KAYANA

KAYANA
10



"Kamu jangan fitnah Kay!! Aku tak mungkin ngehamili Siska!!" kata Ardi.


"Jangan berlagak pikun deh lo!! Lo tidak ingat 3 minggu yang lalu, abis lo fitnah kakak gue ke hotel dengan laki-laki lain, lo tampar kakak gue, terus lo mabuk-mabukan, terus lo lampiaskan amarah lo, frustasi lo, nafsu lo ke Siska dengan mencumbunya!!" teriak Qiana emosi.


"kamu di tampar Ardi, Kay? Kapan? Kenapa tiak cerita ke bunda?" tanya bunda sambil memeluk ku. Bukannya menjawab pertanyaan bunda tapi tanpa sadar tangisan ku malah semakin kencang.


"lo jangan sok tau!! Lo jangan fitnah Qiana!!" teriak Ardi


"iya, Ardi tidak mungkin melakukan hal seperti itu sama Siska. Siska itu sudah seperti adik buat Ardi! Kalian jangan fitnah anak saya!!" sambung mamanya Ardi tidak terima kedua anaknya di pojokan oleh Qiana.


Mendengar pembelaan ibu dan anak itu Qiana hanya tersenyum sinis lalu masuk kekamarnya, membuat mereka semua bingung. Beberapa menit kemudian Qiana keluar dengan seorang gadis jangkung di belakangnya. Ya.. Gadis itu Siska.


"Siska!!" pekik mama dan ayah tiri Ardi bersamaan. Bukan main kagetnya Ardi melihat Siska berdiri di depan matanya. Mukanya langsung panik. Dia sama sekali tidak berani menatap Siska, dia hanya bisa menundukkan pandangannya sedalam mungkin.


"maaf ma, pa.." kata Siska.


"kamu jangan minta maaf, mereka yang udah fitnah kamu! Kamu dan Ardi tidak mungkin!!" kata mamanya Ardi sambil menggumcang-guncang pelan tubuh siska.


"maaf ma, pa.. Mereka tidak fitnah, Siska beneran hamil." jelasnya dengan terisak-isak.


"Astaghfirullah.. Ya Allah pa.. Mama gagal pa, mama gagal.." ucap mamanya Ardi frustasi


"udah berapa minggu kandungan mu Siska!" Tanya mamanya Ardi lagi.


"9 minggu ma" jawab siska di sela-sela isak tangisnya.


"Sudah pasti itu bukan anak ku!! Baru 3 minggu yang lalu kita lakukannya jadi tidak mungkin kandungan lo sudah 9 minggu. Lo jangan fitnah gue Sis" ucap Ardi sengit.


Tanpa sadar Ardi sudah mengakui bahwa ia dan siska udah pernah berhubungan layaknya suami istri. Semua pada terbelalak mendengar celetukan Ardi.


"lo lupa 3 bulan yang lalu, apa yang terjadi di Bali, apa yang lo lakukan ke gue divilla? lo lupa kalo lo yang merawani gue?." tangkas siska. Ucapan siska bagai petir disiang bolong, ku lirik sekilas wajah ayah, wajahnya yang teduh dan selalu tersenyum kini berubah merah menahan amarah. Ku lihat kearah bunda, air mata bunda sama derasnya dengan air mata ku.


"Ya Allah, perih banget rasanya. Sakit banget kenyataan yang Kau tunjukan ini. Kuat kan aku ya Allah." pekik ku dalam hati.


"gue yakin itu bukan anak gue sis, lo cari bapaknya, tapi yang pasti itu bukan gue, atau lo gugurin tu anak haram lo!!" ucap Ardi frustasi.


BAAAMMM!! satu bogem mentah mendarat di pipi Ardi.


"anak kurang ajar!! Papa gak pernah ngajarin kamu untuk jadi pengecut!! Kalau kamu berani berbuat kamu juga harus berani bertanggung jawab!! Kamu udah zina sekarang kamu malah mau ngebunuh calon anak kamu!!" teriak om Surya.


"itu bukan anak Ardi pa, ma, Kay.. Tolong percaya sama aku.. 3 minggu yang lalu aku khilaf kay, aku cemburu buta sama kamu..."


"khilaf kok keterusan." umpat Qiana.


"Kay... Please.." ucap Ardi memelas.


"demi Allah Di, aku tidak peduli anak siapa yang di kandung siska. Tapi kamu udah zina dengan siska dan aku tidak bisa terima itu Di." ucap ku parau.


"please Kay.." ucap Ardi sambil mencoba untuk memggenggam tangan ku namun segera ditepis oleh ayah.


"keputusan aku udah bulat Di, aku mau pernikahan ini dibatalkan!!" tegas ku.


"Kay..." belum sempat Ardi menuntaskan ucapannya langsung di potong oleh ayah.


