KAYANA

KAYANA
22



"assalamualaikum mas.. Hari ini kay dan aisyah udah boleh pulang. Ayo bangun kita pulang bareng." bisik kay, ia berusaha tegar. Ia tak mau menangis dihadapan suaminya. Katanya orang koma itu walau tidak bisa melihat atau berbicara tapi ia masih bisa mendengar an merasakan sekitarnya, karena itu kay berusaha setegar mungkin didepan suaminya.


"ingat gak, waktu kita check up kandungan beberapa bulan lalu, sepulang check up kamu bilang kalau hasil USG nya salah, anak kita perempuan bukan laki-laki seperti kata dokter. Tadinya kay gak percaya tapi ternyata kamu benar mas, anak kita perempuan. Namanya aisyah, seperti keinginan kamu.


"Kamu belum lihat aisyah kan mas? Tadinya mau kay bawa masuk tapi di larang sama perawat. Karna itu, ayo bangun mas, kita pulang bareng. Kay dan aisyah butuh kamu, kamu harus cepat sembuh ya mas." ucap kay sambil menggenggam erat tangan suaminya.


Hati kay sebenarnya hancur melihat keadaan suaminya seperti ini. Banyak selang yang menempel ditubuh dan jarum yang menusuk dibawah kulit suaminya, belum lagi alat bantu pernapasan yang menutupi sebagian bagian hidung dan hingga ke bawah mulut suaminya itu. Kay masih berusaha untuk setegar mungkin, ia menutupi rasa sakitnya dengan terus bercerita tentang aisyah -anak mereka. Hingga akhirnya dengan berat hati harus kembali meninggalkan suaminya seorang diri lagi di ruang ICU.


Sudah hampir 2 bulan rahman koma, kay hanya mampu seminggu sekali menjenguk suaminya di rumah sakit. Sebenarnya ia ingin dirinya saja yang menjaga suaminya 24 jam, tapi itu gak mungkin karena ada aisyah yang juga sangat membutuhkan dirinya. Aisyahlah penguat diri kay ketika dirinya merasa rapuh.


Selama dua bulan ini juga kay menutup diri dari orang-orang. Ia tidak ingin bertemu siapapun selain keluarganya. Ia gak mau orang lain mengasihani dirinya, ia gak mau mendengar ucapan yang sama dari setiap tamu yang datang. Baginya menceritakan kembali penyebab kecelakaan suaminya dan seperti apa keadaan suaminya saat ini hanya akan terus membuat hatinya sakit.


***


"ana uhibbuki fillah. Sayang." ucap rahman lalu mengecup kening kay lama sekali. hati kay terasa hangat.


"Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu. Aamiin.” ucap kay lalu memeluk rahman erat seperti dulu ia biasa memeluk suaminya. Mereka duduk di sofa kamar mereka, suasana kamar itu sama persis seperti sesaat sebelum mereka pergi ke Jakarta. Hanya saja kay merasa suaminya menjadi sedikit lebih romantis dari sebelumnya. tiba-tiba hening..


"mas mau pamit." ucap rahman memecah kesunyian.


"mau kemana?" tanya kay.


"mau pergi." jawab rahman.


"kemana?" tanya kay. Rahman tak menjawab, ia hanya menatap mana kay dalam-dalam lalu tersenyum. Ntah kenapa kay merasa sakit tepat di hatinya ketika melihat senyum suaminya itu.


"ikuut." ucap kay, ia mulai menangis. ia sendiri tidak tau mengapa ia menangis.


"kalau kamu ikut aisyah gimana?" ucap rahman.


"aisyah?" tanya kay. Rahman mengangguk. Kay terdiam tapi ia masih merasa pilu di hatinya. Aisyah menangis.


Kay mendekati anaknya yang sedang menangis di atas kasurnya. Kay mencoba menggendong aisyah dan sedikit menimangnya, aisyah tertidur. Kay meletakan aisyah kembali keatas kasurnya, belum lagi tangan kay beranjak dari tubuh aisyah, aisyah kembali menangis dan kay kembali menggendong aisyah seperti tadi. Seperti ada yang menyayat hati kay, ia merasa perih, seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya, ia mencari suaminya. Seingatnya suaminya tadi duduk di sofa, tapi kini suaminya tak ada lagi disana.


