JORDAN

JORDAN
Chapter 13



“Leon!”


“Kakak!”


Leon yang tengah duduk santai di gazebo belakang dengan sebuah buku yang dibacanya, mendongak cepat ketika mendengar suara sang kakak yang sudah satu minggu ini tidak di lihatnya. Segera, Leon masuk kedalam pelukan Lionara begitu gadis itu merentangkan tangannya menyambut Leon.


“I miss you,”


“Miss you too, baby” Lionara mengecup puncak kepala Leon


“Kenapa tidak bilang hari ini pulang?” Leon melepaskan pelukannya dan mengiring Lionara duduk di sofa.


“Surprise dong,”  kekeh Lionara seraya mengacak gemas rambut halus Leon.


“Iih, gak lucu” Leon mencebik


Lionara tertawa. Merasa lucu setiap kali Leon mengerucutkan bibirnya kesal. Leon selalu berhasil membuat mood-nya menjadi lebih baik dan membuatnya tersenyum—senyum yang mungkin sangat jarang ditunjukkan di depan orang lain.


“Oya, bagaimana sekolah barumu? Apa kamu suka?”


Leon mengangguk antusias “Tentu saja. Sekolah itu sangat besar dan mewah. Ukurannya bahkan sebelas dua belas dengan Hogwarts. Apalagi disana fasilitas belajarnya sangat lengkap dan kualitas pengajarnya juga tidak main-main. Dan lagi anak-anak yang bersekolah disana rata-rata dari kalangan atas, Kak. Seperti anak-anak selebritis dan pembisnis terkenal yang wajahnya sering muncul di tv.” Leon menjelaskan dengan mata berbinar kagum.


Lionara tersenyum haru melihat adiknya yang begitu menyukai sekolah barunya. Well, untuk ukuran sekolah elit begitu, bukanlah suatu hal yang baru bagi Lionara—karna dia juga pernah merasakan fasilitas mewah itu, jauh sebelum kedua orangtuanya tiada. Tapi tidak bagi Leon. Seumur hidup baru kali ini sang adik bisa mengecap kemewahan tersebut.


Lionara mengelus dan membenarkan kembali rambut Leon yang ia acak tadi, “Syukurlah kau suka. Kakak senang mendengarnya”


“Ini semua berkat kakak yang menikah dengan kakak ipar yang crazy rich itu. Kalau bukan, mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di sekolah seperti itu.” Leon menyengir.


“Benarkah? Itu berarti kamu sudah mulai menyukai kakak iparmu?”


“Aku belajar menyukainya karna kakak” Leon menatap lekat manik sang kakak.


“Oh ya? Kenapa begitu?”


“Aku senang kakak menikah dengan kak Jordan. Setidaknya aku tidak akan melihat kakak kesusahan dan kerja rodi lagi demi mencukupi kebutuhan dan biaya sekolahku. Sudah cukup kakak menderita selama ini karna aku. Aku ingin melihat kakak bahagia,” parau, Leon memalingkan wajah ke samping— berusaha menahan air matanya


yang akan jatuh.


Lionara menatap sendu sang adik. Tidak menyangka Leon-nya akan berpikir demikian. Pelan, Lionara menangkup wajah Leon dan dengan lembut menyeka bulir bening di sudut mata adik kecilnya.


“Dengar, kakak tidak pernah merasa menderita karnamu. Kakak sangat menyanyagi Leon dan cuma Leon keluarga satu-satunya yang kakak miliki. Karna itu kakak rela melakukan apapun demi membuat Leon kakak senang. Jangan pernah berasumsi seperti itu. Kakak tidak suka. Leon bukan beban buat kakak, mengerti?”


Leon mengangguk. “Kalau begitu mulai sekarang kakak juga harus bahagia.”


Mata Lionara berkaca-kaca melihat mata penuh harap sang adik. Tak tahan, ia mendekap erat Leon lalu mengecup puncaknya


“Kakak bahagia kalau Leon bahagia.” lirihnya


****


Lionara    : Apa kamu masih bekerja di Kelab?


Camila : Tentu saja. Kamu pikir hanya dengan tamatan SMA aku bisa kerja apa lagi? Oya, sudah lama kamu tidak menghubungiku. Aku kahwatir kamu melupakanku setelah menikah dengan pria kaya itu. Bagaimana kabarmu, Li?


