KAYANA

KAYANA
20



"astaghfirullah al'adzim." ucap keluarga kay hampir berbarengan. Mereka kaget melihat rahman ikut terbujur di samping brankar kay. Bagaimana mereka gak kaget, yang mereka tau kay lah yang dalam keadaan gawat darurat karna perdarahan tapi begitu mereka tiba di rumah sakit yang mereka lihat keadaan rahman sama gawat daruratnya dengan kondisi kay.


"mas rahman kenapa mas?" tanya alif pada akbar.


"kecelakaan lif, tadi ada pohon tumbang yang menghalangi jalan, padahal rumah sakit ini udah dekat. Jadi bang hafiz jalan kerumah sakit buat manggil ambulans, bang hafiz balik ke mobil untuk liat keadaan mbak kay, setelah mbak kay dibawa oleh ambulans bang hafiz juga mau ikutan balik kerumah sakit, tapi sewaktu bang hafiz nyebrang jalan ada sepeda motor yang nabrak bang hafiz." jelas akbar.


"siapa yang nabrak mas?" tanya qiana.


"saya gak tau, yang nabra langsung kabur." jawab akbar. Mendengar cerita akbar, seperti ada yang menikam tepat dijantung bundanya kay, musibah menimpah anak dan mantunya disaat yang bersamaan. Bundanya kay terisak, pilu sekali. Anak dan menantunya berada di ambang hidup dan mati.


l


"maaf, apa keluarga bawa baju ganti untuk pasien?" tanya perawat.


"ada" jawab alif sambil memindahkan tas ransel dari punggungnya.


"kalau gitu pasien bisa tolong di gantiin bajunya, kasian pasiennya sudah basah kuyup." ucap perawat tadi sambil menunjuk rahman. Alif dengan cekatan mengeringkan dan mengganti pakaian rahman. Lalu alif juga memberikan pakaian ganti untuk akbar, dia juga sudah menduganya abang sepupunya itu pasti juga basah kuyup sama seperti abang iparnya.


"cukup satu atau dua orang aja ya pak buk yang menemani disini, yang lainnya bisa tunggu di luar." ucap dokter yang memeriksa tadi.


Akbar, fira, alif dan qiana, berjalan keluar igd. Diluar ruang igd qiana menanyakan pada akbar dan juga fira penyebab perdarahan kakaknya. Akbar menjawab tidak tau. Qiana menatap fira, akhirnya fira menceritakan pada qiana, alif serta akbar sebab musabab terjadinya musibah ini. Ia menceritakan tentang perdebatan aca dan kay di kafe hingga kenapa mereka bertiga (fira, aca, dan kay) bisa berkumpul di toilet hingga akhirnya kay jatuh dan perdarahan.


Qiana beneran gak menyangka, penyebab musibah ini adalah aca yang setau dia adalah salahsatu sahabat kakaknya. ia marah, kesal, benci, ingin rasanya ia maki bahkan mencekik aca tapi semarah apapun dia saat ini atau apapun yang ia lakukan ke aca tetap tidak dapat merubah keadaan, kakak dan abang iparnya gak akan langsung siuman atau sembuh.


"keluarga ibu kayana dan bapak abdullah?" tanya dokter.


"iya, kami orang tua mereka dok." jawab ayahnya kay. Dokter langsung menjelaskan kondisi kay dan juga rahman kepada orang tua kay.


"lakukan yang terbaik dok, kami ikuti keputusan dokter." jawab ayahnya kay.


"kalau begitu kami siapkan berkas-berkasnya dulu ya pak. Nanti tolong di tanda tangani agar ibu kayana bisa segera kita operasi." ucap dokter yang tadi memeriksa kay dan rahman.


"coba kamu cek ruang radiologi, kosong atau gak. Kalau kosong bapak abdullah bisa langsung di CT scan." ucap dokter tersebut pada seorang perawat yang sedari tadi berdiri disampingnya.


Butuh waktu beberapa jam untuk mempersiapkan operasi kay, sedangkan rahman sudah kembali dari ruang radiologi. Alhamdulillah luka yang di alami rahman tidak terlalu parah, hanya beberapa tulang yang retak dan geger otak ringan, tak perlu sampai operasi. kata dokter mungkin sebentar lagi ia akan sadar.


Operasi kay berjalan dengan lancar, ibu dan anak lahir dengan selamat. Bayi perempuan yang begitu cantik mirip sekali dengan kay saat bayi. Kondisi kay pasca melahirkan juga semakin membaik, saat ini kay sedang di ruang pemulihan mungkin sebentar lagi ia akan sadar.


Sudah beberapa jam berlalu tapi rahman masih belum sadar juga. Dokter dan perawat yang mereka tanya hanya menyuruh mereka untuk bersabar. mereka juga tidak bisa memberikan kepastian kapan rahman akan sadar.


"selamat ya mas, sekarang kamu sudah jadi ayah." ucap alif pada rahman.


"kata ayah sama bunda, dedek bayinya cantik, mirip dengan mbak kay sewaktu bayi. Ayo bangun dong mas, mbak kay dan dedek bayinya butuh kamu." timpal qiana, tak lama tangan rahman bergerak namun matanya masih terpejam. Beberapa alat medis yang terpasang di tubuh rahman mendadak berbunyi cepat sekali, perawat dan dokter dengan sigap memeriksa tubuh rahman.


