JORDAN

JORDAN
Chapter 54



Haii kaliann... sehat semua kan 😉


Oya, cuma mau bilang... biar feel part ini makin terasa menyesakkan, aku sarankan bacanya sambil dengar lagu Anneth - Tetap Untukmu 🎶 (Terkhususnya di bagian scane Lionara)


Asliii... aku nangissss 😭


.


.


.


“Josep-“


“Semua sudah berakhir, Rossalyn.” Josep menatap getir pemandangan di luar melalui kaca jendela kamar inapnya. Menghindari tatapan pilu wanita yang berdiri di samping


brangkarnya. Sekali ini pun, Josep berhasil membuka matanya kembali sekalipun keadaan tubuhnya masih jauh dari kata baik. Untuk bernapas saja ia harus dibantu oleh masker oksigen dan alat penunjang kehidupannya yang lain. Josep memejamkan matanya ketika mendengar suara isak tangis dari wanita yang dicintainya.


“Aku sangat mencintaimu—mempercayaimu tanpa sedikit pun keraguan. Bahkan, seluruh


perhatianku tertuju padamu, hingga mengabaikan keluargaku yang lain. Tapi lihatlah balasan yang kudapat darimu,” Josep tersenyum miris “Kamu menghianati


kepercayaanku. Menutupi semua kejahatan kakakmu selama bertahun-tahun.”


Rossalyn tergugu, meremas kuat jemari Josep “Ma-maafkan aku Josep. Ak-aku sebenarnya tidak ingin merahasiakan hal ini darimu. Tapi—“


“Karna dia kakakmu?” sela Josep, kembali menatap Rosaalyn yang menunduk dalam


“Aku mencintaimu Josep. Maaf, maafkan aku! kumohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Paling tidak demi anak-anak kita.”


“Lalu bagaimana dengan anakku Jordan?” Josep menatap istrinya penuh luka “Selama


bertahun-tahun ini aku sudah menjadi Ayah yang buruk untuk Jordan. Bahkan aku


sangat gagal melindungi putraku sendiri. Karena kejadian itu, dia mengalami


trauma berat hingga merusak kejiwaannya! Juga, penyebab Jordan berubah menjadi


monster dan nyaris gila karena aku Rossalyn! KARENA AKU SI BRENGSEK INI!!”


“Josep-“


“Pergilah Rossalyn… kita memang sudah tidak bisa bersama lagi. Apa yang dilakukan kakakmu sangat menghancurkanku. Menghancurkan putraku! Karena itu aku tidak pernah menyesal telah membunuhnya dengan tanganku sendiri.”


Rossalyn semakin tergugu saat Josep menepis jalinan jemari mereka.


“Bagiku, ikatan sakral ini sudah tidak ada artinya lagi setelah kamu menusukku dari


belakang.”


Rossalyn menggeleng keras, air mata mengalir semakin deras. “Tidak. Aku tidak mau! Tolong jangan mengatakan itu. Beri aku satu kali lagi kesempatan, sayang. Bila


perlu aku akan bersujud di kaki Jordan meminta maaf asal kamu tidak


meninggalkanku.”


Rossalyn menjatuhkan tubuhnya—berlutut sambil terus menangis. Ia benar-benar takut Josep pergi. “Maaf, sayang, maaf… aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kita berpisah lagi. Aku tidak mau!”


“Rossalyn…” gumam Josep rendah.  Pandangannya sangat sayu—ia terlalu lelah.


“Aku tidak masalah jika kamu membenciku. Aku tidak akan memprotes jika kamu tidak


bisa memperlakukanku seperti dulu. Aku tahu, aku mengerti, ini semua


kesalahanku. Hanya kumohon, aku tidak bisa… jika harus bercerai darimu.” Air


mata, gelengan putus asa, sedari tadi terus dilakukan. “Jika sekarang kamu


membenciku, paling tidak kasihani aku sebagai orang yang pernah kamu cintai di


masa lalu.”


Josep memalingkan wajah dari Rossalyn. Ia tidak merespon, membiarkan wanita itu


berlutut dan menangis tak henti. Hatinya terlalu sesak ketika mengingat Jordan


yang hanya diam menatapnya dengan sorot hampa. Tenggorokannya sakit, menahan


suara agar tak berteriak sekeras-kerasnya. Rasa bersalah dan penyesalan yang


teramat hebat terus meronta-ronta, sesak yang merenggut setengah napasnya tidak


juga hilang. Air mata berlinangan, membasahi bantal. Tidak cukup dengan menjadi penyebab istrinya meninggal, tanpa sadar perlahan-lahan dia juga ikut mematikan putranya melalui batinnya.


“Maafkan Daddy, Jo… maaf…”


****


“Jo?” Lionara memanggil. Jordan duduk sambil bersandar di headboard ranjang. Bibir pria itu terkatup rapat, bahu dan kepalanya masih di perban.


