JORDAN

JORDAN
Chapter 19



Sudah sebulan berjalan sejak Jordan mengklaim haknya, Lionara akan selalu terbangun


dengan keadaan telanjang. Di pagi hari dengan persendian yang terasa remuk


redam. Pandangan Lionara saat ini jatuh di atas perutnya—menatap tangan Jordan


yang masih tersampir disana. Dan kepala lelaki itu terlihat tertidur lelap di pundaknya.


Wajah Lionara seketika memerah ketika mengingat kegiatan semalam. Entah apa yang


merasuki Jordan. Lelaki ini seolah enggan berhenti dan terus memainkan


tubuhnya.  Jordan selalu mengatakan ‘sekali


lagi’ dan ‘sekali lagi’ tapi tetap saja ia menambah hingga berkali-kali.


Bukannya Lionara tidak suka. Ia suka. Jordan selalu memastikan Lionara puas lebih


dulu sebelum kepentingan lelaki itu. Ia tidak tahu apa semua lelaki juga sama dengan Jordan.


Lionara memundurkan sedikit wajahnya dan memperhatikan wajah Jordan yang tertidur lelap—sangat damai dan tanpa beban.


Lionara mengamati wajah kokoh suaminya itu. Darah Spanyol sangat kental disana,


menciptakan wajah latin khas dengan mata tajam. Perlahan, telunjuknya terangkat


menyusuri rahang tegas suaminya dengan gerakan seringan bulu. Menatap


lamat-lamat wajah rupawan di depannya hingga ingatannya melayang pada


percakapan di kediaman Rikkard saat keduanya baru kembali dari Venesia.


Saat itu, untuk pertama kalinya Lionara melihat kerapuhan suaminya. Ternyata selama ini Jordan memasang topeng terbaiknya untuk menutupi lukanya yang teramat dalam. Tidak menampik, hatinya turut sedih menyaksikan secara langsung kepedihan hati lelaki itu.


Suaminya... tidak baik-baik saja.


Dia hancur... Dia terluka...


“Kalian datang, Nak” sambut Rikkard tersenyum hangat dengan kedua tangan terbuka lebar lalu


memeluk Jordan dan Lionara bergantian.


“Kakek apa kabar?” *Lionara yang bertanya*


“Seperti yang kamu lihat, Nak. Sangat baik.”


“Senang mendengarnya, Kek” Lionara tersenyum kecil


“Aku yakin kalian datang bukan karna merindukanku,” Rikkard menatap curiga, terlebih saat pandangannya bertemu dengan Jordan yang masih tampak diam


“Baguslah kalau Kakek sudah tahu,” ucap Jordan


“Kamu memang kejam, Nak” Rikkard meringis


Jordan tidak mengubris, dengan santai ia melangkahkan kaki menuju sofa lalu duduk bersandar disana tanpa menunggu sang tuan rumah. Lionara menggeleng-gelangkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.


“Ck, sama sekali tidak berubah” Rikkard mendecak, lalu menggamit tangan cucu menantunya itu,


membawanya menuju sofa.


“Bagaimana liburan kalian? Apakah sudah ada tanda-tanda kehadiran cicitku disana?” goda Rikkard


menunjuk perut rata Lionara dengan dagunya. Refleks, Lionara turut menyentuh perutnya.


“Ora et labora. Aku yang bekerja, tugas Kakek yang mendoakan,” Jordan berujar enteng


“Sialan! Jadi kamu tidak berdoa, begitu?” sengit Rikkard seraya melempar bantal sofa tepat di


wajah menyebalkan cucunya.


“Bukankah Kakek yang sangat antusias ingin segera memiliki cicit” lagi-lagi Jordan menyeringai


menyebalkan.


“Ya,ya.. terserah kamu saja,” dengus Rikkard


Lionara menghela napas lelah melihat aksi cucu dan kakek itu.


“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Rikkard berubah serius.


