
Jordan
terus menatap bosan pada Kakeknya yang tengah asik menimang cicitnya sambil
diajak bicara. Setelah seminggu berada di Rumah sakit, pagi tadi keluarga
kecilnya sudah kembali ke rumah. Dan malam ini segalanya telah disiapkan oleh
Jordan untuk makan malam sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan untuk menyambut
anak pertama keluarga mereka.
“Yang
punya anak siapa, yang nguasaiin siapa? Heran deh, dari pagi loh daddynya belum
gendong,” protes Jordan, menyindir sang kakek yang sama sekali tak mempedulikan
kehadirannya disana. Bahkan pria tua itu masih betah mengayun-ayunkan tubuh si
kecil dari beberapa jam yang lalu.
Dan
astaga... bayi tampan yang telah diberinya nama Jay Manuel Christoper itu—wajahnya persis sekali dengan Lionara
versi laki-laki. Yang mirip dengan Jordan hanya bagian mata biru sikecil dan
lesung di kedua pipinya. Indah. Perpaduan yang sempurna dari keduanya.
“Nanti.
Kamu bagian begadangnya.” Ketus Rikkard sambil mengelus-elus lembut kepala
cicitnya yang sudah kembali tertidur.
“Ini
nih baru yang namanya kakek enggak ada ahlak. Penginnya yang enak-enak aja.”
cerocos Jordan “makanya nikah sana kek. Biar bisa cetak anak yang banyak lagi,”
TUK
Di detik Jordan menyelesaikan ucapannya,
bantal sofa melayang tepat ke wajahnya. “Language,
Jo!” decak Rikkard “Jay, kalau sudah besar, jangan niru kelakuan setan daddymu
ya. Enggak baik buat kesehatan mental dan jiwa. Sesat.” Rikkard menasihati bayi
yang jelas-jelas tidak akan mendengarnya itu.
“Tenang
aja kek, dari awal juga kayaknya Jay enggak ada minat kayaknya buat niru Jordan.
Buktinya dari wajah aja, Jay lebih mengcopy mommynya.” Aldrich nimbrung sambil
mempermainkan bibir mungil si kecil yang merah. “Aku yakin bibit-bibit setannya
si Jo gak bakal mempan deh sama anak ini,”
“Tenang
Jo, Kalau yang ini enggak bisa lo ajak sesat, cetak adiknya!” celetuk Evan
sambil terus mengunyah snack potato-nya.
Baru
saja Jordan akan membalas, suara tangis bayinya tiba-tiba mengudara, membuat
Aldrich malah tertawa dan segera berhenti mempermainkan bibir bocah itu.
“See, anakku jadi bangun karena dengar
suara cempreng kalian,” sengit Jordan. berjalan mendekati kakeknya yang
langsung sibuk menenangkan bayinya.
“Mmmm…
Uncle nakal ya? Ikut daddy, ikut daddy…” Dengan hati-hati Jordan mengambil alih
tubuh kecil Jay yang masih menangis untuk ia gendong.
“Ululuu…
jangoan masa nangis sih? Jangan nangis dong nak…”
Dalam
sekejap tangis itu berhenti. Mata bulat nan basah itu menatap wajah Jordan yang
juga menunduk menatapnya.
“Smart boy. Lain kali kalau ada yang
nakal balas ya? Jangan nangis, it’s not
gentle.”
Seakan
mengerti ucapan daddynya, Jay mengedipkan matanya dengan tangan bergerak ke
atas seolah meninju membuat Jordan tertawa.
“Iya,
balas seperti itu. Tonjok keras…”
“Jangan
aneh-aneh kamu ya,” decak Rikkard yang dibalas lirikan singkat Jordan “Cicitku
masih terlalu kecil untuk kamu jejali ajaran sesat begitu.”
“Grandpa-mu
kenapa sih Jay? Hm? Kenapa coba? Orang kita biasa aja kan? Iya kan?” celoteh
Jordan senang dengan sesekali mencium gemas pipi berisi putranya. Bukannya
menangis seperti tadi Jay terlihat senang dengan senyum di bibirnya.
“Ih
senyum senyum… ganteng banget sih. Anak siapa sih? Hm? Ganteng banget anak
daddy.”
Baik
Rikkard, Aldrich maupun Evan yang mendengar celotehan Jordan ikut tersenyum.
