JORDAN

JORDAN
Chapter 50



“MOMMY!”


Bugh!


Tubuh Rossalyn terjatuh, Grace hilang, rasa damai yang ia rasakan tadi seketika hilang.


“Aaakkhhh!!! Grace!! Bawa aku!!! Jangan pergi!!”


Rossalyn menangis meraung-raung saat mendapati dirinya kini sudah berada di balkon kamar Rumah sakit. Tampaknya, Rossalyn terlambat menyadari bahwa semua yang terjadi sedari tadi hanyalah ilusi yang diciptakan oleh otaknya.


Namun guncangan-guncangan itu tak berarti apa-apa pada Rossalyn. Wanita itu malah


mengedarkan pandangannya dengan linglung ke segala arah, mencoba mencari-cari hal yang tak akan pernah di temukannya.


“MOMMY, SADARLAH!!”


Daniel berteriak tepat di depan wajah ibunya. Pun wajah Daniel tak kala pucatnya


ketika melihat ibunya hendak melompat dari balkon kamar inap Ayahnya yang


begitu tinggi. Sedikit saja ia terlambat, Rossalyn mungkin tak terselamatkan.


Hanya tak lama, Rossalyn tersentak dan menatap Daniel dengan tatapan terkejutnya.


“Daniel?”


Daniel menghembuskan napasnya lega. Air matanya menitik. “Iya… ini Daniel, Mom.”


Bugh!


Rossalyn menubrukkan tubuhnya di dada bidang putranya. Wanita itu sudah mendapatkan


seluruh kewarasannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Daniel tak tinggal diam saat


melihat hal itu, kedua tangan kekar miliknya merengkuh tubuh ringkih ibunya


yang terasa sangat dingin.


“Dia datang lagi, Nak. G-grace datang…”


“Itu hanya ilusi, mommy. Tidak ada siapa-siapa disini.” Daniel berujar lembut seraya mengusap-usap punggung ibunya. Hatinya sangat sakit melihat ibunya yang kembali berhalusinasi untuk yang kesekian kalinya.


“Tidak!” Rossalyn menggeleng keras. Melepas pelukan Daniel, kemudian mendongak ke arahnya. “Ini bukan ilusi. Tadi Grace memang ada disini, Daniel!”


“Mom, please…” Daniel menangkup wajah basah ibunya, menatapnya sendu. “Tidak ada siapa-siapa disini, oke? Tubuh Mommy hanya terlalu lelah makanya jadi mikir


yang tidak-tidak. Mommy istirahat ya? Biar aku yang gantian jaga Daddy.” bujuk


Daniel selembut mungkin.


“Tapi Daniel, Mom—“ terputus, sorot Rossalyn seketika meredup kala Daniel berhasil menancapkan


suntukan ke lengannya.


“Have a good sleep, Mom. I love you.”


Daniel menangkap tubuh Rossalyn yang rubuh dan menciumi ubun-ubunnya dengan


hati yang sesak.


****


“Mommy, apa perlu obat lagi?” wajah Daniel menyendu. Melihat ibunya yang kini


turut  terbaring pucat di sebelah ranjang


Ayahnya, membuat dia merasa dunianya kembali gelap. Ayahnya masih tak kunjung


sadar, kini disusul oleh penyakit lama ibunya yang kembali berhalusinasi hingga


nyaris membunuh dirinya sendiri.


“Sepertinya tante belum membutuhkannya. Ini masih tahap syok saja. Selama penanganannya terutama dari om yang kita harapkan segera sadar, tante tidak perlu lagi di kasih obat. Sayang juga, udah dua tahun ini tante bisa hidup normal, kan?” Thomas—Dokter keluarga yang sudah beberapa tahun ini melayani mereka, mengerti kekahwatiran ibu sang sahabat.  Ini pasti jadi pukulan


berat untuk Daniel.


Daniel menegadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoba menahan air matanya yang hendak keluar. Rasa bersalah yang mendera ibunya selama bertahun-tahun merusak


kondisi mentalnya.


Thomas memperhatikan ekspresi redup sang sahabat yang seringkali berusaha untuk tetap tegar. Pria itu salalu menyembunyikan segala bentuk kerapuhannya sendiri.


Thomas mendekati Daniel, lalu menepuk-nepuk pundak Daniel, seakan memberikan kekuatan.


“Semuanya akan baik-baik saja.” Thomas tersenyum sendu


Daniel menatap getir. “Aku tahu. Tapi… entah sampai kapan keadaan yang baik-baik itu


datang. Masalah ini seolah tidak akan pernah menemukan titik terangnya.”


“Kuncinya hanya ada pada Jordan. Satu kata pengampunan yang tulus saja keluar dari


mulutnya, maka rasa bersalah yang selama ini mendera om dan tante perlahan akan


memyembuhkan hati mereka. Maaf dari tante Grace tidak mungkin mereka terima,


tapi anaknya bisa.”