“Semuanya.” Jordan mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menajam “termasuk maksud dari ucapan anak si bajingan itu yang menyamakan ibuku dengan kotoran.”


Hening. Dalam diam Lionara mengamati bergantian perubahan raut kedua lelaki itu.


Rikkard berdehem, “Kamu yakin?”


“Katakan,”


“Semua kekacauan yang terjadi dalam hubungan kedua orang tuamu adalah kesalahanku,”


Rikkard menghela napas berat “Grace sangat mencintai Josep. Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Grace tanpa lelah terus mengejar cinta Josep meski yang didapatnya hanya


pengabaian. Kakek sangat menyayangi Grace karna sikapnya yang manis dan lembut.


Bahkan aku dan kakekmu Adam sepakat menjodohkan mereka. Tapi ternyata Josep


menolak keras karna dia sudah memiliki kekasih yang dicintainya, yaitu Rossalyn. Kakek marah dan mengancam tidak memberikan asset keluarga jika Josep menolak pernikahannya dengan Grace. Dan… Kakek juga diam-diam mengancam


Rossalyn agar memutuskan Josep jika tidak ingin perusahaan keluarganya hancur. Rossalyn setuju dan mereka pun putus.”


Rikkard berhenti sejenak.


“Lalu?” tuntut Jordan tidak sabaran


“Ayahmu patah hati. Dia mengamuk lalu berakhir dengan mabuk-mabukan. Sementara Grace yang melihat kehancuran Josep, merasa sedih. Lalu di malam ketika Josep tengah dikuasai


alkohol, Grace datang menemuinya, dan entah mengapa malam itu dia menyerahkan


dirinya pada Josep. Mereka tidur bersama. Hingga satu bulan kemudian Grace dinyatakan positive hamil, dirimu. Dan mau tidak mau aku memaksa Josep harus bertanggung jawab.”


Tiba-tiba tawa Jordan menggema, seolah-olah apa yang diucapkan kakeknya adalah sebuah lelucon.


“Bullshit!”


Selama beberapa bulan mengenal Jordan, Lionara menyadari perubahan aura suaminya itu dengan cepat. Pelan, Lionara menggamit lembut lengan Jordan yang masih tertawa—tawa yang tidak


biasa.


“Jordan…”


“Jangan melawak, Kek. Ibuku tidak mungkin bertindak semurahan itu hanya karna mencintai bajingan tengik itu,”


Rikkard menggeleng samar, “Itu benar, Nak. Ibumu sendiri yang mengakuinya. Dia—“


“SUDAH KUBILANG IBUKU TIDAK SEMURAHAN ITU, KEK!” gelegar Jordan langsung bangkit berdiri dengan kedua tangan yang mengepal kuat, rahangnya mengeras hingga urat-uratnya kelihatan. Sungguh ia tidak terima dengan kenyataan itu.


“Jordan, tenangkan dirimu.” tegur Lionara turut bangkit—mempererat pegangannya pada lengan Jordan yang dalam sekejap telah diliputi kemarahan.


Jordan menoleh, menatap dingin Lionara “Tenang kamu bilang? Katakan, bagamana caranya aku bisa


tenang jika karna kehadiranku, sisa hidup yang dimiliki ibuku setiap hari di isi oleh air mata. Sementara bajingan itu hidup enak dengan selingkuhannya!” rendah, Jordan menggeram menekankan setiap ucapannya.


Lionara menelan ludah,


perasaannya semakin tidak karuan sekarang. Aura, suara dan tatapan sedingin itu muncul


kembali. Bahkan masih segar di ingatannya bagaimana mengerikannya jika Jordan marah.


“Itu tidak benar, Nak. Kakek yang salah. Semua karna keegoisan Kakek,” Rikkard bangkit berdiri,


menatap cemas sang cucu.