Jika mengingat kembali bagaimana mengerikannya sosok Jordan yang dahulu, sangat
berbanding terbalik dengan suasana hangat yang mereka lihat sekarang. Kehadiran
Lionara telah membawa banyak perubahan besar dalam hidup Jordan yang kelam. Lelaki
itu terlihat lebih manusiawi dan begitu lembut. Ditambah semenjak kehadiran
Jay, Rikkard seperti melihat sisi lain cucunya itu. Jordan yang penyayang
dengan sifat lembut dan manisnya kala menenangkan Jay membuat Rikkard begitu
terharu. Ia sangat bahagia, akhirnya cucu kesayangannya itu memiliki tempat
untuknya berpulang.
****
Malam
sudah semakin larut, menyisakan Jordan dan Lionara yang sudah di kamar bersama dengan
anak mereka. Lionara tengah memberikan ASI , dan mereka begadang lagi sampai
dini hari—sama seperti malam-malam sebelumnya.
Mengajak
bicara, menciumi anaknya, sepasang netra biru itu sayu dan menangis lagi
meminta susu ketika sudah bosan. Jay masih belum kenyang—dibuai dalam dekapan
hangat Lionara. Dan Jordan, meskipun mengantuk berat, setiap kali anaknya
merengek dan Lionara menyusui, ia juga akan ikut terjaga. Duduk disebelahnya,
dengan tangan yang terlingkar di bahu Lionara—mengusap-usap, menegaskan bahwa
ia di sampingnya, menemani. Kadang menyandarkan kepala di bahunya, sampai
istrinya memprotes keberatan. Tidak ada yang lebih menyenangkan akhir-akhir ini
dari mendengar tangisan jagoannya dan omelan Lionara. Jordan tidak menyangka
hidupnya bisa sesempurna ini. Seorang lelaki kotor dan berlumuran dosa,
diberikan kebahagiaan sebesar ini. Tuhan begitu baik padanya.
Tangan
Jordan turun memaninkan bibir dan pipi Jay yang masih juga belum kenyang
padahal matanya sudah terpejam.
“Jay,
yang sedang kamu isap ini punya Daddy loh. Kamu cepat besar ya Nak, supaya
Daddy enggak berbagi lagi sama kamu.” Jordan mulai mengeleluarkan ucapan tak
berbobotnya “Kan enggak lucu kalau misal daddy lagi pengin, terus kamu juga
mau—then finally, kita berdua jadi kayak lintah yang saling mengisap di tubuh
mommy kamu. Kasihan tahu. Sementara kalau daddy udah pengin mommy kamu, daddy
paling enggak bisa berhenti.”
Lionara
menoyor bisep Jordan, “Jo, bisa enggak kalau sama anak bicaranya enggak
sefrontal gitu?” decak Lionara gemas.
Jordan
menatap intens gundukan berisi itu “Sayang, mau rasa dong,”
“Jangan
aneh-aneh kamu ya,” delik Lionara dengan tatapan horor
“Sekali
aja, sayang.”
Dan
belum sempat Lionara menjawab, tangan Jordan lebih dahulu menangkup sebelah
payudara Lionara yang bebas lalu mengisapnya, sama seperti yang dilakukan
putranya. Dan bayi tua itu benar-benar tidak waras.
“Jo-
awshhh…” Lionara memukul pelan kepala Jordan.
Cukup
lama, hingga dia mengangkat wajahnya—tersenyum tanpa dosa.
“Enggak
ada rasa ternyata. Hambar.” Jordan menjawil pipi Jay gemas. “Kok kamu bisa suka
sih, Nak? Enggak enak padahal isinya tuh.”
Lionara
menggeleng tak percaya. “Jangan diganggu terus. Jay udah mulai tidur.”
Jordan
menurut. Beberapa menit kemudian barulah anak itu terlelap pulas dan diletakkan
dengan hati-hati di box bayi tepat dekat ranjang.
“Sini,
sini sayangnya aku…” Jordan merengkuh tubuh Lionara, menaburkan ciuman di pucuk
kepalanya. “Capek?”
“Enggak.
Aku senang,” Lionara membalas pelukan Jordan, menempelkan wajah di dada bidang
suaminya.
“Atau
kita pakai jasa perawat aja biar kamu enggak terlalu repot?”
Lionara
menggeleng. “Aku masih bisa sendiri, Jo. Lagian itu sudah menjadi tugasku untuk
merawat Jay.”
