
“Jelaskan, apa maksudmu menciptakan semua kekacauan ini?” rendah, Josep bertanya dengan mata yang menatap tajam pada Jordan yang tampak santai dengan kegiatannya—memilin cincin di jari manis istrinya.
Pesta pertunangan yang dirancang sedemikian megah telah berakhir kacau dan kedua keluarga bangsawan itu kini
menjadi santapan perbincangan panas oleh para tamu undangan maupun diseluruh stasiun televisi yang dengan cepatnya telah menyiarkan batalnya pertunangan anak mereka. Josep begitu marah dan hampir meledak saat itu jika saja sang istri tidak segera menahannya untuk tidak menerjang putranya sendiri. Alhasil, tanpa menghiraukan para tamu undangan dan awak media, Josep membawa seluruh keluarga intinya untuk segera pulang ke rumah.
Dan disinilah mereka berada, duduk dalam ketegangan yang mencekam. Josep dengan rahangnya yang mengeras,
disisinya Rossalyn terus mengelusi lengan sang suami menenangkan. Kate dan Ken, anak kembar Rossalyn yang masih kecil sudah lebih dulu di serahkan kepada pengasuh mereka untuk ditidurkan. Sementara Lionara sendiri, duduk merapat disamping Jordan yang sejak tadi tidak berhenti dari kesibukannya mempermainkan cincin Lionara. Lionara hanya bisa duduk kakuh—tidak membuka suara sama sekali, menunggu drama apa lagi yang akan tercipta antara Ayah dan anak ini.
“Hanya meluruskan,” Jordan mengedikkan bahu. ”Sejak awal anda sendiri sudah tahu saya tidak pernah mengiyakan pertunangan ini. Anda sendirilah yang berinisiatif melakukannya”
“Waktu itu kamu sama sekali tidak menolaknya!” protes Josep tidak terima.
“Lebih tepatnya saya tidak pernah mengeluarkan komentar apapun saat itu,” sanggah Jordan tak kalah cepat “Dan
sekarang aku hanya mencoba meluruskannya saja. Well, seperti yang kumumkan tadi jika aku sudah menikah dengan gadis ini.” Jordan mengangkat jemarinya dan Lionara yang tersemat sepasang cincin berlian pernikahan mereka—menunjukkan di depan mereka.
“Kau pasti membayar perempuan ini!”
“Astaga, merepotkan sekali orang tua ini” gumam Jordan, memutar bola matanya malas “Sam!”
Merasa namanya dipanggil, Samuel pun maju “Ya, Tuan?”
“Tolong tunjukkan buku nikah kami pada orang tua itu” suruh Jordan dengan gestur malas
Samuel menurut. Dengan sigap ia meletakkan dua buku nikah milik tuannya di depan meja.
PRAKK
Josep menghempaskan buku itu kembali ke meja dengan keras setelah dengan singkat menelitinya. Darahnya
kembali mendidih panas dengan kenyataan itu.
“Apa-apaan ini?! Kau menikah tanpa memberitahuku lebih dulu, hah?!” gelegarnya, lantas berdiri dengan tarikan napas tidak beraturan.
Jordan bersidekap, mengangkat alis mencemooh, “Memangnya anda siapa? Hingga saya harus melapor?”
“Apa katamu? Aku daddymu, brengsek!” Josep hendak maju menyerang, tapi tangan Rossalyn lebih cepat
menahannya.
“Josep, tahan dirimu” peringat Rossalyn menggeleng
Jordan mendecih, merasa muak dengan sikap sok lemah lembut ibu tirinya. Ia bangkit berdiri.
“Bagiku, setelah Kakek, aku tidak memiliki siapapun lagi yang bisa kusebut keluarga. Ibuku telah lama
tiada—begitu pun anda bagiku.” desis Jordan “Jadi jangan menganggap diri anda penting.”
“Jordan jaga bicaramu! Josep masih hidup. Dan dia adalah daddymu” sela Rossalyn ikut emosi “Kamu tidak pantas
mengatakan demikian.”
“Jadi anda pikir ****** seperti anda lebih pantas, begitu?”
“Jordan!!” bentak Josep murka
Jordan menyeringai “Kenapa? Anda tidak terima istri kesayangan anda kusebut demikian?”
“Jangan menguji kesabaranku,” geram Josep dengan tangan yang mengepal kuat “Bagaimana pun Rossalyn adalah
mommymu.”
“MOMMYKU SUDAH LAMA MATI, SIALAN!! DAN ITU SEMUA KARNA KAU DAN JALANGMU ITU! KALIAN MEMBUNUHNYA!!”
“Bedebah!” tanpa aba-aba, Josep meninju wajah Jordan dengan keras hingga dia terbanting ke lantai. Dia menghampiri Jordan lagi, meraih kerahnya dan kembali mendaratkan pukulan bertubi-tubi. “Sudah berapa kali kukatakan kematian Mommymu tidak ada sangkut pautnya dengan Rossalyn. Berhenti mengkambing hitamkannya terus!”
