
Author POV
Kay nampak memegang perutnya. Perutnya terasa sakit sekali, rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia keguguran dulu tidak sesakit ini rasanya. kay hanya bisa meringis dqn menangis menahan rasa sakit di perutnya.
Fira nampak panik, terlebih ketika dia melihat ada tetesan darah di lantai. Sedangkan aca sendiri hanya bisa mematung, gak tau harus berbuat apa. Rasa takut dan bersalah terus menghantuinya. Ia takut karna perbuatannya, terjadi hal buruk pada kay dan kandungannya. Sebenarnya dia sempat lupa kalau kay sedang hamil, makanya ia sengaja menarik tangan kay dan mengehentakkannya dengan kuat, maksud hati agar hp nya terlepas dari tangan kay dan bisa kabur secepatnya. tapi nasib berkata lain, ia malah mencelakakan kay.
"mbak mbak cepetan bawa kerumah sakit. Itu udah perdarahan. Kasian itu mbaknya." ucap seorang wanita dari luar toilet. Ucapan orang tersebut seketika membuat fira dan aca kembali tersadar dari kepanikan mereka.
"ca, panggil suaminya kay. Cepetan!!" perintah fira. Aca segera berlari keluar menerobos kerumunan orang-orang yang sedari tadi menonton mereka.
"Dasar pelakor!!" ucap seseorang yang ntah siapa saat aca mencoba menerobos kerumunan orang-orang yang menonton perdebatan mereka tadi.
Aca menajamkan pandangannya ketika ia tiba di aula. Ia mencari dengan seksama, berharap ia segera bertemu dengan suaminya kay. Tak lama ia melihat suaminya kay sedang ngobrol dan sesekali tersenyum atau tertawa. Ternyata suaminya kay sedang ngobrol dengan akbar dan beberapa -mungkin- temannya.
Aca sempat ingin mengurungkan niatnya untuk menghampiri langsung suami kay, ia sempat berfikir untuk nyuruh orang lain yang bilang ke suaminya kay tentang keadaan kay saat ini. Ia malas jika harus bertatap muka dengan akbar lagi. Untungnya ia masih mampu mengesampingkan egonya.
"mas.." ucap aca sambil menarik bagian belakang baju rahman, ia terlihat kikuk. Rahman, akbar dan beberapa pria disekitar mereka ikut menoleh.
"ya??" tanya rahman bingung, tapi dia seperti familiar dengan perempuan yang menarik bajunya tadi.
"mbak temannya kay kan?" tanya rahman ketika ia sudah mengingat siapa wanita yang ada didepannya ini. aca mengangguk, mengiyakan ucapan rahman.
"ada apa?" tanya rahman. akbar terus menatap tidak senang kearah aca, ia hanya tak ingin aca melakukan hal gila kepada rahman seperti yang dilakukan aca kepadanya dulu. aca semakin kikuk dengan tatapan tajam dari akbar.
"Itu mas kay mas.. Kay.. Eeee. Kay.." ucap aca terbata-bata. Dia bingung harus berucap apa, karna gak mungkin kan dia bilang kalau kay sedang terkapar dan perdarahan di toilet karena ulahnya, bisa di amuk dia..
"istri saya kenapa mba?" tanya rahman kaget bercampur panik ketika mendengar nama istrinya disebut, ia takut terjadi hal buruk pada istri dan calon anaknya.
"eemm... Itu tadi Kay jatuh di kamar mandi mas, terus kayanya dia perdarahan juga." jelas aca. Tanpa jawaban rahman langsung lari menuju kamar mandi, disusul oleh aca dan akbar.
"permisi.. Maaf saya mau lewat, saya suaminya." ucap rahman di hadapan kerumunan orang-orang. Ucapan rahman membuat orang-orang yang berkerumun sedikit menyingkir dan memberi rahman jalan.
"innalillahi." ucap rahman ketika ia melihat kondisi istrinya, air matanya lolos begitu saja. Hatinya teriris melihat kondisi istrinya. ia merasa bersalah, seharusnya tadi ia menemati kay ke toilet.
"mas ayo bawa kay ke rumah sakit." ucap fira menyadarkan rahman.
"biar saya aja bang." ucap akbar, rahman lalu menyerahkam kunci mobilnya pada akbar. Rahman lalu menggendong kay, membawanya keluar dari kamar mandi. Ia dan fira berlari menuju lobby aula. Ia terus berdoa dalam hati semoga Allah melindungi istri dan calon anaknya.
"ayo bang" ucap akbar sembari membawa 2 buah payung. Yang satu ia pakai untuk memayungi kay dan yang satunya lagi ia berikan pada fira.
Rahman meletakan kay pada kursi penumpang, setelah itu fira juga masuk kedalam mobil lalu menyandarkan tubuh kay pada dirinya sendiri. Lalu rahman duduk di kursi pengemudi, dan akbar duduk di sebelahnya. Rahman pun langsung melajukan mobilnya secepat yang ia bisa.
Langit semakip gelap, hujan juga turun lebih deras dari sebelumnya, tak ketinggalan suara petir yang saling bersahutan ditambah angin yang juga sangat kencang. Dan itu malah semakin menambah kekalutan rahman. Ia terus menginjak pedal gas mobilnya gak peduli dengan badai yang di terjangnya.
Sesaat terdengar suara petir yang begitu kuat, membuat kaget siapa saja yang mendengarnya. Hanya tinggal satu tikungan maka mereka akan tiba di rumah sakit.
"tahan sebentar ya sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." ucap rahman.
Tanpa mengurangi kecepatan, rahman terus melaju pada tikungan. Air yang tergenang disekitar tikungan tadi malah naik keatas dan menutupi pandangan rahman. hampir saja ia mencelakakan dirinya dan juga yang lainnya karna hampir menabrak pembatas jalan.
"istighfar bang. InsyaAllah mba kay sama bayinya gak kenapa-kenapa bg." ucap akbar menenangkan.
"astaghfirullah al'adzim.. Maaf ya semuanya. Saya.. Sedikit kalut." ucap rahman menyesal, karna sikapnya yang menyetir ugal-ugalan hampir mencelakakan mereka semua, bahkan mungkin pengendara lain juga.
Rumah sakit sudah didepan matanya, mereka hanya terhalang oleh lampu merah. Hanya kurang dari 20 detik lagi mereka akan sampai di rumahsakit. Tapi Allah berkehendak lain. Pohon tua yang ada di kanan jalan mendadak rubuh karna diterpa angin yang sangat kencang, beruntung badan pohon tersebut tidak menimoa merrka atau pengendara lainnya. pohin tersebut tumbang beberapa meter didepan mobil mereka dan menutup jalan di depan mereka.
"innalillahi." ucap akbar dan rahman serempak.
"astaghfirullah... Sakiit banget ya Allah..." ucap kay tertahan. Rahman gak tega melihat istrinya kesakitan begitu.
"sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai". Ucap rahman menenangkan..
"sakit mas.." rintih kay.
"tahan sedikit aja lagi ya sayang, kamu pasti kuat kok." ucap rahman mencoba menguatkan kay.
"kita coba geser pohonnya aja bang, kayanya gak terlalu besar." ucap akbar memberi ide, rahman mengangguk tanda setuju. Mereka berdua mencoba menggeser pohon tersebut namun sia-sia. Beberapa pengendara yang ada disana juga ikut membantu mereka, totalnya ada 5 orang termasuk akbar dan rahman tapi mereka masih belum mampu menggeser pohon tersebut.