JORDAN

JORDAN
Chapter 56



Mobil yang membawa Jordan dan keluarganya akhirnya berhenti di pelataran rumah mewah bergaya minimalis itu. Pria itu langsung turun dari mobil dengan tergesa, untuk memastikan kabar yang ia terima benar adanya. Hati Jordan terguncang. Ia masih tidak percaya berita yang diberitahukan oleh Daniel pada istrinya melalui telepon kemarin.


Jordan memang sudah bisa melihat keberadaan orang di sekelilingnya, juga ingat semua masa lalunya, tapi ia masih belum sembuh total—Psikiaternya belum mengijinkan Jordan pulang sampai emosinya stabil. Namun, saat malam setelah mengetahui berita


bahagia mengenai kondisi kejiwaan Jordan yang telah membaik, Daniel menelepon


Lionara dan memberitahu berita duka selanjutnya, yaitu kematian Josep.


Lionara ragu untuk memberitahu berita duka itu kepada Jordan. Ia takut Jordan akan


kembali kehilangan kewarasaannya. Tapi, Lionara tidak memiliki jalan lain, Jordan


harus mengetahui kabar kematian ayahnya. Karena itu, dengan hati-hati Lionara


terpaksa memberitahu kabar itu—dan reaksi yang ditunjukkan Jordan hanya sikap


datar saja. Tidak ada ekspresi sedih, tidak ada air mata yang mengalir. Jordan


hanya diam memandang Lionara, kemudian mengangguk pelan sebagai respon untuk


menghalau ketakutan di mata Lionara.


Nahas, sepertinya kabar yang mereka terima benar adanya. Saat masuk, sudah ada banyak orang yang datang untuk mengantar kepergian Josep ke peristirahatannya


terakhir. Mereka kini hanya menunggu kedatangan Jordan dan keluarganya.


Jordan bisa melihat sebuah peti yang diletakkan di tengah-tengah ruangan, dengan Rossalyn yang terus menangis pilu sambil memeluk peti itu. Keadaan wanita itu


sangat berantakan, wajahnya pucat dengan mata yang membengkak—benar-benar


hancur dan sangat kehilangan. Disamping Rossalyn, juga ada Daniel yang setia


merangkul bahu sang ibu seakan memberikan kekuatan. Pria itu pun sama kacaunya dengan Rossalyn, bedanya Daniel masih bisa mengendalikan dirinya.


Jordan terpaku, pria itu masih tidak bisa bergerak dari tempatnya. Kedua tangannya


mengepal kuat sampai urat-uratnya bertonjolan. Tidak mungkin. Ini pasti ilusi.


Rasanya baru kemarin Josep datang menyelamatkannya bak pahlwan. Dan selama berbulan-bulan ia di klinik jiwa, Josep masih setia menjenguknya, mengucapkan kata maaf setiap hari serta menceritakan banyak momen-momen kebersamaan mereka dahulu.


“Jo…” Lionara memanggil lirih, ia melepaskan dengan lembut kepalan tangan Jordan dan mengenggamnya erat. “Kamu mau lihat daddy kan, sayang?”


Hati Jordan hancur, Lionara bisa merasakannya. Terlebih saat pria itu menoleh padanya dengan netra berkaca-kaca. Mulut Jordan masih belum mengeluarkan kalimat apapun, tapi Lionara jelas mengerti arti dari sorot itu. Lionara


tersenyum sedih, ia mengecup punggung tangan Jordan sebelum kemudian dengan


lembut menuntun langkah suaminya kehadapan peti itu.


Kemunculan Jordan dan Lionara membuat ruangan yang tadinya di penuhi oleh tangisan, seketika hening. Bahkan Rossalyn pun menghentikan tangisnya dan menatap nanar kedatangan anak tirinya itu. Melihat itu, Daniel menarik lembut tubuh ringkih


ibunya mundur agar memberikan ruang bagi Jordan untuk menatap ayahnya.