“ITU KENYATAANNYA, KEK! SEHARUSNYA MOMMY MEMBUNUHKU SAJA SEJAK AWAL AGAR HIDUPNYA DAN HIDUPKU TIDAK


BERAKHIR SEMENYEDIHKAN INI!” napas Jordan memburu. Sepanjang rahangnya mengeras,


kedua matanya turut memerah saat kemudian tubuhnya tiba-tiba meluruh berlutut


“Jordan…” lirih Lionara


Rikkard menghampiri cucunya, turut berlutut memegangi pundak Jordan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Bangun, Nak. Jangan seperti ini,” serak, Rikkard menangkup wajah Jordan yang kini berganti


dengan raut kesakitan yang begitu dalam.


“Bajingan itu tidak punya hati, Kek. Hari itu, dengan teganya dia tidak mau menyelamatkan kami.


Karna dia… para penculik itu melampiaskan nafsu binatang mereka pada mommy—di depan mataku. Lalu… lalu mom sekuat tenaga masih berusaha menyelamatkanku. Dia bilang aku harus hidup. Dan… karna itu dia mengorbankan dirinya mati terbakar dengan para penculik itu…” terputus-putus,


Jordan menyelesaikan kalimatnya. Ia membiarkan air matanya menetes deras tanpa suara. Sudah lama sekali ia tidak menangis sejak kepergian ibunya.


“Dia lelaki biadab, Kek. Dia tidak pantas kusebut sebagai daddy.”


“Jordan..,” air mata Rikkard jatuh, tidak menyangka setelah bertahun-tahun cucunya ini baru


membuka mulut—mengungkapkan peristiwa menyakitkan bertahun-tahun lalu, yang membuat


psikologisnya terguncang.


“Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya, Nak? Kenapa baru sekarang kamu mengatakan traumamu ini?”


“Untuk apa? agar bajingan itu mengasihaniku? Tidak perlu, Kek. Aku tidak membutuhkan itu.”


“Paling tidak jika waktu itu kamu membuka mulut, maka Kakek sendiri yang akan melenyapkan nyawa


anak terkutuk itu!” bentak Rikkard bergetar marah.


“Tidak, Kek.” Jordan menggeleng lemah, “biar kulakukan sendiri dengan caraku.”


“Bodoh,” Rikkard menghembus napas kasar sebelum menarik tubuh Jordan dan memeluknya seerat mungkin. Dia hanya tidak menyangka jika cucu yang terbiasa terlihat sangat baik dan konyol


itu ternyata menyimpan luka yang sangat dalam.


Dan saat itu, dalam keheningan air mata keduanya jatuh meluruh tanpa suara.


Sedang Lionara masih berdiri mematung disana, menatap kakek dan suaminya dengan perasaan yang tak dapat ia jabarkan. Lionara masih sulit menelaa kerumitan yang terjadi


dalam keluarga ini. Lionara bahkan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya


saat Jordan berlutut dengan raut kesakitan yang teramat dalam. Dan untuk


pertama kali dilihatnya lelaki itu menangis. Rasanya ia tak sedikit sanggup


melihat Jordan yang seperti ini. Jordan yang ia kenal adalah lelaki yang kuat, menyebalkan dan kejam. Bukan selemah ini.


Tanpa sadar air mata perempuan itu keluar begitu saja membasahi pipinya.


****


Lionara menyentuh tangan Jordan, mencoba memindahkan tangan itu agar lepas dari


tubuhnya. Ia harus membersihkan diri dan menyiapkan segala keperluan Jordan sebelum lelaki itu berangkat kerja.


“Ini masih pagi,”


Suara serak bersama pelukan erat membuat pergerakan Lionara terhenti. Tangan Jordan


terkunci di perutnya lagi. Tanpa aba-aba lelaki itu menjatuhkan tubuh Lionara dan mengembalikan perempuan itu ke atas bantalnya lagi.


“Jordan, suda hampir jam tujuh,” Lionara mengguncang bahu Jordan “bangun,”


“Sedikit lagi,”


“Semalam Sam bilang kamu ada banyak meeting hari ini. Kamu harus siap-siap sekarang,”


“Mereka bisa menunggu. Aku bosnya.”


