
Kepalanya sudah tidak begitu sakit, tapi Jordan masih betah pada posisinya
sekarang—enggan beranjak sedikit pun. Di dalam kamar mereka, tepatnya diatas kasur, Jordan berbaring dengan paha Nara sebagai bantalannya.
Lelaki itu terlihat memejamkan matanya, menikmati elusan tangan Nara pada kepalanya. Sedangkan
Nara, bermain game di ponsel Jordan. Setelah dengan arogannya lelaki itu tidak
mengijinkannya bekerja, ponselnya pun turut disita oleh Jordan dan disimpan
dalam saku celananya saat ini. Menahan kedongkolannya akan sikap Jordan yang
entah kerasukan mahluk apa sehingga begitu sensitive, Nara memilih tidak banyak
komentar, hanya menuruti kemauan suami menyebalkannya itu.
Tiba-tiba Jordan merubah posisinya berganti memeluk pinggang Nara dan menenggelamkan
wajahnya di perut Nara.
Sejenak Nara mengalihkan fokusnya pada Jordan, “Masih mual?” tanyanya dengan tangan
menyisir rambut kecokelatan Jordan.
Dibalas gelengan, Nara mengangguk. Lalu kembali bermain di ponsel Jordan tentu
dengan sebelah tangan yang terus mengelus kepala yang ada di pangkuannya.
Jordan mendusel-duselkan kepalanya di perut Nara. Tangannya semakin memeluk erat pinggang Nara.
“Aww!” pekik Nara ketika Jordan mendorong kepalanya menekan perut Nara.
Jordan menjauhkan sedikit kepalanya, kemudian mengangkat kaos Nara. Perut rata nan
eksotis bersih kini terlihat jelas di depan matanya. Ia mengecup sekilas perut tersebut membuat Nara kembali memekik terkejut.
“Jo,” protes Nara, tapi Jordan malah mengusap turun naik perutnya dengan lembut.
“Apa baby kita sudah tumbuh disini? Kenapa masih datar-datar saja.”
Tercenung, Jordan bertanya sesuatu yang hampir dilupakan Nara atas pernikahan mereka.
“Aku sudah tidak sabar lihat perut ini membuncit karna ada anakku di dalamnya. Aku
ingin di panggil Daddy dari mulut mungil baby kita nanti, terus aku akan
menemaninya belajar dan bermain sepuasnya. Jika perlu aku akan bawa baby kemana
pun biar semua orang tahu kalau aku adalah Daddy yang sangat beruntung.” celoteh
Jordan
Nara membisu, tidak menjawab. Ada bahagia yang diam-diam menyergap hati, dan rasa
ini sungguh tak terdefinisi. Ia hanya menatap kepala Jordan di balik kausnya dalam diam.
Wajah yang tadinya menghadap perut Nara, kini menghadap ke atas. Menatap Nara yang
juga menatapnya lekat.
“Aku tidak akan membiarkan kejadian yang sama terulang kembali. Akan kupastikan anak-anakku
mendapat kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Tidak akan pernah ada
perpisahan dan keluarga yang tercerai-berai, seperti mereka” lirih Jordan nyaris tak terdengar diakhir
kalimatnya.
Nara menatap Jordan lekat-lekat. Sorot matanya hampa walau seulas senyum timbul di
bibirnya. Ia bisa melihat cahaya mata dan kesepian selama bertahun-tahun yang
terpancar, dan Nara pernah merasakan semua itu. Rasa sakit, kehilangan,
merindukan orang yang disayang setiap malam, berusaha tegar dan percaya jika
yang pergi itu akan kembali. Mengetahui Jordan melewati hal yang hampir serupa
dengannya, membuat hatinya nyeri.
“Maaf... aku belum bisa mewujudkan keinginanmu yang satu itu.” Nara menatap sendu
Jordan mengelus pipi Nara lembut, “It’s okay. Kita masih memiliki banyak waktu. Tapi aku
punya keinginan lain yang sama besarnya selain kehadiran anak. Dan kuharap kamu
bisa menepatinya.”
“Apa?”
Jordan membawa tangan Nara yang dari tadi mengelus kepalanya ke atas bibirnya, lalu mengecupnya lama.
“Jangan pernah meninggalkanku. Jangan pernah coba-coba menghianatiku, kau tidak akan
pernah tahu apa yang bisa kulakukan jika itu terjadi.” Jordan tersenyum, namun sorot matanya memancarkan sinar ancaman.
