
“Mau sampai kapan kamu akan berdiri seperti patung disana?” Jordan baru saja keluar dari kamar
mandi dengan hanya memakai celana sweet pants tanpa atasan. Tangannya sibuk menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil. Melirik dari sudut mata, ia bertanya manakala melihat Lionara yang hanya berdiri kakuh disamping kasur dengan sorot wajah yang masih tertata datar.
Lionara sudah mandi lebih dulu dan telah mengenakan pakaian tidur lengkap.
“Saya menunggu anda.” Sahutnya singkat.
Jordan mengangkat alis, “Untuk?”
“Tadi anda bilang akan melanjutkan pembahasan sebelumnya.”
Ada jeda sebelum kemudian bibir Jordan menyunggingkan seringaian, “Ah ya, pembahasan mengenai malam pertama kita ya?” ucapnya lambat-lambat. Sengaja.
Jordan mendekat—melempar handuk kecil yang ia gunakan tadi di sofa. Mereka berdiri berhadap-hadapan. “Jadi, apa kamu sudah siap, hm?”
Lionara memalingkan wajah kesamping “Bukankah untuk itu anda menikahi saya,” rautnya tanpa
ekspresi.
Jordan menggamit dagu Lionara—mendongak ke arahnya, “Lion, biasakan kalau sedang berbicara jangan memalingkan wajahmu. Aku suamimu. Setidaknya kamu bisa bersikap sopan.”
Lionara tertegun saat jarak wajah mereka kini hanya beberapa centi. Untuk sesaat manik mereka
saling beradu pandang.
“Maaf.” Lionara menunduk, memutuskan tatapannya. Tapi Jordan kembali menahan tengkuknya,
mempersempit jarak wajah keduanya. Sedang sebelah tangan Jordan menekan pinggang Lionara hingga tubuh keduanya menempel. Lionara bergeming dengan raut membeku—napas hangat Jordan menerpa wajahnya ketika berucap
“Bagaimana jika kita mulai dengan berciuman terlebih dulu?”
“A-apa?“
“Kamu pernah berciuman, bukan?” tanya Jordan, tanpa melepas tatapannya dari bibir merona istrinya.
Mendapat pertanyaan demikian, wajah Lionara seketika memanas. Lidahnya terasa keluh untuk membalas. Ia memang tidak pernah berciuman—bahkan terlintas dipikirannya pun tidak. Lionara hanya pernah melihat di kelab para pria dan wanita melakukan hal itu.
Lama tak mendapat sahutan, membuat Jordan pada akhirnya mengerti.
“Tidak perlu dijelaskan. Wajahmu merona. Kamu sangat menyedihkan, istriku” Jordan berdecak dengan nada prihatin
“Apa itu penting untuk di bahas sekarang?”
“Tentu saja. Jadi aku bisa tahu harus memulai dari mana” Jordan mengangkat bahu “Tapi itu bagus. Aku pria pertama yang akan mengajarimu langsung.”
Lionara mengerjap-ngerjap, “Apa mak—“
Kalimat Lionara tidak terselesaikan karna tanpa peringatan Jordan menarik wajahnya mendekat lalu mencium bibirnya. Lionara gugup. Jordan bisa merasakan tubuhnya gemetar. Hal itu membuatnya sadar untuk berhati-hati dan tidak memperlakukan Lionara seperti wanita-wanita lain yang pernah berciuman dengannya.
“Open it,” pintanya “lakukan sama seperti yang kulakukan.”
Bagai tersihir, Lionara menuruti.
“Good girl,” ia memuji
Ia lanjut kembali mencium Lionara dengan perlahan. Dan keputusannya untuk tidak terburu-buru memang tepat karena istrinya ini tidak menolak dan malah membalas apa yang ia lakukan. Suatu reaksi yang luar biasa dari wanita sedingin es itu.
“Aku menyukainya… Lion. Manis… sangat manis…” itu ungkapan jujur darinya. Bibir Lionara memang sangat manis.
