KAYANA

KAYANA
04



*Kayana POV


"saya terima nikahnya Qiana Adeera Putri maharnya seratus ribu rupiah tunai." ucap alif dengan lantang.


"bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.


"SAAAHHH!!" jawab semua orang yang hadir dalam acara akad nikah qian.


Tak bisa ku bendung lagi rasa haru ketika qian bersimpuh meminta restu di hadapan ku setelah ia selesai bersimpuh meminta restu pada ayah, bunda serta mertuanya. Adik dan juga sahabat terbaik yang Allah kirim untuk ku, yang selalu ada dalam masa-masa tersulit ku. Kini sudah sah menjadi istri orang.


"Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii Khairin"


"Semoga Allah memberkahimu dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan. Aamiin." doa ku pada qian lalu mencium kedua pipi dan puncak kepalanya.


"aamiin ya Allah. Makasih kak." ucap qian sembari memeluk ku.


Selepas akad nikah, acara di lanjutkan dengan resepsi. Kebetulan didekat rumah ada lapangan yang memang sering digunakan warga sekitar untuk berbagai kegiatan outdoor, salah satunya resepsi pernikahan. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumah kami.


Bagi qiana dan warga sekitar, resepsi qian dan alif termasuk dalam katagori sederhana. Apalagi qian hanya menyebar 300 undangan. Tapi kalau dibandingkan dengan pernikahan ku dulu, ini sudah termasuk mewah. Ahh.. Bukan aku iri, bukan sama sekali. Karena saat menikah dulu suami ku sudah menawariku untuk resepsi digedung tapi aku lebih memilih mengalokasikan dana resepsinya untuk membangun pondok tahfidz untuk anak-anak jalanan dan yatim.


Terpancar jelas raut bahagia diwajah qiana. Dia benar-benar terlihat seperti seorang ratu hari ini ia sama sekali gak bisa menahan senyum di wajahnya, manis sekali.


"kay.." ucap seseorang seraya menepuk pelan bahu ku. Betapa kagetnya aku melihat siska berdiri kikuk didepan ku. Ia menggendong seorang bayi perempuan, cantik mirip sekali dengannya, mungkin itu anak keduanya.


"siska." ucap ku kaget. ada rasa yang aneh yang gak bisa ku deskripsikan dengan kata-kata menyusup masuk ke hati ku ketika melihat siska berdiri didepan ku.


"apa kabar kay?" ucap siska dengan tersenyum ramah.


"alhamdulillah baik, kamu apa kabar sis? Ini anak kamu?" tanya ku.


"alhamdulillah aku juga baik. Iya ini anak aku sama ardi." jawab siska.


"anak kedua?" tanya ku lagi.


"seharusnya anak kedua. Tapi karna anak pertama ku meninggal tepat saat usianya seminggu, jadi sekarang dia jadi anak pertama kami, hehehe" jelas siska. Terlihat jelas ada raut kesedihan diwajahnya ketika membicarakan almarhum anaknya tapi ia memilih menutupinya dengan candaan.


"innalillahi, maaf sis aku gak tau, aku turut berduka." ucap ku.


"santai aja kay, kita juga udah ikhlasin kok. Alhamdulillah attaya sekarang sudah tenang, sudah gak merasakan sakit lagi." ucap siska dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"oiya kay, sebenarnya aku cuma mau nyampaikan pesan ardi buat kamu. Katanya dia benar-benar minta maaf buat semua perilaku dan kesalahannya sama kamu, dia berharap semoga masih ada kesempatan untuk kembali menjadi salah satu teman kamu seperti dulu." ucap siska sembari memegang satu tangan ku.


"aku udah maafin ardi dari dulu kok sis." ucap ku.


"makasih kay. Aku sama ardi sebenarnya sampai detik ini masih merasa bersalah banget sama kamu....


"eeh iyaa bu.. Saya kayana. Maaf ibu siapa ya??" tanya ku kaget sekaligus penasaran, karna aku sama sekali gak punya bayangan tentang wanita yang ada didepan ku saat ini.


"kay kalau gitu aku pamit dulu ya.. Mari buk.." ucap siska.


"eeh iyaa. Hati-hati di jalan ya sis." ucap ku.


"kamu ingat gak, dulu kamu pernah nolongin ibu-ibu korban tabrak lari terus kehilangan banyak darah, akhirnya kamu mendonorkan darah kamu karna kebetulan golongan darah kita sama A-, bukan hanya itu bahkan hampir setiap hari sepulang sekolah kamu juga menjenguk saya di rumahsakit sampai akhirnya saya keluar dari rumah sakit dan kita gak pernah ketemu lagi." jelas ibu itu.


Mendengar penjelasan dari ibu tersebut aku teringat kejadian kurang lebih 10 tahun yang lalu ketika aku masih duduk di kelas 2 SMA.


"Bu Maryam?" tanya ku hati-hati, takut salah menyebutkan nama orang.


"alhamdulillah kamu masih ingat sama saya." jawab bu maryam.


"masyaAllah, ibu apa kabar?" tanya ku girang.


"alhamdulillah baik." jawab nya.


"kamu sudah menikah?" tanya nya.


"alhamdulillah sudah bu, sekarang sedang hamil juga." jawab ku.


"sudah berapa bulan nak?" tanya bu maryam sambil mengelus lembut perut ku.


"alhamdulillah sudah 8 bulan lebih bu." jawab ku


"ooh sebentar lagi ya nak. Kapan HPL nya nak?" tanya bu maryam lagi.


"kurang lebih 3 minggu lg bu." jawab ku.


"semoga Allah melancarkan proses persalinan kamu ya nak." doanya, namun ntah kenapa ada raut sedih di wajahnya.


"aamiin ya Allah." jawab ku.


"ummi lagi ngobrol dengan siapa?" kata seorang pria dibelakang ku. Suaranya terdengar familiar, ku toleh wajah ku kebelakang mencari sumber suara dan ternyata..


"mas akbar!!" ucap ku kaget.


"bang hafiz!!" ucapnya kaget.


"akbar??" ucap bang rahman, suami ku.