Membisu, Nara menelan salivanya.
“Selain Kakek dan kedua sahabatku, kamu adalah satu-satunya wanita yang kupercayai. Bahkan
lebih dari itu, aku sudah menjadikanmu rumahku—tempatku pulang. Jadi,
bisakah kamu mewujudkannya?”
Ada keheningan, sebelum Nara akhirnya mengangguk lambat. Jordan tersenyum,
dan dalam sekali hentakan ia meraih tubuh Nara hingga berbaring telentang di
ranjang. Jordan menindih tubuhnya. Nara gelagapan—menahan pria itu dengan kedua
telapak tangannya.
“Jo, kamu mau apa?” Nara memekik tertahan saat Jordan mengisap kuat lehernya, lalu
mengangkat kausnya ke atas kepala.
“Tentu saja melakukan aktivitas membuat bayi. Sudah seminggu dia tidak memasuki rumahnya.” bisikan parau Jordan yang sudah diliputi oleh kabut gairah.
“Tapi kamu lagi sakit.” protes Nara tapi percuma saja, karna gigitan dan lumayan
halus di telinga Nara sudah tidak mampu lagi Nara tolak. Remasan lembut Jordan
di dadanya telah melumpuhkan otaknya—sehingga di detik selanjutnya, sudah tidak
ada lagi kata yang bisa dikeluarkan kecuali bibir dan lidah yang saling bertautan.
****
Setelah berhasil melepaskan belitan tangan Jordan di pinggangnya, Nara turun dari
ranjang dan memilih membersihkan diri lebih dulu setelah aktivitas ranjang
mereka. Ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah dan lebih segar. Nara
mengambil ponsel Jordan yang terjatuh di lantai. Keningnya langsung mengernyit
kala melihat jam digital di ponsel sudah menunjukkan pukul lima sore. Astaga, selama itu kah Jordan mengerjainya?
Pandangannya mengarah ke ranjang yang seperti habis diterjang badai. Dan tubuh polos Jordan
terbaring disana, tubuhnya tampak kecokelatan terlihat di balik selimut yang
putih bersih. Lelaki itu berbaring tengkurap, salah satu lengannya membingkai
kepalanya dan tubuhnya diam tak bergerak.
Ting
Bunyi pesan masuk itu membuat mata Nara langsung teralih pada ponsel di tangannya. Niatnya
Cuma melirik sekilas, tetapi pop up pesan itu menyita seluruh perhatiannya.
Hai, bagaimana
keadaanmu? Apakah masih mual? Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak
banyak minum semalam. Jadinya kamu tidak bisa masuk kerja hari ini :’(
Padahal ini hari pertamaku bekerja di kantormu. Aku cukup sedih karna kamu tidak ada. Lekaslah sembuh agar kita bertemu kembali. –Rebecca
Tanpa sadar ponsel itu diremasnya kuat hingga layarnya berubah hitam.
Apa yang Jordan lakukan selama di Dubai?
Apa kerja samanya disana hanya alasan?
Apa ada wanita lain di belakangnya?
Apa Jordan berselingkuh?
Sekali lagi Nara menatap punggung Jordan. Wajahnya dingin, tetapi seperti ada irisan
yang tak kasat mata yang telah mengoyak hatinya.
Nara tidak tahu, apa yang membuatnya merasa kecewa. Jordan yang memiliki wanita lain
atau fakta yang enggan di akuinya jika lelaki itu mulai memiliki peranan penting dalam hatinya.
Entah kenapa, tubuh Nara tiba-tiba terasa lemas. Hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai dengan perasaan berantakan.
****
“Ada apa dengan wajahmu? Suram begitu.”
Aldrich datang berkunjung ke kantornya setelah mendapat kabar dari Evan jika Jordan
terserang penyakit. Sedang selama pertemanan mereka, Jordanlah yang hampir tidak pernah sakit.
Awalnya Aldrich mengira Evan hanya membual seperti biasa, tapi setelah melihat Jordan secara
langsung barulah ia percaya. Wajahnya pucat, dengan kantung mata dan juga
lingkaran hitam yang membingkai mata cekungnya.
“Jenis penyakit apa yang berhasil menggerogotimu?” alis Aldrich
menukik
Jordan keluar dari kursinya, melangkah gontai menuju sofa dimana sahabat yang tidak
diundangnya itu berada.
