JORDAN

JORDAN
Chapter 42



Lionara


sedang menyiapkan baju untuk suaminya yang sedang mandi. Hari minggu ini mereka


akan menghabiskan waktu bersama di luar.


Tiba-tiba


saja sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Lionara dapat merasakan


kalau itu tangan Jordan. Lelaki itu hanya memakai handuk untuk menutupi bagian


bawahnya.


“Nih


pakai bajunya, aku uda siapkan,” kata Lionara berusaha melepaskan pelukan


Jordan. Tapi lelaki itu malah membalikkan tubuh istrinya dan mengecup bibir


Lionara berkali-kali.


“Pakaikan,”


ujarnya setengah merengek


Lionara


menghela napas. Tanpa protes, ia mulai memakaikan baju untuk suami manjanya


ini. sedangkan Jordan hanya menatap Lionara dengan lekat. Ah, istrinya ini


memang selalu bisa membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.


Selesai


dengan pakaian, Lionara kemudian meraih sisir dan sedikit berjinjit untuk


menyisir rambut Jordan agar lebih rapi. Tinggi Lionara hanya sebatas dada


Jordan, dan itu membuatnya sedikit kepayahan menjangkau kepala lelaki itu.


Gemas


dengan tingkah istrinya, Jordan pun memeluk pinggang Lionara agar posisinya


lebih dekat dan mudah.


“Selesai.”


ucap Lionara dengan nada puas.


“Jay


udah siap?”


“Udah.


Ini tinggal siapin ASI yang uda aku pompa buat stok selama diluar nanti,”


Lionara merengagangkan tubuh mereka, tapi semakin ditahan oleh lelaki itu. “Jo,


lepasin ih.”


“Jatah Morning kiss aku, sayang.”


Cup


“Uda.


Sekarang lepasin,”


“Idih,


masa gitu,” Jordan protes “Ulang. Mau cium yang benar,” Jordan semakin


mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Lionara


Cup.


Lionara mencium Jordan kembali


“Sayang-,”


“Udah


Jordan.”


“Sekali


lagi.”


Cup!


Lionara melakukannya lagi, namun kali ini ditahan lebih lama oleh Jordan.


lelaki itu mengambil alih ciuman mereka dan semakin memperdalam. Lionara pun


terbawa oleh permainan Jordan, mereka saling membalas. Aksi mereka hanya


dilihat oleh bayi kecil itu dalam diam. Lalu aktivitas sepasang suami istri itu


terhenti ketika Jay menangis. Lionara tersadar, dan  segera mendorong Jordan untuk menenangkan buah


hatinya yang sempat terabaikan karena bayi tua itu.


“Huh,


untung kamu anak daddy, Jay” dengus Jordan


“Kenapa


memangnya?” Lionara mendelik, sambil menimang-nimang tubuh Jay


“Yah.


Aku sayang dong mommy. Hehe,” kekehnya canggung seraya menggaruk tengkuk yang


sama sekali tidak gatal kala mendapati tatapan laser istrinya.  Lionara kalau menyangkut anak mereka


benar-benar sangar menurutnya.


“Yaudah,


kamu lanjutin siap-siapnya. Aku sama Jay tunggu di depan,” Lionara menggendong


Jay keluar setelah mendapat anggukan pelan dari Jordan yang masih betah


menyengir.


****


Jordan


membuka mata ketika menyadari seseorang tengah memperhatikannya dengan lekat.


Lionara. Istrinya sedang menatapnya dengan senyum manis di bibir. Jordan


menaikkan sebelah alis, bertanya dalam diam; Apa?


“Ketika


di gereja kamu terlihat khusyuk dan menjadi umat Tuhan yang beriman. Aku senang


melihatnya,”


“Aku


hanya berusaha menempatkan dimana diriku berada.” Jordan menolehkan wajah ke


depan—tangannya bergerak senada Trinitas lalu lelaki itu mencium tangannya


sendiri. Jordan berdiri diikuti Lionara. Mereka berdua sedang berada di Gereja


Santo Yosef untuk mengikuti ibadah hari minggu.


Sudah


satu minggu ini mereka berada di Singapura. Jordan memilki rapat penting yang


tak bisa diwakilkan oleh siapapun di tempat ini. Tadinya Jordan menolak untuk


menghadiri rapat kerja sama itu dengan alasan enggan berjauhan dengan anak dan


istrinya. Sam dibuat kelimpungan olehnya—pria berkaca mata itu sudah lelah seharian


membujuk sang bos, namun jawabannya tetap ‘Tidak’. Alhasil, Lionara yang turun


tangan—mengatakan bersedia mengikuti Jordan ke singapura bersama bayi mereka,


asal Jordan tidak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.


