
Lionara
sedang menyiapkan baju untuk suaminya yang sedang mandi. Hari minggu ini mereka
akan menghabiskan waktu bersama di luar.
Tiba-tiba
saja sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Lionara dapat merasakan
kalau itu tangan Jordan. Lelaki itu hanya memakai handuk untuk menutupi bagian
bawahnya.
“Nih
pakai bajunya, aku uda siapkan,” kata Lionara berusaha melepaskan pelukan
Jordan. Tapi lelaki itu malah membalikkan tubuh istrinya dan mengecup bibir
Lionara berkali-kali.
“Pakaikan,”
ujarnya setengah merengek
Lionara
menghela napas. Tanpa protes, ia mulai memakaikan baju untuk suami manjanya
ini. sedangkan Jordan hanya menatap Lionara dengan lekat. Ah, istrinya ini
memang selalu bisa membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Selesai
dengan pakaian, Lionara kemudian meraih sisir dan sedikit berjinjit untuk
menyisir rambut Jordan agar lebih rapi. Tinggi Lionara hanya sebatas dada
Jordan, dan itu membuatnya sedikit kepayahan menjangkau kepala lelaki itu.
Gemas
dengan tingkah istrinya, Jordan pun memeluk pinggang Lionara agar posisinya
lebih dekat dan mudah.
“Selesai.”
ucap Lionara dengan nada puas.
“Jay
udah siap?”
“Udah.
Ini tinggal siapin ASI yang uda aku pompa buat stok selama diluar nanti,”
Lionara merengagangkan tubuh mereka, tapi semakin ditahan oleh lelaki itu. “Jo,
lepasin ih.”
“Jatah Morning kiss aku, sayang.”
Cup
“Uda.
Sekarang lepasin,”
“Idih,
masa gitu,” Jordan protes “Ulang. Mau cium yang benar,” Jordan semakin
mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Lionara
Cup.
Lionara mencium Jordan kembali
“Sayang-,”
“Udah
Jordan.”
“Sekali
lagi.”
Cup!
Lionara melakukannya lagi, namun kali ini ditahan lebih lama oleh Jordan.
lelaki itu mengambil alih ciuman mereka dan semakin memperdalam. Lionara pun
terbawa oleh permainan Jordan, mereka saling membalas. Aksi mereka hanya
dilihat oleh bayi kecil itu dalam diam. Lalu aktivitas sepasang suami istri itu
terhenti ketika Jay menangis. Lionara tersadar, dan segera mendorong Jordan untuk menenangkan buah
hatinya yang sempat terabaikan karena bayi tua itu.
“Huh,
untung kamu anak daddy, Jay” dengus Jordan
“Kenapa
memangnya?” Lionara mendelik, sambil menimang-nimang tubuh Jay
“Yah.
Aku sayang dong mommy. Hehe,” kekehnya canggung seraya menggaruk tengkuk yang
sama sekali tidak gatal kala mendapati tatapan laser istrinya. Lionara kalau menyangkut anak mereka
benar-benar sangar menurutnya.
“Yaudah,
kamu lanjutin siap-siapnya. Aku sama Jay tunggu di depan,” Lionara menggendong
Jay keluar setelah mendapat anggukan pelan dari Jordan yang masih betah
menyengir.
****
Jordan
membuka mata ketika menyadari seseorang tengah memperhatikannya dengan lekat.
Lionara. Istrinya sedang menatapnya dengan senyum manis di bibir. Jordan
menaikkan sebelah alis, bertanya dalam diam; Apa?
“Ketika
di gereja kamu terlihat khusyuk dan menjadi umat Tuhan yang beriman. Aku senang
melihatnya,”
“Aku
hanya berusaha menempatkan dimana diriku berada.” Jordan menolehkan wajah ke
depan—tangannya bergerak senada Trinitas lalu lelaki itu mencium tangannya
sendiri. Jordan berdiri diikuti Lionara. Mereka berdua sedang berada di Gereja
Santo Yosef untuk mengikuti ibadah hari minggu.
Sudah
satu minggu ini mereka berada di Singapura. Jordan memilki rapat penting yang
tak bisa diwakilkan oleh siapapun di tempat ini. Tadinya Jordan menolak untuk
menghadiri rapat kerja sama itu dengan alasan enggan berjauhan dengan anak dan
istrinya. Sam dibuat kelimpungan olehnya—pria berkaca mata itu sudah lelah seharian
membujuk sang bos, namun jawabannya tetap ‘Tidak’. Alhasil, Lionara yang turun
tangan—mengatakan bersedia mengikuti Jordan ke singapura bersama bayi mereka,
asal Jordan tidak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
Jordan
meraih tangan Lionara, menggenggamnya. Mereka berdua keluar dari Gereja paling
akhir dibanding yang lainnya.
