
Enam bulan kemudian
Lionara
sudah jengah. Jordan memperlakukannya bagai kuman di bawah mikroskop, tidak ada
satu pun kegiatan Lionara yang diluar pengawasan Jordan. Lelaki itu selalu ada
dalam dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.
Ke
kantor Lionara ikut, pertemuan bisnis Lionara ikut. Pokoknya kemanapun. Karena
Lionara yang suka mabuk kendaraan, Jordan jadi tidak pernah keluar kota atau
keluar negri. Tugas itu sepenuhnya diserahkan pada Sam yang pasrah saja
menerima nasib, menjadi korban sikap protektif bosnya. Dan soal balas dendamnya
pada sang Ayah, bisa dikatakan Jordan sengaja melupakan. Fokusnya hanya terarah
pada istri dan calon anaknya.
Soal
Rebecca, wanita itu mengalami cacat pada kakinya. Jalannya menjadi timpang akibat keganasan Jordan yang
menghajarnya membabi buta. Kini Rebecca telah berada di penjara dan mendapat
hukuman sepuluh tahun penjara. Awalnya Jordan masih tidak puas dengan keputusan
hakim, ia mau Rebecca dihukum penjara seumur hidup—jika perlu hukuman mati
sekalian. Tapi, berkat pengertian yang diberikan Lionara, akhirnya Jordan
mengurungkan niatnya untuk naik banding ke pengadilan.
Kehamilan
Lionara sudah memasuki bulan ke delapan. Setelah pemeriksaan 4D, sudah
dipastikan bahwa bayi mereka laki-laki. Jordan bersorak senang, harapannya
terkabul. Maka ditambah perangai lebay Jordan, kamar bayi dan seluruh
perlengkapannya sudah tersedia dalam sehari, begitu kandungan Lionara masuk
tujuh bulan.
Lionara
tengah bersandar di sofa ruang tamu, memakan camilan sambil menonton film animasi
di tv. Sedang lelaki itu tengah menyiapkan makan siang untuk mereka—permintaan
Lionara. Perutnya yang sudah besar, membuatnya kesulitan untuk bergerak. Bahkan
untuk melihat kakinya sendiri saja sulit. Karena itu, Jordan tidak pernah
berada jauh-jauh dari Lionara. Sikap protektifnya semakin menjadi-jadi—bahkan
sudah dua bulan ini Jordan melakukan segala pekerjaan kantornya dari rumah
sambil mengawal ketat sang istri.
“Ayo
makan, sayang.”
Jordan
telah selesai menata makan siang di meja, memanggil Lionara yang masih asik
dengan tontonannya. Lionara tersenyum,
Jordan hanya mengenakan kaos polo berwarna putih serta celana chino pendek
krem. Tampak santai tetapi sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana tampannya
dia. Sementara Lionara mengenakan daster berwarna pastel.
Jordan
membungkuk dan meraih tubuh Lionara ke dalam gendongannya—membawanya ke meja
makan dan mendudukkannya di kursi.
“Manis
banget sih istri aku pakai daster begini.” Jordan meraih dagu Lionara, mencium
bibirnya begitu dalam yang terasa memabukkan seperti biasa. “I love you so much, Sayangku.”
“I love you too, Daddy.”
Semenjak
menguangkapkan perasaannya pada Jordan, Lionara mulai membiasakan diri untuk
membalas setiap kalimat-kalimat cinta Jordan. Awalnya, ia merasa geli. Tapi
demi menyenangkan hati Ayah dari anaknya, ia belajar untuk tidak sekaku itu.
Jordan
tersenyum lembut seraya meraih ikat rambut yang terselip di pergelangan tangan
Lionara, kemudian mengikat rambut
panjang istrinya yang terurai—mengumpulkannya menjadi satu bagian keatas hingga
leher jenjang itu terpampang jelas.
“Begini
lebih baik,” Jordan tersenyum puas, lalu mulai sibuk menyendok makanan ke dalam
piring.
“Jo,”
“Iya,
Sayang.”
“Besok,
aku boleh ketemu mama Ross di luar ya?” Lionara bertanya hati-hati. Pasalnya ini
adalah topik sensitive.
Dan
benar saja, Lionara bisa menangkap tubuh Jordan sempat menegang, tapi tak lama
kembali rileks.
“Buat
apa?” Jordan meletakkan piring yang sudah terisi makanan di meja.
“Mama
ajak aku makan diluar. Katanya rindu karena sejak pulang dari Rumah sakit
enggak pernah ketemu lagi.”