“Itu nyaris mustahil terjadi. Kamu tahu sendiri bukan bagaimana kerasnya hati anak


itu?” Daniel tersenyum hambar “Bahkan sekalipun aku merelakan wanita yang


kucintai dimiliki olehnya, tidak sedikit pun membuat hatinya luluh.”


Thomas terdiam. Dia sangat tahu betapa tragisnya percintaan sahabatnya itu. Bahkan


sampai detik ini pria itu masih belum dapat move on dari mantan kekasihnya.


Daniel yang memperjuangkan kekasihnya itu mati-matian, tetapi malah berakhir


dalam ikatan suci saudara tirinya.


Kepala Daniel tertunduk lemah. “Aku harus bagaimana lagi, Thom? Aku bahkan lebih


banyak kehilangan daripada Jordan.” lirih Daniel dengan suara serak. Hanya di


depan Thomas saja ia mengeluarkan segala kegundahan hatinya. “Bahagia itu hampir


tidak pernah kurasakan sedikit pun. Atau mungkin ini memang karma yang harus


kujalani atas perbuatan mommy di masa lampau…” pada akhirnya bahu Daniel


bergetar, menahan isakan yang hendak keluar.


“Daniel…”


“Aku terlalu mencintainya, Thom. Masih sangat mencintainya… aku pria paling munafik yang berkata telah merelakannya, padahal kenyataannya tidak sama sekali. Aku masih bisa baik-baik saja ketika tidak mendapatkan kasih sayang yang adil dari


daddy… ketika seluruh perhatian tertuju pada Jordan—mengagungkannya, ketika


seluruh asset keluarga diserahkan pada Jordan, aku masih baik-baik saja. Aku


bahkan mengabaikan itu semua. Tapi, aku tidak baik-baik saja ketika wanita yang


kucintai juga dimiliki oleh Jordan. Aku hancur, Thom…”


Manik Thomas berkaca-kaca. Hatinya turut merasakan kesedihan sahabatnya. Daniel


adalah pria yang terlihat dingin diluar, namun sangat lembut, tulus dan sangat


baik di dalam.


“Percayalah, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan yang terbaik dan kebahagiaan pada akhirnya.” Thomas memeluk tubuh Daniel yang kian berguncang hebat.


****


Hari minggu, salah satu Mall di pusat perbelanjaan terbesar itu begitu ramai


dorong oleh Jordan memasuki outlet pakaian yang di dominasi oleh anak remaja


bersama dengan keluarganya tengah berbelanja. Dan semakin masuk ke dalam, di


jajaran gaun malam, dipenuhi oleh wanita dewasa yang rata-rata memiliki paras


cantik.


Lionara menolehkan kepalanya ke sekeliling. Ia bisa melihat kebanyakan pasang mata  menatap suaminya secara terang-terangan. Dengan sigap, ia mengeratkan pegangannya di lengan Jordan dan berhasil membuat dia


menoleh.


“Kenapa?” Jordan bertanya agak heran. Lionara menatap paras suaminya. Turun naik menelaah penampilan Jordan.


Dia hanya mengenakan kaus polo berwarna putih serta celana pendek chino krem. Rambutnya ditata sekedarnya. Tapi, pesona Jordan untuk para wanita cukup membuat Lionara gusar. Dan ini menjengkelkan. Astaga, belum pernah dia merasa sekesal ini


melihat suaminya ditatap penuh pemujaan oleh para wanita itu. Harus Lionara


akui, Jordan memang memiliki visual yang sangat rupawan hingga dia selalu saja menjadi


pusat perhatian kaum hawa.


“Kita masih lama?” Lionara bertanya meredamkan rasa cemburu di hati.


“Aku hanya ingin bertemu dengan menejer disini. Ada yang ingin kubicarakan padanya


terkait kerjasama kami tempo hari. Kenapa?”


Seperti biasa, Jordan terlalu cuek dengan keadaan sekelilingnya. Bahkan dia tidak sadar saat ini ada banyak mata yang terus melirik ke arahnya.


“Kenapa tidak pada waktu jam kerja saja?”


“Aku takut lupa, sayang. Kamu tahu sendiri banyak hal yang harus kutangani. So,


berhubung kita juga ada disni, tidak ada salahnya bukan?”


Jordan melingkarkan tangannya pada bahu Lionara, dan menuntunnya ke samping para


wanita yang sedang memilih gaun. Melihat satu gaun satin berpotongan dada


rendah, Jordan mengambilnya.


“Terlihat cocok sepertinya untukmu.” Dia menyeringai. Dan Lionara tahu beberapa wanita pun ikut memilih di jajaran gaun itu, mendekati Jordan.


Lionara mendesah, lalu melepaskan pegangannya. “Tidak.”


Jordan berbalik menatap Lionara. “Kamu kenapa, hem?” sedikit membungkuk, ia bertanya.


