KAYANA

KAYANA
06



Sudah menjadi kebiasaan akbar ia tak langsung pulang selepas sholat maghrib, ia betah berlama-lama di mesjid sekedar berdiskusi dengan para ustad atau bertilawah sembari menunggu masuknya waktu isya.


Biasanya sepulang dari mesjid ia selalu disambut senyum hangat umminya di meja makan, tapi malam ini ia hanya melihat makanan yang tersaji disana tanpa senyuman umminya.


Tok tok tok..


"ummi.. Ayo makan dulu." ucap akbar namun gak ada jawaban dari dalam kamar umminya. Sudah 3x ia coba memanggil umminya dan tak ada satupun jawaban yang ia dapat dari umminya.


"mungkin ummi udah tidur" pikirnya. Setelah makan akbar masuk kekamarnya, ia mencoba membaca buku mengalihkan rasa kecewa dalam hatinya namun otaknya mendadak menjadi tumpul, terbukti tak ada satupun yang ia ingat dan pahami dari tulisan-tulisan yang sedang ia baca saat ini.


Akbar memutuskan untuk merebahkan diri dikasurnya, tatapannya kosong menerawang ke langit-langit kamarnya, ia teringat pertemuan pertamanya dengan kay.


*Flasback On


Aku mendapat kabar kalau ibu ku saat ini sedang berada di rumah sakit karna kecelakaan lalu lintas, ibu ku menjadi korban tabrak lari di depan sebuah sekolah sepulang pengajian dirumah temannya.


Setibanya dirumah sakit aku langsung berlari mencari ruang IGD, aku takut terjadi apa-apa sama ibu ku. Didepan ruang IGD ku lihat seorang gadis SMA, wajahnya terlihat khawatir tapi yang paling menarik perhatian ku adalah seragamnya yang berlumur darah.


"keluarga ibu maryam" kata seorang suster.


"saya" jawab ku berbarengan dengan anak SMA tersebut.


"sejak kapan ummi punya anak perempuan" fikir ku.


"dokter mau bicara." ucap suster tersebut ramah. Aku berjalan mengikuti suster tersebut, begitu pun dengan anak SMA tersebut.


"siapa walinya bu maryam?" tanya dokter yang memeriksa ummi sebelumnya.


"saya dok, saya anaknya, saya satu-satunya keluarga beliau." jawab ku. ku lihat sekikas anak SMA itu melirik kearah ku.


"jadi ada apa dok?" tanya ku lagi.


"jadi gini, patah tulang pada kaki pasien cukup parah dan darihasil pindai CT scan, pasien juga mengalami cidera saraf tulang belakang. Saya mau meminta persetujuan anda agar pasien dapat segera di operasi" jelas dokter.


"iya dok, saya setuju. Tolong selamatkan ibu saya." ucap ku menangis.


"satu lagi, pasien sudah kehilangan banyak darah, pasien butih transfusi darah dan golongan darah pasien A- (A negetif) sedangkan kita tidak ada stok golongan A-. Mungkin masnya..."


"saya harus cari kemana dok?" tanya ku frustasi.


"mas bisa tanya ke Bank Darah di PMI atau mungkin saudara-saudara atau teman mas yang golongan darahnya sama dengan pasien."


"golongan darah saya sama dengan bu maryam dok, kalau kurang saya bisa minta ayah saya buat donorin darahnya, insyaAllah ayah saya pasti mau. Kebetulan ayah saya juga ada disini" ucapnya polos.


"ooh adik ini yang bawa pasien kesini ya?"


"iya dok" ucapnya.


"jadi dia yang udah menolong ummi. Bukan cuma udah bawa ummi kerumah sakit sekarang dia malah mau mendonorin darahnya buat ummi. Jika ada malaikat dalam bentuk manusia, mungkin dialah orangnya." pikir ku.


"ooh kebetulan sekali, kalau gitu adik bisa ikut perawat buat di cek terlebih dahulu golongan darahnya."


"ooh iya dok." ucapnya lalu berjalan mengikuti seorang perawat masuk menuju kesebuah ruangan.


"mas nya bisa ke bagian pendaftaran untuk melengkapi berkas-berkasnya." ucap dokter tersebut.


"assalamualaikum ayah. Ayah mau pahala gak?" ucapnya kepada seseorang diseberang line telpon miliknya yang ku duga itu pasti ayahnya. Tak berapa lama ada seorang pria paruh baya yang datang menghampiri anak SMA tersebut, ku yakin itu ayahnya.


Saat itu aku terlalu fokus dengan operasi ummi sampai lupa mengucapkam terima kasih pada anak SMA itu dan juga ayahnya yang sudah mendonorkan darahnya untuk ummi.


Alhamdulillah operasi ummi berjalan dengan lancar, dan kondisi ummi membaik dengan cepat. Aku dan tante ku bergantian menjaga ummi di rumah sakit. Tante ku menjaga ummi selama aku kuliah, dan setelah aku pulang kuliah gantian aku yang menjaga ummi.


Pernah suatu waktu tante ku ngabari kalau ia mendadak harus balik ke Bandung karena anaknya yang kecil mendadak demam, tapi ia meminta ku untuk jangan khawatir karna sudah ada yang gantiin dia untuk jaga ummi, saat itu aku tengah ujian. Seberapa keras pun ku coba untuk mengerjakan soal-soal yang ada di depan ku tapi mendadak soal-soal yang seharusnya mudah terlihat sulit di mataku.


30 menit berlalu tapi belum ada satu soalpun yang aku jawab, aku terlalu cemas memikirkan ummi yang ditemani oleh orang yang gak ku kenal. Akhirnya ku serah kan lembar jawaban ku pada pengawas, ku lihat pengawas mengerutkan alisnya saat melihat lembar jawaban ku yang kosong melompong, ahh aku gak peduli dengan apa yang ada dalam pikiran pengawas ujian saat iti, yang ada dalam pikiran ku cuma ummi.


Aku berlari sekuat tenaga menuju parkiran. Kupacu sepeda motor ku sekencang-kencangnya. Aku hanya ingin secepatnya sampai di rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit aku berlari secepat yang ku bisa menuju kamar rawat ummi.


Pintu kamar ummi sedikit terbuka, ku intip kedalam. Ku lihat seorang anak perempuan sedang menyuapi ummi. Dengan sabar dan telaten ia menyuapi dan membersihkan sisa makanan yang nempel disekitar mulut ummi. ia memperlakukan ummi seperti memperlakukan ibu kandungnya sendiri.


"aah ternyata dia lagi" ucap ku dalam hati. Perasaan ku kembali tenang begitu tau bahwa dia lah yang menggantikan tante menjaga ummi.


"sekarang aku bisa ujian dengan tenang, ada malaikay di yang lahi jagain ummi." ucap ku dalam hati. Ternyata tidak hanya satu atau dua kali ia datang menjenguk ibuku, bahkan hampir setiap hari sepulang sekolah ia datang kerumah sakit dan pulang ketika ayahnya menjemput.