JORDAN

JORDAN
Chapter 41



Jordan


terus menatap bosan pada Kakeknya yang tengah asik menimang cicitnya sambil


diajak bicara. Setelah seminggu berada di Rumah sakit, pagi tadi keluarga


kecilnya sudah kembali ke rumah. Dan malam ini segalanya telah disiapkan oleh


Jordan untuk makan malam sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan untuk menyambut


anak pertama keluarga mereka.


“Yang


punya anak siapa, yang nguasaiin siapa? Heran deh, dari pagi loh daddynya belum


gendong,” protes Jordan, menyindir sang kakek yang sama sekali tak mempedulikan


kehadirannya disana. Bahkan pria tua itu masih betah mengayun-ayunkan tubuh si


kecil dari beberapa jam yang lalu.


Dan


astaga... bayi tampan yang telah diberinya nama Jay Manuel Christoper itu—wajahnya persis sekali dengan Lionara


versi laki-laki. Yang mirip dengan Jordan hanya bagian mata biru sikecil dan


lesung di kedua pipinya. Indah. Perpaduan yang sempurna dari keduanya.


“Nanti.


Kamu bagian begadangnya.” Ketus Rikkard sambil mengelus-elus lembut kepala


cicitnya yang sudah kembali tertidur.


“Ini


nih baru yang namanya kakek enggak ada ahlak. Penginnya yang enak-enak aja.”


cerocos Jordan “makanya nikah sana kek. Biar bisa cetak anak yang banyak lagi,”


TUK


 Di detik Jordan menyelesaikan ucapannya,


bantal sofa melayang tepat ke wajahnya. “Language,


Jo!” decak Rikkard “Jay, kalau sudah besar, jangan niru kelakuan setan daddymu


ya. Enggak baik buat kesehatan mental dan jiwa. Sesat.” Rikkard menasihati bayi


yang jelas-jelas tidak akan mendengarnya itu.


“Tenang


aja kek, dari awal juga kayaknya Jay enggak ada minat kayaknya buat niru Jordan.


Buktinya dari wajah aja, Jay lebih mengcopy mommynya.” Aldrich nimbrung sambil


mempermainkan bibir mungil si kecil yang merah. “Aku yakin bibit-bibit setannya


si Jo gak bakal mempan deh sama anak ini,”


“Tenang


Jo, Kalau yang ini enggak bisa lo ajak sesat, cetak adiknya!” celetuk Evan


sambil terus mengunyah snack potato-nya.


Baru


saja Jordan akan membalas, suara tangis bayinya tiba-tiba mengudara, membuat


Aldrich malah tertawa dan segera berhenti mempermainkan bibir bocah itu.


“See, anakku jadi bangun karena dengar


suara cempreng kalian,” sengit Jordan. berjalan mendekati kakeknya yang


langsung sibuk menenangkan bayinya.


“Mmmm…


Uncle nakal ya? Ikut daddy, ikut daddy…” Dengan hati-hati Jordan mengambil alih


tubuh kecil Jay yang masih menangis untuk ia gendong.


“Ululuu…


jangoan masa nangis sih? Jangan nangis dong nak…”


Dalam


sekejap tangis itu berhenti. Mata bulat nan basah itu menatap wajah Jordan yang


juga menunduk menatapnya.


“Smart boy. Lain kali kalau ada yang


nakal balas ya? Jangan nangis, it’s not


gentle.”


Seakan


mengerti ucapan daddynya, Jay mengedipkan matanya dengan tangan bergerak ke


atas seolah meninju membuat Jordan tertawa.


“Iya,


balas seperti itu. Tonjok keras…”


“Jangan


aneh-aneh kamu ya,” decak Rikkard yang dibalas lirikan singkat Jordan “Cicitku


masih terlalu kecil untuk kamu jejali ajaran sesat begitu.”


“Grandpa-mu


kenapa sih Jay? Hm? Kenapa coba? Orang kita biasa aja kan? Iya kan?” celoteh


Jordan senang dengan sesekali mencium gemas pipi berisi putranya. Bukannya


menangis seperti tadi Jay terlihat senang dengan senyum di bibirnya.


“Ih


senyum senyum… ganteng banget sih. Anak siapa sih? Hm? Ganteng banget anak


daddy.”


Baik


Rikkard, Aldrich maupun Evan yang mendengar celotehan Jordan ikut tersenyum.