Semua orang yang berada di ruangan itu tahu bagaimana peliknya hubungan Josep dan Jordan selama ini. Bahkan ketidakakuran ayah dan anak itu sudah menjadi santapan media dan tontonan gratis para pembisnis di kalangan mereka. Jordan sang biang onar dan Josep si ringan tangan. Namun begitu, Josep lah yang akan


memperbaiki segala kekacauan yang diciptakan Jordan. Hubungan mereka seperti air dan minyak, tak pernah bisa menyatu.


Tangan Jordan meremas tepian peti itu, melihat wajah Josep yang sudah pucat pasi.


Jelas sekali bahwa darah sudah tak mengalir lagi di seluruh tubuhnya yang


terbujur kaku.


Sesaat Jordan hanya diam, bingung harus melakukan apa. Ada lubang besar yang menganga begitu lebar di hatinya saat ini. Otak Jordan menyetel memori yang terputar


dengan sendirinya.


Sejak kecil dulu, Jordan begitu mengangungkan ayahnya. Jordan begitu menyayangi Josep, dan kelak ingin menjadi sepertinya. Josep adalah super hero bagi Jordan, yang mengajarkan laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis dan harus


melindungi keluarganya. Karena ia adalah putra tunggal dari Josep dan Grace.


Kebahagiaan singkat itu membuat Jordan rindu. Saat dimana keluarga belum hancur dan membawanya ke ruangan gelap. Membuatnya benci Josep, membuatnya trauma setelah menyaksikan kemalangan tragis yang menimpah Grace. Jordan tidak tahu apa salahnya sampai-sampai keluarganya yang begitu hangat berubah menjadi gua kutub yang membekukan kehangatan itu sendiri.


“Dad,” dan setelah sekian tahun, Jordan akhirnya memanggil Josep dengan sebutan kebanggaannya itu.


“Kenapa daddy berubah? kenapa daddy tidak bisa mencintai mommy? Kenapa kalian egois dan tidak mempedulikan perasaanku?” Jordan bertanya pelan, nyaris tak terdengar.


“Aku bahkan belum mengatakan ‘iya’ untuk semua permintaan maafmu selama empat bulan ini. Tapi lihatlah sekarang tubuhmu yang terbujur kaku begini. Dimana sosok


Josep Christoper yang begitu gagah dan angkuh? Kenapa disaat aku sudah


mengingat semuanya, yang kudapati hanya ragamu saja?”


Hening.


Jordan menelan ludahnya pahit. “Aku tidak benar-benar benci daddy. Aku… hanya marah


padamu. Aku marah karena daddy yang selalu sibuk. Aku marah dengan kepalsuan hubungan harmonis kalian. Aku marah karena daddy memiliki wanita lain selain mommy. Aku marah karena melihatmu lebih mementingkan istri dan anakmu yang lain daripada kami. Dan aku sangat marah karena daddy tidak datang menyelamatkanku dan mom saat


itu!”


Tumpah sudah, air mata Jordan mengalir deras di pipinya. Pria itu tidak bisa menahan


sesak di dadanya. Ia ingin meledak. Ingin menjerit marah, tapi tidak bisa. Yang


bisa ia lakukan hanya menangis di hadapan mayat ayahnya sendiri. Ketulusan


Josep selama empat bulan ini berhasil meruntuhkan tembok kebenciannya beberapa tahun ini. Setiap hari Josep selalu datang menjenguknya dengan menyeret tubuh lemahnya, meminta pengampunan kemudian menangis pilu di kakinya.


Semua yang melihat Jordan pun tak kuasa menahan tangis. Jordan mengungkapkan segala  kesakitan yang selama ini terpendam di hatinya.


Siapa sangka pria yang selama ini terkenal menciptakan huru hara itu, nyatanya


menyimpan luka yang teramat basah.


“Jo…” Lionara menggumam sedih. Rasanya benar-benar perih melihat kerapuhan suaminya saat ini. Wanita itu memeluk erat pinggang Jordan dari samping.