Kamarnya terasa hampa, hatinya terasa kosong. Semua mendadak terasa sunyi. Bahkan tangisan aisyah yang sebelumnya terdengar memekakan telinga, kini tak terdengar lagi padahal dengan jelas aisyah menangis didalam gendongannya. Kesunyian ini membuatnya semakin hampa dan pilu. Hatinya remuk, ia menangis tapi tak terdengar sama sekali suara isaknya. sepi.. sunyi.. Sakit sekali rasanya, tapi berteriakpun ia tak bisa.


Kay terbangun dari tidurnya. Bahkan ia mendapati tubuhnya sedikit gemetar dan menangis. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdegup kencang sekali. Ia melihat kesekitarnya, saat ini ia masih berada di rumah orang tuanya. Ia sadar tadi itu hanyalah sebuah mimpi, tapi mimpimya tadi terasa seperti sangat nyata. Bahkan rasa sakitnya ketika ia bangun juga sama seperti dalam mimpinya.


Ia melirik aisyah, anaknya masih tertidur lelap di sebelahnya. Ia menangis walau ia tak terlalu ingat apa yang ia mimpikan tadi, tapi rasanya hatinya sakit sekali. Ia melirik jam, pukul dua lebih sepuluh menit. Kay memilih untuk sholat tahajud, berharap hatinya bisa kembali tenang.


"ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Al Mu'iid, Al Muhyii, Al Mumiitu.. Hamba mohon sembuhkan lah suami hamba, angkatlah penyakitnya ya Allah, hamba dan anak hamba membutuhkannya." doa kay. Kay terus menangis dalam setiap lantunan doanya. Hatinya masih terasa perih.


Seusai sholat subuh, kay menceritakan mimpinya pada bundanya. Ia menangis, takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.


Bunda kay mencoba menenangkan. "mimpi cuma bunga tidur nak. Jangan terlalu kamu fikirkan. Kamu cuma terlalu khawatir, jadi terbawa kedalam mimpi."


"kay mau kerumah sakit bun." ucap kay.


"yaudah nanti bunda temani." jawab bunda kay.


Setelah sarapan dan selesai mempersiapkan segala perlengkapan si kecil, kay dan bundanya bersiap kerumah sakit. Sesampainya di rumah sakit kay langsung pergi menemui ayahnya di ruang tunggu khusus untuk pasien ICU sedangkan aisyah dan bundanya menunggu di ruang playground yang memang khusus rumah sakit siapkan untuk pengunjung anak, karena dirumah sakit ini anak-anak dilarang masuk kecuali untuk berobat atau imunisasi.


Kay menanyakan kabar suaminya pada ayahnya, apakah ada sesuatu terjadi tadi malam, ayahnya menjawab tidak ada karena jika terjadi sesuatu perawat pasti segera mengabarkan pada ayahnya. Kay mengucap syukur tapi hatinya masi merasa tidak enak, ia masih khawatir pada suaminya.


Kay masuk kedalam mengecek sendiri keadaan suaminya, ia bertanya pada perawat yang kebetulan berada didalam ruangan tersebut tentang kondisi suaminya. Perawat tersebut mengatakan bahwa kondisi rahman masih sama seperti sebelumnya, belum ada perkembangan berarti tapi tidak dalam keadaan kritis juga.


"kamu kapan bangunnya mas? Kamu gak kangen sama kay? Kamu gak kepingin lihat aisyah? Kamu gak kepingin gendong atau main dengan aisyah?" ucap kay. Ntah kenapa hari ini kay begitu takut, mimpinya tadi malam memberi dampak pada psikisnya.


"kamu harus sembuh! Aku gak mau tau, kamu harus sembuh! Aku dan aisyah butuh kamu!" ucap kay sesaat sebelum keluar ruangan ICU tersebut