
Kak, aku sudah
sampai di Switzerland. Dan sekarang kami akan memasang tenda. Selama aku berada
disini kakak dilarang merindukanku. Jaga kesehatan dan sampaikan kecup sayangku
pada calon keponakanku tercinta. I love you.
Bibir
Lionara berkedut membaca pesan masuk dari Leon, dimana adik kecilnya itu tengah
berada di benua yang berbeda dengannya—Swiss. Pihak sekolah mengadakan
perkemahan selama tiga hari disana dengan perjalanan menggunakan pesawat yang
sudah disediakan sekolah. Dan ini adalah pertama kalinya Lionara berada di
jarak yang sangat jauh dengan Leon. Awalnya Lionara keberatan tapi saat melihat
keantusiasan Leon, ia jadi tidak tega menahan adiknya itu untuk tidak pergi.
Jordan
melewatinya dari arah dapur, masuk ke dalam ruang kerjanya kemudian keluar lagi
dan duduk di sofa seberang dengan laptop yang dipangku. Tidak ada yang
bersuara, keduanya sama-sama diam meski saling berhadapan.
Seminggu
setelah pertengkaran itu, hubungan Jordan dan Lionara berubah begitu dingin.
Beku dan sulit dicairkan. Jordan menjauh. Pun dengan Lionara, yang berusaha tak
acuh atas kehadirannya. Seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap
bersama, mereka tak pernah saling bertegur sapa dengan normal. Jordan jarang
sekali di rumah, dan saat dia pulang pun, dia lebih banyak menghabiskan
waktunya di ruang kerja. Tapi, hari minggu ini, nyaris seharian penuh dia tidak
pergi kemana-mana.
Dirinya?
Ah, entahlah. Lionara tidak tahu apa gunanya kehadirannya disini. Selain yang
ia tahu jika karena tubuhnyalah yang menjadi tempat penampungan bayi sementara
Jordan. Kemarin pun ia baru tahu jika Jordan sengaja mencelakai Daniel pada
waktu pagi setelah kesalahpahaman itu. Lionara mengetahui kabar itu bukan dari
Daniel, melainkan Ayah mertuanya sendiri, saat pertemuan mereka kemarin di
restoran. Ya, Josep minta bertemu dengannya tanpa sepengetahuan Jordan.
Pria parubaya yang
masih terlihat gagah dan tampan diusianya yang sudah tidak muda lagi duduk
berhadapan di ruangan privasi restoran. Hanya ada keduanya. Rasanya sudah lama sekali
Lionara tidak bertemu dengan Josep. Pertemuan terakhir mereka ketika di acara
ulang tahun Kakek Rikkard, itu pun berakhir dengan pertengkaran hebat. Dan
kini, Josep tampak menatap Lionara lekat dan tajam dengan iris birunya yang
sama seperti milik Jordan.
“Ada apa Papa ingin
bertemu denganku?” tanya Lionara saat Josep tak kunjung mengeluarkan suara.
“Kamu pernah menjadi
kekasihnya Daniel?” Josep bertanya dingin
Lionara mengerjap.
Josep menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah di perkirakannya.
“Bagaimana Papa
tahu?” Lionara berusaha bersikap senormal mungkin.
“Jawab saja
pertanyaanku.”
Lionara mengangguk.
“Ya. Tapi hubungan kami sudah lama berakhir setelah Daniel meneruskan kuliahnya
ke luar negeri.”
“Kamu masih
menyukainya?”
Lionara terdiam
sesaat. “Tidak. Kami hanya berteman.”
Josep mendecih,
“Tidak kusangka kedua putraku yang begitu hebat bisa terjerat dengan perempuan
miskin sepertimu. Sungguh luar biasa, kamu berhasil menggoda anak-anakku dengan
mudah. Katakan, trik murahan apa yang kamu gunakan sehingga kedua anakku bisa
segitu gilanya padamu? Tubuhmu?” Josep menjeda, menilik dengan sorot menghina tubuh
Lionara dari atas sampai bawah. Lionara diam. Matanya menatap lurus pada Josep,
namun kedua tangannya di bawah meja mengepal kuat.
“Langsung saja
katakan apa sebenarnya yang anda inginkan?” dingin, Lionara mengabaikan
sindiran Josep.
Josep memajukan
tubuhnya, matanya menyorot tajam.
“Apa kamu tahu,
gara-gara kehadiranmu kedua anakku nyaris saling membunuh!”desis Josep “Jordan
dengan gilanya sengaja menabrak mobil Daniel hanya karna dia marah saat
menangkap basah kamu dan Daniel di apartemennya!”
“A-apa?” Lionara
tercekat
“Apa kamu senang
mendengarnya? Dua anak kebanggaanku memperebutkanmu!” sarkas Josep
Lionara bergeming.
Wajahnya berubah pias. Sungguh, ia tidak menyangka Jordan akan berbuat sejauh
itu.
