KAYANA

KAYANA
12



Beberapa tahun berlalu, aku dan ummi gak pernah saling menyebut nama kayana lagi, bukan berarti kami melupakannya, kami menyebut namanya hanya dalam doa-doa kami. Bukan hanya kayana yang fokus dengan pendidikannya, tapi saat ini Aku juga sedang fokus pada pendidikan ku, aku kembali melanjutkan S3 ku.


Banyak tawaran taaruf datang padaku tapi ntah mengapa tidak ada yang mampu menggerakan hati ku. Ntah memang karna sudah ada kayana didalam hati ku untuk waktu yang lama atau memang karna belum bertemu dengan jodoh ku, ahh.. aku pun sama gak taunya dengan kalian.


Ada sekali waktu aku menerima tawaran ta'aruf dari salah satu dosen saat aku S2 dulu. Ia memiliki anak perempuan yang baru lulus S2 dan minta dicarikan jodoh. Dari beberapa kali kami bertemu (tidak berduaan ya..) aku merasa cocok dengannya, dia cantik, pintar, baik, ramah dan terpenting menutup aurat, insyaAllah sholeha juga. Jadi aku putuskan untuk membawa ummi pada pertemuan berikutnya. tapi ntah kenapa ketika ummi bertemu dengannya ummi serasa tak nyaman lama-lama berdekatan dengannya.


l


"ummi kenapa?" tanya ku saat di jalan pulang.


"gak tau, ummi kok ngerasa gak begitu nyaman dengannya. Anaknya sih kelihatannya baik, ramah, tapi ummi gak tau kok rasanya gak klop aja gitu di hati ummi." ucap ummi.


"tapi kalau kamu sudah istikhoroh, sudah srek, sudah mantab dengan gadis tadi ummi dukung aja. Yang penting kamu bahagia." sambung ummi.


Memang sejauh ini aku sudah istikhoroh berkali-kali dan aku memang belum menemukan jawabannya. Mungkin pengakuan ummi barusan itu adalah jawaban untuk ku. Bagi ku ummi adalah pilihan ku yang nomor satu. Hanya restunya yang mampu menghantarkan kebahagian dalam pernikahan ku kelak. Akhirnya aku memilih untuk tidak melanjutkan ta'aruf ku dengan anak dosen ku.


"mas jangan lupa loh, besok ikut buat mengkhitbah qiana, bilangin juga sama bude jangan sampe lupa, apalagi sampai gak datang." ucap alif -sepupu ku- dari line telpon. Ya alif ini anak dari tante dea, dan suami tante dea adalah adik bungsunya ummi, om irfan namanya. Dulu sewaktu sakit, ummi lama tinggal bareng mereka di Bandung, namun sejak om irfan -papanya alif- meninggal 5 tahun yang lalu, dan alif mendapatkan pekerjaan di Jakarta akhirnya tante dea memutuskan untuk ikut pindah ke Jakarta. Sedangkan putri, adiknya alif saat ini sedang kuliah di jogja.


"kayananya tidak pulang bu?" tanya ummi pada ibunya kayana.


"nggak bu.. InsyaAllah nanti saat qiana nikah baru kay pulang kesini katanya." jawab ibunya kayana. Terlihat jelas kebahagiaan yang terpancar di wajah ummi, bagaimana tidak, kurang dari 3 bulan ia akan bertemu dengan orang yang namanya selalu ia sebut dalam doa-doanya selama hampir 10 tahun ini.


"bar, kalau kayana masih belum menikah, kamu langsung aja khitbah kayana ya" ucap ummi saat dalam perjalanan pulang.


"iya ummi" jawab ku mantab. Ucapan ummi membuat ku semakin gak sabar untuk bertemu dengan kayana dan memperistrinya, hingga melupakan adanya kemungkinan kalau kayana ternyata sudah menikah.


Setiap hari yang ada di fikiran ku hanya "seandainya aku dan kayana menikah pasti bakalan begini dan begitu", "nanti kalau kami sudah punya anak.." dan kalimat-kalimat pengandaian lainnya. Semua pengandaian-pengandaian itu membuat ku dan ummi melambung tinggi. Melupakan bahwa ada pengatur skenario terbaik di dunia ini, melupakan bahwa takdir ku telah tertulis di lauhul mahfudz.


Hari ini Allah SWT membanting semua angan-angan ku selama beberapa bulan ini. Menyadarkan ku dari segala kesombongan ku. Menyadarkan ku dari betapa hinanya aku sebagai makhluk ciptaan-Nya yang tak memiliki daya apalagi kuasa. Angan-angan hanya jeratan setan, dan aku sudah terjerat kedalamnya. Aku memutuskan untuk sholat, memohon ampun untuk segala kesombongan ku.


"ya Allah, ampuni hamba, ampuni hamba, ampuni hamba ya Allah hiks.. hiks.... Ampuni segala kesombongan hamba, ampuni hamba dari segala keangkuhan hamba, ampuni hamba ya Allah hiks.. hiks... Ampuni hamba ya Allah hiks.., ampuni hamba." tangis ku dalam doa ku. Rasanya pasti tidak akan semenyesakkan dan sesakit ini jika aku tak terlalu banyak mengharap dan berangan..