
Bising di ruang tamu sudah seperti berada di pasar malam. Suara sepasang anak kecil
yang sedang memperebutkan bola untuk dimasukkan ke dalam ring basket mainan,
benar-benar memekakkan. Berantakan, seluruh sudut ruangan sudah seperti kapal
pecah. Mobil-mobilan, robotan, boneka dan lego menyebar di seluruh lantai.
Sementara Lionara sedang berada di dapur, membantu pelayan menyiapkan makan
malam mereka.
Krek…
“My Barbie—huwaaaaaaaa.” Sky berteriak nyaring, menarik perhatian Lionara yang baru
saja muncul dari arah dapur setelah selesai menata makanan di meja.
“Mommy!!!!”
Sky mulai menangis kencang. Berlari ke arah Lionara dan memeluk kaki ibunya. “Mom, kakak J nakal! Dia injak Barbie Sky. Hiks…” gadis berumur 3 tahun itu mengadu dengan
nada tersendat-sendat.
Lionara menghembuskan napas panjang, mengangkat tubuh Sky dalam gendongan. Kerusuhan
kakak beradik ini adalah hal biasa. Dan diantara keduanya, Jay lah yang paling
pecicilan—meskipun bocah itu sudah berusia 7 tahun.
Jay memiliki rasa cemburu tersendiri pada adik perempuannya, karena harapannya
sebagai tunggal ayah dan ibunya pupus setelah Lionara dinyatakan positif hamil
anak kedua. Belum lagi si bungsu sangat senang membuat Jay cemburu ketika
bermanja-manja dengan Jordan. Namun begitu, pada kenyataannya Jay juga sangat
menyayangi Sky. Hanya saja Jay terlalu gengsi untuk mengakuinya.
“Jay Manuel Christoper, sini kamu. We need to talk about this!” Lionara memanggil, saat putranya memperhatikan dari jauh
dengan sorot datar sambil memeluk bola.
“Mom, J nggak sengaja.” Jay membela diri “Salah Sky sendiri kenapa letakin barbienya
di jalan,”
“Sini, sini dulu. Minta maaf sama adik kamu. Dia sedih banget loh ini,”
Masih belum ada pergerakan, Lionara menatapnya tegas, “Sugar, kamu nggak akan berharap mommy yang berjalan kesitu kan?”
Berlari cepat, Jay langsung menghadap ibunya.
“Bilang apa?”
“Saya Jay Manuel Christoper, mengaku salah dan meminta maaf pada adikku Sky yang barbienya tidak sengaja kakak injak.” ucapnya lantang, lantas mendongak dan
mengulurkan kelingkingnya pada Sky.
Sky tidak langsung memaafkan, memilih memalingkan wajah ke bahu ibunya.
“Sugar, kakak kamu minta maaf tuh. Sekarang kamu harus bilang apa?”
“Kak J nakal, Mom.”
“Orang yang sulit memaafkan itu not good.
Nanti lama-kelamaan jadi penyakit hati.“ Lionara menurunkan tubuh Sky ke lantai agar keduanya saling
berhadapan. “Ayo, bicara sama kakak langsung. Kelingkingnya mana?”
“I’m sorry, okay?”
“Okay.” Sky menyambutnya, melingkarkan
kelingking mereka. Lalu mendongak sambil memonyongkan bibir. Jay mengecup bibir
adiknya.
“Good kids.” Lionara tersenyum, lalu
mensejajarkan tinggi dengan kedua anaknya. “Mommy juga mau dicium dong,” pinta Lionara sambil menunjuk kedua pipinya—yang tak lama langsung dihujani kecupan oleh kedua malaikatnya.
“I love you, sugars.”
“Love you more, mommy!” dan ketiganya pun
saling berpelukan hangat.
Tidak berapa lama terdengar suara Jordan yang memanggil-manggil dari arah pintu
depan.
“Sayang-sayangku, Daddy pulang…”
“Daddy!” Jay maupun Sky berlarian ke depan, diikuti Lionara dari belakang.
Sky lebih dulu sampai, dan langsung melompat ke pelukan Jordan yang sudah
merentangkan kedua tangannya.
“How’s your day my princess?” Jordan
bertanya sambil menciumi seluruh wajah putrinya hingga membuat Sky kegelian.
“Not bad, daddy!”
“Daddy, J juga mau di gendong juga!” Jay tak mau kalah, mengulurkan kedua tangannya ke atas—meminta sang ayah juga melakukan hal yang sama padanya. Tubuh ayahnya yang begitu tinggi, bahkan harus membuat kepalanya mendongak. “Daddy… gendong!”
“Kamu kan uda besar J, masa di gendong lagi. Kasihan daddy loh keberatan nanti,” ucap Lionara lembut.
Jay merengut, membuang pandangan ke samping. Ia juga ingin di gendong daddy-nya.
“It’s okay, daddy kuat kok.” Jordan
berseru kala melihat raut mendung putranya. Jordan kemudian menundukkan
tubuhnya sambil mengulurkan sebelah tangan pada Jay.