"serangan jantung." ucap dokter pada salah satu perawat, akbar, alif, dan qiana hanya mampu melihat dan berdoa.


"pasien selamat, tapi saat ini ia dalam keadaan koma. Kita akan segera memindahkan pasien keruang ICU." jelas dokter. Jujur mereka bingung harus berekspresi seperti apa, kabar bahagia dan kabar duka datang bersamaan.


Kabar koma rahman sampai pada ayah dan bundanya kay. Bundanya kay yang menemani kay diruang pemulihan merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia menatap putrinya prihatin, sungguh berat ujian putrinya. Yang membuatnya lebih sedih, seperti dulu ia sama sekali gak bisa meringankan beban putrinya itu.


Tak lama kay mulai sadar, matanya mulai terbuka perlahan dan mulai meneliti keadaan sekitar. Ia mulai meringis, mungkin obat bius saat operasi mulai menghilang.


"bunda.." ucap kay lemah.


"ya sayang.. Selamat ya sayang kamu udah jadi seorang ibu sekarang. Anak kamu cantik, mirip banget dengan kamu." ucap bundanya kay sambil menciumi wajah kay. Iya bersyukur karna putrinya sudah siuman.


"iya sayang."


"kay mau lihat." pinta kay.


"nanti bunda minta perawat bawa kesini ya. Kamu istirahat dulu." jelas bunda, kay mengangguk.


"mas rahman dimana bun?" tanya kay.


"eeh.. Rahman... Ada.." jawab bundanya kay. Ia gak tau harus menjawab apa jadi hanya kata "ada" yang mampu ucapkan untuk menjawab pertanyaan kay. Ia tak tega jika harus memberitahu kay bahwa suaminya kecelakaan dan saat ini dalam keadaan koma.


"nggak kesini bun?" tanya kay.


"hmm.. Belum boleh kay." jawab bunda. Kay tampak bingung dengan jawaban bundanya itu.


"bunda mau ngabarin perawat dulu, biar kamu bisa secepatnya pindah keruang pasien." ucap bundanya kay dan secepatnya pergi menemui perawat, sebelum kay kembali bertanya tentang suaminya yang gak ada disisinya saat ini.


Sudah 3 hari kay dirawat pasca melahirkan di rumahsakit ini, tapi sekali pun ia belum melihat suaminya. Ia merasa ada sesuatu yang keluarganya sembunyikan dari dirinya. Perasaannya gak enak. Pasti terjadi sesuatu pada suaminya, karena gak mungkin suaminya membiarkannya sendiri dalam keadaan seperti ini.


"jujur sama kay, mas rahman dimana?!" tanya kay pada saat ayah, bunda dan adiknya berkumpul di kamar rawatnya.


"kay, udah 3 hari disini. Sekalipun kay belum lihat mas rahman!" tanya kay tegas.


"ayah..." ucap kay.


"bunda..." kay semakin memelas. Bundanya kay menangis, melihatnya kay menjadi semakin yakin terjadi sesuatu pada suaminya. Perasaannya semakin campur aduk.


"dek.. Tolong kasih tau kakak, ada apa. Tolong dek." ucap kay mulai gusar. Qiana memeluk kay erat, ia gak tega tapi kakaknya itu juga berhak tau tentang keadaan suaminya.


"mas rahman kecelakaan kak." beber qiana. Kay memejamkan matanya, ia sudah menduga pasti terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.


"dimana mas rahman sekarang?" tanya kay.


"ruang ICU" jawab qiana.


"ruang ICU??" tanya kau kaget, qiana mengangguk.


"separah apa kondisi mas rahman dek?" tanya kay, air matanya sudah di pelupuk matanya.


"mas rahman sekarang koma kak." ucap qiana hati-hati. Bagai tersambar petir, dunianya seakan runtuh. kay gak tau kalau keadaan suaminya begitu parah. Ia terisak, menumpahkan rasa sesak yang manelusup tiba-tiba. Anaknya juga menangis sama kencangnya dengannya, seolah ikut merasakan rasa sesak seperti dirinya.


"kakak mau lihat mas rahman dek. Hiks.. Hiks..." ucap kay pada qiana.


"belum boleh kak, nanti sebelum pulang..."


"kakak mau sekarang dek. Hiks... Kakak mau jagain mas rahman. Hiks..." desak kay pada qiana.


"istighfar kay! Istighfar! Bukan rahman yang paling butuh perhatian kamu saat ini!" ucap ayah kay dengan tegas.


"kamu itu sekarang sudah jadi orang tua. Kamu punya anak yang harus kamu jaga, kamu rawat!"


"aisyah juga butuh kamu! Aisyah yang paling butuh kamu! Kamu dunianya aisyah saat ini!" ucap ayah kay sembari memberikan aisyah (anak kay) untuk kay gendong. Kay menata putrinya, ia sempat lupa kalau ada malaikat kecil di hidupnya saat ini. Aisyah yang menangis sedari tadi, menjadi sedikit tenang dalam pelukan kay.


"maafin umma nak." bisik kay sembari meniup ubun-ubun anaknya. ia masih terus menangis sambil mendekap putrinya.