dan plastik hitam berisi oleh-oleh yang memang udah aku siapkan diatas nakas untuk kay. Dengan tergesa-gesa ku berjalan ke garasi mengambil motor dan melajukannya secepat kilat ke rumah kay.
Sampai di rumah kay, tanpa salam atau basa-basi aku langsung menuduh, mencerca, bahkan sampai menampar kay. Aku sendiri juga keget sesaat setelah menampar kay. Tapi emosi ku kembali meluap saat mengingat foto kiriman ijal.
Untungnya orang tua kay pulang gak lama setelah aku menampar kay, kalau tidak mungkin bukan hanya kekerasan fisik yang didapat kay tapi juga pelecehan seksual karena saat itu aku berfikir bahwa akulah yang lebih berhak mencicipi tubuh kay dari pada pria lain, karena aku tunangannya kay.
Sesampainya di kosan siska ku rebahkan tubuh ku diatas kasur siska. Membenamkan bantal ke atas muka ku sendiri dengan maksud untuk meredakan emosi, siska yang sudah hapal betul dengan kebiasaan ku saat emosi mulai mendekat.
"ribut lagi sama kay??" tanya siska yang ku jawab dengan berdehem.
"kayanya orang lain yang mau nikah gak sesering kalian ributnya." tanpa menunggu jawaban ku siska melanjutkan.
"kay ngapain lagi? Kayanya lo belum deh pernah sefrustasi ini". ucap siska.
Aku membenarkan ucapan siska, walaupun sering ribut sama kay tapi aku gak pernah semarah dan sefrustasi ini. Akhirnya aku menunjukkan dan menceritakan perihal foto yang dikirim ijal dan juga perlakuan ku terhadap kay.
"gila, gak nyangka gue kay kaya gitu. Tampangnya aja yang alim, gak taunya mainnya ke hotel juga. Munafik. Cewek murahan." ucap siska sinis.
Ucapan siska kembali menyulut emosi ku yang sudah mulai mereda sesaat yang lalu. Aku kembali mengumpat dan mengutuk kay dalam hati, tak ketinggalan aku juga merutuki diri ku sendiri karena selama ini telah dibodohi oleh tampang polos kay. Ku lihat siska mulai sibuk mengetik sesuatu dengan cepat dihandphone-nya.
"gue curhat, lo kok malah main henpon sih" ucap ku sedikit kesal.
"bentar, masalah kerjaan." jawab siska yang ku tahu itu bohong. Siska pasti nge-chat kay, karena udah jadi kebiasaan siska saat aku dan kay sedang ribut seperti ini siska selalu nge-chat kay buat ngabari kalau aku lagi di kosan siska dan tak jarang juga isi chat siska berisi makian atau kata-kata kasar yang sedikit mendintimidasi kay.
Biasanya aku selalu merampas hp dari tangan siska dan membaca isi chat yang dikirim siska untuk kay, kalau menurut ku terlalu kasar biasanya aku menyuruh siska untuk minta maaf ke kay. Tapi kali ini beda, aku gak mau tau apa pesan apa yang dikirim siska ke kay. Bagi ku semakin kay terindimidasi oleh isi chat tersebut malah semakin bagus, aku mau kay sama frustasinya dengan ku, aku mau kay ngerasain sakit yang sama dengan ku.