“Yakin
cuma Jay? Terus aku gimana?” Jordan menaik turunkan alisnya “Aku juga perlu di
servis sama kamu loh,”
Lionara
mencubit gemas perut keras Jordan, “Jangan mulai deh kamu,”
Jordan
memberi tubuh mereka jarak, lantas menunduk untuk menyematkan gigitan pelan
pada hidung mancungnya.
“Gimana
mau mulai orang kamunya aja belum bisa aku masukin,” balasnya ambigu
Lionara
memutar bola mata. “Apaan sih Jo… Apaan? Kamu enggak nyambung banget tahu gak?”
“Sayang,
kapan kita diperbolehkan bercinta? Aku sudah tidak kuat main sama sabun terus.”
“Satu
bulan lagi.”
“Apa?!”
“Sstt..
suara kamu, Jo.”
“Yang
benar aja dong sayang? Itu lama bengettt,” dia merengut tidak senang
Mendorong
tengkuk Jordan, Lionara tidak menyahuti—membalas ucapan Jordan dengan ciuman
lembut di bibir kemerahan suaminya.
“Mohon
bersabar, ini ujian.” Lionara mengulum senyum seraya mengusap usap dada
telanjang Jordan. Ada-ada saja tingkah Jordan yang selalu berhasil membuatnya
tersenyum bahkan tertawa, yang tidak akan pernah orang luar lihat maupun
dengar. Sambil mengusap dada Jordan, Lionara melontarkan pertanyaan yang sudah
lama terpendam di hatinya.
“Papamu,
udah tahu Jay lahir?” Lionara dapat merasakan tubuh Jordan yang tersentak lalu
berubah kaku.
“Untuk
apa membahasnya? Dia tahu atau tidak, sama sekali tidak merubah apapun.”
Geraman
dalam jawaban Jordan tidak akan menyurutkan semangat Lionara.
“Tapi
biar bagaimana pun beliau adalah Papamu, sekaligus kakek Jay,”
Jordan
menghela napas dan melepas pelukannya pada Lionara. Jordan telentang dan
menutup mata dengan lengannya yang bebas yang tidak Lionara jadikan bantal.
“Please
mommy, jangan membahas pria tua sialan itu lagi. Aku enggak suka. Dia bahkan
tidak pantas disebut kakek oleh anakku” gumamnya dengan nada lelah “Jangan
lupakan, dia pernah merendahkanmu dan juga tidak pernah mengakuimu sebagai
menantunya! Jadi, berhenti membicarakan pria terkutuk itu.”
Lionara
menatap nelangsa pada Jordan. Suaminya itu sangat sensitive pada hal-hal yang
berhubungan dengan Ayahnya. Kebenciannya pada Josep telah mendarah daging, dan
akan sangat sulit bagi Lionara membujuk Jordan untuk belajar memaafkan semua
perbuatan Ayahnya dimasa lampau. Disatu sisi, ia ingin membantu ibu mertuanya
untuk memperdamaikan Jordan dengan Ayahnya, tapi disisi lain ia juga tidak bisa
memaksa Jordan untuk membuka pintu maafnya. Karena bagaimanapun, segala
kepahitan yang terjadi dimasa lampau, Jordanlah yang menjalaninya. Dan dari
cerita Rossalyn saat pertemuan mereka terakhir, Lionara bisa menyimpulkan bahwa
Jordan hanyalah korban dari keegoisan orang-orang dewasa di keluarganya.
Lionara
duduk, mengusap rahang Jordan yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. “Maaf,”
bisiknya
Jordan
mengintip dari balik lengannya, melihat mata Lionara yang kini berkaca-kaca
membuatnya kaget. Jordan duduk, membelai pipi Lionara dan langsung diciumnya
bergantian hingga bulir bening itu jatuh.
“Jangan
nangis. Aku tidak suka melihatnya.” Jordan mengusap setetes air mata Lionara. Kemudian
menyatukan kening mereka. “Dengar, sejak kamu berhasil membuka mata dari tidur
panjangmu waktu itu, aku sudah memutuskan untuk berhenti melanjutkan balas
dendamku pada pria itu dan bertekad menganggapnya tidak pernah ada lagi. Tujuan
hidupku sekarang hanya untuk membahagiakan kamu dan anak kita. Tanpa adanya bayang-bayang
masa lalu. So, please mommy… jangan
pernah lagi mengungkit tentang pria itu.”
