JORDAN

JORDAN
Chapter 39



Enam bulan kemudian


Lionara


sudah jengah. Jordan memperlakukannya bagai kuman di bawah mikroskop, tidak ada


satu pun kegiatan Lionara yang diluar pengawasan Jordan. Lelaki itu selalu ada


dalam dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.


Ke


kantor Lionara ikut, pertemuan bisnis Lionara ikut. Pokoknya kemanapun. Karena


Lionara yang suka mabuk kendaraan, Jordan jadi tidak pernah keluar kota atau


keluar negri. Tugas itu sepenuhnya diserahkan pada Sam yang pasrah saja


menerima nasib, menjadi korban sikap protektif bosnya. Dan soal balas dendamnya


pada sang Ayah, bisa dikatakan Jordan sengaja melupakan. Fokusnya hanya terarah


pada istri dan calon anaknya.


Soal


Rebecca, wanita itu mengalami cacat pada kakinya. Jalannya  menjadi timpang akibat keganasan Jordan yang


menghajarnya membabi buta. Kini Rebecca telah berada di penjara dan mendapat


hukuman sepuluh tahun penjara. Awalnya Jordan masih tidak puas dengan keputusan


hakim, ia mau Rebecca dihukum penjara seumur hidup—jika perlu hukuman mati


sekalian. Tapi, berkat pengertian yang diberikan Lionara, akhirnya Jordan


mengurungkan niatnya untuk naik banding ke pengadilan.


Kehamilan


Lionara sudah memasuki bulan ke delapan. Setelah pemeriksaan 4D, sudah


dipastikan bahwa bayi mereka laki-laki. Jordan bersorak senang, harapannya


terkabul. Maka ditambah perangai lebay Jordan, kamar bayi dan seluruh


perlengkapannya sudah tersedia dalam sehari, begitu kandungan Lionara masuk


tujuh bulan.


Lionara


tengah bersandar di sofa ruang tamu, memakan camilan sambil menonton film animasi


di tv. Sedang lelaki itu tengah menyiapkan makan siang untuk mereka—permintaan


Lionara. Perutnya yang sudah besar, membuatnya kesulitan untuk bergerak. Bahkan


untuk melihat kakinya sendiri saja sulit. Karena itu, Jordan tidak pernah


berada jauh-jauh dari Lionara. Sikap protektifnya semakin menjadi-jadi—bahkan


sudah dua bulan ini Jordan melakukan segala pekerjaan kantornya dari rumah


sambil mengawal ketat sang istri.


“Ayo


makan, sayang.”


Jordan


telah selesai menata makan siang di meja, memanggil Lionara yang masih asik


dengan tontonannya.  Lionara tersenyum,


Jordan hanya mengenakan kaos polo berwarna putih serta celana chino pendek


krem. Tampak santai tetapi sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana tampannya


dia. Sementara Lionara mengenakan daster berwarna pastel.


Jordan


membungkuk dan meraih tubuh Lionara ke dalam gendongannya—membawanya ke meja


makan dan mendudukkannya di kursi.


“Manis


banget sih istri aku pakai daster begini.” Jordan meraih dagu Lionara, mencium


bibirnya begitu dalam yang terasa memabukkan seperti biasa. “I love you so much, Sayangku.”


“I love you too, Daddy.”


Semenjak


menguangkapkan perasaannya pada Jordan, Lionara mulai membiasakan diri untuk


membalas setiap kalimat-kalimat cinta Jordan. Awalnya, ia merasa geli. Tapi


demi menyenangkan hati Ayah dari anaknya, ia belajar untuk tidak sekaku itu.


Jordan


tersenyum lembut seraya meraih ikat rambut yang terselip di pergelangan tangan


Lionara, kemudian mengikat  rambut


panjang istrinya yang terurai—mengumpulkannya menjadi satu bagian keatas hingga


leher jenjang itu terpampang jelas.


“Begini


lebih baik,” Jordan tersenyum puas, lalu mulai sibuk menyendok makanan ke dalam


piring.


“Jo,”


“Iya,


Sayang.”


“Besok,


aku boleh ketemu mama Ross di luar ya?” Lionara bertanya hati-hati. Pasalnya ini


adalah topik sensitive.


Dan


benar saja, Lionara bisa menangkap tubuh Jordan sempat menegang, tapi tak lama


kembali rileks.


“Buat


apa?” Jordan meletakkan piring yang sudah terisi makanan di meja.


“Mama


ajak aku makan diluar. Katanya rindu karena sejak pulang dari Rumah sakit


enggak pernah ketemu lagi.”