Dokter bilang, luka di tubuh Jordan tidak terlalu parah. Tapi guncangan yang Jordan


alami yang menyebabkan suami Lionara menjadi seperti ini. Jordan seringkali


diam, sekalinya bicara, dia justru mengobrol dengan sesuatu yang sebenarnya


tidak ada.


Sejak tiga hari lalu, Jordan dinyatakan harus di rawat inap di klinik jiwa pribadi


dokter yang yang menanganinya selama ini. Setelah selesai mengurus segala


keperluan Jay, Lionara akan menghabiskan seluruh waktunya menemani Jordan.


Terus mengajak berbicara ketika Jordan seolah tidak bisa mendengar suaranya. Jordan bahkan tidak sekalipun melihat ke arah Lionara.


Karena Lionara menghabiskan lebih banyak waktunya di klinik dokter Lilo, Jay terpaksa


di serahkan kepada para pengasuhnya—mengingat balitanya itu tidak mungkin diajak


menginap disana. Dalam sehari, hanya dua sampai tiga jam saja Lionara akan


bersama putranya. Ia sebenarnya tidak tega harus meninggalkan Jay yang


sejatinya masih sangat membutuhkan kehadirannya, tapi untuk saat ini Jordan pun


lebih memerlukan seluruh perhatiannya.


“Maaf, aku kembali sedikit terlambat.” Lionara bercerita sambil tersenyum manis. Dia menggenggam tangan kanan Jordan yang terkulai erat.


“Hari ini anak kita rewel banget. Dia enggak mau ditinggal. Aku gerak sedikit saja,


Jay langsung nangis. Bahkan bajuku sampai dia pegangin terus biar aku enggak pergi.”


cara kamu buat tenangin dia. Sampai-sampai aku uda nyanyi macam-macam lagu tapi


enggak berhasil. Jay malah pukul mulut aku karena terlalu berisik.” adu Lionara


dengan bibir mengerucut. Dia tersenyum lagi “Tapi coba kalau kamu yang nyanyi,


dia pasti enggak kayak gitu. Jay pasti ketawa dan nyeloteh kesenangan, minta


kamu nyanyiin dia terus sampai bobo lagi.”


Tetap tidak ada jawaban.


“Mungkin karena suara aku enggak semerdu suara kamu kali ya, daddy? Terus, aku juga kan manusia kaku, sulit buat rangkai lelucon seperti kamu, makanya Jay jadi cepat


bosan.” Lionara mengecup tangan Jordan. Dia menautkan jari-jari mereka. “Leon


tadi nelpon, dia cariin kamu. Dia belajar dengan sangat baik di Swisstzerland. Katanya ada yang mau diomongin sama kamu, dan dia bilang ini hanya pembicaraan antar sesama pria. Cih, anak itu. sejak bergaul sama kamu dia uda main


rahasia-rahasian sama aku.”


Lionara mengigit pipi dalamnya. Tak kuasa menahan tangis dengan dada yang terasa sakit luar biasa. “Kakek… kakinya kumat lagi, jadi dia enggak bisa datang jenguk


kamu. Kakek tanya kapan kamu bisa mengalahkannya main catur? Beliau bilang kamu cucu yang terlalu payah. Enggak pernah sekalipun menang darinya. Kakek…”


Tes.


Air mata Lionara jatuh membasahi tangan Jordan. Tubuhnya berguncang. “Jo, please…


katakan sesuatu,” isak Lionara pada akhirnya. Kedua tangannya kini beralih memeluk leher Jordan, kepalanya terkulai di bahu Jordan yang tidak terluka.


“Jo… bagaimana ini? Sesak sekali rasanya! Aku rindu suara kamu, sayang.” Lionara


berkata di sela-sela tangisnya. “Aku rindu mulut manis kamu yang terus merayu


dan merecokiku. Aku rindu perhatian kamu. Aku rindu kamu yang pemaksa, arogan


dan cemburuan. Aku rindu semua itu, Jo”


“Tolong… balikin Jordanku yang dulu.” Lionara merintih. “Aku janji bakalan nurutin semua kemauan kamu. Aku janji bakalan berusaha jadi istri yang enggak kaku, aku enggak akan dekat-dekat sama pria yang enggak kamu suka. Semua perhatianku hanya akan untukmu. Jadi aku mohon…”


Lionara menatap wajah Jordan yang terus menunjukkan ekspresi datar. Dia memohon,


“Tolong balikin Jordanku yang biasanya… Please.”


Tetap tidak ada jawaban. Sebanyak apapun kalimat yang Lionara katakan, seolah Jordan


sudah tidak bisa lagi mendengar. Pria itu tetap bungkam seribu bahasa, menoleh


ke arah lain, kemudian terdiam lagi.


“Daddy…” Lionara merintih pedih. “Apa yang harus aku lakukan untuk mengisi kekosongan di hatimu? Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk kamu, sayang?”


Pada akhirnya… Lionara tidak bisa menyelamatkan siapa-siapa. Dia tidak bisa


melakukan apa-apa. “Aku… benar-benar istri yang tidak berguna.”