“Asam lambung.” Jordan menjawab malas
“Benarkah? Tapi kenapa aku tidak yakin.”
Jordan berdecak, “Jika tidak percaya tanyakan saja langsung pada dokter sialan itu.”
Aldrich mengawasi mata sayu Jordan, masih kurang puas dengan jawabannya. Walau pada akhirnya,
Aldrich mengangguk.
“Baiklah, anggap aku percaya.” Aldrich beranjak dari sofa, melangkah menghampiri lemari
kaca yang berisikan wine di sudut ruangan. Dia mengambil satu botol wine dan
dua gelas dari sana, lalu kembali duduk di sofa. Dengan ringan Aldrich membuka
tutup botol wine tersebut.
Wajah Jordan langsung mengernyit seiring aroma tidak sedap yang dia cium bersamaan
dengan isi botol wine yang dituangkan kedalam gelas.
“Ini, minumlah-“
“Singkirkan itu, Al—“ Jordan langsung menutup mulutnya. Seiring aroma menyengat yang
semakin pekat menyapa indra penciumannya.
“Hoek!”
Tanpa mengatakan apapun lagi, Jordan buru-buru berlari secepat yang ia bisa menuju
kamar mandi di ruangannya. Detik selanjutnya, setelah Jordan berada di kamar
mandi, ia langsung memuntahkan seluruh isi perutnya. Sarapannya tadi pagi, kini
sudah beralih ke dalam closet.
Menyebalkan.
Jordan terus muntah walau sudah tak ada apapun lagi yang sanggup di keluarkan oleh
perutnya selain cairan yang membuat mulutnya kembali terasa pahit.
“Kau baik-baik saja?” tanya Aldrich ketika Jordan sudah kembali duduk di sofa.
“Apa aku terlihat baik-baik saja?” sinisnya dengan tubuh bersandar sepenuhnya saking lemasnya.
“Kau sangat mengenaskan.” Aldrich menggeleng-gelengkan kepala
Jordan mendengus dengan lirikan sinis, “Terima kasih atas pujiannya!” Sarkasnya. “Sialan. Rasanya aku mau mati.” keluh Jordan sembari memegangi perutnya yang masih terasa mual.
“Ini semua karna minuman yang kau tuang!”
Aldrich mengerutkan kening, “Ini wine yang biasa kau minum. Lalu apa masalahnya?”
Jordan berdecak dengan tingkah Aldrich yang terus saja menyahutinya. Dan entah kenapa,
tingkah sahabatnya itu semakin membuat Jordan meradang. Kesal, ia memilih
menutup matanya dengan lengan.
“Jo-“
“Jangan sekarang, Al. Apa kau tidak lihat kalau aku sudah sekarat dan hampir mati?!” sengit Jordan.
“Sepertinya kau mengalami gejala ibu-ibu hamil, ”
“Pergilah, Al. Aku sedang tidak mood mendengar hipotesamu itu.”
“Sebaiknya kau segera memeriksakan istrimu ke dokter.”
Jordan mendelik. “Yang hampir mati aku, kenapa istriku yang harus di periksa?!”
Aldrich mengangkat bahu. “Maybe ini efek bibitmu yang sudah berkembang di perut istrimu,”
Gerakan Jordan memijit pelipisnya sontak terhenti, lalu menoleh cepat pada Aldrich yang menyesap wine dengan santai.
“Gejala yang kau alami itu sama persis dengan ibu yang hamil muda. Lion-mu yang hamil,
kau yang menderita morning sickness.” ujar Aldrich “Ck, malang sekali nasibmu, dude.” lanjutnya mencibir
Jordan terdiam. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Jordan dengan susah payah
meneguk ludahnya sendiri. “Kau…” lagi, Jordan meneguk ludahnya kepayahan di tengah kalimatnya. “Yakin?”
Aldrich mendengus, “Makanya bawa segera istrimu ke dokter kandungan. Pastikan sendiri.”
Jordan mengerjap. pikirannya masih kosong. Lantas sedetik kemudian, ia bangkit berdiri,
beranjak keluar ruangan dengan langkah tergesa menuju meja dimana istrinya
saat ini tengah fokus mengetik.
Hamil? Anakku?
To be continued
Ig: @rianitasitumorangg**