KAYANA

KAYANA
13



Author POV


"mas, besok kay boleh ketemu dengan teman-teman kay gak?" ucap kay.


"ketemu dimana, jam berapa, ketemu siapa aja?" tanya rahman beruntun. Kay hanya menunjukan grup chatnya bersama sahabat-sahabatnya sejak masa kuliah dulu.


"ooh, yaudah gak apa-apa. Mas juga besok mau ketemuan sama akbar, di kampus mas dulu. Kebetulan akbar sekarang dosen disana. Nanti sebelum ke kampus, kamu mas antar dulu. Nanti kalau urusan mas udah selesai mas kangsung jemput kamu, atau kalau kamu duluan selesai, kamu lamgsung kabarin mas, biar mas langsung jemput kamu." ucap rahman.


"oke calon abi.." ucap kay manja.


"hmm.. kalau gitu nanti sekalian belanja perlengkapan bayi yang kurang ya mas?" sambung kay.


"emang apa yang kurang sayang?" tanya rahman.


"selimut mas." jawab kay.


"bukannya kemarin kita udah beli selimut ya, emang gak dibawa?" tanya rahman


"dibawa mas. iya kemarin cuma beli satu handuknya. Kata bunda minimal harus ada 2 mas. Jadi kalau yang satunya di cuci, masih ada cadangan 1 lagi" jelas kay.


"benar juga sih kata bunda" tanggap rahman.


"ahh iya, minyak telon, sabun mandi, baby cream, lotion bayi, kapas bulat, kasa steril, betadin, diapers baby dan untuk kay nanti di rumah sakit selepas lahiran. Udah kayanya itu aja." jelas kay.


"yakin? gak ada yang kurang? kaya popok kain atau gurita, gak beli? coba kamu list." ucap rahman.


"popok kain sama gurita udah dijaitin sama bunda mas." ucap ku.


"kasur bayi, kain bedong, bouncer gak sekalian beli?"


"udah dibeliin juga sama qiana mas" ucap kay sambil menunjuk kearah tumpukan dus yang dibungkus dengan kertas kado disudut kamarnya. "udah dari 2 bulan lalu malah qiana belinya. Hehehe." sambung kay.


"alhamdulillah. Rezeki si dede. Tadinya mas pikir itu kado pernikahannya qiana, gak muat dikamarnya terus jadi dititipin disini. Hehehe."


"assalamualaikum buah hati abi dan umma. Sehat-sehat didalam sana ya sayang. Abi gak sabar rasanya pingin gendong kamu, pingin cium kamu. Tapi karna kamu belum lahir jadi abi cium umma aja dulu ya.. Hehehe" bisik rahman diatas perut buncit kay.


"kata dede bayinya, "abi tumben bilang ke aku dulu, biasanya juga langsung eksekusi aja" ucap kay dengan intonasi yang dibuat seperti anak kecil.


"yaudah kamu istirah ya nak. Abi sama umma juga mau istirahat. Besok kan kamu mau di bawa jalan-jalan sama umma." ucap mas rahman.


Sejak kay hamil, sebelum mereka tidur rahman selalu melantunkan ayat-ayat al-quran. Seperti surah yusuf, surah maryam, surah ar-rahman dan diakhiri dengan shalawat lalu mencium perut kay.


***


Pukul 11.00 wib kay dan suaminya berangkat menuju mall tempat kay janjian dengan sahabat-sahabatnya. Mereka janjian untuk makan siang bersama. Mall ini mereka pilih karna merupakan titik tengah untuk mereka semua.


Setelah nge-drop out kay di lobby mall, rahman pun langsung menuju kampusnya dulu untuk bertemu akbar dan beberapa temannya dulu yang kebetulan juga menjadi dosen dikampusnya itu.


Kay melangkahkan kakinya menyusuri setiap lantai mall, mencari sebuah caffe tempat dimana ia dan sahabat-sahabatnya janjian untuk bertemu. Ini pertama kalinya ia masuk ke mall ini, jadi ia sedikit tersasar hingga mutar-mutar mencari tempat mereka janjian. Tak berapa lama akhirnya kay tiba di kafe yang ia cari sedari tadi, ternyata teman-temannya sudah pada kumpul semua.


"maaf ya aku telat, tadi sempat nyasar waktu nyari kafenya. hehehe. Udah pada lama nyampe sininya?" jelas kay.


"gak kok kay. Kita juga baru pada nyampe. Belum juga 5 menit kita disini." jawab syafira.


"kaaayyy... Kangeeeennnn...." ucap sabrina sambil memeluk kay.


"samaaa... Aku juga kangen sama bina " ucap kay membalas pelukan sabrina atau biasa disapa bina oleh temen-temannya.


"sorry ya kay, gue gak bisa dateng ke nikahan adek lo." ucap bina ngerasa bersalah karna sebenarnya dia juga cukup akrab dengan adiknya qiana. Bina dan kay memang sudah saling kenal sejak mereka sekelas ketika SMP, lalu mereka juga satu SMA walau mereka tak pernah sekelas, hingga akhirnya mereka satu kampus dan juga satu jurusan, persahabatan mereka tetap awet hingga sekarang.


"ia gak apa-apa kok bina. Namanya juga kamu lagi ada pekerjaan yang gak bisa di tinggalin. Qiana juga ngerti kok." jelas kay. Sabrina hanya mengangguk senang mendengar penjelasan kay. Mereka saling melepas rindu, saling menanyakan kabar, kegiatan masing-masing dan berbagi berbagai cerita karna sudah lama tidak bertemu, terutama dengan kay.


"kay, lo kok bisa batal nikah sih sama ardi?" tanya tasya (biasa disapa aca) yang langsung mendapat sikutan dari syafira. Syafira (biasa dipanggil fira) dan tasya adalah saudara sepupu. Sejak orang tua fira meninggal, ia tinggal bersama om dan tantenya yang tak lain adalah orang tua aca. Tak seperti bina, fira dan kay bertemu pertama kali saat masa orientasi mahasiswa baru, ia dan kay satu kelompok selama masa orientasi mahasiswa baru. Sejak saat itu mereka menjadi semakin akrab dan bersahabat hingga sekarang.


Sedangkan acaa sendiri sebenarnya beda fakultas dengan kay, fira dan bina. Aca adalah mahasiswi jurusan komunikasi, ya, aca satu jurusan dengan ardi. Ia menjadi dekat dengan kay dan bina karna sering datang ke fakultas psikologi untuk berttemu fira, hingga akhirnya ia jadi sering ikut hangout bareng kay, fira, dan bina.


"apaan sih fir, gue kan kepo." ucap aca kesel karna fira menyikut lengannya.


"ooh. itu karna aku dan ardi gak jodoh ca, makanya batal nikahnya" jawab kay. Kay sama sekali gak mau membicarakan ini lagi. Karna membicarakan masa lalunya itu hanya akan membuka luka lamanya, bagaimana pun juga ada aib yang harus ia rahasiakan agar tak jadi bahan gibah bagi orang yang mendengar kisahnya di masa lalu.


"ahh.. Gak seru lo kay." ucap aca kesel.


kay menghela napas.. "gak peka atau memang sengaja sih" ucap kay dalam hati.