
Dorrrrrr.
Burghhh
Darah langsung memuncrat begitu kepala itu tertembus peluru. Tubuh di depannya ambruk tidak bernyawa.
“Sial. Kenapa langsung di bunuh?” Evan memprotes.
“Aku kesal. Wajahnya sangat membosankan.” Jordan menjawab santai.
“Kalau dia sudah mati begitu, bagaimana cara kita mengintrogasinya?” geran Evan. Jordan memang bertindak seenak jidatnya.
“Buang waktu. Aku sudah tahu dimana barang-barang kita.” Jordan membersihkan tangannya yang sempat terkena cipratan darah.
“Cih, kamu memang tidak mengerti seni introgasi sama sekali.” gerutu Evan lalu meninggalkan tempat dimana anak buah mereka sedang memasukkan senjata ke dalam peti-peti besar yang kemudian diangkut oleh sebuah alat ke dalam salah satu kapal.
Jordan mengedikkan bahunya sebelum turut mengekor Evan dari belakang.
“Bereskan.” Perintahnya kepada anak buahnya yang sudah bersiap membersihkan kekacauan yang dibuatnya.
Evan berjalan lurus, memasuki ruangan lalu duduk di sofa dengan sebotol whisky, menemani kobosanannya. Membalas pesan dari Aldrich yang tidak bisa datang karna sibuk menemani si cupu Emma. Sedang Jordan membersihkan diri di kamar mandi setelah tanpa berkedip menembak lima orang penghianat yang membawa kabur
barang-barang mereka.
Padahal ia ingin adu tinju dulu menghajar mereka, tapi Jordan—si psikopat itu memang tidak pernah sabaran untuk mencium aroma darah. Jika tidak ingat Jordan adalah pemimpin dari Dark soul, sudah dipastikan ia juga tidak akan segan-segan melobangi kepala bos merangkap sahabatnya itu.
Dark soul adalah organisasi persenjataan gelap yang diketuai oleh Jordan Matthew Christoper. Organisasi ini dibentuk sendiri oleh Jordan saat berumur 18 tahun hingga kini, dan telah menjadi organisasi yang paling berkuasa di dunia bawah tanah. Awalnya, Evan dan Aldrich tidak berminat bergabung, tapi saat melihat kekejaman Jordan yang semakin menggila bak raja iblis dari neraka, yang selalu haus akan darah, pada akhirnya Evan dan Aldrich memutuskan bergabung. Mereka menerjunkan diri ke dunia hitam itu hanya demi mengontrol kekejaman sang sahabat. Mereka tidak ingin Jordan terjebak terlalu dalam dan berakhir menjadi mesin pembunuh.
“Kamu mau tetap disini atau masih mau memantau pengapingan anak-anak?” tanya Jordan yang sekarang sudah rapi dalam balutan coat panjang warna hitam.
“Kamu tidak ikut?”
“Malam ini kakek ulang tahun. Dan sebagai cucu kesayangannya, aku harus memunculkan batang hidung disana.”
“Astaga! Aku sampai lupa kakek ulang tahun.” tanpa sadar Evan mengentak kuat gelas whisky-nya.
“Jadi kamu akan datang?”
“Tentu saja. Kita bertiga adalah kembar siam. Yang artinya kakek Rikkard adalah kakek kita bersama juga” pongah Evan “Nanti aku menyusul dengan si Al”
Jordan mendengus, “Yang benar kembar sialan.”
“Woah, kamu saudara yang durhaka, tidak mengakui eksitensi kami,” Evan mendramatisir sambil menuang kembali wishky ke dalam gelas. Lalu dengan santai Jordan merebut gelas ditangan Evan dan meminum isinya.
“****! Jangan minum dari gelas yang sama. Serasa ciuman tidak langsung, kayak homo tahu enggak?!” Evan meraih botol di depannya, mengamankan.
Jordan tertawa, “Dari pada menciummu, aku lebih menginginkan bibir singa betinaku.”
“Ck, budak cinta,” sindir Evan
“Aku harus segera pergi. Lokasi senjata kita yang dibawa sudah kukirimkan ke ponselmu.” Jordan tidak menanggapi sindiran Evan. Ia hanya mengangkat tangan tanda pamit pergi.