Jordan
diam sesaat.
“Kalau
aku melarang apa kamu menurutiku?”
“Jo-,”
“Wanita
itu enggak ada hak meminta begitu. Aku enggak suka Lion, kamu ketemu sama
perempuan itu. Dia bukan mamaku ataupun kamu! Mamaku sudah lama tiada. Begitu
pun Papa!” rahang Jordan mengetat, tapi sekeras mungkin berusaha untuk
menormalkan nada suaranya.
“Biar
bagaimana pun mama Ross pernah mencoba menyelamatkanku dari Rebecca. Beliau
bahkan terluka.”
“Tapi
perbuatannya itu sia-sia. Kamu tetap tidak tertolong lagi waktu itu!”
Lionara
mendesah lelah. Mustahil. Jordan terlalu keras jika menyangkut ayah dan ibu
tirinya.
Kepala
Lionara tertunduk, sedang matanya mulai berkaca-kaca. “Selama kita menikah,
mama Ross memperlakukanku dengan baik. Di setiap acara keluarga dia juga menyambutku
dengan hangat, berbeda dengan Papa Josep. Aku tidak tahu sehebat apa
kebencianmu pada mereka. Tapi, setiap kali merasakan kelembutan mama Ross… aku
seperti melihat mamaku sendiri.” Serak Lionara sambil memilin ujung dasternya.
Jordan
membeku. Ia kehilangan kata-katanya begitu mendengar suara serak Lionara.
Kesayangannya menangis. Jordan sangat membenci Josep dan Rossalyn, wajahnya
menunjukkan keberatan untuk membiarkan Lionara berdekatan dengan wanita licik
itu. Tetapi, kata-kata Lionara membuatnya kesal dan tidak tega pada saat yang
bersamaan.
Lionara
adalah kelemahan terbesarnya sekarang. Semenjak pernah ditinggal mati suri oleh
Lionara, Jordan tidak sanggup lagi untuk melawan keinginan Lionara, terlebih
sampai membuat wanitanya itu menangis.
Jordan
menghembuskan napas—menekan gejolak emosinya. Ia meraih dagu Lionara dan
mencium bibinya dalam dan lama.
“Baiklah,
kamu boleh menemuinya.” gumam Jordan dengan kening mereka yang menempel. “tapi
hanya satu jam. Tidak lebih.”
Mengangguk,
Lionara tersenyum senang.
“Jangan
menangis lagi.” Jordan menyeka lembut air mata Lionara “Aku tidak suka.”
Lanjutnya dan dibalas dekapan erat oleh Lionara.
“Thank you, Daddy.”
“Hm”
Balasnya, mengecupi puncak kepala Lionara
****
“Pelan-pelan,
Mommy.” peringat Jordan dengan mata menyorot tajam. Ia terus merangkul erat
Lionara memasuki restoran. Jordan berdecak tidak suka, Pasalnya istrinya itu
terlihat begitu antusias bertemu dengan wanita yang dibencinya itu, hingga
tanpa sadar berjalan cepat ditengah perutnya yang membesar.
Lionara
menyengir, “Iya, maaf.”
Jordan
menarik kursi mundur untuk diduduki sang istri.
“Ingat,
aku hanya memberimu waktu satu jam. Tidak lebih.” ucap Jordan membungkukkan
tubuhnya. Dibalas anggukan cepat oleh Lionara. Kemudian Jordan mengusap perut
buncit istrinya dengan sayang dan mengecupnya disana, lalu mengisap bibir
Lionara.
“Aku
tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa, kamu telpon aku. Ingat, jangan makan makanan
yang sembarangan.”
“Siap,
daddy!” seru Lionara dengan sikap menghormat.
“Ck,
kamu ini.” decih Jordan namun bibirnya mengukir senyum “Bye, sayangku.”
Pamitnya
Tepat
saat itu, tak jauh dari mereka, Rossalyn sudah berdiri disana menyaksikan
saja—seperti orang asing.
“Uda
lama, sayang?” sapa Rossalyn
“Eh,
Mama,” Lionara sedikit terkejut “Enggak. Baru saja.”
Rossalyn
tersenyum, lalu membungkuk mencium pipi Lionara bergantian dan tidak lupa
mengusap lembut perut Lionara.
“Mama
uda enggak sabar pengin lihat dia,”
“Saya
juga, Ma.”
Rossalyn
duduk di sebrang Lionara. “Jordan enggak marah?”
