JORDAN

JORDAN
Chapter 33



Kak, aku sudah


sampai di Switzerland. Dan sekarang kami akan memasang tenda. Selama aku berada


disini kakak dilarang merindukanku. Jaga kesehatan dan sampaikan kecup sayangku


pada calon keponakanku tercinta. I love you.


Bibir


Lionara berkedut membaca pesan masuk dari Leon, dimana adik kecilnya itu tengah


berada di benua yang berbeda dengannya—Swiss. Pihak sekolah mengadakan


perkemahan selama tiga hari disana dengan perjalanan menggunakan pesawat yang


sudah disediakan sekolah. Dan ini adalah pertama kalinya Lionara berada di


jarak yang sangat jauh dengan Leon. Awalnya Lionara keberatan tapi saat melihat


keantusiasan Leon, ia jadi tidak tega menahan adiknya itu untuk tidak pergi.


Jordan


melewatinya dari arah dapur, masuk ke dalam ruang kerjanya kemudian keluar lagi


dan duduk di sofa seberang dengan laptop yang dipangku. Tidak ada yang


bersuara, keduanya sama-sama diam meski saling berhadapan.


Seminggu


setelah pertengkaran itu, hubungan Jordan dan Lionara berubah begitu dingin.


Beku dan sulit dicairkan. Jordan menjauh. Pun dengan Lionara, yang berusaha tak


acuh atas kehadirannya. Seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap


bersama, mereka tak pernah saling bertegur sapa dengan normal. Jordan jarang


sekali di rumah, dan saat dia pulang pun, dia lebih banyak menghabiskan


waktunya di ruang kerja. Tapi, hari minggu ini, nyaris seharian penuh dia tidak


pergi kemana-mana.


Dirinya?


Ah, entahlah. Lionara tidak tahu apa gunanya kehadirannya disini. Selain yang


ia tahu jika karena tubuhnyalah yang menjadi tempat penampungan bayi sementara


Jordan. Kemarin pun ia baru tahu jika Jordan sengaja mencelakai Daniel pada


waktu pagi setelah kesalahpahaman itu. Lionara mengetahui kabar itu bukan dari


Daniel, melainkan Ayah mertuanya sendiri, saat pertemuan mereka kemarin di


restoran. Ya, Josep minta bertemu dengannya tanpa sepengetahuan Jordan.


Pria parubaya yang


masih terlihat gagah dan tampan diusianya yang sudah tidak muda lagi duduk


berhadapan di ruangan privasi restoran. Hanya ada keduanya. Rasanya sudah lama sekali


Lionara tidak bertemu dengan Josep. Pertemuan terakhir mereka ketika di acara


ulang tahun Kakek Rikkard, itu pun berakhir dengan pertengkaran hebat. Dan


kini, Josep tampak menatap Lionara lekat dan tajam dengan iris birunya yang


sama seperti milik Jordan.


“Ada apa Papa ingin


bertemu denganku?” tanya Lionara saat Josep tak kunjung mengeluarkan suara.


“Kamu pernah menjadi


kekasihnya Daniel?” Josep bertanya dingin


Lionara mengerjap.


Josep menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah di perkirakannya.


“Bagaimana Papa


tahu?” Lionara berusaha bersikap senormal mungkin.


“Jawab saja


pertanyaanku.”


Lionara mengangguk.


“Ya. Tapi hubungan kami sudah lama berakhir setelah Daniel meneruskan kuliahnya


ke luar negeri.”


“Kamu masih


menyukainya?”


Lionara terdiam


sesaat. “Tidak. Kami hanya berteman.”


Josep mendecih,


“Tidak kusangka kedua putraku yang begitu hebat bisa terjerat dengan perempuan


miskin sepertimu. Sungguh luar biasa, kamu berhasil menggoda anak-anakku dengan


mudah. Katakan, trik murahan apa yang kamu gunakan sehingga kedua anakku bisa


segitu gilanya padamu? Tubuhmu?” Josep menjeda, menilik dengan sorot menghina tubuh


Lionara dari atas sampai bawah. Lionara diam. Matanya menatap lurus pada Josep,


namun kedua tangannya di bawah meja mengepal kuat.


“Langsung saja


katakan apa sebenarnya yang anda inginkan?” dingin, Lionara mengabaikan


sindiran Josep.


Josep memajukan


tubuhnya, matanya menyorot tajam.


“Apa kamu tahu,


gara-gara kehadiranmu kedua anakku nyaris saling membunuh!”desis Josep “Jordan


dengan gilanya sengaja menabrak mobil Daniel hanya karna dia marah saat


menangkap basah kamu dan Daniel di apartemennya!”


“A-apa?” Lionara


tercekat


“Apa kamu senang


mendengarnya? Dua anak kebanggaanku memperebutkanmu!” sarkas Josep


Lionara bergeming.


Wajahnya berubah pias. Sungguh, ia tidak menyangka Jordan akan berbuat sejauh


itu.