Jordan


diam sesaat.


“Kalau


aku melarang apa kamu menurutiku?”


“Jo-,”


“Wanita


itu enggak ada hak meminta begitu. Aku enggak suka Lion, kamu ketemu sama


perempuan itu. Dia bukan mamaku ataupun kamu! Mamaku sudah lama tiada. Begitu


pun Papa!” rahang Jordan mengetat, tapi sekeras mungkin berusaha untuk


menormalkan nada suaranya.


“Biar


bagaimana pun mama Ross pernah mencoba menyelamatkanku dari Rebecca. Beliau


bahkan terluka.”


“Tapi


perbuatannya itu sia-sia. Kamu tetap tidak tertolong lagi waktu itu!”


Lionara


mendesah lelah. Mustahil. Jordan terlalu keras jika menyangkut ayah dan ibu


tirinya.


Kepala


Lionara tertunduk, sedang matanya mulai berkaca-kaca. “Selama kita menikah,


mama Ross memperlakukanku dengan baik. Di setiap acara keluarga dia juga menyambutku


dengan hangat, berbeda dengan Papa Josep. Aku tidak tahu sehebat apa


kebencianmu pada mereka. Tapi, setiap kali merasakan kelembutan mama Ross… aku


seperti melihat mamaku sendiri.” Serak Lionara sambil memilin ujung dasternya.


Jordan


membeku. Ia kehilangan kata-katanya begitu mendengar suara serak Lionara.


Kesayangannya menangis. Jordan sangat membenci Josep dan Rossalyn, wajahnya


menunjukkan keberatan untuk membiarkan Lionara berdekatan dengan wanita licik


itu. Tetapi, kata-kata Lionara membuatnya kesal dan tidak tega pada saat yang


bersamaan.


Lionara


adalah kelemahan terbesarnya sekarang. Semenjak pernah ditinggal mati suri oleh


Lionara, Jordan tidak sanggup lagi untuk melawan keinginan Lionara, terlebih


sampai membuat wanitanya itu menangis.


Jordan


menghembuskan napas—menekan gejolak emosinya. Ia meraih dagu Lionara dan


mencium bibinya dalam dan lama.


“Baiklah,


kamu boleh menemuinya.” gumam Jordan dengan kening mereka yang menempel. “tapi


hanya satu jam. Tidak lebih.”


Mengangguk,


Lionara tersenyum senang.


“Jangan


menangis lagi.” Jordan menyeka lembut air mata Lionara “Aku tidak suka.”


Lanjutnya dan dibalas dekapan erat oleh Lionara.


“Thank you, Daddy.”


“Hm”


Balasnya, mengecupi puncak kepala Lionara


****


“Pelan-pelan,


Mommy.” peringat Jordan dengan mata menyorot tajam. Ia terus merangkul erat


Lionara memasuki restoran. Jordan berdecak tidak suka, Pasalnya istrinya itu


terlihat begitu antusias bertemu dengan wanita yang dibencinya itu, hingga


tanpa sadar berjalan cepat ditengah perutnya yang membesar.


Lionara


menyengir, “Iya, maaf.”


Jordan


menarik kursi mundur untuk diduduki sang istri.


“Ingat,


aku hanya memberimu waktu satu jam. Tidak lebih.” ucap Jordan membungkukkan


tubuhnya. Dibalas anggukan cepat oleh Lionara. Kemudian Jordan mengusap perut


buncit istrinya dengan sayang dan mengecupnya disana, lalu mengisap bibir


Lionara.


“Aku


tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa, kamu telpon aku. Ingat, jangan makan makanan


yang sembarangan.”


“Siap,


daddy!” seru Lionara dengan sikap menghormat.


“Ck,


kamu ini.” decih Jordan namun bibirnya mengukir senyum “Bye, sayangku.”


Pamitnya


Tepat


saat itu, tak jauh dari mereka, Rossalyn sudah berdiri disana menyaksikan


saja—seperti orang asing.


“Uda


lama, sayang?” sapa Rossalyn


“Eh,


Mama,” Lionara sedikit terkejut “Enggak. Baru saja.”


Rossalyn


tersenyum, lalu membungkuk mencium pipi Lionara bergantian dan tidak lupa


mengusap lembut perut Lionara.


“Mama


uda enggak sabar pengin lihat dia,”


“Saya


juga, Ma.”


Rossalyn


duduk di sebrang Lionara. “Jordan enggak marah?”