"cukup Di. Cukup. Bahkan jika Kay masih ingin melanjutkan pernikahan ini, saya yang akan menentang pernikahan ini. Kamu sama sekali tidak layak untuk sandingkan dengan anak kami!! Sekali lagi kamu coba menyentuh anak ku, ku potong tangan mu!!" ancam ayah.


.


"Mas Surya. Maaf. Lebih baik masalah Ardi dan Siska kalian bicarakan di rumah. Kami sekeluarga tidak ingin terlibat sama sekali" sambung ayah.


"maaf mas Habib, saya juga tidak tau lagi harus berbuat apa. Saya malu dengan perbuatan anak saya. Saya terima keputusan Kay. Saya juga setuju dengan mas Habib. Ardi memang tidak layak untuk kay. Kami pamit dulu mas. Assalamualaikum.


"waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" jawab kami serempak. Ardi ditarik paksa oleh papanya untuk pulang, diikuti oleh mamanya, papa tiri dan Siska. Setelah mereka pulang bunda langsung melepaskan pelukannya dan menanyai ku dengan berbondong-bongdong pertanyaan.


"kamu kenapa tidak cerita ke ayah atau bunda kalau kamu di tampar Ardi, Kay? Kamu kenapa bisa di tampar Ardi? Cerita kay sama bunda, sama ayah. Jangan semuanya kamu pikul sendiri" cerocos bunda.


"ya Allah bun, satu-satu kalau nanya. Kay sama terpukulnya sama kita, dia yang paling terasa sakitnya."ucap ayah.


"ini bun video waktu kak Kay ditampar, sengaja Qiana rekam, tadi nya mau Qiana kasih lihat ke ayah dan bunda tapi dilarang sama kak Kay, katanya dia mau mengatasi masalahnya sendiri dulu, kalau sudah tidak mampu baru cerita ke ayah atau bunda."jelas Qiana. Betapa kagetnya ayah dan bunda saat melihat Ardi menamparku, air muka ayah kembali berubah dari teduh kembali jadi merah menahan amarah.


"astaghfirullah kay. Ini waktu kamu nangis itu ya??"kata bunda sesenggukan.


"kenapa kamu tidak cerita dari awal nak? Kenapa kamu pendam semuanya sendiri.. Ya Allah.. Kamu pasti sakit banget rasanya. Ya Allah berat banget ujianMu buat anak ku."tangis bunda.


Gak pernah ku lihat sekalipun ayah dan bunda ku menangis seperti ini. ya Allah, hati ku terasa lebih sakit saat ku lihat ayah dan bunda ku menangis, dan penyebab tangisan mereka adalah aku.


"ayah, bunda maafin Kay. Maaf udah membuat luka di hati ayah dan bunda. Maaf Kay sudah menggoreskan luka di hati ayah dan bunda, maaf karena keputusan Kay keluarga kita pasti jadi gunjingan orang, maaf gara-gara Kay, ayah dan bunda pasti malu" kataku dengan terisak.


"astaghfirullah Kay. kamu jangan pikirkan apa kata orang. ayah sama sekali tidak peduli mau di hina seperti apa. cukup Allah yang tau dan menilai semuanya. justru ayah akan menyesal seumur hidup jika menikahkan kamu dengan lelaki seperti Ardi." ucap ayah sambil memeluk ku.


"satu-satunya penyesalan bunda saat ini karna bunda tidak bisa ngambil sedikit saja rasa sakit kamu Kay. Ya Allah. Bunda tidak tega, bunda tidak terima kamu di giniin Kay, kamu itu anak baik, anak sholehah, bunda tidak terima kay.


"Astaghfirullahal'adzim." kata bunda sambil menepuk-nepuk dadanya yang serasa menyesakkannya.


"Allah masih sayang sama kita, terutama sama kamu Kay, Allah menunjukan pada mu seperti apa Ardi sebenarnya. Ardi bukan jodohmu dari Allah. InsyaAllah jodohmu sedang di persiapkan oleh Allah nak, insyaAllah jauh lebih baik dari ardi." ucap ayah sambil memeluk ku dan bunda.


"Aamiin ya Allah" jawab kami serempak. Melihat aku dan bunda yang di peluk ayah, Qiana juga tidak mau ketinggalan.


"Qiana juga mau di peyuuk" katanya sambil merentangkan tangan lebar-lebar.


"sini sayang" kata bunda.


Terimakasih ya Allah engkau menitipkan ku pada pada keluarga yang sempurna ini. Orang tua yang berpikiran terbuka, yang lembut, penuh kasih sayang, dan yang terpenting selalu mengingatkan kami untuk selalu di jalan-Mu ya Allah.


"robbigh firli wali wali dayya warhamhumaa kamaa robbayanii shoghiro" ya Allah ampunilah segala dosaku dan dosa ibu bapakku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil. Aamiin ya Allah.