“Berkacalah, kamu


bukan siapa-siapa. Bahkan tidak pantas sedikit pun untuk menyandang status


menantuku, karena kasta kita berbeda, seperti langit dan bumi. Walaupun itu


sebatas angan-angan. Jadi, jangan pernah bermimipi sampai sana. Terlebih


mengharapkan restuku. Seharusnya, kamu sadar. Jika kamu hanya pion yang


dijadikan oleh Jordan untuk membalasku. Jadi, kukatakan dengan tegas, sebaiknya


kamu pergi dan menyingkir dari kehidupan putraku selamanya! Jika uang yang kamu


inginkan, aku bisa memberimu sebanyak yang kamu mau, asal… kamu menghilang dari


kehidupan Jordan dan Daniel.”


Tanpa sadar,


Lionara tertawa pelan. Nyaris miris.


“Dengarkan saya,


Tuan yang terhormat. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda. Saya tidak


akan meninggalkan Jordan, jika bukan dia sendiri yang meminta saya pergi dari


kehidupannya. Saya tidak tergiur dengan uang anda. Saya bisa mendapatkannya


dari suami saya.” Tekan Lionara. “Terlebih sekarang saya sedang mengandung anak


Jordan dan putra anda sangat mencintai calon buah hatinya ini. Jadi, menurut


anda, apakah Jordan bersedia melepaskan kami? Terlepas dari apapun hinaan yang


anda tujukan pada saya, saya tegaskan juga, saya tidak akan pergi kemana pun.


Kalau anda keberatan, silahkan anda memintanya langsung pada Jordan. Tapi


kupikir, Jordan pun akan sependapat dengan saya, mengingat betapa tidak


berharganya anda dimata Jordan—darah daging anda sendiri!”


“LANCANG!!!” bentak


Josep murka. Rahangnya mengeras.


Lionara tidak


terpengaruh akan suara keras Josep. Dengan ringan ia melipat tangan didada


sedang maniknya menatap menantang pria didepannya tanpa gentar.


“Kenapa marah? Bukankah


benar yang saya katakan? Bahkan Jordan sendiri yang mengatakan jika Ayahnya


sudah lama mati. Dan satu-satunya keluarga yang dia akui hanya Kakek.”


Tambahnya semakin menyulut kemarahan Josep.


“Perempuan jalang! Kurang


ajar! Berani-beraninya ka—“


“Kukira pembahasan


kita sudah selesai. Permisi.” Sela Lionara, bangkit dari kursinya dan berjalan


menujuh pintu keluar. Tapi sebelum itu, ia berhenti lalu menoleh dari bahu.


“Ah ya, mengenai


Daniel. Anda tenang saja, hubungan kami sudah benar-benar berakhir. Sekarang


saya hanya mencintai suami saya.” Tegasnya, kemudian keluar dari sana tanpa


mempedulikan kilat kemarahan Josep.


****


Lamunan


Lionara buyar ketika bel berbunyi.


“Buka


pintunya,” titah Jordan tanpa menatap ke arahnya.


Khusus


hari minggu para pelayan bekerja hanya sampai tengah hari. Sedang disisa hari,


mereka di ijinkan keluar rumah untuk bersantai.


Lionara


yang tengah membaringkan diri diatas sofa depan televisi, berjalan ke pintu dan


anggun. Tubuh semampai dan rambut coklat yang dibiarkan tergerai itu sudah


tidak asing baginya. Rebecca.


Untuk apa perempuan


itu kemari?


Lionara


membuka pintu dan langsung menatap tidak bersahabat pada Rebecca.


“Ada


urusan apa?” ketus Lionara


Rebecca


tersenyum, kemudian mengangkat paper bag di tangannya. “Ingin mengembalikan


ini.”


Lionara


menaikkan sebelah alis, “Apa?”


“Jam


tangan Jordan. Kemarin ketinggalan di hotel.”


Rebecca sengaja menekankan kata terakhirnya.


Lionara


tertegun. Kemarin malam Jordan memang tidak pulang. Dari informasi pelayan,


lelaki itu baru kembali pukul 5 pagi tadi. Apa mereka menginap di hotel


bersama?


“Siapa?”


Jordan yang semula duduk mengamati, ikut bangkit dari sofa, menyusul Lionara.


“Hai,


Jo.” Rebecca melambaikan tangan dengan senyum yang teramat manis.


“Rebecca?


Ada apa?” Jordan berdiri di belakang Lionara karena istrinya itu hanya membuka


setengah pintunya—sama sekali tidak berniat mengijinkan Rebecca masuk.


“Aku


mau mengembalikan jam tanganmu yang ketinggalan, sekaligus ada kontrak kerja


yang perlu kamu baca dan tanda tangani hari ini.” terang Rebecca


“Ya


sudah, kamu masuk dulu.”


“Engga


boleh.” Lionara berbalik menghadapnya, yang dibalas kernyitan dalam oleh


Jordan. “Perempuan ular itu enggak boleh masuk.”


“Lion,


jangan aneh-aneh. Kamu minggir, biarkan Rebecca masuk.”