“Aku ingin ke toilet.” Lionara hendak menjauh, tidak ingin bersikap kekanakan


sehingga ia memilih untuk tidak menunjukkannya. Namun Jordan segera meraih tangan Lionara, lalu membawanya ke ruang ganti dan memeluknya. Setelah sebelumnya mengisyaratkan pada Sam untuk menjaga Jay.


“Kamu kenapa? Jika ada yang mengganggu pikiranmu, katakan. Aku tidak akan pernah tahu jika kamu tidak cerita.”


“Jo, lepaskan.”


“Tidak mau. Katakan, apa aku melakukan kesalahan?”


“Tidak ada.”


“Jangan bohong, Mommy. Aku tahu ada sesuatu yang membuatmu kesal, bukan?”


Lionara menjauhkan tubuhnya dari Jordan. “Kamu terlalu tampan dan para wanita itu terus saja memandangimu. Aku kesal.”


“What?!”


“Nothing. Just forget it. Aku harus ke toilet sekarang.” Lionara membuka tirai dan


melangkah keluar menuju toilet.


“Mommy,” Jordan menyusul, tetapi langkahnya terhenti ketika menejer yang sejak tadi ia cari sudah berdiri di hadapannya—menyapa dengan ramah. Dan hal itu berhasil mengurungkan


niat Jordan untuk menyusul istrinya.


****


“Bos, target kita sedang tidak dikawal.”


Richard menoleh, menatap salah satu anak buahnya yang tengah fokus pada komputer di hadapannya—memperhatikan pergerakan titik merah pada layar hologram yang dihubungkan dengan data di komputernya.


“Finally.” Richard menyeringai. “Segera informasikan pada yang lain untuk  bergerak cepat dan tangkap wanita itu.” titahnya


seraya menggosok-gosok pelan dagunya dengan senyum miring di bibir. Well, waktu


yang selama ini sangat dinantikannya akhirnya datang.


“Baik, Bos!”


Sementara itu dilain tempat, Lionara yang sudah selesai dengan segala urusannya di toilet, segera keluar untuk bergabung kembali dengan keluarganya yang sudah tiga puluh menit ia tinggalkan karena rasa sakit perut yang tiba-tiba menyerangnya.


Namun, baru saja ia melangkah keluar, tiba-tiba Lionara terjatuh tak sadarkan diri. Seseorang menembakkan sesuatu ke tengkuknya. Kemudian pria berseragam serba hitam itu membopong tubuh Lionara menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di pojok basement.


Pintu mobil terbuka. Pun tubuh Lionara segera dimasukkan di jok belakang bersama


dengan pria yang menggendongnya. Setelahnya sang supir mulai menyalakan mesin mobil, membawa Lionara yang tidak sadarkan diri menuju markas mereka.


****


Sudah hampir satu jam, tapi istrinya tak kunjung kembali dari toilet. Perasaan Jordan


mulai tidak tenang. Sejak tadi ia terus menelepon Lionara yang tak menjawab


panggilannya. Tadi, Lionara mengirim pesan padanya untuk tetap menunggunya di


depan karena ia sedang sakit perut. Tapi keberadaan Lionara di toilet sudah


memakan waktu yang cukup lama dan wanita itu pun tak juga mengabarinya.


Belum lagi Jordan diterpa kalang kabut saat  menenangkan Jay yang tiba-tiba saja menangis keras. Dari mulai menimang-nimangnya, memberikan susu bahkan mengajaknya berbicara


seperti yang kerap ia lakukan, tapi tangis Jay tak kunjung berhenti. Ini aneh.


Ada apa sebenarnya?


“Sam, jaga Jay. Aku akan menyusul istriku.” putus Jordan saat merasa jantungnya kian berdetak tak karuan, menyerahkan Jay yang masih menangis ke tangan kepercayaannya.


“Sial.” umpat Jordan seraya meremas dadanya yang semakin sesak. Lalu berlari menuju toilet untuk memastikan keberadaan istrinya.


Jordan membuka dengan kasar setiap pintu toilet—membuat orang-orang disana berteriak terkejut. Namun nihil, tak ada satupun bilik yang berisikan Lionara.


Jordan mencoba berpikir keras dan memeriksa setiap sudut di sekitar toilet. Tak ada yang di dapatkannya kecuali satu benda tergeletak di dekat pintu.


Ponsel istrinya.


Jantung Jordan mencelos hebat. Dengan tangan bergetar ia mengambil ponsel itu.


Rahangnya seketika mengetat kuat diselimuti kabut emosi yang tidak terbendung


lagi.


“AKAN KUHABISI KALIAN, BRENGSEK!!!”


**To be continued


IG: @rianitasitumorangg**


Oya, berhubung cerita ini mau tamat, aku ada cerita baru lagi nihh 😁



Itu squelnya Touching Heart yaa. Yang uda follow aku di IG pasti uda tahu. Jika berkenan silahkan mampir 🤭


Thankyouuu semuaaa ^^