Lionara


tersenyum, “Enggak. Cuma sedikit kesal,”


“Sudah


mama duga.” kekeh Rossalyn “Kamu mau makan apa, sayang?”


“Minum


jus stroberi aja, Ma. Masih kenyang soalnya.”


“Oke


deh.” Rossalyn memanggil pelayan dan mulai memesan makanan.


“Uda


lama sekali ya kita enggak ketemu. Mama kangen sekali sama kamu.” Rossalyn


menepuk-nepuk pelan punggung tangan Lionara diatas meja.


“Sejak


pulang dari Rumah sakit, Jordan semakin menyebalkan. Kemana-mana harus sama


dia. Aku enggak bisa keluar sebebas dulu.” keluh Lionara


Rossalyn


mengulum senyum, “Maklum aja, itu karena dia terlalu sayang sama kamu dan calon


anak kalian. Kejadian waktu itu pasti membuatnya sangat trauma.”


“Iya,


Ma.”


“Maaf


Mama manggil kamu tiba-tiba kesini. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin mama


sampaikan. Ini mengenai Jordan dan Ayahnya.”


Lionara


hanya diam mendengarkan. Jordan memang tidak pernah tertarik membicarakan


hubungannya dengan Ayahnya lagi dengannya. Lionara sudah banyak tahu awal mula


keretakan yang terjadi pada hubungannya dengan Josep. Tapi cerita itu masih


dari sudut pandangnya Jordan. Dan saat ini ia mencoba mendengarkan cerita dari


pihak ibu mertuanya.


“Sebenarnya,


ini kejadian yang sudah cukup lama berlalu dan Papanya tidak pernah mau mama


mengungkit-ungkit hal ini lagi,” kata Rossalyn kembali berbicara “tapi, Mama


rasa kamu perlu tahu cerita ini. Setidaknya cerita yang kamu dengar tidak hanya


dari sisi Jordan saja, melainkan dari mama juga.”


Lionara


kembali diam untuk menyimak apa yang hendak dikatakan oleh ibu mertuanya


tersebut. Sedang Rossalyn tampak menghela napas berat.


“Semua


ini berawal dari keegoisanku.” Rossalyn menunduk sedih “seandainya dulu aku


tidak kembali lagi ke kota ini, mungkin rumah tangga Josep dan Grace akan


baik-baik saja, meski tanpa kehadiranku pun hubungan mereka memang selalu


dingin. Waktu itu, aku sengaja menghilang dari kehidupan Josep agar dia


menikahi Grace. Aku mengikuti kemauan kakek kalian untuk meninggalkan Josep.


Lalu bertahun-tahun setelah itu aku terpaksa kembali untuk menghadiri pemakaman


ayahku, tapi tanpa kuduga ternyata Josep mengetahui kepulanganku ke kota ini. Dia


datang kepemakaman dan menemuiku disana—memintaku untuk kembali lagi padanya.”


Rossalyn


mendongak, menatap Lionara yang masih diam mendengarkannya.


“Awalnya


aku terus menolak, tapi lama kelamaan aku tidak bisa memungkiri kalau perasaan


cintaku pada Josep tidak pernah hilang. Dan akhirnya, aku memilih egois, lebih


mementingkan perasaanku sendiri untuk tetap bersama Josep. Kemudian, secara


diam-diam Josep menikahiku dan dia lebih sering tinggal bersamaku daripada


Grace. Meski begitu, aku  tetap


menyuruhnya untuk berlaku adil, agar dia tidak menelantarkan keluarganya.


Hingga, setengah tahun pernikahan kami akhirnya Grace tahu. Dan tebak apa


reaksi Grace saat mengetahui status baru kami?”


Lionara


bergeming. Rossalyn tertawa getir.


“Umumnya


reaksi seorang istri jika mengetahui suaminya menikahi lagi secara diam-diam


maka akan marah besar, kemudian melabarak sang selingkuhan dengan kemarahan


yang luar biasa. Tapi hal itu sepertinya tidak berlaku untuk Grace. Perempuan


itu hanya diam, tanpa melakukan balasan apapun. Hanya satu hal yang ia minta


padaku yaitu supaya aku tidak meminta Josep untuk menceraikannya. Dan itu


dilakukannya demi Jordan. Grace tidak ingin anaknya ikut terluka dengan


perpisahan kedua orangtuanya. Grace memintaku untuk tetap merahasiakan


pernikahan kami—sebagau istri kedua Josep tanpa mendapat pengakuan dimata


publik. Dan aku menyetujuinya.”


Jeda


sesaat.