Lionara


mengabaikan. Dengan sigap ia kembali menghadap Rebecca dan langsung mengambil


paper bag serta dokumen dari tangan Rebecca dengan kasar.


“Sudah


diterima. Kamu boleh pergi sekarang.”


“Lionara!”


suara Jordan meninggi “Jangan kekanak-kanakan kamu. Rebecca datang untuk


membahas pekerjaan denganku. Sekarang minggir.”


Jordan


menggeser tubuh Lionara—meraih tangan Rebecca dan mengambil kembali dokumen di


tangan Lionara, kemudian Jordan terus membawa Rebecca masuk ke ruang kerjanya.


Sedang Lionara masih berdiri disana, menatap nanar punggung keduanya.


****


Dua


jam, Lionara duduk menunggu di ruangan televisi dengan tatapan kosong. Sejak


masuk tadi keduanya belum juga keluar sampai sekarang. Sepanjang apa pekerjaan


yang mereka bahas? Padahal ini hari libur. Tak tahan lagi, Lionara menarik


napas sebelum bangkit dari sofa kemudian beranjak melangkahkan kaki menuju


ruang kerja Jordan. Ia tidak bisa membiarkan Rebecca berlama-lama dengan lelaki


itu. Entah karangan licik apa lagi yang akan perempuan itu ceritakan pada


Jordan. Ia terlalu mengenal bagaimana karakter seorang Rebecca. Cukup hanya


keluarganya dulu yang berhasil mereka hancurkan.


Kaki


Lionara baru menapaki ujung tangga teratas saat melihat Rebecca keluar dari


ruangan Jordan. Dengan senyum mengejek, perempuan itu berjalan angkuh menuju


Lionara.


“Sudah


waktunya kamu pergi dari sini.” Lionara to the point


Rebecca


menyeringai, “Sayang sekali, sepertinya tidak sekarang. Jordan menyuruhku


membuatkannya minuman. Pembahasan kami masih belum selesai. Jadi, tolong


minggir.”


Lionara


bergeming. “Biar aku yang membuatnya. Kamu pulang sekarang.”


“Apa


kamu tuli? Kenapa? Kamu kahwatir Jordan terpikat olehku? Segitu takutnya ya?


Ya, wajar sih. Kan kamu enggak ada apa-apanya bila dibandingkan denganku. ”


“Aku


tidak ada waktu untuk meladeni basa-basimu. Pulang sebelum kesabaranku habis.”


tekan Lionara, mencekal siku Rebecca lalu menariknya menuruni tangga.


“Jalang!!


Berani-beraninya kamu! Lepaskan!” sentak Rebecca, menarik kuat lengannya tapi


sama sekali tidak terlepas.


“Akan


kulaporkan sikap bar-barmu ini pada Jordan!”


“Laporkan


saja.” tenang, Lionara terus menarik Rebecca yang masih terus meronta.


“I’ve told you, *****! Then… jangan


salahkan aku!”


“Lionara!”


Kedua


teriakan nyaring yang bersamaan itu mengalihkan perhatian Lionara. Tapi sebelum


ia tersadar, Rebecca lebih dulu menghentak sekuat tenaga cekalan Lionara,


kemudian mendorongnya.


Seperti


sedang melihat slow motion, tubuh


Lionara melayang dalam gerakan lambat. Matanya sekilas melihat Jordan berlari


kesetanan untuk menjangkaunya. Sedangkan Rebecca, wajahnya berubah pucat pasi,


tubuhnya membeku ditempat. Sebelum semua gerak lambat itu bergerak kembali


normal.


Tidak


ada yang bisa Lionara lakukan selain memegangi perutnya erat. Lionara hanya


berharap bahwa mereka berdua tidak akan mengalami hal buruk hanya karena


kesalahan ibunya.


Tapi


Lionara sadar, bayinya akan baik-baik saja karena ayahnya adalah orang pertama


yang akan melindungi mereka jika terjadi sesuatu. Tubuh Lionara nyaris


berguling, sebelum akhirnya Jordan melompat dan tangannya dengan sigap


menangkap tubuh Lionara. Lionara merasa mereka terseret jatuh sepanjang tangga


menuju kebawah. Pria itu memeluknya sangat erat, membiarkan tubuhnya sakit


berkali-kali lipat karena harus terbentur dengan ujung-ujung tangga dan harus


menahan tubuh Lionara diatasnya.


Lionara


tidak akan bisa membayangkan sakit yang dirasakan Jordan, karena ia yang berada


di atas pun mersakan sakit tak terhingga karena terhentak berkali-kali.


Saat


tubuh mereka akhirnya berhenti. Lionara dapat mendengar pria itu meringis


kesakitan. Hal yang tidak pernah pria itu tunjukkan padanya. Serta aroma anyir


darah menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.


Lionara


ingin segera beralih untuk tidak menindih pria itu. tapi nyeri yang amat sangat


sakit terasa pada perutnya. Sebelum semuanya menjadi gelap.


To be continued


Bagaimana? masih aman?


Hehe, ditunggu like dan komennya ya ❤


See youuu


**IG: @rianitasitumorangg


...Mommy Lion** ...