“Berkacalah, kamu
bukan siapa-siapa. Bahkan tidak pantas sedikit pun untuk menyandang status
menantuku, karena kasta kita berbeda, seperti langit dan bumi. Walaupun itu
sebatas angan-angan. Jadi, jangan pernah bermimipi sampai sana. Terlebih
mengharapkan restuku. Seharusnya, kamu sadar. Jika kamu hanya pion yang
dijadikan oleh Jordan untuk membalasku. Jadi, kukatakan dengan tegas, sebaiknya
kamu pergi dan menyingkir dari kehidupan putraku selamanya! Jika uang yang kamu
inginkan, aku bisa memberimu sebanyak yang kamu mau, asal… kamu menghilang dari
kehidupan Jordan dan Daniel.”
Tanpa sadar,
Lionara tertawa pelan. Nyaris miris.
“Dengarkan saya,
Tuan yang terhormat. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda. Saya tidak
akan meninggalkan Jordan, jika bukan dia sendiri yang meminta saya pergi dari
kehidupannya. Saya tidak tergiur dengan uang anda. Saya bisa mendapatkannya
dari suami saya.” Tekan Lionara. “Terlebih sekarang saya sedang mengandung anak
Jordan dan putra anda sangat mencintai calon buah hatinya ini. Jadi, menurut
anda, apakah Jordan bersedia melepaskan kami? Terlepas dari apapun hinaan yang
anda tujukan pada saya, saya tegaskan juga, saya tidak akan pergi kemana pun.
Kalau anda keberatan, silahkan anda memintanya langsung pada Jordan. Tapi
kupikir, Jordan pun akan sependapat dengan saya, mengingat betapa tidak
berharganya anda dimata Jordan—darah daging anda sendiri!”
“LANCANG!!!” bentak
Josep murka. Rahangnya mengeras.
Lionara tidak
terpengaruh akan suara keras Josep. Dengan ringan ia melipat tangan didada
sedang maniknya menatap menantang pria didepannya tanpa gentar.
“Kenapa marah? Bukankah
benar yang saya katakan? Bahkan Jordan sendiri yang mengatakan jika Ayahnya
sudah lama mati. Dan satu-satunya keluarga yang dia akui hanya Kakek.”
Tambahnya semakin menyulut kemarahan Josep.
“Perempuan jalang! Kurang
ajar! Berani-beraninya ka—“
“Kukira pembahasan
kita sudah selesai. Permisi.” Sela Lionara, bangkit dari kursinya dan berjalan
menujuh pintu keluar. Tapi sebelum itu, ia berhenti lalu menoleh dari bahu.
“Ah ya, mengenai
Daniel. Anda tenang saja, hubungan kami sudah benar-benar berakhir. Sekarang
saya hanya mencintai suami saya.” Tegasnya, kemudian keluar dari sana tanpa
mempedulikan kilat kemarahan Josep.
****
Lamunan
Lionara buyar ketika bel berbunyi.
“Buka
pintunya,” titah Jordan tanpa menatap ke arahnya.
Khusus
hari minggu para pelayan bekerja hanya sampai tengah hari. Sedang disisa hari,
mereka di ijinkan keluar rumah untuk bersantai.
Lionara
yang tengah membaringkan diri diatas sofa depan televisi, berjalan ke pintu dan
anggun. Tubuh semampai dan rambut coklat yang dibiarkan tergerai itu sudah
tidak asing baginya. Rebecca.
Untuk apa perempuan
itu kemari?
Lionara
membuka pintu dan langsung menatap tidak bersahabat pada Rebecca.
“Ada
urusan apa?” ketus Lionara
Rebecca
tersenyum, kemudian mengangkat paper bag di tangannya. “Ingin mengembalikan
ini.”
Lionara
menaikkan sebelah alis, “Apa?”
“Jam
tangan Jordan. Kemarin ketinggalan di hotel.”
Rebecca sengaja menekankan kata terakhirnya.
Lionara
tertegun. Kemarin malam Jordan memang tidak pulang. Dari informasi pelayan,
lelaki itu baru kembali pukul 5 pagi tadi. Apa mereka menginap di hotel
bersama?
“Siapa?”
Jordan yang semula duduk mengamati, ikut bangkit dari sofa, menyusul Lionara.
“Hai,
Jo.” Rebecca melambaikan tangan dengan senyum yang teramat manis.
“Rebecca?
Ada apa?” Jordan berdiri di belakang Lionara karena istrinya itu hanya membuka
setengah pintunya—sama sekali tidak berniat mengijinkan Rebecca masuk.
“Aku
mau mengembalikan jam tanganmu yang ketinggalan, sekaligus ada kontrak kerja
yang perlu kamu baca dan tanda tangani hari ini.” terang Rebecca
“Ya
sudah, kamu masuk dulu.”
“Engga
boleh.” Lionara berbalik menghadapnya, yang dibalas kernyitan dalam oleh
Jordan. “Perempuan ular itu enggak boleh masuk.”
“Lion,
jangan aneh-aneh. Kamu minggir, biarkan Rebecca masuk.”
Lionara
mengabaikan. Dengan sigap ia kembali menghadap Rebecca dan langsung mengambil
paper bag serta dokumen dari tangan Rebecca dengan kasar.