****
“Kamu sebenarnya cantik sekali, hanya saja kamu tidak pandai berdandan.” Deliah bergumam, memoleskan wajah Lionara yang masih memejamkan matanya di depan cermin.
Deliah mendandaninya untuk menghadiri pesta ulang tahun kakek Jordan malam ini. sudah dua minggu berlalu sejak Lionara mengikuti pelatihan bersama Deliah. Dan dalam dua minggu itu banyak sekali kejadian dan perubahan, terutama bagi Lionara.
Selama dua minggu kemarin, Jordan sendirilah yang mengantar Lionara ke tempat Deliah lalu berangkat kerja dari sana. Sedang untuk pulang Jordan memerintahkan sopir untuk menjemputnya dari sana. Lionara menghabiskan waktu seharian disana. Semula Lionara agak kakuh dengan Deliah, namun itu tidak berlangsung lama karna nyatanya Deliah memiliki sifat yang sangat ramah dan ceria.
Deliah mengajarkan banyak hal kepada Lionara. Semua pengetahuannya tentang dunia fashion ditularkannya, tak lupa dia mengajari cara berjalan, table manner di acara makan malam resmi, cara berbicara, dan cara memadu padankan pakaian supaya tampil cantik. Bukan hanya itu, Deliah juga mengajaknya melakukan perawatan
seluruh tubuh. Lionara juga diharuskan untuk menambah berat badannya, dan sepertinya selama dua minggu ini Lionara berhasil menambah berat badannya beberapa kilo sehingga bagian-bagian yang seharusnya terisi penuh, mulai terisi dengan indahnya.
“Nah, sudah selesai. Coba buka matamu,” gumam Deliah dengan nada puas dalam suaranya.
Lionara membuka mata pelan-pelan dan dia terpana menatap sosok yang ada di depan cermin itu. seumur hidupnya tidak pernah berdandan, yang ada di depannya adalah perempuan yang sangat cantik, luar biasa cantiknya dengan riasan yang tak terlalu tebal tapi sangat pas pada semua sisi. Lionara menyentuh pipinya ragu, matanya masih terpana akan bayangan di depannya.
“Kamu memang perempuan yang sempurna. Jordan pasti akan sangat terkejut dengan perubahanmu ini.” Deliah berdecak kagum. Ia menyentuh kedua pundak Lionara “Ayo turun. Suami hot-mu sudah menunggu kita dibawah.”
****
“Aku sudah menduga kamu sangat cantik.” Jordan menghampiri Lionara, lalu mencium pipinya.
Lionara mengerjap-ngerjapkan mata, pipinya tiba-tiba merasa panas. “Sebaiknya kita segera berangkat,” Lionara memalingkan wajah—merasa malu.
“Ah ya, tunggu sebentar” Jordan menginterupsi, lalu mengambil sebuah kota dari atas meja. Kotak itu bertuliskan Harry Winston dan saat dibuka isinya adalah sebuah kalung yang didesain agak rumit dan bertabur batu berlian bening berkilau sangat indah.
“Aku memilih yang agak kecil untukmu,” Jordan memakaikannya ke leher Lionara. Kalung itu melingkar sempurna bagaikan menempel di kulitnya. Kelap kelipnya membuat Lionara terlihat bagai peri.
“Perfect.”
“Jordan…” erang Lionara, menatap Jordan “ini terlalu berlebihan,”
“Untuk wanitaku tidak ada yang namanya berlebihan. Ini gaya hidupku,” Jordan menggandeng lengannya. “Kamu berpikir terlalu serius, Lion. Santailah.”
“Selamat bersenang-senang. Sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuk Kakek,” kata Deliah, menyunggingkan senyum hangat.
“Pasti, Del. Terimakasih untuk semuanya,” Jordan membalas senyum Deliah tak kalah manis, sebelum beranjak dari sana.
****
Pesta ulang tahun itu di gelar begitu megah dan elegan. Semua tamu yang hadir di dominasi oleh orang-orang kalangan atas. Kenalan Rikkard dan keluarganya tersebar di banyak Negara, sudah tidak di ragukan lagi. Mereka adalah keluarga yang terpandang. Lebih dari lima ratus undangan yang hadir dan memberi ucapan selamat
atas pertambahan usia Rikkard yang genap ke-80 tahun.