“Selama


beberapa tahun semuanya berjalan dengan baik. Daniel tumbuh dengan baik dan aku


juga kembali hamil ketika Daniel berumur 5 tahun. Ketika kandunganku berusia 6


bulan, tanpa sengaja aku terpeleset di kamar mandi hingga mengalami pendarahan


hebat. Josep panik, lalu membawaku ke rumah sakit.  Tapi, tepat dihari itu juga aku mendengar


sesuatu yang buruk menimpah Grace dan Jordan. Mereka diculik sekelompok


perampok dan diminta tebusan yang begitu banyak, yaitu separuh asset dari


Christoper. Josep dilema—dia bingung memilih antara tetap disisiku atau


menyelamatkan anak dan istrinya. Lalu,  ditengah


kesakitanku, aku memaksa Josep untuk pergi menyelamatkan Jordan dan Grace lebih


dahulu. Tapi dia enggan pergi, dan malah menyuruh kakakku Richard untuk


mewakilinya membawa tebusan yang para perampok itu minta. Dan disanalah awal


mula penyesalan terbesar Josep…”


Air


mata Rossalyn jatuh. Suaranya berubah parau dan tangannya mengepal kuat.


“Richard,


tidak pernah menemui para perampok itu. Dia pergi menghilang bersama seluruh


tebusan yang dibawanya. Akibatnya, Grace harus kehilangan nyawanya dengan cara mati


tertembak, setelah sebelumnya mengalami pelecehan seksual yang mengerikan.


Sementara Jordan berhasil selamat dari sana. Anak itu ditemukan polisi tak


sadarkan diri di sebuah klinik terpencil setelah sebelumnya diselamatkan oleh


supir truk saat Jordan berlari ke tengah jalan. Kondisi Jordan saat ditemukan


sangat buruk. Dia mengalami luka disekujur tubuh dan saat sadar, tak sekalipun


ia membuka mulut untuk berbicara. Psikisnya terguncang. Tatapannya kosong, namun


akan mengamuk histeris setiap Josep mendekatinya.”


“Sejak


saat itu, Jordan membenci Josep setengah mati. Dan aku juga tak luput dari


kebenciannya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain. Padahal, dibandingkan


Daniel dan kedua adik kembarnya, kasih sayang Josep terhadap Jordan lebih


besar. Dia memang tidak mencintai Grace, tapi sangat menyayangi Jordan.


Sekalipun dari luar ia selalu bersikap keras pada Jordan, tapi percayalah itu


adalah bentuk dari kasih sayangnya. Jordan membuat masalah, dan Josep yang akan


menyelesaikannya.”


“Bahkan


selama bertahun-tahun ini, setiap tengah malam Josep selalu diam-diam menangis


dan meratap sendiri dalam ruang kerjanya—menyesali kegagalan dirinya sebagai


ayah dalam melindungi putra yang dikasihinya. Dia rindu kembali dekat dengan Jordan,


tapi Jordan selalu mendirikan benteng permusuhan diantara mereka. Anak itu


benar-benar menghukum ayahnya.”


“Semua


ini salahku, Nara… kehadiranku membawa bencana dan merusak hubungan Ayah dan


anak diantara mereka.” air mata Rossalyn mengalir deras. Kepedihan jelas


tergambar dari sorotnya yang dihantui penyesalan yang teramat dalam. Tubuh


Rossalyn bergetar, ia beranjak dari kursinya kemudian berlutut di depan


Lionara, yang saat itu langsung melebarkan mata.


“Ma—“


“Tolong


bantu Mama, sayang….” Isaknya memohon dengan kedua tangan yang dikatupkan di


depan dada “Tolong bantu mama mendekatkan kembali hubungan keduanya. Mama tahu,


satu-satunya orang yang hanya didengarkan Jordan sekarang adalah dirimu. Jordan


sangat mencintaimu. Dia pasti akan melakukan apa yang kamu minta. Karena itu,


tolong… bantu mama agar Jordan mau membuka pintu maafnya pada Josep. Setidaknya


hanya pada ayahnya saja,”


“Ma…”


Lionara tak kuasa menahan air matanya jatuh saat melihat kesakitan dimata


wanita parubaya itu. Lionara meraih leher ibu mertuanya lalu memeluknya erat.


To be continued


Yah... penyesalan memang selalu datang terlambat. Kalo diawal berarti pendaftaran dong kan. Hehehe...


Semangat terus yaa buat kalian yg berpuasa 🤗


See youuuu ❤


IG: @rianitasitumorangg