****


Dengan bantuan kursi roda, Josep melongok masuk ke kamar putranya. Tersenyum sayu, sebelah tangannya menenteng sebuah lukisan. Kantung mata hitam dan rona pucat masih menghiasi wajahnya. Namun pria paruh baya itu berusaha tegar, senyumnya tidak juga pudar.


“Jo, daddy jenguk lagi.”


Jordan tidak memberi jawaban. Dia hanya duduk di ranjang sambil menatap dinding dengan sorot hampa. Kursi roda Josep berhenti tepat di sisi ranjang, menatap putranya dengan tatapan hangat.


“Coba kamu lihat, daddy bawa apa ini?”


Tidak ada jawaban.


“Son…” Josep memanggil. “Kamu masih ingat lukisan ini, kan?” ia meletakkan lukisan itu di pangkuan Jordan, dan putranya itu masih tidak memberikan respon.


“Waktu itu tepat di ulang tahunmu yang ke delapan, kamu enggak mau dibuat perayaan


besar, tapi kamu cuma minta agar kita bertiga piknik bersama di danau. Terus disana kamu bawa semua alat lukismu. Kamu bilang mau melukis, lalu suruh daddy dan mommy jadi modelnya. Kamu memerintahkan kami duduk berpelukan sampai berjam-jam


sampai lukisanmu selesai. Dan lihatlah, ini hasilnya…” Josep mengangkat lukisan


yang berisikan gambar dirinya dan Grace yang duduk berpelukan mesra dengan senyum mengembang di depan wajah Jordan. “Lukisanmu sangat bagus. Kamu benar-benar mewarisi


bakat menggambar dari Mommymu.”


Hening.


Josep berusaha keras menahan diri agar tidak menangis. Hatinya benar-benar hancur


melihat putranya yang tak kunjung memberikan respon sedikit pun. Jordan seperti raga tak berjiwa. Setiap keluarga, sahabat bahkan rekan silih berganti datang berkunjung, menghibur dan mengajaknya berbicara—tak satu pun dari mereka yang direspon. Dan dari semua yang paling rajin mengajaknya berbicara adalah Josep. Padahal keadaan penyakit Josep masih sangat memprihatinkan—sewaktu-waktu gampang kumat, tapi pria itu mengabaikan. Ia tak mengenal lelah dan tak menyerah sedikit pun hanya agar mendapat sedikit respon Jordan akan keberadaannya disana.


Josep mendorong kursi rodanya lebih dekat, lebih tepatnya kini posisinya berada di


depan kaki Jordan. Dengan tangan bergetar, Josep menyentuh kaki putranya—meremasnya pelan. Air mata mengalir tanpa terasa. Ia membenci dirinya sendiri ketika


dadanya kian terasa sakit setiap kali napasnya dihela. Ia benci ketika tubuhnya


gemetar menahan buncahan sesal atas segala kesalahan yang tak akan pernah mampu diperbaiki.


“Jordan… tolong maafkan daddy. Kumohon… jawablah Nak. Daddy kesakitan sekarang. Jangan diam saja. Berteriaklah atau makilah daddy seperti biasanya. Kalau perlu kamu hajar daddy sampai mati sekalian supaya kamu lega. Semua salah daddy… salah daddy. Aku adalah suami dan daddy yang paling hina karena telah menyia-nyiakan kalian.”


Josep terisak hebat, meraung keras dengan suara yang terdengar memilukan. Tangis yang awalnya ditahan, kini tidak dapat dikendalikan. Kepala Josep ambruk—memeluk erat kaki putranya, sambil terus menggumamkan kata maaf… maaf, dan maaf untuk semua luka yang telah ia goreskan.


“Kembalilah nak, kamu belum bahagia. Kamu harus bahagia dulu, jangan diam terus seperti ini. Daddy lah yang seharusnya mendapatkan hukuman ini. Biar daddy saja yang menggantikan posisimu.” Suara parau Josep terus bergaung sambil mengecupi kaki sang putra.


Dalam kehidupan, tidak semua yang kita harapkan bisa kita dapatkan. Tidak semua yang manusia rencanakan dapat mereka wujudkan. Manusia hanya bisa berharap, berusaha, berdoa, melakukan apapun yang mereka bisa. Namun jika Tuhan tidak mengijinkan, memang apalagi yang bisa mereka lakukan?


Tuhan memberikan rasa sakit yang bisa dijadikan pelajaran, agar manusia lebih


berhati-hati dalam bersikap maupun bertutur kata. Tuhan memberikan banyak luka


yang tidak tersembuhkan, namun obat terbaik adalah memasrahkan segala yang mereka dapatkan pada sang pemberi itu sendiri. Dan setiap hati yang ingin sembuh harus melewati puncak rasa sakitnya.


Tidak ada yang cacat dalam rencana Tuhan. Sekarang semesta menghukum, yang


menyia-menyiakan akhirnya hancur berantakan.


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


Akhirnya daddy benar-benar tumbang...


...Mommy & Daddy 💔...