“Josep, sudah! Tolong berhenti!” teriak Rossalyn menghampiri dan berusaha melerai
“Untuk apa kamu membelanya terus jika dia saja selalu berlaku kurang ajar padamu!” tunjuk Josep pada Jordan yang tertatih—berusaha berdiri
Jordan meludah kesamping, terkekeh sinis “Benar. Wanita perusak sepertimu tidak pantas membelaku. Dan aku pun sangat tidak sudi.”
Plakk
Josep menampar keras pipi Jordan yang telah terluka. “Jika aku tahu kamu akan menjadi anak setidak tahu diri
begini, seharusnya aku tidak membiarkanmu hidup waktu itu. Lebih baik kamu mati saja, sialan!” tonjokan sekali lagi mendarat di wajahnya.
Jordan tidak berkutik, saat daddynya mencari-cari barang untuk melampiaskan kemarahannya. Tongkat bisbol lah yang dia hampiri di sudut ruangan.
“Josep, jangan!” Rossalyn berteriak, berusaha mencegahnya.
“Lepaskan. Lebih baik dia mati!”
Samuel yang sejak tadi berusaha tidak ikut campur, kesulitan mempercayai bahwa Tuan besarnya itu benar-benar
Namun, kekuatan amarah Josep yang tinggi tak ada yang bisa menahannya. Dengan langkah lebar, Josep menghampiri Jordan dan melayangkan tongkat bisbol itu pada punggungnya. Jordan meringkuk, kedua tangannya melindungi kepala hingga debaman keras mendarat sempurna.
Tapi, tak ada rasa sakit saat debam itu mengentak keras ke tubuhnya—ketika sebuah pelukan hangat melingkupi
kepalanya. Dengan berani, tubuh seseorang menjadi pelindung dari sakitnya hantaman sang Ayah.
“Jangan menyakitinya. Tidak akan ada bedanya Anda dengan binatang jika menyakiti anak Anda sendiri dengan brutal.” Lionara—istrinya yang dingin itu, menjadi perisainya dari pukulan membabi-buta Josep. “Anda seharusnya menjadi sosok penyembuh, bukan menjadi orang yang menyakiti paling kejam. Jangan.” lirih Lionara terakhir kalinya sebelum menutup mata—kehilangan kesadaran.
Raut wajah Jordan mendadak menjadi pucat pasih. Ia memangku tubuh tak berdaya istrinya dan meremas jemari
Lionara. “Lion, kenapa kamu melakukan ini?” mata Jordan memerah. Ia menangkup sebelah wajah Lionara “Sam, kerumah sakit sekarang!” Jordan menyentak keras—tertatih, Jordan menggendong tubuh istrinya dan membawanya keluar dari rumah itu dengan kepanikan yang hebat.
Josep bergeming di tempat, dengan napas yang menderu kasar. Rossalyn melemparkan tongkat bisbol itu sejauh
mungkin, memeluk tubuh suaminya dan menjauhkan dari mereka.
“Sayang, berhenti. Jangan menyakiti anakmu lagi. Bagaimanapun keadaannya, ia tetap darah dagingmu sendiri.”
****
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?!” tanya Jordan tidak sabaran. Tangan Lionara digenggamnya erat.
Lionara baru saja selesai menjalani perawatan. Kini wanita itu tengah terbaring di brangkar Rumah Sakit dengan
keadaan yang masih belum sadar. Luka di kepalanya telah di balut oleh perban.
“Istri Anda sudah baik-baik saja. Beruntung pukulan tongkat bisbol itu tidak sampai menembus bagian tengkorak istri Anda. Hingga tidak sampai mengalami keretakan fatal yang bisa mencapai otak. Setelah ini Istri anda hanya perlu istirahat yang cukup, minum vitamin dan obat yang nanti saya berikan secara teratur.” terang sang Dokter dengan seulas senyum hangat.
Mendengar kabar baik itu, Jordan menghela napas lega. Ditatapnya kembali wajah Lionara yang sudah tidak sepucat pasi saat dia membawanya kesini tadi. Jordan mengecup punggung tangan Lionara. Tampak jelas kedua tangannya masih bergetar. Bayangan akan banyaknya darah Lionara yang membasahi telapak tangannya tadi membuat dirinya benar-benar takut—serasa baru saja ditarik paksa sebagian nyawanya.
“Bodoh” Jordan mendengkus lirih “Siapa yang mengijinkanmu mengumpankan diri untuk melindungiku? Bukankah aku hanya menyuruhmu untuk tetap diam dan menonton saja? Kamu benar-benar tidak patuh. Kamu harus dihukum.”