“Come here, my prince. Daddy want to hug you,”
Detik itu juga, raut wajah Jay berubah cerah. Ia menghambur ke gendongan ayahnya dan
langsung dihadia ciuman bertubi-tubi oleh Jordan.
“Bagaimana pelajaran di sekolah anak daddy yang tampan ini tadi?”
“J dapat nilai A+ lagi, Dad!” Jay menjawab bangga. Tak diragukan lagi, selain
aktif dan tak bisa diam, otak jenius Jordan juga menurun kepada Jay.
“Woahh… I’m so proud to you, my prince,” puji
Jordan seraya menggigit pelan pipi apel putranya.
“Yaudah, sesi sharingnya bisa dilanjutkan lagi nanti. Sekarang kalian mandi dulu, ya.
Udah jam enam.” Timpal Lionara menginterupsi perbincangan ayah dan anak itu. Jika tidak, ketiganya akan lanjut berceloteh tanpa melihat waktu.
“My love, cium dulu,” Jordan sedikit
merendahkan tubuhnya, seraya memajukan bibir.
“Aku sedikit flu.”
“Bukan hal besar.” Jordan akhirnya yang mencium bibir Lionara, mengisap pelan. “Pasti lelah ya?”
Lionara berjinjit, membalas ciumannya juga. “Seperti biasa daddy,”
Jordan beralih mengecup pucuk kepala Lionara, sebelum di protes oleh si sulung agar berhenti berdekatan.
“Udah, kamu cepat bawa Jay ke kamar mandi. Cuma dia yang belum mandi. Katanya mau
mandi sama kamu. Sky biar sama aku.”
“Sky udah mandi?” Jordan beralih menatap si bungsu
Sky mengangguk mantap. “Udah dong. Mandi sama mommy.”
“Pantesan uda harum begini,” Jordan mencium pipi Sky “Yaudah, Sky sama mommy dulu ya,” lanjutnya seraya menyerahkan gadis kecilnya pada Lionara.
“I love you, sayangnya aku.” Jordan
menatap penuh cinta pada istrinya
jengah “Kalian seperti tidak pernah bertemu aja tiap hari.” cicitnya, menunjuk
ke arah kamar agar segera jalan. “Ayo, J udah gerah ini.”
“Iya, iya, bos. Ayo, kita mandi!”
Tubuh tinggi dan atletis suaminya mulai menghela langkah menjauhi, sambil terus membalas cicitan Jay yang tidak ada habisnya. Ada saja yang dia ceritakan.
Lionara tidak bisa menahan senyumnya melihat pria yang paling ditakuti diluar sana,
saat dirumah berubah menjadi sosok ayah yang sangat luar biasa sabar menghadapi
kedua anak mereka. Dia hangat dan mengagumkan. Jordan juga pendengar yang baik, bahkan selalu merespon apapun yang di ocehkan anak-anak mereka.
****
Angin dingin masih berhembus kencang meski cuaca sudah berangsur cerah, matahari mulai menampakkan dirinya setelah hujan badai beberapa saat lalu, memberi rasa hangat pada permukaan kulit Lionara. Aroma sehabis hujan masih melekat kuat, sedikit memberi ketenangan padanya. Bahkan sisa-sisa air hujan masih menetes di dedaunan.
Dan apa yang ada di dalam pikiran pria itu, saat mengajak kedua anaknya untuk
berenang di pinggir danau? Demi apapun, tanpa ikut berenang ataupun
menyentuhkan tangannya ke dalam air, Lionara tahu bahwa danau itu sangat
dingin.
“Mommy,” teriak Jay dengan bibir yang sudah pucat dan bergetar. “Jangan hanya berdiam diri disana. Ayo kesini, ikut berenang bersama kami. Airnya tidak terlalu
dingin dan dalam.”
Sulungnya itu tersenyum cerah, terlihat bahagia. Sesekali ia akan tertawa ketika Jordan berhasil menangkapnya yang sudah berenang jauh. Sedangkan Sky, putrinya itu
tidak melepaskan pelukannya dari leher Jordan sehingga membuat Jay iri dan
melakukan hal yang sama, memeluk ayahnya. Kemudian mereka tertawa bersama-sama.
Lionara terdiam menatap pemandangan di depannya. Senang dan takut dalam satu waktu. Dia senang jika kedua anaknya bahagia bersama ayahnya, lalu takut jika nanti berakibat pada kesehatan mereka jika berendam terlalu lama.
“Daddy,” panggil Lionara, berjongkok di atas jembatan untuk mendekati posisi mereka.
“Aku rasa sudah cukup bermain-mainnya hari ini. Jay dan Sky bisa sakit karena
terlalu lama di dalam sana.”
Jordan berbalik, menampakkan bagian atas tubuhnya yang berkilau karena pantulan sinar matahari, juga tetesan air yang membuat pria itu terlihat sangat seksi. Rambut yang basah, tubuh penuh otot serta senyum yang ditunjukkan pria itu seketika membuat hati Lionara berdebar.