Lionara
tersenyum, “Enggak. Cuma sedikit kesal,”
“Sudah
mama duga.” kekeh Rossalyn “Kamu mau makan apa, sayang?”
“Minum
jus stroberi aja, Ma. Masih kenyang soalnya.”
“Oke
deh.” Rossalyn memanggil pelayan dan mulai memesan makanan.
“Uda
lama sekali ya kita enggak ketemu. Mama kangen sekali sama kamu.” Rossalyn
menepuk-nepuk pelan punggung tangan Lionara diatas meja.
“Sejak
pulang dari Rumah sakit, Jordan semakin menyebalkan. Kemana-mana harus sama
dia. Aku enggak bisa keluar sebebas dulu.” keluh Lionara
Rossalyn
mengulum senyum, “Maklum aja, itu karena dia terlalu sayang sama kamu dan calon
anak kalian. Kejadian waktu itu pasti membuatnya sangat trauma.”
“Iya,
Ma.”
“Maaf
Mama manggil kamu tiba-tiba kesini. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin mama
sampaikan. Ini mengenai Jordan dan Ayahnya.”
Lionara
hanya diam mendengarkan. Jordan memang tidak pernah tertarik membicarakan
hubungannya dengan Ayahnya lagi dengannya. Lionara sudah banyak tahu awal mula
keretakan yang terjadi pada hubungannya dengan Josep. Tapi cerita itu masih
dari sudut pandangnya Jordan. Dan saat ini ia mencoba mendengarkan cerita dari
pihak ibu mertuanya.
“Sebenarnya,
ini kejadian yang sudah cukup lama berlalu dan Papanya tidak pernah mau mama
mengungkit-ungkit hal ini lagi,” kata Rossalyn kembali berbicara “tapi, Mama
rasa kamu perlu tahu cerita ini. Setidaknya cerita yang kamu dengar tidak hanya
dari sisi Jordan saja, melainkan dari mama juga.”
Lionara
kembali diam untuk menyimak apa yang hendak dikatakan oleh ibu mertuanya
tersebut. Sedang Rossalyn tampak menghela napas berat.
“Semua
ini berawal dari keegoisanku.” Rossalyn menunduk sedih “seandainya dulu aku
tidak kembali lagi ke kota ini, mungkin rumah tangga Josep dan Grace akan
baik-baik saja, meski tanpa kehadiranku pun hubungan mereka memang selalu
dingin. Waktu itu, aku sengaja menghilang dari kehidupan Josep agar dia
menikahi Grace. Aku mengikuti kemauan kakek kalian untuk meninggalkan Josep.
Lalu bertahun-tahun setelah itu aku terpaksa kembali untuk menghadiri pemakaman
ayahku, tapi tanpa kuduga ternyata Josep mengetahui kepulanganku ke kota ini. Dia
datang kepemakaman dan menemuiku disana—memintaku untuk kembali lagi padanya.”
Rossalyn
mendongak, menatap Lionara yang masih diam mendengarkannya.
“Awalnya
aku terus menolak, tapi lama kelamaan aku tidak bisa memungkiri kalau perasaan
cintaku pada Josep tidak pernah hilang. Dan akhirnya, aku memilih egois, lebih
mementingkan perasaanku sendiri untuk tetap bersama Josep. Kemudian, secara
diam-diam Josep menikahiku dan dia lebih sering tinggal bersamaku daripada
Grace. Meski begitu, aku tetap
menyuruhnya untuk berlaku adil, agar dia tidak menelantarkan keluarganya.
Hingga, setengah tahun pernikahan kami akhirnya Grace tahu. Dan tebak apa
reaksi Grace saat mengetahui status baru kami?”
Lionara
bergeming. Rossalyn tertawa getir.
“Umumnya
reaksi seorang istri jika mengetahui suaminya menikahi lagi secara diam-diam
maka akan marah besar, kemudian melabarak sang selingkuhan dengan kemarahan
yang luar biasa. Tapi hal itu sepertinya tidak berlaku untuk Grace. Perempuan
itu hanya diam, tanpa melakukan balasan apapun. Hanya satu hal yang ia minta
padaku yaitu supaya aku tidak meminta Josep untuk menceraikannya. Dan itu
dilakukannya demi Jordan. Grace tidak ingin anaknya ikut terluka dengan
perpisahan kedua orangtuanya. Grace memintaku untuk tetap merahasiakan
pernikahan kami—sebagau istri kedua Josep tanpa mendapat pengakuan dimata
publik. Dan aku menyetujuinya.”
Jeda
sesaat.
