KAYANA

KAYANA
14



"dari pada ngebahas hal yang gak penting, mending bahas yang lain." ucap fira.


"bahas apa nih yang seru tapi no ghibah-ghibah." ucap bina tak mau kalah.


"bahas ini aja nih. lo kenapa nikahnya di Surabaya sih kay, mana gak pake resepsi lagi. Kita kan jadi pada gak bisa datang." ucap fira pura-pura ngambek dan mendapat persetujuan dari bina.


"alasannya karna waktu aku nikah, saat itu S-2 ku masih belum selesai, terus suami ku juga cuma dapat cuti 3 hari. Makanya kita putuskan untuk nikah di Surabaya aja." jelas kay.


"terus kenapa gak resepsi?" tanya aca.


"suami ku udah gak punya keluarga. sanak saudara yang ada pun jauh dan udah lama gak saling berhubungan. sedangkan Ibu, adik-adik, om tante dan sepupu-sepupunya meninggal akibat tsunami aceh beberapa tahun yang lalu. Beruntung suami ku sudah kuliah disini dan ayahnya saat itu sedang ada tugas dinas di Bandung. jadi mereka selamat dari bencana tsunami.


"Setelah lulus kuliah suami ku pindah ke Surabaya dengan ayahnya tapi 5 tahun yang lalu ayahnya meninggal. Aku cuma gak mau suami ku sedih, karna saat resepsi ia gak ditemani oleh satu pun keluarganya. Makanya aku lebih milih dana resepsi di alokasi kan untuk pembangunan rumah tahfidz buat anak-anak, terutama buat yang kurang mampu. yah hitung-hitung buat amal jariyah lah.." jelas kay. Bina dan fira salut dengan keputusan kay, tapi tidak dengan aca. Ia tak tertarik sama sekali dengan penjelasan kay, bahkan ia cenderung menganggap kay bodoh.


"lakik lo kerja apaan sih, sampe nikah aja cuma dapat jatah cuti 3 hari doang." tanya aca acuh tak acuh.


"suami ku dosen." ucap kay.


"ooh, sama kaya mas akbar ya." jawab aca.


"lo masih ngejar-ngejar akbar ca?" tanya fira.


"no way. Ilfeel gue sekarang liat dia. Dengar namanya aja gue mual." jawab aca.


"lo illfeel atau malu karna ditolak mentah-mentah sama akbar. Lo sih ganjen. Wkwkkk" ucap fira sambil tertawa. Aca sama sekali gak bisa menjawab apa-apa, karna ucapan sepupunya memang benar.


Selama 1 semester aca menjadi asdosnya akbar, selama itu pula aca gencar mendekati akbar. Bahkan ia gak malu merayu akbar terang-terangan di depan staff pengajar lain. Dan yang terparah ialah ketika ia pernah nekat memeluk akbar dan menyatakan cintanya pada akbar.


Flashback on


"aku suka sama mas akbar, bahkan dari sebelum kita saling kenal." ucap aca sambil memeluk akbar dari belakanh ketika akbar selesai evaluasi dengan asdos-asdosnya, saat itu akbar gak sadar kalau mereka hanya berdua diruangan khusus untuk para dosen itu, ya hari memang sudah sore dan sebagian besar dosen dan staff yang lain sudah pada pulang dan sisanya masih mengajar di kelas.


Akbar gak pernah menyangka bakalan mendapat perlakuan yang sehina ini dari seorang perempuan terlebih dari asdosnya sendiri. Ia berusaha sekuat dan secepat mungkin melepaskan diri dari pelukan aca. Ia merasa emosinya sudah sampai diubun-ubun, ia merasa terhina dengan perlakuan aca.


"saya gak nyangka wanita secerdas anda bisa melakukan hal serendah dan sehina ini! Saya fikir anda wanita baik-baik, tapi wanita baik-baik gak akan pernah melakukan hal menjijikan seperti ini!! Mulai sekarang kamu bukan asdos saya lagi!!" ucap akbar ketus lalu meninggalkan aca sndiri siruangan tersebut.


Wajah aca memerah mendengar ucapan akbar, ia merasa terhina dan direndahkan oleh akbar. Harga dirinya diinjak-injak oleh akbar. Baru kali ini dia dihina seperti ini, selama ini belum ada laki-laki yang tidak terpesona oleh kecantikan dan kepintarannya. Ia malu semalu-malunya dan ia marah semarah-marahnya pada akbar.


Keesokan harinya akbar dipanggil menghadap kepala jurusan yang tak lain adalah papanya aca. Ternyata aca mengadu pada papanya kalau dia dipecat secara sepihak oleh akbar.


"yang harusnya ditanya kredibilitasnya disini itu bapak sendiri. Bapak menggunakan kekuasaan yang bapak punya untuk kepentingan pribadi. Sekarang dengan kekuasan bapak juga, bapak memojokan saya. Padahal bapak sendiri tidak tahu apapun tentang kejadian kemarin." ucap akbar sengit.


Papanya aca terlihat tidak semang dengan ucapan akbar barusan. akbar sadar bahwa kepala jurusannya ini tidak senang dengan ucapan akbar barusan. Lalu akbar menceritakan perilaku memalukan putrinya itu, sebenarnya akbar ingin merahasiakan kejadian kemarin jika aca tidak mengadu pada papanya.


"satu lagi pak, saya punya hak untuk memilih asdos ataupun memecat asdos saya baik secara hormat maupun tidak hormat." ucap akbar sebelum meninggalkan ruangan kepala jurusannya (a.k.a papanya aca).


Flashback off.