
Setelah kay selesai operasi, dan mendapat kabar tentang kondisi kay dan anaknya dalam keadaan sehat, fira mengucap syukur dan akhirnya bisa bernafas lega. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada kay dan juga bayinya, maka sepupunya bisa mendapat predikat "pembunuh" oleh netizen.
Namun tak lama setelah itu ia malah mendapat kabar bahwa suaminya kay saar sedang dalam keadaan koma. Betapa kagetnya fira, karena sependengaran dia tadi, dokter bilang bahwa luka-luka suaminya kay tidak parah dan akan segera sadar. Tapi bukannya sadar seperti kata dokter, tapi ia malah jatuh koma. Ia merasa kasihan dengan kay. Begitu berat cobaan di hidupnya.
Waktu sudah menunjukan jam 9 malam. Fira pamit pulang pada akbar dan keluarganya kay. Ia memeluk qiana lama, sebagai dukungan moral untuk qiana. Baginya qiana sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"kabarin mbak terus tentang kondisi kay ya dek." bisik fira, qiana mengangguk.
Sepanjang perjalanan pulang, fira terus memikirkan kejadian hari ini. Ia begitu marah dengan sepupunya. Kalau bukan karna sepupunya, kay dan suaminya gak akan seperti ini. Tapi semua sudah terjadi, mau madah seperti apapun gak akan berguna, gak akan merubah keadaan.
"astaghfirullahal adziim." ucap fira dalam hati.
Setibanya di rumah ia melihat sepupunya itu tengah duduk dengan om dan tantenya diruang keluarga. Ternyata papanya aca juga baru pulang dari acara reuni tadi dan sekarang sedang menunggu penjelasan aca tentang kejadian di toilet hari ini. Ia disebut-sebut sebagai pelakor oleh orang-orang yang hadir disana.
"papa dengar gosip gak enak tentang kamu tadi. jelaskan sama papa!" ucap papanya aca, belum sempat aca menjawab ia melihat fira diambang pintu.
"ra.. Gimana kay?" tanya aca. Fira melengos.
"kay dan bayinya selamat." ucap fira.
"ooh kay sudah melahirkan?" tanya mamany aca, fira mengangguk sebagai jawaban.
"ooh.. Bagus lah." ucap aca datar lalu kembali nonton tv. Sikap cuek aca membuat emosi yang sedari tadi fira tahan kembali meluap. Dia gak habis pikir dengan sepupunya itu, setelah apa yang dia lakukan ke kay, tak nampak sedikit pun rasa bersalah atau penyesalan di wajah aca.
"gila lo ya ca! Setelah apa yang lo lakuin ke kay lo masih bisa sesantai ini!!" maki fira.
"apaan sih lo!" ucap aca mulai risih. Ia tau kearah mana ucapan fira tapi saat ini ia benar-benar gak mau membahasnya. Ia belum siap.
"lo tuh yang apaan! Gak punya hati!"
"loh loh kok tiba-tiba jadi ribut gini sih" ucap mama aca, pasalnya baru kali ini ia melihat anak dan keponakannya ini ribut, karena setaunya mereka berdua bahkan lebih akur dari kakak adik kandung.
"kesambet di jalan lo ya, tiba-tiba marah-marah gak jelas!" ucap aca sedikit kesal.
"ini ada apa sih! Kenapa harus berantem sih, kan bisa di omongin baik-baik." lerai mamanya aca.
"capek tante ngomong baik-baik, gak ada satupun yang di dengar." jawab fira.
"iya masalahnya sebenarnya apa?" tanya mamanya aca.
"tante tau, kemarin si aca bilang ke kay kalau dia suka sama laki-laki tapi sayang udah beristri, tapi dia rela jadi yang kedua. Ternyata laki-laki itu suaminya kay tan." fira mulai bercerita.
"waktu itu gue kan gak tau tuh laki-laki suaminya kay! kalau gue tau gak mungkin gue bilang gitu. Lagian gue cuma bercanda doang!" bela aca.
"iya gue tau, waktu itu juga gue udah suruh lo buat minta maaf sama kay, gue suruh lo buat berenti, jangan nekad. Tapi apa!! Hari ini lo sengaja foto suami kay diam-diam! Buat apa haa?!" ucap fira semakin emosi, sementara orang tua aca masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"kalau waktu di toilet lo minta maaf sama kay, masalah bakalan selesai, kita gak bakalan jadi tontonan orang-orang, lo gak bakalan buat kay jatuh, kay gak bakalan perdarahan, suaminya kay gak bakalan kecelakaan, suaminya kay gak bakalan koma! Semua gara-gara ego lo ca! Sama gara-gara lo!!" ucap fira menumpahkan semua emosinya.
Orang tua aca kaget mendengar fakta tentang perbuatan anak sematawayang mereka, setau mereka aca itu anak yang cerdas, baik, dan gak neko-neko, walau sedikit manja dan keras kepala, tapi setau mereka aca itu anak yang kalem, gak mungkin berbuat seperti yang dikatakan fira.
"suaminya kay kecelakaan terus koma?!" tanya aca gak percaya. bukannya menjawab fira kembali menumpahkan emosinya pada aca.
"dari dulu gue tau lo gak suka sama kay, lo selalu iri ama kay, sekarang lo puas kan ca lihat kay jadi kaya gini!! Sumpah ya.. gue malu punya sepupu kayak lo!!" maki fira lalu berlalu ke kamarnya.
Aca yang masih syok dengan ucapan fira hanya bisa mematung di tempat duduknya. ia gak tau harus menanggapi ucapan fira seperti apa. Fira salah menganggap aca gak merasa bersalah karna bersikap santai dan cuek, nyatanya aca terus merutuki dan menyalahkan dirinya sendiri. Setelah fira memberi tau kondisi suaminya kay padanya tadi, rasa bersalah dalam diri aca menjadi berlipat-lipat ganda. Ia terus merutuki dirinya sendiri. Ia terus berandai-andai, agar ia bisa memutar waktu dan mengubah apa yang terjadi hari ini.
"mah.. Aca pembunuh mah.." ucap aca lirih, air matanya terus mengalir.
"gak.. Anak mama bukan pembunuh." ucap mama aca sembari memeluk aca, ia tau anaknya sedang terpuruk saat ini.
"kalau aca gak foto suaminya kay, kay gak mungkin ngajak aca ke toilet. Kalau aca gak narik tangan kay kuat-kuat kay gak bakalan jatuh terus pendarahan, kay gak perlu ke rumah sakit, suaminya kay gak bakalan kecelakaan, suaminya kay gak bakalan koma.. semua memang salahnya aca ma.. hiks.. hiks.. hiks.." isak aca semakin histeris. Dia benar-benar merasa bersalah.
"semua udah terjadi sayang, udah yah, jangan salahkan dirimu terus. Kita doakan semoga suaminya kay cepat sadar. nanti mama temani kamu buat minta maaf sama kay" ucap mama aca menenangkan. Sedangkan papanya aca gak bisa berkomentar apapun, ia hanya bisa memijit kepalanya yang terasa sedikit sakit dan penat, ia tak menyangka kalau gosip yang ia dengar tadi di kampus bukanlah hoax.