“Jangan merusak kebahagian kami, mommy,” pria itu memercikkan air ke wajah Lionara. “Kamu harus mencobanya. Ini benar-benar sangat menyenangkan.”
“Ya, aku tahu. Tapi kamu memilih waktu yang tidak tepat untuk mengajak mereka
berenang.”
“Oh c’mon. Sudah lama aku tidak berenang
disini. Dulu aku hanya bisa menikmatinya seorang diri.”
Lionara menarik napas, “Daddy, jangan membuatku kesal. Sky baru saja sembuh dari flu. Apa kamu ingin membuatnya sakit lagi?”
“Tenang saja, aku sudah lebih dulu mendoakan danau ini agar tidak membuat anak-anakku
sakit,”
“Daddy, please jangan mulai...” Lionara mengerang saat Jordan mulai mengeluarkan
kata-kata unfaedahnya. “Kembalikan anak-anakku sekarang juga!”
“Silahkan, kamu boleh membawa mereka seorang diri,” tantang Jordan
Lionara memutar matanya, memandang kedua anaknya yang kini sudah bersembunyi di balik punggung ayah mereka.
“Jay, Sky! Keluar dari sana sebelum kalian masuk angin. Mommy tidak ingin mendengar keluhan apapun nanti malam jika salah satu hidung kalian tersumbat.”
“Woah, kamu benar-benar seorang mommy yang tega,” Jordan berdecak
“Dan aku tidak akan tidur bersamamu malam ini!”
Jordan merengut tidak suka.
Kedua pasangan itu mulai berperang melalui mata mereka. Lionara mengangkat wajah
angkuh, seolah menantang pria itu. Bukan hanya pria itu yang bisa
mengintimidasi lawan bicaranya.
“Aku tidak akan melepaskanmu nanti malam,” kata Jordan menyerah. “Let’s go. Waktu bermain sudah habis.
Saatnya kembali pada mommy kalian.”
Awalnya Jay dan Sky menggeleng tidak mau, karena sungguh menyegarkan berada disini.
Namun ketika pandangan mereka bertemu dengan sang mommy, akhirnya keduanya juga menyerah. Dengan berat hati Jay dan Sky berenang ke pinggiran, dibantu oleh
Lionara untuk naik keatas. Beberapa penjaga berdatangan, menutupi tubuh mereka dengan handuk kemudian membawanya masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri.
Saat sudah memastikan kedua anaknya pergi, Lionara kembali memandang Jordan yang masih betah berada di dalam danau, menunjukkan wajah kesal.
“Hey, daddy,” panggil Lionara, “Kamu juga harus keluar dari sana sebelum kedinginan.”
“Apa pedulimu?”
“Aku peduli, karena aku sangat mencintaimu.”
Lionara tersenyum mencoba membujuk Jordan yang sedang merajuk. Terbukti karena selanjutnya pria itu menurut, berenang mendekati Lionara.
“Help me, mommy.”
Jordan mengulurkan tangan, meminta bantuan hendak menaiki tempat yang sama dengan Lionara. Tanpa rasa curiga, wanita itu memberikan bantuan. Sayangnya, Jordan
penuh akal bulus. Lionara berteriak saat tubuhnya di tarik, dibiarkan terjatuh
dan tenggelang di dalam air. Parahnya, wanita itu sama sekali tidak tahu
berenang.
Rasa dingin langsung menyerap tubuh, tangannya terulur meminta pertolongan. Air
danau mulai terminum, beberapa memasuki hidung sehingga membuatnya kesulitan
bernapas.
Tubuhnya kembali ditarik, buru-buru memeluk tubuh Jordan yang sudah tertawa sangat keras. Sebanyak mungkin ia menarik napas, membiarkan udara memenuhi
paru-parunya yang terasa sesak.
“Bagaimana? Tidak sedingin yang kamu kira, bukan?” ejek Jordan
Lionara memukul dada pria itu kesal berkali-kali.
“For god damn sake! I really hate you, Jordan
Christoper!”
“Yeah, I love you too.” Jordan
kembali tertawa kala istrinya masih
melotot tajam ke arahnya. Jordan semakin mempererat rengkuhannya, mempersempit
jarak wajah mereka.
“What makes you think you can kiss my lips?”
“Because you’re my wife,” kata pria itu, sebelum menempelkan bibir mereka berdua,
memagut dan ******* dengan sensual, memberikan sensasi panas pada setiap tubuh Lionara setiap Jordan memberikan kecupan-kecupan manis pada bibirnya.
...****...
Aku berharap yg baca cerita ini udah memiliki umur yg legal ya buat bacaan dewasa begini 😂
Dan yahh, tadinya ini mau extra terakhir... Tapi tanganku masih gatal buat ngetik 1 part lagi. Finalnya part depan yaa... kita ketemu sama abang J dan si cute Sky versi dewasa.
Please, tinggalin jejak kalian yaa. Jangan jd silent reader ahh. Mari seru-seruan disini 😉
Di IG: @rianitasitumorangg, aku uda post visual J versi dewasa.
See yaaa ❤
...Taken 📸 by: Daddy Jo...