Lionara    : Baik. Aku baru saja kembali dari Barcelona. Rumah mertuaku.


Camila : Wah, benarkah? Asik dong. Lalu bagaimana sikap mertuamu? Apa dia baik padamu?


Lionara    : Sepertinya tidak.


Camila : Why?


Lionara    : Jordan dan Ayahnya mempunyai hubungan yang tidak baik. Sangat buruk.


Camila : Ya, kalau cerita itu aku memang pernah mendengarnya sedikit. Kupikir berita itu hanya hoax.


Lionara    : Itu benar. Bahkan Jordan sengaja mengajakku kesana untuk mengacaukan pertunangan yang telah dirancang ayahnya.


Camila : Hell! Jadi gossip di berita kemarin itu benar adanya?!


Lionara    : Hm. Ayah Jordan tidak menyukai perempuan jelata sepertiku. Beliau marah besar dan sampai memukuli Jordan.


Camila : Oh my God, Li. Aku tidak menyangka kalau kejadian seperti itu akan terjadi. Terus bagaimana selanjutnya?


Lionara    : Kamu mau mengharapkan cerita apalagi? Ya, setelah berhasil membuat Ayahnya malu, Jordan membawaku pulang.


Camila : Aku tidak menyangka Jordan akan tega mempermalukan keluarganya sendiri. Dan jangan bilang dia bersikeras menikahimu juga salah satu rencananya—selain menginginkan anak darimu?!


Lionara    : Kenyataannya memang begitu.


Camila : Oh, ****! Kau sedang berada dalam masalah besar, Li! Jordan benar-benar memanfaatkanmu untuk mencapai tujuannya.


Lionara    : Aku tahu.


Camila : Apa? Kamu sudah tahu?! Ini tidak bisa dibiarkan, Li. Kusarankan kamu segera pergi darinya sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.


Lionara    : Ck, jangan konyol. Aku sudah menikah dengannya. Kamu pikir aku bisa pergi semudah itu?


Camila : Tenang saja. Aku yang akan membantumu melarikan diri. Kita bertiga pergi dari kota ini.


Lionara    :  Tenanglah, Cal. Aku bisa menghadapi ini semua. Jika hanya dicela dan dipermalukan lagi, sudah sangat biasa bagiku. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku harus membalas budi pada Jordan yang sudah banyak menolongku. Setidaknya, berkat menikah dengannya Leon mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Leon bahagia—itu sudah cukup untukku.


Camila : Tapi aku tidak tega melihatmu harus menderita terus, Li. Kamu juga layak bahagia.


Camila : Baiklah, jika itu sudah keinginanmu. Oya, Apa kamu masih mengikuti perkembangan berita si El?


Lionara    : El?


Camila : Hm. Dia sudah kembali ke kota ini, Li!


Lionara    : Lalu?


Camila : Hehe, Tidak apa-apa. Hanya mengingatkanmu untuk lebih berhati-hati dengan perasaanmu kalau kalian sampai bertemu nanti.


El kembali?


Lionara tidak melanjutkan chatting itu. Ia menaruh ponselnya dengan perasaan campur aduk di atas meja. Ia mengangkat wajah dan mendapati Jordan sedang menatapnya. Lelaki itu baru saja selesai mandi dengan handuk ditangan yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


“Ada apa? Kenapa wajahmu murung begitu?” Jordan bertanya heran.


“Tidak apa-apa.” dusta Lionara lalu duduk bersandar pada kepala ranjang “bisakah aku bekerja lagi?”


“Pertanyaan itu lagi,” decih Jordan. Kakinya dihela menuju ranjang, sedang handuk tadi sudah dilempar ke atas sofa. Ia turut mendudukkan diri bersandar di samping Lionara.


“Kenapa kamu ingin sekali bekerja? Apa semua yang kusediakan belum cukup untukmu?”


“Aku hanya merasa bosan duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun,”


“Kamu bisa pergi berbelanja atau mengajak Leon jalan-jalan keluar, mungkin.”


“Aku tidak suka belanja. Sedang waktu Leon sudah habis seharian dengan kegiatan disekolahnya.”


“Baiklah, pekerjaan apa yang bisa kamu lakukan?”


“Cleaning service.”


“Hanya itu?” Jordan menaikkan alis.


Lionara mengangguk “Aku cuma lulusan JHS.”