“Kalian egois. Aku bahkan belum sembuh total dari kegilaan yang kalian buat. Orang tua macam apa kalian? Jika kalian memang tidak bisa saling menerima, kenapa harus


menghadirkanku ke dunia ini?” Jordan masih dengan tangisnya. Ia ungkapkan semua saat itu. Berharap ayah dan ibunya mendengar apa yang Jordan ucapkan.


Tak tahan lagi, Lionara mendekap penuh tubuh bergetar Jordan. “Udah sayang, cukup.” bisiknya serak “Beliau udah beristirahat dengan tenang. Kamu harus ikhlaskan semuanya ya? Kamu masih ada aku dan Jay yang akan mengganti semua rasa sakitmu dengan kebahagiaan.”


****


Jasad Josep telah dimakamkan. Kini mereka semua kembali ke rumah duka untuk menjamu banyak orang yang datang berbela sungkawa atas kepergian Josep


Christoper. Orang-orang penting pun tak sedikit yang hadir. Keluarga Jordan


yang ada di berbagai benua juga datang.


Sebagai pembisnis yang memiliki pengaruh besar, berita kematian Josep diliput secara


gerbang, karena tamu-tamu yang berdatangan juga tak luput membawa rangkaian bunga tersebut, terutama kolega Josep.


Minus Jordan, para pria-pria Christoper masih sibuk menyambut para rekan bisnis


mereka yang terus berdatangan. Sementara Lionara dan Jesica turut membantu


kepala pengurus rumah untuk menyambut tamu yang lainnya. Sedangkan Lydia,


wanita itu masih terus berusaha menenangkan Rossalyn yang terlihat depresi atas kepergian suaminya di kamar. Hingga kedua anak kembar Rossalyn pun terpaksa di ungsikan ke kamar lain oleh pengasuh mereka demi menghindari amukan Rossalyn yang tiba-tiba bisa kumat.


“Lio, sebaiknya kamu ke kamar temani kak Jordan. Aku kahwatir sama dia.” Jesica,


gadis itu selalu mempedulikan Jordan.


“Gak apa-apa aku tinggal?”


Jesica menggeleng. “Pergilah, disini masih banyak para pelayan. Kak Jordan lebih


membutuhkanmu.”


Lionara mengangguk. “Baiklah. Terima kasih Jesica,” ia tersenyum pamit yang dibalas


acungan jempol oleh Jesica.


Saat Lionara memasuki kamar, mata Jordan teralih padanya. Jordan tengah duduk di


lantai, bersandar di kaki ranjang dengan satu lutut yang ditekuk, sedang


satunya lagi selonjor. Pria itu memaksakan melempar senyum ke arah Lionara


dengan raut sendunya. Lionara duduk di samping Jordan, menarik suaminya itu


untuk ia peluk. Langsung Jordan membalas pelukan Lionara. Sejak tadi pelukan


inilah yang ia nantikan. Jay sedang tidur, jadi tidak ada yang bisa mengalihkan rasa sesak di hatinya.


Tak ada percakapan selama beberapa menit. Lionara hanya mendengar deru napas Jordan yang terasa berat. Meski Jordan tak menangis, Lionara tahu suaminya ini sedang


sedih.


“Aku suka aroma kamu, mommy. Ada bau bedak Jay juga,” lirih Jordan


Lionara semakin mengeratkan pelukannya, memberi kekuatan lebih pada Jordan. Lionara tak kalah sedihnya melihat kondisi Jordan, mengingat segala kepahitan yang


dilalui Jordan—semuanya begitu menyesakkan. Namun Lionara berusaha untuk tidak menangis. Saat ini ia harus kuat, jika ia lemah, bagaimana Jordan bisa


bersandar padanya. Dan demi apapun, kesadaran suaminya ini baru saja kembali,


tapi keadaan seolah ingin menjatuhkan mentalnya kembali.


Jika saja tekad Jordan untuk sembuh tidak kuat, maka tidak menutup kemungkinan


Jordan akan kembali tumbang.


“Dari mana saja? Sejak tadi aku menunggumu,” ujar Jordan karena Lionara hanya diam.