Ciuman itu terus berlanjut. Jordan memagut dan ******* bibir Lionara seperti orang kelaparan, dan tanpa sadar tubuh keduanya kini berada di atas kasur dengan Jordan memerangkapnya diatas. Jordan baru melepaskan tautan bibir mereka saat dirasa Lionara yang hampir kehabisan napas. Ciuman Jordan dan belaian lidahnya turun
ke leher Lionara, menggigit dan meninggalkan jejak disana. Lalu tangannya bergerak semakin turun menyusuri perut Lionara yang rata dan…
“Jangan…” refleks, suara Lionara terdengar begitu parau. Tangannya bertumpu pada dada Jordan
Jordan berhenti dan mendongak. Ia menurunkan tangan Lionara di dadanya, menggenggam kedua tangan dengan erat “Kenapa? Do i hurt you?”
Dalam genggamannya, tangan Lionara bergetar dan terasa dingin. Jordan menyatukan jemari mereka, meremasnya berusaha menyalurkan ketenangan.
“Maaf… sejujurnya aku belum siap melakukannya,” lirih Lionara dengan sepasang netra yang sudah basah. “beri saya waktu sedikit lagi.” ungkapnya dengan pancaran putus asa. Kristal bening itu mengalir begitu saja.
Selama beberapa saat Jordan terdiam. Tidak ada kelanjutan tindakan darinya. Lionara menunggu dalam
ketegangan. Tapi sedetik kemudian Lionara menyesali ucapannya barusan. Tidak seharusnya ia mengatakan hal demikian, sedang seluruh tubuhnya sudah menjadi milik lelaki itu.
Tiba-tiba ia merasakan ciuman di sudut matanya yang berair.
“Baiklah… kita memiliki banyak waktu untuk melakukannya.”
Jordan masih ada diatas mengurung Lionara. Ia terlihat tenang dan menampilkan senyum manisnya seperti biasa. Lalu menggulingkan tubuhnya di samping Lionara.
“Sayang sekali,” Jordan mengacak-acak rambut Lionara. Ia menghembuskan napas kasar, “lain kali aku tidak yakin bisa menahan diri lagi”
“Maaf,”
“Sudahlah, sebaiknya kita segera tidur. ” Jordan mengalihkan ketegangan diantara mereka.
“Terima kasih," ucapnya pelan "Selamat malam." Lionara akan membalik tubuhnya membelakangi Jordan, tetapi suara lelaki itu kembali mengudara.
"Jika kamu belum bisa menyerahkan dirimu untukku, setidaknya jangan pernah tidur memunggungiku," tegas Jordan, mengutarakan ketidaksukaannya.
Lionara terdiam.
Kali ini, tanpa penolakan Lionara menggeser tubuhnya mendekat kepada Jordan. Tangan Jordan dengan sigap bergerak merengkuh tubuh mungil istrinya lalu mendekapnya erat. Sedang kaki panjangnya menindih kaki Lionara
hingga tidak bisa bergerak kemanapun.
"Begini lebih nyaman," gumam Jordan seraya menghidu aroma tubuh Lionara. "Kamu memakai sabunku?"
“Maaf, tapi hanya itu yang ada di kamar mandi. Besok aku akan-,"
Jordan berdecak. “Aku hanya memastikan, bukan menyuruhmu minta maaf.“ dengan sengaja ia mengisap kuat leher jenjang Lionara hingga membuat perempuan itu berjengit kaget.
"Kenapa anda melakukan itu?" Lionara berusaha menahan nada suaranya agar tidak tinggi. Jujur saja, itu membuatnya tidak nyaman.
"Itu hukuman karna sejak tadi kamu masih berkata formal padaku." Jordan menjauhkan kepalanya, menatap sinis pada Lionara. "Hilangkan kata anda-saya, gunakan aku-kamu. Aku suamimu, bukan atasanmu. Mengerti?"
Lionara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ba-baiklah,"
Jordan tersenyum tipis kemudian mendekap kembali tubuh mungil Lionara “Tidurlah. Sebelum aku berubah pikiran untuk menyerangmu,” titahnya dengan mata terpejam sambil menepuk-nepuk pelan punggung Lionara.
****
Pagi harinya Lionara sudah duduk di meja makan bersama dengan Leon yang sudah lengkap dengan seragam
sekolahnya, sedang para pelayan berlalu lalang. Beberapa jenis makanan sudah ditata diatas meja—siap untuk dicicipi. Tapi Lionara dan Leon urung melakukannya sebab mereka tengah menunggu sang tuan rumah turun untuk bergabung bersama mereka.
