
Sudah 7 bulan sejak rahman meninggal, kay fikir ia sudah mulai terbiasa, nyatanya ia masih merasa sepi dan sedih. Ia merindukan sosok suaminya, ia merindukan suaminya yang hangat dan romantis. Rasa sepi kay bertambah sejak adiknya qiana pindah ke rumah mereka yang baru 3 bulan yang lalu. Beruntung ia masih punya orangtua untuk bersandar.
Ia menatap kearah aisyah yang sedang sibuk merangkak mengejar kucing dengan neneknya. Usia aisyah kini sudah 10 bulan, sudah mulai belajar jalan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, walau tanpa seorang ayah, aisyah gak akan kekurangan kasih sayang.
Kay bersyukur karna suaminya dulu ikut investasi di travel milik orang tua anis bahkan modal yang diberikan suaminya lebih besar dari milik om nya itu, sehingga ia masih punya pemasukan setiap bulan jadi ia bisa fokus untuk merawat aisyah tanpa perlu memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Drrt.. Drrtt.. Drrt..
Ponsel kay bergetar. Ia lirik ponselnya, tertulis anis di layar ponselnya.
"assalamualaikum nis." sapa kay.
"wa'alaikum salam mbak. Mbak, ada yang minat sama rumahnya, harga juga udah cocok." jelas anis.l
"alhamdulillah." ucap kay.
"tadi udah anis kasih nomor mbak ke pembelinya, mungkin nanti atau besok dia bakalan hubungin mbak." jelas anis.
"oke. Makasih ya nis." ucap kay sebelum menutup telepon.
"kamu gak sayang jual rumah kamu di surabaya kay, kan banyak kenangannya?" ucap bunda kay sesaat setelah kay menutup telepon anis
"kalau ditanya sayang, ya sayang bun, justru karena banyak kenangannya itu makanya kay jual. Lagian rumanya juga gak ada yang nempati karna kay kan balik tinggal disini, sayang ntar yang ada rumahnya malah rusak." jelas kay.
"kecuali kay sama aisyah udah gak boleh tinggal disini." canda kay.
"bunda malah senang kamu sama aisyah tinggal disini." ucap bunda kay.
"apalagi kalau qiana sudah lahiran terus juga ikutan tinggal disini, lengkap sudah kebahagiaan bunda. bisa main dengan cucu-cucu bunda setiap hari." jawab bundanya kay. Kay hanya tersenyum.
***
Akad jual beli rumah sudah selesai. Rumah kenangan antara dirinya dan suaminya sudah sah pindah ketangan orang lain. Iya menatap setiap ruangan, ingatannya tentang suaminya kembali berputar di fikirannya. Ia bersyukur semua kenangan tentang suaminya adalah kenangan yang baik. Satu-satunya kenangan pahit antara ia dan suaminya adalah ketika ia harus keguguran dulu.
Kay mulai membereskan barang-barang pribadi milik dirinya dan suaminya. Setiap barang yang ia sentuh selalu memunculkan kenangan dengan suaminya. Ia meringkuk dan menangis diatas kasur sambil memeluk baju suaminya. Ia benar-benar rindu dengan suaminya.
Aisyah yang melihat ibunya menangis juga ikut menangis. Ntah ia juga merasakan apa yang ibunya rasakan atau memang semua bayi seperti itu, menangis ketika melihat ibunya menangis.
Kay selesai membereskan barang-barang pribadi miliknya dan suaminya. Semua baju milik suaminya ia titipkan di taman tahfidz miliknya daripada mubazir karena tak terpakai, karna di taman tahfiz miliknya gratis dan terbuka untuk umum jadi bukan hanya anak-anak yang belajar membaca al-quran disana tapi banyak juga orang dewasa bahkan lansia yang ikut belajar disana. Mana tau ada yang mau dengan pakaian milik suaminya dulu. Sedangkan semua buku-buku milik dirinya dan juga milik suaminya akan ia kirim ke jakarta. Selepas membereskan barang-barang miliknya dan suaminya ia kembali kerumah anis.
"anis, mbak minta tolong ya nanti tolong kirimkan buku-buku ini ke jakarta ya. alamatnya udah mbak tulis diatas dusnya." ucap kay sembari menunjuk 3 dus besar berisi buku-buku miliknya.
"siap mbak!" ucap anis tanpa menoleh pada kay, ia terlalu sibuk bermain dengan aisyah.
"mbak kenapa gak tinggal disini lagi aja sih." tanya anis.
"anis kan mau main sama aisyah." sambung anis.
"nah justru itu, nanti kamu jadi main terus sama aisyah, jadi gak kelar-kelar kuliahnya." jawab kay asal, alasan sebenarnya adalah karena kay gak ingin terkekang oleh kenangan masa lalu, ia tak ingin menjadi lemah karena ia tau kini aisyah hanya punya dirinya untuk bergantung dan ia gak mau menjadi lemah karena terus terbayang kenangannya dengan suaminya.
"mbak qiana kok gak ikut kesini sih. Kan jadi makin rame kalo ada mbak qiana." tanya anis ntah pada siapa.
"mbak qiana mu itu kan lagi hamil muda nis, gak boleh pergi jauh-jauh dan gak boleh capek-capek dulu" jawab ayahnya kay.
"eehh... Mbak qiana hamil.. Yeeeyy.... Nambah ponakan baru..." seru anis.
"alhamdulillah dulu nis." sela mamanya anis.
"eeh iyaa... Alhamdulillah nambah ponakan baru." ucap anis sambil nyengir.
"udah berapa bulan mbak kandungan qiana?" tanya mamanya anis pada bundanya kay.
"udah masuk bulan keempat tapi masih muntah terus dia, hb nya juga rendah. Persis banget kaya mbak sewaktu hamil kay. malah kebih parah deh kayanya hehehe" jelas bundanya kay.
"kirain persis kaya mbak hamil qiana."
"hamil qiana mah enak, gak ada mual-mualnya sama sekali. Ketauan hamil aja waktu usia kandungan hampir 3 bulan. Hehehe" jawab bunda kay.
"kok bisa?" tanya anis penasaran. bunda hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
Setelah semua urusan kay beres, ia, aisyah dan kedua orang tuanya kembali ke jakarta. Uang hasil penjualan rumah dan mobil lumayan banyak, uang bagi hasil dari travel milik suaminya dan om nya setiap bulan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Belum lagi tabungan milik suaminya yang jumlahnya juga tidak bisa dibilang sedikit. Tiba-tiba ia teringat tentang cita-citanya dulu.
"apa aku bangun sekolah aja ya." ucap kay dalam hati.
Lusa pengajian 4 bulan kehamilan qiana, kay berencana untuk diskusi dengan qiana dan alif tentang rencana ia untuk mendirikan sebuah sekolah Taman Kanak-kanak. Karena Ia sama sekali gak tau harus memulai dari mana untuk mendirikan sebuah sekolah. Pasalnya pendirian taman tahfidz miliknya di surabaya di urus sepenuhnya oleh suaminya, mulai dari cari tempat, tanaga pengajar, mengurus surat izin, sampai mencari murid dilakukan oleh suaminya.