“Sudah
diterima. Kamu boleh pergi sekarang.”
“Lionara!”
suara Jordan meninggi “Jangan kekanak-kanakan kamu. Rebecca datang untuk
membahas pekerjaan denganku. Sekarang minggir.”
Jordan
menggeser tubuh Lionara—meraih tangan Rebecca dan mengambil kembali dokumen di
tangan Lionara, kemudian Jordan terus membawa Rebecca masuk ke ruang kerjanya.
Sedang Lionara masih berdiri disana, menatap nanar punggung keduanya.
****
Dua
jam, Lionara duduk menunggu di ruangan televisi dengan tatapan kosong. Sejak
masuk tadi keduanya belum juga keluar sampai sekarang. Sepanjang apa pekerjaan
yang mereka bahas? Padahal ini hari libur. Tak tahan lagi, Lionara menarik
napas sebelum bangkit dari sofa kemudian beranjak melangkahkan kaki menuju
ruang kerja Jordan. Ia tidak bisa membiarkan Rebecca berlama-lama dengan lelaki
itu. Entah karangan licik apa lagi yang akan perempuan itu ceritakan pada
Jordan. Ia terlalu mengenal bagaimana karakter seorang Rebecca. Cukup hanya
keluarganya dulu yang berhasil mereka hancurkan.
Kaki
Lionara baru menapaki ujung tangga teratas saat melihat Rebecca keluar dari
ruangan Jordan. Dengan senyum mengejek, perempuan itu berjalan angkuh menuju
Lionara.
“Sudah
waktunya kamu pergi dari sini.” Lionara to the point
Rebecca
menyeringai, “Sayang sekali, sepertinya tidak sekarang. Jordan menyuruhku
membuatkannya minuman. Pembahasan kami masih belum selesai. Jadi, tolong
minggir.”
Lionara
bergeming. “Biar aku yang membuatnya. Kamu pulang sekarang.”
“Apa
kamu tuli? Kenapa? Kamu kahwatir Jordan terpikat olehku? Segitu takutnya ya?
Ya, wajar sih. Kan kamu enggak ada apa-apanya bila dibandingkan denganku. ”
“Aku
tidak ada waktu untuk meladeni basa-basimu. Pulang sebelum kesabaranku habis.”
tekan Lionara, mencekal siku Rebecca lalu menariknya menuruni tangga.
“Jalang!!
Berani-beraninya kamu! Lepaskan!” sentak Rebecca, menarik kuat lengannya tapi
sama sekali tidak terlepas.
“Akan
kulaporkan sikap bar-barmu ini pada Jordan!”
“Laporkan
saja.” tenang, Lionara terus menarik Rebecca yang masih terus meronta.
“I’ve told you, *****! Then… jangan
salahkan aku!”
“Lionara!”
Kedua
teriakan nyaring yang bersamaan itu mengalihkan perhatian Lionara. Tapi sebelum
ia tersadar, Rebecca lebih dulu menghentak sekuat tenaga cekalan Lionara,
kemudian mendorongnya.
Seperti
sedang melihat slow motion, tubuh
Lionara melayang dalam gerakan lambat. Matanya sekilas melihat Jordan berlari
kesetanan untuk menjangkaunya. Sedangkan Rebecca, wajahnya berubah pucat pasi,
tubuhnya membeku ditempat. Sebelum semua gerak lambat itu bergerak kembali
normal.
Tidak
ada yang bisa Lionara lakukan selain memegangi perutnya erat. Lionara hanya
berharap bahwa mereka berdua tidak akan mengalami hal buruk hanya karena
kesalahan ibunya.
Tapi
Lionara sadar, bayinya akan baik-baik saja karena ayahnya adalah orang pertama
yang akan melindungi mereka jika terjadi sesuatu. Tubuh Lionara nyaris
berguling, sebelum akhirnya Jordan melompat dan tangannya dengan sigap
menangkap tubuh Lionara. Lionara merasa mereka terseret jatuh sepanjang tangga
menuju kebawah. Pria itu memeluknya sangat erat, membiarkan tubuhnya sakit
berkali-kali lipat karena harus terbentur dengan ujung-ujung tangga dan harus
menahan tubuh Lionara diatasnya.
Lionara
tidak akan bisa membayangkan sakit yang dirasakan Jordan, karena ia yang berada
di atas pun mersakan sakit tak terhingga karena terhentak berkali-kali.
Saat
tubuh mereka akhirnya berhenti. Lionara dapat mendengar pria itu meringis
kesakitan. Hal yang tidak pernah pria itu tunjukkan padanya. Serta aroma anyir
darah menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.
Lionara
ingin segera beralih untuk tidak menindih pria itu. tapi nyeri yang amat sangat
sakit terasa pada perutnya. Sebelum semuanya menjadi gelap.
To be continued
Bagaimana? masih aman?
Hehe, ditunggu like dan komennya ya ❤
See youuu
**IG: @rianitasitumorangg
...Mommy Lion** ...