Jordan


meraih tangan Lionara, menggenggamnya. Mereka berdua keluar dari Gereja paling


akhir dibanding yang lainnya.


“Kamu


sering pergi ke gereja?” tanya Lionara


“Waktu


Mom masih ada,”


“Setelah


itu tidak pernah lagi?”


Jordan


terkekeh kecil, lalu mengangguk.


“Tadi


kamu terlihat taat sekali berdoa. Apa yang kamu minta?”


Lionara


memperhatikan Jordan yang menatap lurus ke depan


“Keabadian,”


Lionara


mengernyit, “Keabadian? Tentang?”


Jordan


menoleh, kemudian menangkup wajah Lionara. “Keabadian untuk hubungan kita.


Tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini selain, kebersamaan denganmu, Jay


dan calon adiknya nanti. Aku berharap kebahagiaan yang kurasakan saat ini akan


abadi. Itulah yang kupinta dari-Nya.” Jordan berucap lirih seraya mengecup


kening Lionara. Lama dan penuh penghayatan.


Lionara


tersenyum haru. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang


Jordan—memeluknya erat. “Amin.” sahutnya


Lama


mereka saling memeluk, sampai Sam pun akhirnya muncul bersama dengan Jay yang


menangis dalam stroller.


“Tuan,


nyonya” Sam memanggil tidak nyaman


  Keduanya


serentak menoleh, dan Jordanlah yang lebih dahulu melepaskan pelukan


“Heii…


anak daddy kenapa nih? Kok nangis sih jagoannya,” dengan hati-hati Jordan


mengeluarkan Jay dari stroller dan menggendongnya. Membuat anak itu seketika


meredakan tangisnya.


“Daddy


sama mommy lama ya? Hem? Maaf ya sayang…” Jordan menciumi seluruh wajah Jay,


kemudian mengendus-ngendus lehernya hingga tawa kecil bayi itu mengudara.


“Nah


gitu dong, ketawa. Kan jadi tambah ganteng kayak daddy,” kekeh Jordan gemas.


Melihat


itu, Sam merasa takjub. Pasalnya saat bersamanya tadi anak bosnya itu tak


berhenti menangis, tapi saat berada dalam gendongan ayahnya, tangis bayi itu


langsung berhenti dan kini justru asik tertawa. The power of same blood.


****


Usai


dari tempat ibadah, Jordan membawa keluarga kecilnya mengunjungi S.E.A


Aquarium. Selama lima hari ia sudah di sibukkan dengan segala pekerjaannya


disana, dan dihari terakhir sebelum mereka kembali lagi ke Manhattan, Jordan


ingin menikmati liburan kecil bersama keluarga terkasihnya.


Dan


disinilah mereka, dengan satu tangan mendorong stroller Jay dan satunya lagi


menggandeng pinggang istrinya—menikmati pemandangan museum maritime dengan


berbagai fosil hewan-hewan laut, menonton atraksi spesies ikan-ikan tepat


dibawah kaki, dan terakhir duduk-duduk beristirahat sambil melihat langsung


kehidupan di dalam akuarium.


“Aku


lapar,” keluh Lionara saat mereka baru keluar dari wahana akuarium itu


Jordan


tersenyum, “Baiklah, kalau begitu kita cari restoran di dekat sini,”


Lionara


menggeleng, menolak. Jordan menaikkan satu alisnya.


“Aku


ingin hotdog,” menyengir, Lionara menunjuk pada sebuah truk penjual makanan


yang sedang dikerumuni pengunjung.


“Antri,


sayang.” Jordan menjawab kala melihat antrian panjang.


“Tidak


apa. Tunggulah disini. Aku yang belikan untuk kita.”


“Tidak.


Biar Sam saja yang pergi.”


“Aku


bisa sendiri, Jo. Kalian tunggu saja disini,” Lionara bersikeras


“Tapi—“


Cup


“Tidak


ada tapi-tapian. Tunggu ya,” dengan senyum lebar Lionara berjalan menuju truk


makanan, mengantri dengan yang lainnya.


Jordan


menunggu dengan wajah tertekuk. Ia duduk di sebuah bangku pinggir jalan dengan


Jay yang sudah terlelap di stroller. Ia tetap mengawasi istrinya dari jauh.


