
"kenapa lo? Kusut bener muka lo?" tanya ijal.
"pusing gue." ucap gue sambil memijat kedua alis ku dengan ibu jari dan jari telunjuk ku.
"iya pusingnya kenapa?" tanya ijal.
"rencananya 2 minggu lagi gue tunangan sama kay"
"wiiihhh.. Akhirnyaaa... Selamat ya bro." potong ijal.
"itu dia yang bikin gue pusing." jawab ku.
"pusing kenapa lo? Kurang duit buat acara lo, nih nih nih pake aja, gue masih banyak, hehehe" ucap ijal sambil menyodorkan celengannya. Gue berdecak.
"bukan itu, mama gue jal. Tiba-tiba minta batalin rencana pernikahan gue sama kay."
"loh bukannya mama lo yang ngotot biar lo cepat-cepat nikahin kay ya?" Tanya ijal bingung.
"iya" jawab ku.
"lah terus kenapa tiba-tiba berubah?"
"gini jal...."
*Flashback On
"ardi, mama mau kamu batalkan rencana pernikahan kamu dan kay! Mama gak setuju kamu menikah dengan kay!!" ucap mama tanpa basa basi saat menemui ku di balkon belakang rumah papa.
"loh kenapa ma? Bukannya sebelumnya mama setuju ya?" tanya ku heran bercampur kaget.
"itu dulu, sekarang mama mau kamu ngebatalin rencana pernikahan kamu! Titik!" jawab mama.
"iya alasannya apa ma?" tanya ku semakin bingung.
"kalau kamu sayang sama mama, gak mau lihat mama kamu ini mati, kamu batalin rencana pernikahan kamu dengan kay!" ucap mama setengah berteriak.
"hubungannya apa sih ma sama rencana pernikahan ardi! Mama jangan aneh-aneh deh." jawab ku sedikit emosi.
"pokoknya kalau kamu mau mama mu ini berumur panjanh kamu turuti perkataan mama!! Mama mau...
"cukup marisa!! Jangan kamu paksakan ego mu sama ardi!! Yang mau menikah itu ardi bukan kamu!!" potong papa.
"kamu gak ngerti mas!!" ucap mama.
"justru karena aku ngerti makanya kamu aku suruh diam!!" jawab papa.
"ini ada apa sih?" tanya ku lagi, lalu mama menceritakan tentang pertemuan nya dengan orang tua kay, juga tentang permintaannya dan perdebatan mereka disana. Aku hanya bisa menghela napas dengan frustasi. Frustasi dengan cara berpikir mama.
"cukup marisa!! Cukup pernikahan kita yang gagal! Cukup kamu aja yang percaya, jangan kamu paksa semua orang harus sepaham dengan kamu!!" potong papa.
"tapi semua yang di bilang mbah nom (sesepuh keluarga mama) itu bener semua. Kalian mau aku mati seperti nenek mu di!!" ucap mama emosi.
"semua orang pasti bakalan mati, lagian ibu mu sudah sakit-sakitan dari sebelum kita nikah, dan dia meninggal setelah kita menikah hampir 12 tahun! Dan kamu masih percaya omongan mbah nom-mu itu?!" ucap papa tak kalah emosinya.
"bener kata papa ma, jangan paksa ardi buat percaya. Mbah nom siapa atau yang mana orangnya ardi juga gak tau. Lagian ardi gak percaya sama yang begituan, ardi cuma percaya sama Allah. Semua tanggal itu baik." jawab ku hati-hati.
"kamu jangan menyesal kalau nanti mama mu ini tiba-tiba meninggal!!" hardik mama.
"astagfirullahal adzim." ucap ku dan papa serempak.
"satu lagi, jangan harap dapat restu ku!!" ucap mama sebelum pulang kerumahnya.
Malamnya aku dan papa pergi kerumah kay untuk meminta maaf atas kelakuan mama tadi siang serta meluruskan kesalahpahaman ini, dan juga meminta agar segala proses menuju pernikahan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan diawal. Alhamdulillah keluarga kay setuju.
*Flashback Off
"gitu ceritanya jal" ucap ku.
"yaudah, lo sabar aja. Anggap aja ujian lo menuju pernikahan, apalagi yang mau lo nikahi itu bidadari kaya kay, gak mungkin ujiannya ringan, tuhan gak bakalan sebaik itu sama orang seberengsek lo, hehe." canda ijal.
"sialan lo" umpat ku.
"gue balik dulu ya, besok gue mau keluar kota" jawab ku sambil melangkah keluar.
Sepanjang perjalanan pulang aku mikir, perkataan ijal ada benanya juga, kay itu memang seperti bidadari sedangkan aku cuma manusia hina. Malam ini aku bertekad bahwa aku benar-benar harus berubah menjadi lebih baik lagi, harus menjadi laki-laki yang layak bersanding dengan kay.
***
Akhirnya hari pertunangan ku tiba dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Mama masih keukeh dengan pendiriannya agar pernikahan dilaksanakan sesuai dengan tanggal yang dipilih sesepuhnya, walau begitu mama tetap hadir ke acara pertunangan kami, walau dengan raut wajah yang lebih kecut dari mangga muda.
Siska sediri memilih gak hadir, yah sejak kami ribut beberapa waktu yang lalu hubungan kami memang menjadi semakin renggang. Jangankan bertemu, semua chat ku gak ada satupun yang di balas, telpon ku juga selalu di reject oleh siska. Sampai sekarang aku masih gak tau apa penyebab siska sebegitu marahnya pada ku, karena gak mungkin cuma karna aku gak bilang mau ngelamar kay dia bisa sampai semarah ini.
Hanya tinggal 7 bulan lagi aku bersanding di pelaminan dengan kay. Ntah kenapa aku semakin merasa bersalah dengan kay, semakin takut kalau kay bakal tau tentang semua kelakuan ku bersama teman-teman kantor ku, dan jadi semakin takut kalau kay bakalan ninggalin aku.
Ketakutan di tinggalin oleh kay, tekanan pekerjaan, serta sindirian dari teman-teman kantor karena udah gak pernah ikut nongkrong bareng mereka, hilangnya teman main dan teman curhat, bikin aku sedikit stress. Apalagi kay pernah bercerita kalau dia pernah dapat tawaran ta'aruf oleh ustadzah pengajiannya tepat seminggu setelah kami bertunangan. itu bikin aku secara gak sadar menjadi semakin posesif dan sedikit emosional.
Setiap kay telat membalas chat atau lama mengangkat telpon ntah kenapa ada rasa takut yang menjalar menjadi rasa curiga, takut kay mengetahui sisi gelap ku dan curiga jangan-jangan kay sedang dengan laki-laki lain seperti aku dulu yang suka main perempuan. Apalagi setiap kay izin untuk pergi dengan teman-temannya atau sekedar pergi pengajian selalu ada rasa was-was didalam hati ku. Selalu ada pikiran buruk kalau kay akan bertemu laki-laki lain dan akan meninggalkan ku.
Sebulan berlalu kini hanya tinggal 6 bulan lagi menuju pernikahan. Saat ini aku sedang ada project di bali, seperti biasa selalu ada party setelah pekerjaan kami selesai. Aku yang selama sebulan berhasil menghindar dari lingkaran setan teman satu tim ku malam ini luluh hanya karna perkataa mereka "terakhir sebelum lo nikah".
"tak apa lah buat yang terakhir kali, hitung-hitung buat ngilangin stress." pikir ku. Sebuah keputusan yang akhirnya membuat ku menyesal seumur hidup.