“Kamu
sering pergi ke gereja?” tanya Lionara
“Waktu
Mom masih ada,”
“Setelah
itu tidak pernah lagi?”
Jordan
terkekeh kecil, lalu mengangguk.
“Tadi
kamu terlihat taat sekali berdoa. Apa yang kamu minta?”
Lionara
memperhatikan Jordan yang menatap lurus ke depan
“Keabadian,”
Lionara
mengernyit, “Keabadian? Tentang?”
Jordan
menoleh, kemudian menangkup wajah Lionara. “Keabadian untuk hubungan kita.
Tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini selain, kebersamaan denganmu, Jay
dan calon adiknya nanti. Aku berharap kebahagiaan yang kurasakan saat ini akan
abadi. Itulah yang kupinta dari-Nya.” Jordan berucap lirih seraya mengecup
kening Lionara. Lama dan penuh penghayatan.
Lionara
tersenyum haru. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang
Jordan—memeluknya erat. “Amin.” sahutnya
Lama
mereka saling memeluk, sampai Sam pun akhirnya muncul bersama dengan Jay yang
menangis dalam stroller.
“Tuan,
nyonya” Sam memanggil tidak nyaman
Keduanya
serentak menoleh, dan Jordanlah yang lebih dahulu melepaskan pelukan
“Heii…
anak daddy kenapa nih? Kok nangis sih jagoannya,” dengan hati-hati Jordan
mengeluarkan Jay dari stroller dan menggendongnya. Membuat anak itu seketika
meredakan tangisnya.
“Daddy
sama mommy lama ya? Hem? Maaf ya sayang…” Jordan menciumi seluruh wajah Jay,
kemudian mengendus-ngendus lehernya hingga tawa kecil bayi itu mengudara.
“Nah
gitu dong, ketawa. Kan jadi tambah ganteng kayak daddy,” kekeh Jordan gemas.
Melihat
itu, Sam merasa takjub. Pasalnya saat bersamanya tadi anak bosnya itu tak
berhenti menangis, tapi saat berada dalam gendongan ayahnya, tangis bayi itu
langsung berhenti dan kini justru asik tertawa. The power of same blood.
****
Usai
dari tempat ibadah, Jordan membawa keluarga kecilnya mengunjungi S.E.A
Aquarium. Selama lima hari ia sudah di sibukkan dengan segala pekerjaannya
disana, dan dihari terakhir sebelum mereka kembali lagi ke Manhattan, Jordan
ingin menikmati liburan kecil bersama keluarga terkasihnya.
Dan
disinilah mereka, dengan satu tangan mendorong stroller Jay dan satunya lagi
menggandeng pinggang istrinya—menikmati pemandangan museum maritime dengan
berbagai fosil hewan-hewan laut, menonton atraksi spesies ikan-ikan tepat
dibawah kaki, dan terakhir duduk-duduk beristirahat sambil melihat langsung
kehidupan di dalam akuarium.
“Aku
lapar,” keluh Lionara saat mereka baru keluar dari wahana akuarium itu
Jordan
tersenyum, “Baiklah, kalau begitu kita cari restoran di dekat sini,”
Lionara
menggeleng, menolak. Jordan menaikkan satu alisnya.
“Aku
ingin hotdog,” menyengir, Lionara menunjuk pada sebuah truk penjual makanan
yang sedang dikerumuni pengunjung.
“Antri,
sayang.” Jordan menjawab kala melihat antrian panjang.
“Tidak
apa. Tunggulah disini. Aku yang belikan untuk kita.”
“Tidak.
Biar Sam saja yang pergi.”
“Aku
bisa sendiri, Jo. Kalian tunggu saja disini,” Lionara bersikeras
“Tapi—“
Cup
“Tidak
ada tapi-tapian. Tunggu ya,” dengan senyum lebar Lionara berjalan menuju truk
makanan, mengantri dengan yang lainnya.
Jordan
menunggu dengan wajah tertekuk. Ia duduk di sebuah bangku pinggir jalan dengan
Jay yang sudah terlelap di stroller. Ia tetap mengawasi istrinya dari jauh.