Acara sudah berjalan hampir dua jam dan kini para tamu undangan tengah menikmati sajian berbagai jenis makanan sambil bercakap-cakap, dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.
“Cucu kesayangan Kakek belum datang ya?” sindir Jackson—sepupu Jordan yang memang tidak pernah akur dengannya.
Rikkard terkekeh menanggapi sindiran yang sudah biasa itu, “Mungkin sebentar lagi. Kamu tahu bukan kelakuannya selalu beda dari yang lain,”
“Itu sudah peraturan di keluarga kita sejak dulu, Jack. Warisan akan jatuh ditangan cucu pertama dari anak sulung di keluarga kita. Dan kebetulan itu adalah Jordan.” jelas Rikkard untuk yang kesekian kalinya.
“Tapi kelakuannya sangat buruk, Kek!”
“Jack, perhatikan kata-katamu,” tegur Lidya—sang Mama.
“Apa yang dikatakan Jack memang benar. Sudah seharusnya nama Jordan diganti sebagai ahli waris. Apalagi dia sudah mempermalukan keluarga kita dengan menikahi perempuan yang tidak jelas asal usulnya itu.” Josep yang sejak tadi hanya sebagai pendengar, kini angkat bicara.
“Josep..” Rossalyn meremas jas Josep, memperingati
“Kenapa? Kamu mau membelanya lagi?” geram Josep “apa tidak cukup selama ini dia selalu menghinamu?”
“Bukan begitu, tap—“
“Berhenti, Ros.” Josep mengangkat sebelah tangannya “aku tidak ingin kita berdebat karna anak itu lagi. Keputusanku sudah bulat, aku mau daddy mengganti nama Jordan menjadi Daniel.”
“Apa itu sebuah perintah?” Rikkard mengangkat alis.
“Bukan. Aku hanya ingin daddy memikirkan kembali keputusanmu. Daniel juga tidak kalah lebih cerdas dari Jordan. Dia sopan dan penurut, bahkan sikapnya jauh lebih baik dari Jordan.”
“Tidakkah kamu merasa perlakuanmu ini cukup kejam untuk darah dagingmu sendiri? Hanya karna dia tidak menurut padamu, kamu ingin menyingkirkannya.” sarkas Rikkard, menatap tajam pada Josep.
“Kakek benar. Paman sudah keterlaluan sama Kak Jordan,” cicit Jesica tidak suka Kakak yang sejak dulu selalu dipujanya kini direndahkan.
“Jesica, jangan ikut campur.” tukas Jackson melototkan mata pada adiknya itu.
“Tap—“
“Yoo… selamat malam semua,”
Seruan nyaring yang tidak asing itu, sontak membuat semua mata tertuju pada sepasang pria dan wanita dengan setelan jas formal dan gaun pesta.
Disana, objek yang sedang mereka bicarakan tengah melangkah semakin dekat, dengan merangkul mesra seorang wanita cantik nan elegan. Dan bukan hanya mereka saja yang terpaku pandangannya, tetapi seluruh tamu juga terpusat perhatiannya ke sana.
Jordan mengenakan jas hitam legam yang rapih, rambutnya yang sedikit panjang hingga menyentuh kerah disisir kebelakang, membuatnya tampak seperti iblis tampan yang begitu menggoda. Sedang Lionara mengenakan gaun dari bahan sutera perak berkilau dengan Kristal kecil menyebar di sepanjang gaun, memberikan efek kilauan yang
menakjubkan. Kaki gaun itu melebar ke samping dan menjuntai dengan indahnya. Kakinya yang jenjang, dibalut high heels tinggi. Sungguh, tidak Lionara sekali yang sehari-harinya cuma mengenakan pakaian kasual dan sneakers santai.
“Selamat ulang tahun, Kakekku tersayang,” Jordan tersenyum manis, dan tanpa tanggung-tanggung langsung mendekap erat sang Kakek. Setelah memeluk, Jordan menepuk-nepuk punggungnya hingga orang tua itu terbatuk-batuk.
