KAYANA

KAYANA
09.



Ucapan bang hendra terus terngiang di fikiran ku.


"apa benar jodoh cerminan diri kita?" fikir ku.


Kalau aku yang dulu -kata bang hendra- laki-laki yang baik sekarang berubah jadi laki-laki yang bejat gak menutup kemungkinan juga kay bisa berubah seperti aku, banyak kok perempuan yang menjadikan kerudung mereka sebagai topeng kebusukan mereka, bisa aja kay salah satu dari perempuan seperti itu. Siska yang ku kenal dari kecil anak baik-baik aja, sekarang gak ada ubahnya dengan ku, bahkan kami sering ke diskotik dan minum bareng.


"astaghfirullah.. Mikir apa aku ini. Kay itu wanita baik-baik. Gak mungkin kay berubah. Sadar di sadar!" gumam ku sambil menyapu kasar muka dan rambut ku dengan telapak tangan ku.


"kenapa di? Lagi banyak pikiran?" ucap papa mengejutkan ku.


"pusing sama laporan kerja pa." jawab ku asal.


"nih" sambil menyodorkan segelas teh madu.


"biar enakan badannya." lanjut papa.


"pah, ntar ba'da isya temenin kerumah kay ya. Ardi mau ngantar oleh-oleh." ucap ku setelah menyeruput teh madu pemberian papa.


"tumben, biasanya juga sendiri naik motor." jawab papa.


"capek banget ini pa, gak sanggup bawa motor, takut ketiduran dijalan pulang."


"naik ojek online aja gih, males banget jadi nyamuk kamu dan kay." ucap papa.


"bentaran doang kok pa, ini juga sekalian mau kerumah tante mita, itu mantunya katanya ngidam bolu artis yang nikah sama orang malaysia itu." jelas ku.


"besok aja sekalian kamu ngantor." jawab papa.


"ya kali bertamu jam 6 pagi pah, lagian besok jam 8 pagi ardi ada meeting di kantor." alasan ku.


"kamu ojekin aja kue nya.. Mager papa." jawab papa.


"gak berbentuk lagi deh itu kue pa, kan ada oleh-oleh yang lain juga. Lagian juga kan dirumah kay ada om habib, gak mungkin lah papa jadi obat nyamuk." Bujuk ku.


"bener ya cuma bentaran doang." jawab papa.


"iya bentaran doang" jawab ku dan di jawab anggukan oleh papa.


"rapi banget, mau ngantar oleh-oleh atau mau lamaran?" ledek papa.


"baju ardi pada kotor pa, cuma baju kerja sama batik-batikan yang bersih." jawab ku sekenanya.


"kamu yakin mau pake baju ini?" tanya papa sekali lagi.


"iya yakin, udah ah ayo jalan pa, ntar kemaleman." jawab ku.


Gak butuh waktu lama buat sampai dirumah kay, ya karena memang jarak rumah kami yang gak terlalu jauh.


"assalamualaikum." ucap ku dan papa.


"waalaikumsalam. Om surya, ardi, ayo masuk." ucap kay.


"ayah masih di mesjid om, bentar lagi juga pulang." ucap kay sembari membawa dua gelas teh manis panas.


"iya gak apa-apa kok nak kay, om juga gak lama, ini cuma mau nemani ardi nganter oleh-oleh." jawab papa, aku dan kay hanya menahan senyum mendengar jawaban papa.


"ooo gitu om, yaudah di minum teh nya dulu om sembari nunggu ayah pulang, biasanya jam segini ayah juga udah pulang dari mesjid." jelas kay.


Memang benar, gak berapa lama -mungkin sekitar 5 menitan- ayahnya kay pulang. Setelah mengucapkan salam dan menyapa aku dan papa, ayahnya kay mengajak kami -yang duduk di teras- untuk masuk dan duduk di dalam rumah. Begitu masuk kedalam rumah, papa semakin bingung karna melihat bundanya kay, qian, dan kay yang sudah duduk manis dengan baju yang seragam.


"mas habib sekeluarga pada mau pergi ya? duh kita jadi ganggu nih mas?" tanya papa. Kami yang mendengarnya hanya bisa menahan senyum.


"gak kok mas surya, gak ganggu sama sekali." jawab bundanya kay.


"jadi ada apa nih ardi dan surya kemari?" tanya ayahnya kay.


"kita cuma mau ngantar oleh-oleh kok mas" jawab papa yah di jawab senyuman oleh keluarganya kay, termasuk aku juga hehehe. Terlihat jelas raut bingung di wajah papa.


"begini yah, maksud kedatangan ardi sama papa kesini cuma mau nanya qian, mau gak jadi adik iparnya ardi." ucap ku.


"eehh.. Lohh. Kok??" jawab papa bingung.