“Selama
beberapa tahun semuanya berjalan dengan baik. Daniel tumbuh dengan baik dan aku
juga kembali hamil ketika Daniel berumur 5 tahun. Ketika kandunganku berusia 6
bulan, tanpa sengaja aku terpeleset di kamar mandi hingga mengalami pendarahan
hebat. Josep panik, lalu membawaku ke rumah sakit. Tapi, tepat dihari itu juga aku mendengar
sesuatu yang buruk menimpah Grace dan Jordan. Mereka diculik sekelompok
perampok dan diminta tebusan yang begitu banyak, yaitu separuh asset dari
Christoper. Josep dilema—dia bingung memilih antara tetap disisiku atau
menyelamatkan anak dan istrinya. Lalu, ditengah
kesakitanku, aku memaksa Josep untuk pergi menyelamatkan Jordan dan Grace lebih
dahulu. Tapi dia enggan pergi, dan malah menyuruh kakakku Richard untuk
mewakilinya membawa tebusan yang para perampok itu minta. Dan disanalah awal
mula penyesalan terbesar Josep…”
Air
mata Rossalyn jatuh. Suaranya berubah parau dan tangannya mengepal kuat.
“Richard,
tidak pernah menemui para perampok itu. Dia pergi menghilang bersama seluruh
tebusan yang dibawanya. Akibatnya, Grace harus kehilangan nyawanya dengan cara mati
tertembak, setelah sebelumnya mengalami pelecehan seksual yang mengerikan.
Sementara Jordan berhasil selamat dari sana. Anak itu ditemukan polisi tak
sadarkan diri di sebuah klinik terpencil setelah sebelumnya diselamatkan oleh
supir truk saat Jordan berlari ke tengah jalan. Kondisi Jordan saat ditemukan
sangat buruk. Dia mengalami luka disekujur tubuh dan saat sadar, tak sekalipun
ia membuka mulut untuk berbicara. Psikisnya terguncang. Tatapannya kosong, namun
akan mengamuk histeris setiap Josep mendekatinya.”
“Sejak
saat itu, Jordan membenci Josep setengah mati. Dan aku juga tak luput dari
kebenciannya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain. Padahal, dibandingkan
Daniel dan kedua adik kembarnya, kasih sayang Josep terhadap Jordan lebih
besar. Dia memang tidak mencintai Grace, tapi sangat menyayangi Jordan.
Sekalipun dari luar ia selalu bersikap keras pada Jordan, tapi percayalah itu
adalah bentuk dari kasih sayangnya. Jordan membuat masalah, dan Josep yang akan
menyelesaikannya.”
“Bahkan
selama bertahun-tahun ini, setiap tengah malam Josep selalu diam-diam menangis
dan meratap sendiri dalam ruang kerjanya—menyesali kegagalan dirinya sebagai
ayah dalam melindungi putra yang dikasihinya. Dia rindu kembali dekat dengan Jordan,
tapi Jordan selalu mendirikan benteng permusuhan diantara mereka. Anak itu
benar-benar menghukum ayahnya.”
“Semua
ini salahku, Nara… kehadiranku membawa bencana dan merusak hubungan Ayah dan
anak diantara mereka.” air mata Rossalyn mengalir deras. Kepedihan jelas
tergambar dari sorotnya yang dihantui penyesalan yang teramat dalam. Tubuh
Rossalyn bergetar, ia beranjak dari kursinya kemudian berlutut di depan
Lionara, yang saat itu langsung melebarkan mata.
“Ma—“
“Tolong
bantu Mama, sayang….” Isaknya memohon dengan kedua tangan yang dikatupkan di
depan dada “Tolong bantu mama mendekatkan kembali hubungan keduanya. Mama tahu,
satu-satunya orang yang hanya didengarkan Jordan sekarang adalah dirimu. Jordan
sangat mencintaimu. Dia pasti akan melakukan apa yang kamu minta. Karena itu,
tolong… bantu mama agar Jordan mau membuka pintu maafnya pada Josep. Setidaknya
hanya pada ayahnya saja,”
“Ma…”
Lionara tak kuasa menahan air matanya jatuh saat melihat kesakitan dimata
wanita parubaya itu. Lionara meraih leher ibu mertuanya lalu memeluknya erat.
To be continued
Yah... penyesalan memang selalu datang terlambat. Kalo diawal berarti pendaftaran dong kan. Hehehe...
Semangat terus yaa buat kalian yg berpuasa 🤗
See youuuu ❤
IG: @rianitasitumorangg