KAYANA

KAYANA
23



Ini sudah kali ke-3 dalam minggu ini kay memimpikan suaminya, tapi yang ia ingat hanya senyuman suaminya dan saat terbangun ia merasa begitu sedih. Ia takut suaminya bakalan meninggalkannya, ia takut kalau anaknya tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah.


"astaghfirullah.. Hamba harus gimana ya Allah.." ucap kay dalam hati. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dadanya terasa sesak dan sakit.


Seperti sebelumnya, setiap kay memimpikan suaminya ia selalu pergi kerumah sakit untuk mengecek sendiri keadaan suaminya. Pagi ini kay bersiap untuk kerumah sakit, kebetulan qiana libur jadi ia bisa menitipkan aisyah padanya. Stok asip juga sudah cukup, kay tak perlu risau jika anaknya nanti kelaparan.


"innalillahi.." ucap qiana.


Deg.... Perasaan kay mendadak tak enak. Ia berharap itu bukan berita duka suaminya.


"ada apa dek?" tanya kay was was.


"kata mas alif, mas rahman kejang-kejang kak." jelas qiana hati-hati.


"sekarang sedang di tangani dokter." lanjut qiana.


Jantung dan waktu disekitar kay seakan berhenti berdetak, dunia kay seakan akan roboh menimpa dirinya. "jangan ambil suami ku ya allah. Tolong selamatkan suamiku ya allah. Hamba mohon ya Allah." ucap kay dalam hati.


Sepanjang perjalanan kerumah sakit kay hanya bisa terus merapalkan doa, memohon agar Allah menyembuhkan suaminya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, tapi air matanya lolos begitu saja tanpa mampu ia kendalikan.


"bagaimana lif kondisi mas mu?" tanya ayahnya kay begitu bertemu alif di depan ruang ICU.


"kata dokter mas rahman kritis yah." jawab alif. Hati kay hancur mendengar kabar tentang suaminya. Ia gak tau harus berbuat apa lagi.


"kay mau ketemu mas rahman." ucap kay pada ayahnya dan alif.


Kay melihat lekat kondisi suaminya. suaminya yang tampan, suaminya yang romantis, suaminya yang lucu, suaminya yang penyabar yang gak pernah sekalipun meninggikan suaranya didepan dirinya, suami yang begitu ia cintai, kini terlihat kurus. Hatinya sakit melihat kondisi suaminya seperti itu Kay menggenggam tangan suaminya, sesekali ia kecup lembut punggung tangan suaminya. Kay mulai membuka alquran digital di hp nya dan ia mulai mengaji disamping suaminya.


Selepas mengaji kay kembali menatap lekat wajah suaminya. Begitu teduh. Kay terisak tanpa suara, ia mengingat mimpinya beberapa hari ini.


"kay bakal coba buat ikhlas mas." bisik kay pada telinga rahman. Kay membisikan syahadat dan kalimat tauhid pada telinga rahman. Rahman terlihat menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nafas terakhirnya. Monitor disamping brankar rahman mulai berbunyi nyaring, tak lama dokter dan beberapa perawat masuk dan memeriksa kondisi rahman.


"innalillahi wa inna ilaihi rojiun." ucap dokter.


Kay terduduk lemas di samping brankar suaminya, sekeras apapun ia berusaha untuk ikhlas, hatinya tetap terasa sakit. Seberapa besar pun ia berusaha untuk tegar, dunianya tetap terasa seakan roboh dan menimpanya. Kekasihnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Kabar duka menyebar dengan cepat. Para pelayat sudah memenuhi rumah duka walau jenazah belum tiba. Setibanya dirumah kay langsung ganti baju dan memeluk erat anaknya. Aisyah menangis, kay mencoba menyusui anaknya. Ia menatap prihatin pada aisyah, aisyah baru berusia 3 bulan dan ia belum pernah sekali pun bertemu dengan ayahnya. Pertemuan pertama aisyah dengan ayahnya malah ketika ayahnya sudah dalam keadaan menjadi jenazah.


"kita harus kuat ya nak, kita doain abi semoga abi khusnul khotimah. Semoga nanti kita bisa berkumpul bersama abi kembali di jannahnya Allah. Aamiin.." bisik kay. Aisyah menatap kay, seakan mencoba untuk memberi sedikit kekuatan untuk ibunya.


"kapan dimakamkan lif?" tanya akbar pada alif.


"besok mas, jam 10, insyaAllah." jawab akbar.