Padahal kalau secara logika makan di restoran lebih cepat. Jordan yakin antrian
akan memakan waktu lebih dari satu jam.
“Ada
yang bisa saya kerjakan, Tuan?”
Sam
mendekati Jordan, matanya lurus memandang ke depan—ketempat yang sama,
nyonyanya yang sedang mengantri. Pria berponi itu menggunakan pakaian santai,
yaitu jeans, kaos putih dilapisi kemeja yang terbuka sama seperti beberapa
penjaga Jordan yang lain, yang juga berada di lokasi itu. Berbaur dengan
pengunjung yang lain agar mereka tidak terlihat mencolok. Ya, jika sedang
berada di tempat umum seperti ini, Jordan memang kerap memerintahkan anak
buahnya untuk turut berjaga di sekitar mereka. Hal itu dilakukannya hanya
sekedar untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada salah satu musuhnya yang
tiba-tiba datang menyerang. Apalagi saat ini ia tengah bersama anak dan
istrinya. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan membahayakan nyawa kedua orang
yang sangat ia cintai itu.
“Sepertinya
tidak. Kalian hanya perlu mengawasi istriku. Pastikan tidak ada seseorang yang
mencurigakan mencoba mendekat.”
“Baik
Tuan. Saya sudah memperketat penjagaan yang anda minta.”
“Bagus.”
Jordan beralih menatap putranya—memainkan bibir Jay. Tapi anaknya itu sama
sekali tidak terusik.
Sudah
hampir lima belas menit Lionara mengantri. Kakinya mulai pegal. Sesekali ia
menoleh pada Jordan, takut kalau lelaki itu tidak sabar karena terlalu lama
menunggu. Tapi ketika melihat ke arah suaminya itu, Jordan sedang
memperhatikannya dengan tenang, kemudian kembali melihat pada Jay yang tampaknya
telah bangun karena Jordan mengambil alih tubuh bayi itu dari dalam stroller—bangkit
berdiri lalu mengajaknya berbicara sambil mengayun-ayunkan pelan tubuh Jay.
Lionara tersenyum. Tubuh tinggi dan tegap Jordan yang sedang mengendong Jay, kemeja
yang di gulung sampai siku serta kacamata bening yang bertengger di hidung
mancungnya, membuat keseksian lelaki itu bertambah berlipat-lipat kali.
Dan
lihatlah, beberapa perempuan kini menatap penuh pesona pada suaminya yang masih
asik bercanda dengan Jay. Lionara menggeleng dan kembali mengalihkan
pandangannya pada si penjual hotdog.
“Mmbmm…“
Jay terus bergumam dengan senyum lebarnya
“Are you happy, son?” telunjuknya
terangkat, menyentuh bulu mata anaknya yang sangat lentik, berpadu indah dengan
netra biru yang bersinar terang dibawah sinar matahari.
“Ppftt…”
Jay menggerakkan bibirnya yang justru membuat air liurnya menetes.
Jordan
tak kuasa menahan tawanya. Rasa bahagia serta haru menyerang. Karena gemas
lelaki itu memakan penuh pipi bulat anaknya, membuat Jay tidak henti
mengeluarkan tawanya.
Semakin
sore tempat itu semakin ramai tak terkendali. Sudah saatnya untuk pulang. Setuju
atau tidak, Jordan akan membawa mereka pergi dari tempat itu. Lelaki itu
kemudian menghela langkah menuju Lionara yang kini sudah mendapatkan apa yang
ia mau—dua bungkusan hotdog di tangan kanan dan kirinya.
Ckckk…
lihatlah wanitanya itu sekarang, hanya dengan berhasil mendapatkan makanan itu
saja, senyumnya sudah mengembang sempurna. Pemandangan yang begitu indah
baginya. Senyum Jordan tidak pudar, tak
kala Lionara sudah melambaikan tangan ketika melihatnya. Tapi sebuah kejutan
yang tidak diharapkan terjadi. Langkah lelaki itu terhenti, kala matanya yang
tajam menangkap siluet seseorang dari rooftop gedung. Seorang sniper berseragam
hitam dengan topi yang menutupi wajah, tengah mengarahkan bidikannya tepat ke arah
istrinya. Laju jantung Jordan seketika memompa hebat.
Jordan
tidak bisa berpikir panjang, menyerahkan Jay kepada Sam yang mengikutinya
dibelakang—berlari bak kesetanan saat sniper itu sudah siap menarik pelatuk
senjata apinya kepada Lionara, lalu…
Dorrr…!!!
To be continued