“Maaf, tadi aku bantuin yang lain menyambut tamu.” Balas Lionara berusaha untuk tegar.


Lionara hendak mengurai pelukannya, namun Jordan semakin mengeratkan pelukan itu. Jordan tidak ingin melepas pelukan mereka. Karena saat ini Jordan sedang menangis dalam diam, ia tidak ingin Lionara melihatnya menangis lagi.


Tangan Lionara menepuk lembut pundak Jordan berkali-kali. Menenangkan pria itu. Dan semakin Jordan mendapatkan kekuatan itu, semakin hatinya lemah. Alhasil dadanya


semakin sesak karena menahan isakan.


“Jangan di tahan, sayang. Menangis jika itu bisa membuatmu lega.” Lionara jelas tahu


sejak tadi suaminya itu menahannya.


“Aku sudah memaafkannya.” Jordan mulai bercerita dengan nada parau “Aku sudah ingat, Dad selalu datang mengunjungiku untuk meminta maaf sambil menangis. Dia yang biasa terlihat angkuh, berubah menjadi sosok yang sangat rapuh. Aku melihat


penyesalan terhebat dimatanya, dan itu berhasil membuat tembok kebencian yang


selama ini kubangun hancur karenanya. Kupikir, sampai mati pun aku tidak akan


bisa memaafkannya… tapi aku salah. Sebesar kebencianku, sebesar itulah aku


menyayanginya. Aku kalah, mommy…”


Lionara menggeleng, air matanya jatuh namun buru-buru disekanya. “Kamu tidak kalah daddy, justru kamu menang. Kamu hebat. Kamu berhasil melepaskan belenggu ikatan kebencian yang melilit hati nuranimu selama ini. Kamu juga menang melawan traumamu. Dan itu membuat aku sangat bahagia dan bangga padamu.” air mata Lionara menetes saat rasa lega membuncah di dadanya. Ia mengecupi puncak kepala pria itu.


“Berjanjilah, kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Jika kamu melakukan itu maka aku akan benar-benar hancur. Aku tidak ingin kehilangan lagi.” suara Jordan bergetar, begitu putus asa dan menyedihkan disetiap kata yang terucap. Dia bahkan sudah terisak. “I pretend to be strong but


honestly I’m weak that I need someone to hold me. And it’s you.”


Lionara mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Jordan yang tengah deras mengeluarkan air mata. Lembut, Lionara menghapus bulir bening itu dengan kedua ibu jarinya. Iris mereka saling menumbuk dalam.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, daddy. Kamu dan Jay adalah hidupku sekarang. Dan… dicintai sebanyak ini olehmu, bagaimana mungkin aku bisa pergi lagi. Never. Trust me,”


Mendengar ucapan Lionara membuat hati Jordan damai. Perkataan Lionara bak sebuah mantra yang berhasil menyihir hati Jordan. Tak perlu obat, cukup Lionara saja yang menemaninya sampai akhir hayat. Jordan hanya butuh Lionara. Itu saja.


“I love you, mommy.”


“I love you more, daddy.”


****


...Pria benci menangis. Mereka jarang...


...melakukannya. Tapi saat seorang pria menangis untukmu, kamu boleh yakin kalau...


...ia mencintaimu melebihi segalanya....


...---End---...


Yayy, finally selesaiii..


Terima kasih untuk semua yg sudah menemani dan memberiku semangat selama menulis cerita ini. Aku harap cerita ini bisa menghibur kalian. Tenang aja, JORDAN masih ada Epilog dan extra partnya kok. Yang nuntun momen2 Daddy Jo bahagia ntar aku kabulin disanaaa.


Dan Next... kita pindah ke cerita baruku ya,



Bagi yg suka cerita menantang, cuss lahh mampir yukk. Tapi kalo enggak pun gpp kok 🤗. Oya, Chasing You squel dari Touching Heart yaa.


Thank you semua. GOD bless you All ❤


IG: @rianitasitumorangg