Lionara menghela napas kesal, “Baiklah, biar aku saja yang bangun. Kamu minggir,” sambil menepis tangan Jordan di perutnya.


“Setengah jam lagi.” Jordan membelai kepala Lionara “bobo lagi bentaran.”


“Aku mau mandi, Jordan”


Dibalas gelengan, Jordan tidak membiarkan Lionara turun dari ranjang. “Nanti kita mandi sama. Aku yang mandikan,”


“Terima kasih, tapi tidak perlu,” Lionara bergidik. Ia tahu mandi bersama Jordan tidak akan pernah


benar-benar mandi. Lelaki itu pasti akan memintanya lagi.


Jordan mengulum senyum geli, “makanya kita tidur lagi,” ia menepuk-nepuk ubun-ubun Lionara.


“Jordan,” protes Lionara, tapi bibirnya tidak kuasa untuk tersenyum kecil.


“Iya, sayang… lima belas menit lagi,”


Menghembuskan napas panjang, Lionara tidak lagi meronta. Ia malas berargumen dan mau tidak mau


menuruti kemauan Jordan. Ia belajar untuk tidak terlalu kaku padanya. Ia berusaha menjadi istri yang baik walau cukup sulit dan tidak jarang pula


komunikasi mereka sedikit kacau. Jordan yang memiliki banyak kepribadian, dan Lionara yang terlalu serius. Namun walaupun demikian Lionara akui… ia merasa mulai nyaman. Terlepas dari masalah Ayahnya, Jordan memperlakukan Lionara dengan semua kehangatannya dan semua rasa pedulinya dan itu membuat Lionara merasa nyaman.


“Kamu masih ingin bekerja?”


Lionara mendongak, “Apa boleh?”


“Tentu,” Jordan tersenyum


Lionara mengerjap-ngerjap. Masih belum percaya dengan pendengarannya. Semudah itu


Jordan mengijinkannya? Sedang selama ini Jordanlah yang paling menentang keinginannya itu.


“Kamu serius?”


“Apa aku terlihat seperti bercanda?”


Mata Lionara memicing, menatapnya curiga, “Terus terang aku masih belum percaya kamu


mengijinkanku kembali bekerja semudah ini,”


Jordan tersenyum, sebelah tangannya mengusap-usap kepala Lionara.


“Aku sudah menduga reaksimu akan sesenang ini. Dengan senang hati aku mengijinkanmu bekerja tapi sebagai asistenku di kantor.”


Asisten… asisten… asisten…


Lionara terpaksa mencerna kata-kata itu sejenak sebelum menangkap jelas maksud dari


perkataan itu. “Asistenmu di kantor?!” Lelaki ini benar-benar sengaja mempermainkannya. “Aku tidak mau!” tolak Lionara tegas


“Kenapa? Itu pekerjaan yang jauh lebih baik. Kamu juga akan di gaji.” Jordan mengedikkan bahu dengan santai.


“Itu bukan pekerjaan yang biasa kulakukan!”


“Oh tenang saja. Sam yang akan mengajarimu pelan-pelan. Dan lagi, pekerjaanmu tidak


akan banyak berhubungan dengan dokumen. Hanya fokus melayani keperluanku selama di kantor layaknya tugasmu di rumah ini.”


“Tetap saja aku tid—“


“Tidak ada penolakan, Sayangku. Atau kamu lebih memilih selamanya terkurung dalam rum—”


“Fine,” Lionara mendesah pasrah. Daripada di kurung dalam rumah lebih baik dia mengikuti


lelaki itu bekerja di kantor. Setidaknya disana dia akan bertemu dengan orang-orang baru dan berinteraksi lebih bebas.


 “Good wifey,” bibir Jordan tersenyum penuh kemenangan.


To be continued


IG: @rianitasitumorangg