
Hari semakin gelap hujan turun dengan begitu derasnya, aku memutuskan untuk nginap di kosan siska. Ini juga bukan yang pertama kalinya aku nginap di kosan siska, para penghuni kos yang lain dan pemilik kos sendiri mengenal ku sebagai kakak laki-lakinya siska jadi gak ada yang protes saat aku nginap di kosan siska.
Uuueeekkk.. Uuueeekk...
"kenapa lo sis?" ucap ku kaget melihat siska yang tiba-tiba berlari kekamar mandi lalu muntah.
Uuuueeeekkk!!
Siska terus mencoba memuntahkan seluruh isi perutnya, yang anehnya sekeras apa pun usahanya untuk memuntahkan isi perutnya yang keluar hanya air.
"lo gapapa sis? Lo sakit?" tanya ku khawatir.
"maag gue kambuh kayanya. Masuk angin juga mungkin, kemaren gue kehujanan." jawab siska.
"gue bikinin teh anget ya? Lo udah makan?" dan siska hanya menjawab dengan anggukan untuk kedua pertanyaan ku.
"diminum selagi hangat" ucap ku sambil menyodorkan segelas teh manis hangat buat siska yang kini terlihat pucat.
"di kerokin gue" pinta siska.
"gue gak bisa" jawab ku.
"sebisa lo aja, badan gue gak enak banget rasanya" melas siska.
"yaudah deh, lo mau dikeroknya tengkurap atau duduk?" tanya ku.
"duduk" jawab siska. Siska tanpa canggung mulai melepas kancing kemejanya satu per satu.
"gue ambil piring sama cari koinnya dulu." ucap ku sambil buru-buru berjalan kedapur buat ngambil piring kecil. Sekembalinya dari dapur ku lihat siska sedang duduk di tengah kasurnya, Sial!! Gak tau kenapa fokus ku hanya pada punggung polos siska yang tanpa sehelai benang pun, sedangkan bagian depan tubuhnya ia tutupi dengan mendekap bantalnya. Siaal!! Aku bergidik saat menerima sinyal bahaya oleh diri ku sendiri.
"kok bengong? Buruan! Ni minyak anginnya." ucap siska sambil menyodorkan minyak kayu putih.
"ooh iyaa.." ucap ku sambil meraih minyak kayu putih yang di berikan oleh siska.
"jangan langsung di kerok ya di, lo balurin dulu minyak kayu putihnya ke punggung gue terus lo pijet dulu punggung sama bahu gue. Setelah itu baru deh lo kerokin pake koin." perintah siska.
"ardi" panggil siska.
"hmm."
"gue cinta sama lo" ucap siska, spontan aku langsung menghentikan pijetan ku di leher dan bahu siska.
"dari awal kita ketemu gue udah suka sama lo, tapi lo sama sekali gak pernah lihat gue, lo sama sekali gak peka sama perasaan gue." ucap siska yang mulai terisak.
"apasih lebihnya kay di bandingkan gue, di?"
"gue emang bandel, ngerokok, suka dugem, suka minum (alkhol), tapi gue gak munafik kaya kay. Gue gak pernah kehotel sama laki-laki lain, gue gak pernah meara-mesraan sama laki-laki lain." ucap siska terisak. Ucapan siska kembali mengingatkan tentang kesalahan kay, dan tanpa sadar aku juga membenarkan perkataan siska.
"tapi gue selalu anggap lo itu sahabat gue sis." jawab ku lirih.
"bohong!! Kalau lo cuma anggap gue sahabat, lo gak bakalan nyium gue waktu di bali!" ucap siska.
"gue mabuk sis." ucapku membela diri.
"gue yakin lo sebenarnya punya perasaan yang sama dengan gue tapi lo gak mau ngakuinya." ucap siska. aku mengacak rambut ku dengan sedikit frustasi.
"cium gue lagi!!" perintah siska.
"lo apa-apaan sih sis!" ucap ku sedikit kesel. Tanpa menunggu persetujuan ku siska langsung mencium ku dengan lembut. Sial!! Bantalnya lepas!!
"sis bantal lo!!" ucap ku sesaat setelah melepaskan ciuman siska. Lebih sialnya lagi siska sama sekali gak menggubris ucapan ku malah semakin nekat merapatkan tubuhnya pada ku dan kembali mencium ku dengan lembut. Bukannya menolak tapi aku malah menikmatinya, tanpa diperintah tangan ku mulai menyentuh setiap inchi tubuh siska dan siska juga gak menolaknya.
Alarm tanda bahaya dari diri ku sendiri ntah sejak kapan berhenti, aku yang tadinya hanya menikmati kini mulai membalas dan mengambil alih permainan.
"gue laki-laki normal sis, lo pasti tau apa yang terjadi selanjutnya. Lo gak takut? Lo gak nyesel nanti?" bisik ku.
"gue tau. Gue cuma mau lo!" bisik siska dengan sedikit gigitan kecil di telinga ku yang sukses membuat sekujur tubuh ku berdesir. Dan malam itu aku dan siska bercumbu saling menghangatkan diri dari dinginnya hujan dan peliknya kehidupan.