JORDAN

JORDAN
Chapter 9



Satu minggu kemudian


“Kamu sudah datang?” Josep yang tengah asik berbincang dengan salah seorang rekannya, menyapa sang putra yang baru saja muncul dari pintu utama.


“Hm, seperti yang kau lihat” seperti biasa, Jordan berucap tak acuh, enggan menatap lawan bicaranya.


Josep sendiri tidak merasa tersinggung diperlakukan sedemikian kurang ajar oleh putra


yang dikasihinya. Ia sudah terlalu biasa mendapatkan respon tidak sopan Jordan. Sejak dulu hubungan keduanya memang tidak baik. Dan Josep sangat menyadari  hal tersebut disebabkan oleh perbuatan dirinya dimasa lampau terhadap ibunya Jordan. Dengan hadirnya sang putra pada acara pertunangannya ini saja merupakan suatu keajaiban—mengingat ini adalah pertama kalinya Jordan bersedia menuruti permintaannya untuk dijodohkan


dengan putri dari sahabatnya.


“Baiklah. Kalau begitu tunggulah sebentar lagi acara pertunanganmu dimulai. Mungkin kamu


bisa menyapa sebentar dengan kedua sahabatmu disana.” Timpal Josep menunjuk dengan dagu ke tempat dimana Evan dan Aldrich tengah asik bercakap-cakap.


Tanpa membalas, Jordan menghela langkah menghampiri kedua sahabatnya dengan dagu yang terangkat arogan—meninggalkan ayahnya begitu saja. Sedang Josep hanya bisa menghela napas lelah dengan pembangkangan yang ditunjukkan secara terang-terangan tersebut.


Ditengah langkahnya menuju sang sahabat, tatapan-tatapan mata kagum dari para tamu undangan—terkhususnya wanita yang hadir terus terarah pada Jordan. Para wanita itu terpana pada penampilan Jordan yang memukau. Jordan memang memiliki paras di atas rata-rata manusia sejenisnya dan hal itu lebih di perjelas kembali


dengan pakaian yang dikenakannya hari ini. Ia memakai setelan jas berwarna hitam yang dilihat dari kilau warnanya, sudah pasti sangat mahal dan rambutnya juga ditata lebih rapih sehingga menegaskan mata biru yang menghipnotis itu.


“Sial, kemunculanmu selalu membuat ketampanan kami tertutupi. Wanita-wanita itu jadi tidak menatap kami lagi” Evan berdecak jengkel


“Aku dewanya malam ini kalau kamu lupa,” Jordan tertawa sambil meraih gelas berisi wine dari seorang pelayan yang lewat, lalu menegukknya.


“Dewa kepalamu” dengkus Evan


“Kapan sampai?” Aldrich bertanya lebih dulu sebelum Jordan membalas Evan. Kedua bocah yang bersamanya ini memang suka saling menyerang kata.


“Kemarin sore,”


“Lalu singamu kemana?” celetuk Evan celingukan menyapu seluruh ruangan.


Pletak!


Jordan menyentil jidat Evan “Sejak kapan aku mengijinkanmu memanggilnya begitu?”


“Argsshh..Si setan ini,” ringis Evan, mengusap jidatnya “namanya Lion kan? Artinya singa.


Lalu salahku dimana?” sambungnya kesal.


“Lionara. Panggil begitu. Hanya aku yang boleh memanggilnya Lion.”


“Dasar bocah. itu saja kalian peributkan.” Aldrich memutar bola mata malas “dimana Lionara? Kamu tidak membawanya?”


“Sedang dalam perjalanan menuju kemari.”


“Apa kamu akan tetap melakukan rencanamu?”


“Tentu saja. Ini akan menjadi pertunjukan yang sangat seru,” Jordan menatap Aldrich sambil tersenyum penuh arti


“Jangan main-main, Jo. Kamu akan mempermalukan keluargamu sendiri,” Evan berbicara serius


“Selain kakek, aku sudah tidak memiliki keluarga lagi. Hanya saja aku yang bernasib sial karna ditubuhku mengalir darah pria tua itu” Jordan meneguk kembali wine-nya sampai habis.


Sedang Aldrich dan Evan saling melempar pandang—mereka tahu kebencian Jordan terhadap ayahnya sudah mendarah daging. Sulit bagi mereka jika mencegah Jordan.