Jika mengingat kembali bagaimana mengerikannya sosok Jordan yang dahulu, sangat


berbanding terbalik dengan suasana hangat yang mereka lihat sekarang. Kehadiran


Lionara telah membawa banyak perubahan besar dalam hidup Jordan yang kelam. Lelaki


itu terlihat lebih manusiawi dan begitu lembut. Ditambah semenjak kehadiran


Jay, Rikkard seperti melihat sisi lain cucunya itu. Jordan yang penyayang


dengan sifat lembut dan manisnya kala menenangkan Jay membuat Rikkard begitu


terharu. Ia sangat bahagia, akhirnya cucu kesayangannya itu memiliki tempat


untuknya berpulang.


****


Malam


sudah semakin larut, menyisakan Jordan dan Lionara yang sudah di kamar bersama dengan


anak mereka. Lionara tengah memberikan ASI , dan mereka begadang lagi sampai


dini hari—sama seperti malam-malam sebelumnya.


Mengajak


bicara, menciumi anaknya, sepasang netra biru itu sayu dan menangis lagi


meminta susu ketika sudah bosan. Jay masih belum kenyang—dibuai dalam dekapan


hangat Lionara. Dan Jordan, meskipun mengantuk berat, setiap kali anaknya


merengek dan Lionara menyusui, ia juga akan ikut terjaga. Duduk disebelahnya,


dengan tangan yang terlingkar di bahu Lionara—mengusap-usap, menegaskan bahwa


ia di sampingnya, menemani. Kadang menyandarkan kepala di bahunya, sampai


istrinya memprotes keberatan. Tidak ada yang lebih menyenangkan akhir-akhir ini


dari mendengar tangisan jagoannya dan omelan Lionara. Jordan tidak menyangka


hidupnya bisa sesempurna ini. Seorang lelaki kotor dan berlumuran dosa,


diberikan kebahagiaan sebesar ini. Tuhan begitu baik padanya.


Tangan


Jordan turun memaninkan bibir dan pipi Jay yang masih juga belum kenyang


padahal matanya sudah terpejam.


“Jay,


yang sedang kamu isap ini punya Daddy loh. Kamu cepat besar ya Nak, supaya


Daddy enggak berbagi lagi sama kamu.” Jordan mulai mengeleluarkan ucapan tak


berbobotnya “Kan enggak lucu kalau misal daddy lagi pengin, terus kamu juga


mau—then finally, kita berdua jadi kayak lintah yang saling mengisap di tubuh


mommy kamu. Kasihan tahu. Sementara kalau daddy udah pengin mommy kamu, daddy


paling enggak bisa berhenti.”


Lionara


menoyor bisep Jordan, “Jo, bisa enggak kalau sama anak bicaranya enggak


sefrontal gitu?” decak Lionara gemas.


Jordan


menatap intens gundukan berisi itu “Sayang, mau rasa dong,”


“Jangan


aneh-aneh kamu ya,” delik Lionara dengan tatapan horor


“Sekali


aja, sayang.”


Dan


belum sempat Lionara menjawab, tangan Jordan lebih dahulu menangkup sebelah


payudara Lionara yang bebas lalu mengisapnya, sama seperti yang dilakukan


putranya. Dan bayi tua itu benar-benar tidak waras.


“Jo-


awshhh…” Lionara memukul pelan kepala Jordan.


Cukup


lama, hingga dia mengangkat wajahnya—tersenyum tanpa dosa.


“Enggak


ada rasa ternyata. Hambar.” Jordan menjawil pipi Jay gemas. “Kok kamu bisa suka


sih, Nak? Enggak enak padahal isinya tuh.”


Lionara


menggeleng tak percaya. “Jangan diganggu terus. Jay udah mulai tidur.”


Jordan


menurut. Beberapa menit kemudian barulah anak itu terlelap pulas dan diletakkan


dengan hati-hati di box bayi tepat dekat ranjang.


“Sini,


sini sayangnya aku…” Jordan merengkuh tubuh Lionara, menaburkan ciuman di pucuk


kepalanya. “Capek?”


“Enggak.


Aku senang,” Lionara membalas pelukan Jordan, menempelkan wajah di dada bidang


suaminya.


“Atau


kita pakai jasa perawat aja biar kamu enggak terlalu repot?”


Lionara


menggeleng. “Aku masih bisa sendiri, Jo. Lagian itu sudah menjadi tugasku untuk


merawat Jay.”


“Yakin


cuma Jay? Terus aku gimana?” Jordan menaik turunkan alisnya “Aku juga perlu di


servis sama kamu loh,”


Lionara


mencubit gemas perut keras Jordan, “Jangan mulai deh kamu,”


Jordan


memberi tubuh mereka jarak, lantas menunduk untuk menyematkan gigitan pelan


pada hidung mancungnya.


