KAYANA

KAYANA
02



Awalnya aku fikir ini hanya godaan menjelang pernikahan, -toh setan emang tidak akan senang jika manusia ingin beribadah- namun semakin hari sikapnya Ardi menjadi semakin posesif dan semakin emosional. Semakin hari hatiku semakin merasa berat untuk melangkah, aku jadi lebih sering sholat tahajud dan sholat istikhoroh, namun hati ku tetap merasa berat untuk melangkah bersamanya. Sampai suatu hari aku merasa seperti berhenti disatu titik tanpa tau harus bergerak kearah yang mana.


Sore itu dia datang seperti biasanya, tapi ada yang aneh dengan matanya, sorot mata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Hari itu matanya semerah saga dan setajam belati, mukanya merah menahan amarah. Itu membuat ku merasa takut, dan saat-saat yang paling kutakutkan pun tiba.


Mendengar suara motornya memasuki pekarangan rumah ku, aku langsung berlari keluar menyambut kedatangan calon suamiku. Saat melihat ku didepan pintu tanpa salam ataupun basa-basi Ardi langsung menarik lenganku dan menodongku dengan banyak pertanyaan.


"saat aku keluar kota kemarin kamu kemana aja?" tanyanya ketus.


"aku dirumah saja, tidak pergi kemana pun" jawabku.


"jangan bohong!" jawabnya semakin ketus.


"Lillahi ta'ala aku dirumah" jawab ku.


"aku bilang jangan bohong!!" bentaknya dengan satu pukulan mendarat dipipi ku, harga diriku roboh seketika. Dan semakin hancur saat aku tau penyebab kemarahannya.


"kamu lihat ini!! Ini foto kamu kan? Ijal yang ngirim foto ini ke aku tadi siang. Kamu jalan kan sama laki2 lain? Bukan cuma jalan kamu bahkan kehotel dengannya!!" Belum sempat aku membela diri, Ardi lanjut menudingku dengan kejamnya.


"Ngapain kamu kesana? Apa gajimu tidak cukup? atau ayah mu bangkrut sampai kamu jual diri?! Jawab!!" bentaknya.


Mendengar luapan emosinya, luruh semua tenaga ku, jangankan untuk marah, untuk berdiri pun aku sudah tidak sanggup. Calon suami yang aku kenal hampir seumur hidup ku, bukan hanya tidak percaya padaku tapi juga menudingku dengan sebuah foto yang hampir tidak jelas asal usul dan kepastiannya.


"lillahi ta'ala itu bukan aku!!" jawab ku lirih. Air mata yang sudah aku tahan sedari tadi kini tidak dapat ku bendung lagi, barengan dengan itu terlihat mobil ayah dan bunda ku yang pulang dari arisan dirumah adiknya bunda.


"hapus air matamu itu, aku tidak mau ayah bundamu berfikir aku menyiksamu, lebih baik kamu masuk dan cuci muka mu itu, sekalian bawa ini masuk!" perintahnya dan entah kenapa aku menurut saja dengan perintahnya.


"assalamualaikum, eh ada ardy toh. Uda lama nak? Kok duduknya diluar, kenapa tidak masuk saja?" sapa bunda.


"wa'alaikumsalam bunda, ayah. Ardi baru 10 menitan kok, ini cuma mau ngantar oleh-oleh aja dari papa buat ayah sama bunda. Lagian tidak enak bunda, kalo masuk kedalam rumah apalagi tidak ada ayah sama bunda, Ardi takut jadi bahan fitnah" jawabnya lembut seakan tidak ada kejadian apapun sebelumnya.


"tidak ngerepotin sama sekali kok bun." balas Ardi.


"oiya kay kemana?" tanya bunda.


"Kay lagi kekamar mandi bun, katanya kebelet sekalian bawa oleh-olehnya kedalam bunda." jelas Ardi


"Kalau begitu Ardi pamit dulu ya bun, mau anter oleh-oleh lagi buat tante sama temen-temen" karangnya.


"oh yauda kalo gitu hati-hati dijalan ya Di, sebentar bunda panggil Kay dulu."


"eh tidak usah dipanggil bun, mungkin kay masi dikamar mandi, katanya tadi sakit perut." cegahnya cepat.


"oh yaudah kalau gitu kamu hati-hati dijalan yaa Di, salam buat om dan tante kamu." kata ayah


"iya yah nanti ardi sampein sama om dan tante. ayah, bunda, Ardi pamit dulu ya. Asslamualaikum" pamitnya sambil mencium punggung tangan kedua orangtua ku.


"waalaikumsalam" jawab ayah dan bunda kompak lalu masuk kedalam rumah. Ayah langsung masuk kekamarnya buat mandi dan siap-siap mau kemesjid buat sholat magrib berjamaah di mesjid.


"kay, kamu masih dikamar mandi?" teriak bunda dari dapur.


"kakak dikamarnya bund, lagi nangis" bisik qiana. Lalu bunda langsung kekamar ku lalu duduk di sebelahku.


" kay, kamu pasti ribut lagi sama Ardi ya?" tanya bunda sambil membelai rambutku perlahan. Tanpa menunggu jawabanku bunda melanjutkan lagi nasihatnya.


"orang, kalo mau nikah emang gitu, sering berantem, emosi emang jadi lebih labil, dulu bunda sama ayah juga begitu, jadi tidak usah dimasukin kehati, entar juga kalianp baik sendiri. Yang penting kamu harus bisa mempelajari semua yang sudah terjadi dan memperbaiki yang perlu diperbaiki, jadi gak akan terjadi masalah yang sama untuk kedua kalinya, kita sebagai perempuan emang selalu dituntut untuk jadi air untuk menyejukan laki-laki yang terkadang seperti api. Ya udah ntar kalau udah tenang kamu bisa cerita kebunda. Sudah mau magrib jangan sampai ketiduran. Bunda mau mandi dulu ya, qiana temenin kakak kamu ya.. jangan sampai kakak kamu ketiduran." pesen bunda.


"siap bunda." jawabnya Qiana sambil memberi hormat, seperti anak buah yang menerima titah komandannya.