***


Sementara itu di dalam mobil, Lionara duduk berpangku tangan—menatap dalam hening jalanan Barcelona yang tampak lenggang dari balik kaca. Penampilannya yang selalu seperti gadis tomboy dengan pakaian lusuh, kini telah berubah menjadi sosok gadis feminim yang tampak cantik dan menawan dengan dress berwarna biru laut panjang elegan melekat pas di tubuh Lionara. Rambutnya disanggul ke atas dengan sampiran anak rambut di kedua sisi pelipis yang dibiarkan menjuntai tertiup angin. Heels lima senti berwarna senada pun membalut sempurna di kaki jenjang nan putihnya.


Jordan mendatangkan seorang penata busana dan make up khusus ke kamar hotel mereka untuk membantu Lionara berdandan layaknya wanita bangsawan. Lionara hanya bisa diam mematuhi semua yang dinginkan lelaki itu. Pak Lee sudah memberitahu maksud tujuan dari Jordan menyuruhnya untuk mengikuti semua arahan kepala


pelayannya itu. Intinya, Jordan tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayah kandungnya sendiri. Lelaki itu ingin membalas ayahnya—mempermalukannya di depan orang banyak. Sungguh Lionara sangat penasaran kenapa Jordan sangat membenci ayahnya sendiri—sampai nekat melakukan hal yang paling beresiko ini.  Tapi sekali lagi ia hanya memilih mengunci mulut dan mengenyahkan semua rasa penasarannya. Konflik antara Jordan dan


ayahnya bukanlah sesuatu hal yang harus dia campuri. Tugasnya hanyalah mengikuti semua kemauan lelaki itu, karna untuk itulah dia menikah dengan Jordan.


“Apa yang harus kulakukan disana?” datar, Lionara bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kaca jendela.


“Tidak ada Nona. Anda cukup hadir disana tanpa perlu mengatakan apapun. Selebihnya Tuan Jordan yang akan mengaturnya.” sahut Samuel dari balik kemudi.


***


Denting waktu terus bergulir, dan inti dari perayaan pesta itu mulai dibuka oleh pembawa acaranya. Jordan dan Yael—sang calon tunangannya malam ini menjadi perhatian semua orang. Keduanya terlihat sangat menawan dan serasi. Tak heran tepuk tangan bergemuruh menyambut keduanya yang kini sedang saling menatap dengan kedua tangan saling terjalin.


Lionara duduk di tengah-tengah semua orang, menatap tanpa ekspresi sang suami yang tengah menebarkan senyum mempesona kepada semua tamu undangan, seolah-olah lelaki itu sangat bahagia. Tapi hanya Lionara, Evan dan Aldrich yang tahu maksud dibalik senyuman lelaki itu. Tatapan Lionara beralih pada gadis disebelah Jordan. Gadis itu sangat cantik. Tubuh langsingnya yang dilapisi gaun seksi nan elegan, menempel lekat pada suaminya. Mereka terlihat sangat serasi bersama.


“Boleh aku duduk disini?’ tanyanya meminta ijin dengan senyum ramah


Lionara mengangguk, “Silahkan”


“Terimakasih, Nona” Lelaki itu duduk “mereka pasangan serasi bukan?”


Lionara mengernyit tidak mengerti. Lelaki itu tersenyum, lalu menunjuk dengan dagu pasangan yang dimaksudkannya. Lionara mengikuti—ternyata sosok yang dimaksud adalah Jordan dan sang calon tunangan.


“Ya” Lionara menyahut singkat.


“Yael adalah sahabatku dari kecil. Gadis manja itu sudah lama menyukai Jordan, tepatnya sejak zaman sekolah.  Dan siapa sangka akhirnya mereka bisa berjodoh begini,” terang lelaki berkacama itu sambil tersenyum menatap hangat gadis yang dimaksud.


Lionara tidak berkomentar. Hanya mendengar sambil menatap pasangan di depan mereka yang kini bersiap-siap memasangkan cincin.


“Ah maaf. Aku jadi bicara tidak jelas” lelaki itu terkekeh ringan—menggaruk dagunya yang tidak gatal.


“Tidak masalah.” Lionara tersenyum tipis


“Namaku Mike” Mike mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri “kamu?”


Lionara menatap sejenak uluran tangan itu, “Saya Li—“


Lionara tidak sampai menyelesaikan kalimatnya saat mendengar suara Jordan yang menggema di ruangan itu.