“Kamu yakin sudah bisa masuk sekolah sekarang?” tanya Lionara masih cemas
Leon tersenyum mengangguk. “Iya kak. Aku sudah merasa lebih baik. Lagipula aku tidak ingin ketinggalan pelajaran lagi,”
“Baiklah, kalau kamu sudah merasa lebih baik. Setelah sarapan kakak akan mengantarmu ke sekolah,”
“Tidak perlu” Jordan yang menjawab. Lelaki itu baru muncul lengkap dengan pakaian kerjanya yang sudah rapih, membuat Lionara dan Leon menoleh. Kepala pelayan menarik kursi utama di meja dan Jordan duduk disana.
“Selamat pagi,” sapanya “mulai hari ini Leon sudah pindah ke sekolah yang baru. untuk hari ini dia akan berangkat bersamaku. lalu seterusnya dia akan diantar oleh sopir.”
“Kenapa harus pindah?” tanya Lionara terselip nada yang memprotes.
“Karna aku suka” Jordan mengangkat bahu santai lalu meminum jus jeruk yang di sodorkan pelayan.
Lionara hendak mengeluarkan suara lagi tapi Jordan lebih dulu mengangkat sebelah tangannya—menyelah.
“Daripada memprotesku sebaiknya kamu kemari, duduk disebelahku dan lakukan tugasmu sebagai istriku,” Jordan menunjuk dengan dagu kursi disebelahnya yang kosong, karna Lionara memang duduk disebrang—disamping Leon.
Lionara mengatupkan bibirnya. Ia tidak lagi menjawab dan mulai melakukan tugasnya. Lionara mengisih
piring Jordan dengan dua potong sandwich sayuran dan telur lalu meletakkannya di hadapan suaminya. Setelahnya ia duduk disebelah Jordan dan mulai menyendok makanan ke piringnya.
Lalu mereka mulai makan dengan tenang, tanpa gangguan. Jordan tampaknya menerapkan table manner pada saat makan. Terbukti dari cara lelaki itu yang tidak lagi mengeluarkan suara pada saat makan berlangsung.
Setelah selesai sarapan, Jordan dan Leon sudah akan berangkat. Mobil sudah siap siap, seorang sopir membuka pintu dan berdiri di samping pintu. Sedang Samuel—asistennya juga sudah berdiri dekat mobil. dia menundukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi pada ketiganya. Hanya Lionara dan Leon yang menjawab sapaan itu.
“Tunggu,” selah Lionara saat Jordan akan memasuki mobil
“Ada apa?”
“Apakah aku bisa keluar mencari pekerjaan?”
Jordan mengangkat sebelah alisnya “Apa uang yang kuberikan tidak cukup?”
“Bukan begitu. Aku hanya tidak bisa duduk berdiam diri dirumah”
“Tidak boleh.”
“Kenapa tidak? Bukankah kamu mengatakan aku bisa melakukan apapun asalkan itu tidak melibatkanmu?”
“Masa bodoh. Pokoknya selama menikah denganku lupakan saja acara mencari pekerjaanmu itu. Ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan sebagai istriku.” Jordan menjeda—maniknya menatap tajam Lionara. “Minggu depan aku akan membawamu ke Barcelona—bertemu dengan lelaki yang membuatku. Kebetulan di hari itu aku akan melangsungkan pertunangan dengan gadis pilihan mereka. Dan selama seminggu ini, aku mau kamu
mempersiapkan diri dengan baik. Aku akan menyuruh Pak Lee untuk mengajarimu mengenai apa saja yang harus kamu lakukan nanti.” terang Jordan dengan nada tegas tak terbantahkan.
Lionara terdiam. Dia tidak menjawab lagi karna kini pikirannya melayang berusaha mencerna setiap kalimat yang diutarakan lelaki itu.
Bertemu dengan lelaki yang membuatnya?
Pertunangan?
Mempersiapkan diri?
Cup
Terhenyak, Lionara membulatkan mata saat tanpa ijin Jordan mengecup keningnya. Lama. Entah sejak
kapan Jordan sudah berdiri sedekat ini dengannya. Lelaki itu bahkan tersenyum lebar, secerah mentari bersinar—berbanding terbalik dengan rautnya yang sempat menggelap saat membicarakan ayahnya tadi.
Jordan menundukkan wajah dan mensejajarkanya tepat di telinga Lionara, serta berbisik dengan seringai
yang mengerikan
“Bersiap-siaplah, pertunjukan sesungguhnya akan segera dimulai, istriku.”
To be continued
IG: @rianitasitumorangg