Padahal kalau secara logika makan di restoran lebih cepat. Jordan yakin antrian


akan memakan waktu lebih dari satu jam.


“Ada


yang bisa saya kerjakan, Tuan?”


Sam


mendekati Jordan, matanya lurus memandang ke depan—ketempat yang sama,


nyonyanya yang sedang mengantri. Pria berponi itu menggunakan pakaian santai,


yaitu jeans, kaos putih dilapisi kemeja yang terbuka sama seperti beberapa


penjaga Jordan yang lain, yang juga berada di lokasi itu. Berbaur dengan


pengunjung yang lain agar mereka tidak terlihat mencolok. Ya, jika sedang


berada di tempat umum seperti ini, Jordan memang kerap memerintahkan anak


buahnya untuk turut berjaga di sekitar mereka. Hal itu dilakukannya hanya


sekedar untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada salah satu musuhnya yang


tiba-tiba datang menyerang. Apalagi saat ini ia tengah bersama anak dan


istrinya. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan membahayakan nyawa kedua orang


yang sangat ia cintai itu.


“Sepertinya


tidak. Kalian hanya perlu mengawasi istriku. Pastikan tidak ada seseorang yang


mencurigakan mencoba mendekat.”


“Baik


Tuan. Saya sudah memperketat penjagaan yang anda minta.”


“Bagus.”


Jordan beralih menatap putranya—memainkan bibir Jay. Tapi anaknya itu sama


sekali tidak terusik.


Sudah


hampir lima belas menit Lionara mengantri. Kakinya mulai pegal. Sesekali ia


menoleh pada Jordan, takut kalau lelaki itu tidak sabar karena terlalu lama


menunggu. Tapi ketika melihat ke arah suaminya itu, Jordan sedang


memperhatikannya dengan tenang, kemudian kembali melihat pada Jay yang tampaknya


telah bangun karena Jordan mengambil alih tubuh bayi itu dari dalam stroller—bangkit


berdiri lalu mengajaknya berbicara sambil mengayun-ayunkan pelan tubuh Jay.


Lionara tersenyum. Tubuh tinggi dan tegap Jordan yang sedang mengendong Jay, kemeja


yang di gulung sampai siku serta kacamata bening yang bertengger di hidung


mancungnya, membuat keseksian lelaki itu bertambah berlipat-lipat kali.


Dan


lihatlah, beberapa perempuan kini menatap penuh pesona pada suaminya yang masih


asik bercanda dengan Jay. Lionara menggeleng dan kembali mengalihkan


pandangannya pada si penjual hotdog.


“Mmbmm…“


Jay terus bergumam dengan senyum lebarnya


“Are you happy, son?” telunjuknya


terangkat, menyentuh bulu mata anaknya yang sangat lentik, berpadu indah dengan


netra biru yang bersinar terang dibawah sinar matahari.


“Ppftt…”


Jay menggerakkan bibirnya yang justru membuat air liurnya menetes.


Jordan


tak kuasa menahan tawanya. Rasa bahagia serta haru menyerang. Karena gemas


lelaki itu memakan penuh pipi bulat anaknya, membuat Jay tidak henti


mengeluarkan tawanya.


Semakin


sore tempat itu semakin ramai tak terkendali. Sudah saatnya untuk pulang. Setuju


atau tidak, Jordan akan membawa mereka pergi dari tempat itu. Lelaki itu


kemudian menghela langkah menuju Lionara yang kini sudah mendapatkan apa yang


ia mau—dua bungkusan hotdog di tangan kanan dan kirinya.


Ckckk…


lihatlah wanitanya itu sekarang, hanya dengan berhasil mendapatkan makanan itu


saja, senyumnya sudah mengembang sempurna. Pemandangan yang begitu indah


baginya.  Senyum Jordan tidak pudar, tak


kala Lionara sudah melambaikan tangan ketika melihatnya. Tapi sebuah kejutan


yang tidak diharapkan terjadi. Langkah lelaki itu terhenti, kala matanya yang


tajam menangkap siluet seseorang dari rooftop gedung. Seorang sniper berseragam


hitam dengan topi yang menutupi wajah, tengah mengarahkan bidikannya tepat ke arah


istrinya. Laju jantung Jordan seketika memompa hebat.


Jordan


tidak bisa berpikir panjang, menyerahkan Jay kepada Sam yang mengikutinya


dibelakang—berlari bak kesetanan saat sniper itu sudah siap menarik pelatuk


senjata apinya kepada Lionara, lalu…


Dorrr…!!!


To be continued