"sudah kesorean mas. Keluarga juga maunya hari ini, cuma karena tadi hujan deras liang kuburnya jadi banjir, jadi pihak makam nyaranin besok aja di kuburnya." jelas alif, akbar mengerti.


"assalamualaikum."


"waalaikumsalam"


"kak fira.." ucap qiana, lalu memeluknya erat. Fira datang dengan aca dan kedua orang tuanya. Qiana membuang muka ketika aca tersenyum padanya. Qiana masih belum bisa memaafkan aca, hatinya masi terasa sakit ketika mengingat apa yang sudah dilakukan aca pada kakaknya.


"kay dimana dek?" tanya fira.


"dikamarnya kak. Ada kak bina juga." jawab qiana. Fira berjalan masuk kekamar kay, diikuti aca dibelakangnya. Sebenarnya aca ragu untuk bertemu kay saat ini. Lebih tepatnya merasa takut untuk bertemu kay. Ia merasa bertanggung jawab dengan kematian suaminya kay.


"kay, ini gue fira." ucap fira setelah mengetuk pintu kamar kay. Setelah pintu dibuka dari dalam fira dan aca masuk.


"kay.. Gue.." ucap aca terbata.


Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi aca. Bukan kay yang menamparnya, melainkan bina.


"gila lo ya ca. Kelakuan lo lebih parah dari ABG labil. Kalo saat itu kenapa napa dengan kay dan kandungannya gimana hah? Otak lo di mana sih ca! Lo udah lihat kan akibat dari kelakuan lo! Bukan lo yang susah, bukan lo yang menderita! Udah puas lo sekarang kan?" maki bina. Kay dan fira hanya diam melihat bina memaki aca.


Dalam hati, kay membenarkan ucapan bina. Ia juga ingin meluapkan emosinya seperti bina. Ia ingin sekali menyalahkan dan memaki aca seperti yang dilakukan bina pada aca. Tapi ia masih mengingat nasihat ayahnya saat dijalan pulang dari rumah sakit tadi.


*flashback on


"ini takdir Allah kay. Kalau kamu menyalahkan aca untuk kematian rahman berarti kamu mengingkari takdir Allah. Kapan dan bagaimana kita mati itu udah Allah tentukan. Menyalahkan seseorang untuk kematian suami kamu, gak akan membawa apapun selain hanya lebih nenyakitkan perasaan kamu sendiri. Rahman juga gak akan hidup lagi, malah rasa sakit di hati kamu gak akan pernah hilang.


"Ayah tau kamu sedih, wajar kalau kamu sedih, karena yang meninggal itu suami kamu. Ayah dari anak kamu, ayah tau kamu pasti kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua, karena itu Allah ujikan ini sama kamu. karena Allah pun percaya kamu bisa melewati ini semua." nasihat ayah.


*flashback off


"kay maafin gue.. Hiks.. Hiks.." ucap aca sembari bersimpuh dihadapan kay.


"Sumpah gue gak ada maksud apa-apa kay. Hiks.. Hiks.. Gue juga gak nyangka, kebodohan gue bikin lu menderita begini. Hiks.. Hiks.. Maafin gue kay.. Hiks.. Hiks... Gue tau ini salah gue.. Gue mohon maaf gue kay.. Hiks.. Hiks.." ucap aca.


Kay menatap aca, matanya memerah, ada kesedihan dan amarah dibalik manik matanya. Ia gak tau harus seperti apa. Sulit rasanya memaafkan aca walau dia tau kematian suaminya adalah takdir Allah dan gak ada hubungannya sama sekali dengan aca, tapi entah kenapa masih ada amarah di hatinya. kay sadar dirinya hanya butuh pelampiasan untuk amarahnya itu, dan melampiaskannya pada aca juga tidak ada salahnya. tapi kay lebih memilih untuk belajar menerima kenyataan ini, lebih memilih untuk belajar mengikhlaskan suaminya dan menilerima takdir Allah ini.


"aku.. Aku masih belajar ikhlas untuk menerima semua ini, termasuk belajar untuk memaafkan kamu ca. 3 bulan ini aku udah coba untuk maafkan kamu. Aku fikir, aku udah berhasil. Ternyata begitu melihat kamu, masih ada amarah di hati aku." ucap kay.


"kay.. Hiks.. Hiks..." ucap aca terisak.


"tolong kasih waktu aku untuk ikhlas menghadapi ini semua, termasuk ikhlas memaafkan kamu ca." sambung kay. Tak lama kay membawa keluar aisyah, karena sebenarnya ia dikamar saat itu hanya untuk menyusui aisyah.