Jordan menundukkan wajahnya lalu menyematkan kecupan lama di kening Lionara yang telah di perban dengan mata terpejam. Tidak puas cuma mencium di kening, kedua pipi dan bibir Lionara pun mendapat giliran untuk dihisapnya bergantian. Dia terus menaburkan ciuman frustasi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia hanya masih sulit mempercayai jika gadis yang dinikahinya dengan cara memanfaatkan kelemahannya itu, justru rela
menjadi tameng untuk melindungi dirinya dari keganasan Ayahnya. “Cepatlah bangun, my lion” bisiknya frustasi
Sejak remaja, Jordan tidak pernah dikalahkan atau membiarkan siapapun menggores luka pada tubuhnya. Tidak akan ada yang berani menghadapinya. Bahkan mereka yang hendak mencari masalah dengannya pun akan berpikir berkali-kali lipat sebelum memutuskan, kecuali orang yang mengusiknya memang benar-benar sudah siap untuk mati. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa tampilan luar Jordan dan sikap ramahnya yang mempesona
itu hanyalah tipuan untuk menutupi sisi jiwanya yang lain. Hanya mereka yang
berkecimpung di underground lah yang mengetahui sisi lain dari diri seorang Jordan. Ia dijuluki sebagai psikopat yang terkenal dengan kekejamannya dan kemampuannya untuk membunuh musuh-musuhnya dengan cara mengerikan.
Hanya saja, semengerikan apapun Jordan di mata para musuhnya, hal itu tidak akan berarti jika dirinya sudah
berhadapan dengan Josep—Daddynya. Ia memang gemar memprovokasi Josep, senang membuat lelaki setengah baya itu digulung emosi oleh tingkahnya. Namun jika untuk menghajar atau membunuh sumber kebenciannya itu… Jordan tidak mampu. Bahkan sekedar membalas pukulan lelaki itu saja ia tidak bisa. Terhadap lelaki yang paling dibencinya itu, Jordan sangat lemah. Jordan hanya akan diam saja jika Josep sudah melayangkan tinjuannya membiarkan lelaki itu menghajarnya sampai puas.
Namun kejadian hari ini sungguh diluar perkiraannya. Lionara mengumpankan tubuh mungilnya dan menerima hantaman keras dari tongkat bisbol yang dilayangkan Ayahnya. Tepat di depan matanya, istrinya tersengkur jatuh dengan darah yang mengalir deras dari kepala. Lion-nya… berdarah…
****
BUGH
Jordan menghantamkan tinjuan keras ke rahang Josep hingga terbanting ke meja. Sementara Rossalyn yang berada di muka pintu memekik keras dengan perbuatan Jordan yang tidak terduga itu.
Untuk pertama kalinya Jordan menyerang Josep. Ia seperti di rasuk iblis hanya karena melihat tetesan darah yang keluar dari tubuh istrinya.
“Jordan, apa yang kau lakukan?!” teriak Rossalyn hendak menghampiri suaminya yang berdiri susah payah sambil
memegang dada.
Namun tanpa ampun, Jordan kembali menarik kerah kemeja lelaki paru baya itu, nyaris mencekik leher hingga Josep kesulitan mengambil napas. Diseret, dia kembali membanting tubuh Josep ke dinding, menekankan lengannya yang kuat ke lehernya.
“Bagaimana rasanya? Sakit?” berjarak beberapa senti, Jordan bertanya datar, menatap kejam raut Josep yang
mulai memucat. Tanpa perasaan Jordan mengentakkan kepala Josep ke dinding, membuat Josep mengerang sakit karnanya. Setetes darah mengucur dari pelipisnya.
“Jordan hentikan!!” raung Rossalyn
Jordan menekan kepala Josep “Tepat disini, kepalanya berdarah tadi. Siapa Anda hingga berani menyakitinya, mahluk sialan!”
Refleks, Josep berusaha menghindar dengan memalingkan wajah ke samping saat tinjuan Jordan kembali
melayang, tetapi di tahan diudara—tidak terselesaikan.
“Apa kamu sudah gila?! Lepaskan, dia daddymu!” sekuat tenaga, Rossalyn mendorong mundur tubuh Jordan dan… berhasil. Rossalyn segera melindungi tubuh lemah Josep dengan tubuhnya yang juga bergetar hebat. Jordan seperti kerasukan iblis mengerikan.
Jordan terkekeh culas, matanya memicing “You play too much Mr. Josep! You hurt my wife! Selama ini saat Anda menghajarku, aku hanya diam. Tapi jangan pikir aku akan diam saja saat Anda melakukan hal yang sama pada istriku. Jika sampai kejadian ini terulang, saya bisa pastikan Anda dan wanita perusakmu ini akan berakhir mengenaskan ditanganku. Camkan itu!”
Jordan mengibaskan kemejanya yang
terkena percikan darah, dan tanpa menunggu lama, tubuh tinggi itu berlalu.
To be continued
IG: rianitasitumorangg