“Cucu sialan. Kamu mau membunuhku ya.” umpat Rikkard terbatuk-batuk.
“Astaga… tuduhanmu sangat menyakitiku, Kek. Aku begitu mencintaimu.” Jordan mendramatisir.
“Oh, kamu datang juga, Nak” Rikkard mengabaikan cicitan Jordan. Ia mendekati lalu memeluk Lionara dengan lembut.
“Selamat ulang tahun, Kek. Maaf, datang terlambat,” Lionara menyunggingkan senyum kecil usai pelukan itu.
“Tidak apa-apa, yang penting kalian datang. Dan kamu sangat cantik malam ini.” puji Rikkard tulus.
“Memang sejak kapan Kakek melihat wanitaku tidak cantik?” celetuk Jordan
“Ck, diamlah.” decak Rikkard sambil mengibaskan tangannya “Lionara, perkenalkan ini anak keduaku, Lidya dan disebelahnya Gerald suaminya. Sedang kedua bocah itu anak mereka, Jackson dan Jesica.” Rikkard menunjuk satu per satu keluarga intinya.“dan kalian, perkenalkan ini Lionara Florentine—cucu menantuku.”
“Senang mengenal kalian semua,” Lionara tersenyum ramah sambil mendekati dan menyalami mereka satu persatu.
Sedang tiba giliran kedua mertuanya, Lionara juga mengulurkan tangan, “Apa kabar mom, dad?”
Josep bergeming, sementara Rossalyn hendak membalas jabatan tangan menantunya, tapi Josep lebih dulu mencekal tangannya.
“Tidak perlu.” tekan Josep
“Josep,” Rossalyn menatap tidak percaya
Tidak diterima uluran tangannya oleh sang mertua, Lionara menarik kembali dan melangkah mundur—kembali berdiri di sisi Jordan.
Jordan tersenyum miring, “Seharusnya kamu tidak perlu menyalami mereka?” decihnya jijik “Jangan pernah melakukannya lagi. Mereka bukan keluarga kita.” Jordan meremas tangan Lionara, sedang wanita itu menatap lelah aura permusuhan yang keluar dari Jordan.
“Jangan berbicara omong kosong!” tukas Josep murka. “jika aku bukan daddymu, lalu kenapa kamu bisa ada sampai sekarang?!”
“Hanya sebuah kecelakaan.” Jordan mengedikkan bahu santai
“A-apa?” Josep tampak syok. “Daddy lihat bukan, bagaimana kurang ajarnya sikap anak itu?” Josep menatap nyalang Rikkard “ditambah perempuan miskin itu, yang mungkin sudah semakin mengotori pikirannya!” suara Josep meninggi, hingga menarik perhatian para tamu.
“Josep, pelankan suaramu.” Rikkard memperingati dengan mata tajamnya.
“Ehem…” Gerald yang sejak tadi menonton, berdehem “kudengar Daniel sudah kembali, dan malam ini katanya dia akan datang?” lanjutnya, mengalihkan topik panas mereka.
Rossalyn hendak menjawab, tapi suara berat dari belakang tubuh mereka lebih dulu mengudara. “Malam semua. Apa aku sudah sangat terlambat?”
Mereka semua menoleh, dan tatapan itu kini teralih sepenuhnya pada seorang pria muda, berperawakan tinggi tegap dalam balutan coat panjang berwarna grey tengah tersenyum manis ke arah mereka. “Hai…” sapanya lagi sambil melambaikan tangan
“Daniel? Kamukah itu, putraku” Josep berseru dengan nada bangga.
Ck, menjijikkan!! Batin Jordan
Sementara semua orang menatap fokus pada sosok itu—kecuali Jordan tentunya, berbanding terbalik dengan tubuh Lionara mendadak menegang kakuh, ketika matanya menatap nanar pria bermata coklat madu itu. Sungguh, ia tidak menyangka jika Daniel yang mereka bicarakan adalah…
El?
Satu-satunya lelaki yang membuatnya berhasil jatuh hati…
Cinta pertamanya…
To be continued
Ig: @rianitasitumorangg