“Tidak bisa.” Jordan menolak tegas. “Apa kata orang-orang jika mereka tahu istriku bekerja sebagai cleaning service.”


“Bukankah pernikahan kita dirahasiakan?”


Jordan memutar bola mata malas “Kamu lupa kehebohan yang kita lakukakan minggu lalu di kediaman tua bangka itu? Semua media meliput kita dan otomatis wajahmu sebagai istriku juga terpampang jelas disana.”


Lionara terdiam. Dia melupakan fakta bahwa acara pertunangan Jordan yang megah itu pastinya ramai diliput oleh para stasiun televisi.


Jordan tersenyum. “Kalau hanya untuk mengatasi kebosanan, kamu tidak perlu bekerja. Karna mulai besok dan beberapa hari seterusnya aku yang akan membuatmu sibuk.”


“Sibuk?” Lionara mengernyit.


“Aku ingin kamu berlatih lagi dengan Deliah temanku, selama beberapa hari kedepan, dia akan mengajarimu bagaimana menjadi berpenampilan layaknya istri-istri pengusaha.”


“Kenapa?”


Jordan menatap Lionara dengan tatapan serius “Dua minggu lagi Kakek akan berulang tahun dan semua keluarga akan datang berkumpul merayakan ulang tahunnya. Aku tahu seperti apa watak keluargaku. Mereka sangat menjunjung tinggi darah ningratnya. Mengetahui aku menikah dengan perempuan jauh dibawah kasta mereka, maka akan membuatmu direndahkan, dan tentunya mereka akan memiliki celah untuk melengserkanku sebagai calon pewaris kekayaan keluarga Christoper. Aku tidak ingin itu terjadi. Kamu harus tampil sebagai wanitaku yang mempesona dan berkahrisma.”


Lionara menatap Jordan lama dan tiba-tiba merasa sedih. Ia teringat akan seluruh keluarganya dulu. konflik di keluarga Jordan hampir sama dengan keluarganya dulu yang begitu menggilai harta. Bahkan rela menjatuhkan satu dengan yang lain demi mendapatkan harta dan tahta. Buktinya, begitu kedua orang tuanya meninggal, adik dari Ayahnya sendiri langsung memanipulasi kekayaan kedua orang tuanya, lalu Lionara serta Leon dibuang begitu saja dari rumah. Mengingat itu membuat hati Lionara kembali sakit.


“Baiklah.” Lionara menjawab singkat.


Lionara memalingkan wajah saat menyadari air matanya akan keluar. Ia segera membaringkan diri dan masuk kedalam selimut—tidur memunggungi Jordan. “Sebaiknya kita tidur. Selamat malam.”


Jordan berdecak. Jordan jelas tidak senang dengan itu, lalu dengan sekali entakan ia memutar tubuh Lionara berbaring menghadapnya—menghiraukan pekikan tertahan wanita itu.


“Jo—“


“Tidak sopan membelakangi suami tidur.” potong Jordan seraya menempelkan tubuh mereka, melingkarkan tangan di perut Lionara dan kakinya di tempatkan diatas kaki Lionara.


“Aku kesulitan bergerak kalau seperti ini.”


“Badan kita sudah menempel. Tidak bisa di lepaskan.” Sebuah pernyataan yang mutlak dan tak terbantahkan.


Lionara menggertakkan gigi kesal, dan hal itu membuat Jordan gemas lalu tanpa aba-aba mengisap bibir Lionara dalam-dalam hingga membuat perempuan itu tersedak salivanya sendiri.


“Tidur, atau aku akan terus menciumi bibir ini.” Jordan mengelus bibir bawah Lionara.


Lionara menelan saliva, “Baiklah, tapi tolong geser sedikit.”


Lionara masih berusaha mendorong dada Jordan tapi bukannya lepas, pelukan itu kian mengerat. Jordan menenggelamkan wajah Lionara ke dadanya, lalu telapak tangannya mulai membelai lembut rambut Lionara.


“Sshh… tidur, Lion. Jika terus bergerak kamu bisa membuat Jordan junior dibawah sana terbangun.” Jordan berbisik seduktif di telinganya.


Mendengar itu otomatis tubuhnya berhenti merontah. Sedang Jordan mengulum senyum geli.


“Good, Wifey.”


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


Jordan Matthew Christoper...