“Gimana


mau mulai orang kamunya aja belum bisa aku masukin,” balasnya ambigu


Lionara


memutar bola mata. “Apaan sih Jo… Apaan? Kamu enggak nyambung banget tahu gak?”


“Sayang,


kapan kita diperbolehkan bercinta? Aku sudah tidak kuat main sama sabun terus.”


“Satu


bulan lagi.”


“Apa?!”


“Sstt..


suara kamu, Jo.”


“Yang


benar aja dong sayang? Itu lama bengettt,” dia merengut tidak senang


Mendorong


tengkuk Jordan, Lionara tidak menyahuti—membalas ucapan Jordan dengan ciuman


lembut di bibir kemerahan suaminya.


“Mohon


bersabar, ini ujian.” Lionara mengulum senyum seraya mengusap usap dada


telanjang Jordan. Ada-ada saja tingkah Jordan yang selalu berhasil membuatnya


tersenyum bahkan tertawa, yang tidak akan pernah orang luar lihat maupun


dengar. Sambil mengusap dada Jordan, Lionara melontarkan pertanyaan yang sudah


lama terpendam di hatinya.


“Papamu,


udah tahu Jay lahir?” Lionara dapat merasakan tubuh Jordan yang tersentak lalu


berubah kaku.


“Untuk


apa membahasnya? Dia tahu atau tidak, sama sekali tidak merubah apapun.”


Geraman


dalam jawaban Jordan tidak akan menyurutkan semangat Lionara.


“Tapi


biar bagaimana pun beliau adalah Papamu, sekaligus kakek Jay,”


Jordan


menghela napas dan melepas pelukannya pada Lionara. Jordan telentang dan


menutup mata dengan lengannya yang bebas yang tidak Lionara jadikan bantal.


“Please


mommy, jangan membahas pria tua sialan itu lagi. Aku enggak suka. Dia bahkan


tidak pantas disebut kakek oleh anakku” gumamnya dengan nada lelah “Jangan


lupakan, dia pernah merendahkanmu dan juga tidak pernah mengakuimu sebagai


menantunya! Jadi, berhenti membicarakan pria terkutuk itu.”


Lionara


menatap nelangsa pada Jordan. Suaminya itu sangat sensitive pada hal-hal yang


berhubungan dengan Ayahnya. Kebenciannya pada Josep telah mendarah daging, dan


akan sangat sulit bagi Lionara membujuk Jordan untuk belajar memaafkan semua


perbuatan Ayahnya dimasa lampau. Disatu sisi, ia ingin membantu ibu mertuanya


untuk memperdamaikan Jordan dengan Ayahnya, tapi disisi lain ia juga tidak bisa


memaksa Jordan untuk membuka pintu maafnya. Karena bagaimanapun, segala


kepahitan yang terjadi dimasa lampau, Jordanlah yang menjalaninya. Dan dari


cerita Rossalyn saat pertemuan mereka terakhir, Lionara bisa menyimpulkan bahwa


Jordan hanyalah korban dari keegoisan orang-orang dewasa di keluarganya.


Lionara


duduk, mengusap rahang Jordan yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. “Maaf,”


bisiknya


Jordan


mengintip dari balik lengannya, melihat mata Lionara yang kini berkaca-kaca


membuatnya kaget. Jordan duduk, membelai pipi Lionara dan langsung diciumnya


bergantian hingga bulir bening itu jatuh.


“Jangan


nangis. Aku tidak suka melihatnya.” Jordan mengusap setetes air mata Lionara. Kemudian


menyatukan kening mereka. “Dengar, sejak kamu berhasil membuka mata dari tidur


panjangmu waktu itu, aku sudah memutuskan untuk berhenti melanjutkan balas


dendamku pada pria itu dan bertekad menganggapnya tidak pernah ada lagi. Tujuan


hidupku sekarang hanya untuk membahagiakan kamu dan anak kita. Tanpa adanya bayang-bayang


masa lalu. So, please mommy… jangan


pernah lagi mengungkit tentang pria itu.”


Lionara


mengangguk, kemudian mendekap erat tubuh Jordan. “Maafkan aku,”


Jordan


tersenyum, balas memeluk tak kalah erat. “I


love you so much. Terima kasih sudah menjadi istri terbaik untukku,


sekaligus jadi mommy terbaik bagi anak kita. Karena kamu dan Jay adalah


kebahagian terbesarku.”