“Maaf semuanya, aku tidak dapat meneruskan pertunangan ini.”


Hening


Pernyataan itu cukup menyentak para tamu yang hadir. Semua orang kini menatap mereka dengan berbagai ekspresi. Lionara beserta Evan dan Aldrich yang duduk tak jauh darinya, memberi Jordan tatapan datar seolah apa yang dikatakan tadi bukan kejutan lagi. Josep menatapnya tajam—terlihat sangat marah, Rossalyn sang istri


sampai menahan lengannya yang hendak menyerang putranya sendiri. Sedangkan Yael terlihat sangat syok.


“Apa maksud ucapan kamu, Jordan?” David Fredrick, Ayah Yael yang bertanya dengan raut yang mengeras


Jordan mengangkat bahu santai, “Well, sebenarnya aku sudah menikah Om. Jadi dengan sangat menyesal aku tidak dapat melanjutkan pertunangan ini.”


“Jordan! Berhenti bicara omong kosong!” Josep berteriak dengan wajah memerah. Malu dan amarah bercampur menjadi satu.


Jordan mengangkat alis “Tidak percaya?”


“Hentikan omong kosong ini! lanjutkan kembali pertunangan kalian,” desis Josep


“Baiklah, kalau begitu akan kutunjukkan.” Jordan berdecak jengkel. Ia memutar tubuh—tatapannya terarah tepat pada Lionara yang masih berdiri mematung. “Istriku, kemarilah” Jordan tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.


Sontak tatapan semua orang langsung mengikuti arah pandang Jordan yang tersenyum lembut pada sesosok gadis anggun bergaun biru laut. Lionara masih tampak terdiam ditempatnya, masih dengan raut datar tanpa ekspresi. Tapi siapa sangka dibalik itu semua sebenarnya ia sangat tegang dan cemas. Ia tidak pernah diperhadapkan pada situasi yang mencekam begini—ditambah lagi kehadirannya ini adalah bukan sesuatu yang berefek baik tapi menghancurkan.


Pelan, Lionara mulai menghela langkah menuju suaminya. Tatapan mereka saling terkunci sampai Lionara menerima uluran tangan Jordan yang disambut dengan kecupan pada punggung tangannya. “You’re so beautiful,


honey,” gumam Jordan sambil mengerling.


“Jordan, si-siapa dia?” terbata, Yael bertanya setelah sejak tadi hanya bungkam. Sikap manis yang ditunjukkan Jordan pada wanita itu membuat dadanya sesak.


“Oh,” Jordan menegapkan tubuh, berdiri disisi Lionara dengan tangan yang melingkar mesra di pinggang ramping istrinya.


“Perkenalkan, namanya Lionara Florentine Christoper, istriku” ungkap Jordan dengan senyum mengembang “kami baru saja menikah dan… aku terlalu mencintainya sehingga sama sekali tidak terpikir untuk menduakannya.” Jordan meraih dagu istinya lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir Lionara.


Sekali lagi keintiman yang dipertontonkan Jordan itu membuat suasana kian riuh. Tidak menyangka lingkaran keluarga bangsawan yang tidak pernah diterpa gossip miring itu, kini tengah mempertontonkan keburukannya secara langsung.


“Apa-apaan ini?!” David membentak, merasa terhina dengan pertunjukan yang sengaja di pertontonkan Jordan tanpa mempedulikan putrinya yang telah berlinang air mata.


“Beginikah caramu mempermalukan keluarga kami?” tuding David pada Josep yang hanya diam membeku “tidak kusangka persahabatan kita yang sudah terjalin baik selama bertahun-tahun kini rusak karna kelakuan kurang ajar anakmu sendiri. Terimakasih untuk kejutan yang luar biasa ini! sungguh sangat mengesankan!”


Bersamaan dengan kalimat itu, David menarik tangan putri dan istrinya keluar dari ruangan itu dengan kemarahan yang masih menggelegak—melewati para tamu undangan yang masih tercengang.


Disaat yang lainnya tampak tegang, Jordan sendiri malah terlihat santai, lebih tepatnya tidak peduli. Ia memilih berdiri dibelakang Lionara, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan dagu yang bertengger santai


di atas kepala Lionara. Sesekali ia juga menciumi sanggul istrinya. Sedang jarinya juga turut sibuk memutari cincin berlian blue sapphire di jari manis Lionara.


Well done!


To be continued


IG: rianitasitumorangg