Lionara
mengangguk, kemudian mendekap erat tubuh Jordan. “Maafkan aku,”
Jordan
tersenyum, balas memeluk tak kalah erat. “I
love you so much. Terima kasih sudah menjadi istri terbaik untukku,
sekaligus jadi mommy terbaik bagi anak kita. Karena kamu dan Jay adalah
kebahagian terbesarku.”
“I love you more than I can say, daddy.”
Dan
ucapan sakral itu selalu menjadi penutup hari mereka, sebelum kemudian kedua
mata itu terpejam dengan tubuh saling memeluk erat.
****
“What the hell are
you doing, Jo?! Are you insane??!”
Jantung
Lionara seperti jatuh ke perut kala menyaksikan kelakuan tak masuk akal Jordan
yang dengan entengnya membaringkan tubuh mungil bayi mereka di atas gitar.
Sedang lelaki itu tampak asik menyetel senarnya.
Lionara
tadi sedang mandi, dan menyuruh Jordan untuk menjemur bayi mereka sebentar di
balkon kamar. Namun pada saat keluar dari kamar mandi, alangkah syoknya ia
begitu mendapati kelakuan abnormal suaminya.
Jordan
mendongak, kemudian terkekeh pelan “Wanna
join with us, mommy?” ucapnya tanpa dosa. Lionara segera menghampiri dan berdiri
di depannya dengan muka masam.
“Kamu
tahu apa yang kamu lakukan itu sangat bahaya, Jo! Badannya masih belum kuat
kamu letakin begitu,”
“Apa
sih sayang? Gak ada yang bahaya kok. Aku uda mastiin posisi ternyaman buat Jay.
Kamu tenang aja, okay?” Jordan berucap lembut
“Tapi
Jo itu tetap aja eng—“
“Daripada
mengomel, mending kamu duduk disamping aku,” Jordan menyela cepat “Aku mau
nyanyiin anak kita,”
Lionara
diam. Masih menatap tidak setujuh pada Jordan.
“Come on mommy, please?” pintanya memelas
Lionara
menghela napas sabar, kemudian duduk disamping Jordan dengan tangan yang
langsung mengusap lembut kepala putranya yang tampak begitu tenang.
Jordan
tersenyum, lalu mengecup kening istrinya. “Anteng kan dianya? Apa kamu pikir
aku bakal tega nempatin anak aku dalam bahaya? Sementara aku terlalu menyayangi
dia, melebihi nyawaku sendiri,”
“Maaf…”
lirih Lionara, merasa sedikit bersalah
“It’s
okay, sayangku. Sekarang sebaiknya kamu dengarin persembahan lagu dari suami
tampanmu ini,” Jordan mengerling jenaka, dibalas anggukan senyum Lionara.
Jordan
pun mulai memetikkan tangannya di senar gitar, perlahan bibirnya mulai
menyanyikan lagu yang ingin dia perdengarkan.
The other night dear, as I lay
sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried.
You are my sunshine, my only
sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away
I'll always love you and make you
happy,
If you will only say the same.
But if you leave me and love another,
You'll regret it all some day
You are my sunshine, my only
sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away
Jordan menyelesaikan lagu itu dengan
penuh hikmat. Suaranya merdu, tangannya memetik senar gitar dengan alunan nada
yang begitu indah, sedang tatapan penuh cinta terus terarah pada Lionara dan
bayi tidurnya yang begitu tenang—seperti sangat menikmati nyayiannya.
Sementara Lionara menatap dalam
diam, namun hatinya dibuat semakin terpesona pada sosok Jordan entah untuk ke berapa kalinya.
Setelah nyanyiannya selesai, dengan
hati-hati Jordan mengangkat tubuh mungil Jay kedalam gendongannya, sedang
Lionara dengan sigap langsung menyingkirkan gitar tersebut dari Jordan. Tepat
saat Jordan berdiri, mata bulat Jay terbuka dan tak lama kemudian senyum anak
itu mengembang menatap sang daddy.
“Wah… anak daddy akhirnya bangun.
Enak ya sayang lagunya? Kamu suka, hm?” Jordan mencium gemas pipi gembil itu
hingga tak lama tawa kecil bayi itu mengudara. Membuat Jordan dan Lionara
saling melempar pandang sejenak dan di detik selanjutnya sepasang suami istri
itu sontak sama-sama tertawa lepas. Tawa perdana bayi kecil mereka.
**To be continued
IG @rianitasitumorang
...Jordan Matthew Christoper...
...Lionara Florentine...
...Jay Manuel Christoper...