“I love you more than I can say, daddy.”


Dan


ucapan sakral itu selalu menjadi penutup hari mereka, sebelum kemudian kedua


mata itu terpejam dengan tubuh saling memeluk erat.


****


“What the hell are


you doing, Jo?! Are you insane??!”


Jantung


Lionara seperti jatuh ke perut kala menyaksikan kelakuan tak masuk akal Jordan


yang dengan entengnya membaringkan tubuh mungil bayi mereka di atas gitar.


Sedang lelaki itu tampak asik menyetel senarnya.



Lionara


tadi sedang mandi, dan menyuruh Jordan untuk menjemur bayi mereka sebentar di


balkon kamar. Namun pada saat keluar dari kamar mandi, alangkah syoknya ia


begitu mendapati kelakuan abnormal suaminya.


Jordan


mendongak, kemudian terkekeh pelan “Wanna


join with us, mommy?” ucapnya tanpa dosa. Lionara segera menghampiri dan berdiri


di depannya dengan muka masam.


“Kamu


tahu apa yang kamu lakukan itu sangat bahaya, Jo! Badannya masih belum kuat


kamu letakin begitu,”


“Apa


sih sayang? Gak ada yang bahaya kok. Aku uda mastiin posisi ternyaman buat Jay.


Kamu tenang aja, okay?” Jordan berucap lembut


“Tapi


Jo itu tetap aja eng—“


“Daripada


mengomel, mending kamu duduk disamping aku,” Jordan menyela cepat “Aku mau


nyanyiin anak kita,”


Lionara


diam. Masih menatap tidak setujuh pada Jordan.


“Come on mommy, please?” pintanya memelas


Lionara


menghela napas sabar, kemudian duduk disamping Jordan dengan tangan yang


langsung mengusap lembut kepala putranya yang tampak begitu tenang.


Jordan


tersenyum, lalu mengecup kening istrinya. “Anteng kan dianya? Apa kamu pikir


aku bakal tega nempatin anak aku dalam bahaya? Sementara aku terlalu menyayangi


dia, melebihi nyawaku sendiri,”


“Maaf…”


lirih Lionara, merasa sedikit bersalah


“It’s


okay, sayangku. Sekarang sebaiknya kamu dengarin persembahan lagu dari suami


tampanmu ini,” Jordan mengerling jenaka, dibalas anggukan senyum Lionara.


Jordan


pun mulai memetikkan tangannya di senar gitar, perlahan bibirnya mulai


menyanyikan lagu yang ingin dia perdengarkan.


The other night dear, as I lay


sleeping


I dreamed I held you in my arms


But when I awoke, dear, I was mistaken


So I hung my head and I cried.


You are my sunshine, my only


sunshine


You make me happy when skies are gray


You'll never know dear, how much I love you


Please don't take my sunshine away


I'll always love you and make you


happy,


If you will only say the same.


But if you leave me and love another,


You'll regret it all some day


You are my sunshine, my only


sunshine


You make me happy when skies are gray


You'll never know dear, how much I love you


Please don't take my sunshine away


Jordan menyelesaikan lagu itu dengan


penuh hikmat. Suaranya merdu, tangannya memetik senar gitar dengan alunan nada


yang begitu indah, sedang tatapan penuh cinta terus terarah pada Lionara dan


bayi tidurnya yang begitu tenang—seperti sangat menikmati nyayiannya.


Sementara Lionara menatap dalam


diam, namun hatinya dibuat semakin terpesona pada sosok Jordan entah untuk ke berapa kalinya.


Setelah nyanyiannya selesai, dengan


hati-hati Jordan mengangkat tubuh mungil Jay kedalam gendongannya, sedang


Lionara dengan sigap langsung menyingkirkan gitar tersebut dari Jordan. Tepat


saat Jordan berdiri, mata bulat Jay terbuka dan tak lama kemudian senyum anak


itu mengembang menatap sang daddy.


“Wah… anak daddy akhirnya bangun.


Enak ya sayang lagunya? Kamu suka, hm?” Jordan mencium gemas pipi gembil itu


hingga tak lama tawa kecil bayi itu mengudara. Membuat Jordan dan Lionara


saling melempar pandang sejenak dan di detik selanjutnya sepasang suami istri


itu sontak sama-sama tertawa lepas. Tawa perdana bayi kecil mereka.


**To be continued


IG @rianitasitumorang


...Jordan Matthew Christoper...



...Lionara Florentine...



...Jay Manuel Christoper...