
“Kenapa makanannya cuma diaduk?” tegur Sheryl, teman baru Nara. Gadis berkacamata itu
bekerja di bagian HRD.
Sheryl adalah wanita yang seminggu lalu di
bentak oleh Jordan ketika terlambat menyerahkan laporannya. Mereka menjadi
akrab sejak kejadian itu, dimana saat Nara membasuh tangan di toilet, ia
mendengar suara Sheryl yang sedang menangis sesenggukan di salah satu ruang
toilet. Karna tidak tega, Nara menghibur gadis itu dan menyemangatinya kembali,
kemudian setelah hari itu mereka menjalin pertemanan yang baik. Terbukti, sudah
seminggu ini saat jam makan siang mereka akan selalu makan bersama sambil
bercerita banyak hal.
Sebuah sentuhan di tangannya, membuat Nara mengerjap dan tersadar.
“Eh? Kenapa?”
“Kamu melamun. Ada apa? ada masalah di kerjaan?” tanya Sheryl kahwatir
“Eng..enggak, kok. Cuma lagi enggak nafsu aja.” Nara tersenyum lemah
“Kamu sakit?” Sheryl menyentuh kening Nara lalu membandingkan dengan keningnya “normal,
kok”
“Aku baik-baik aja, Sheryl. Tapi uda beberapa hari ini memang lagi enggak berselera,”
“Gimana kalau pulang kerja nanti kita cek ke dokter? Soalnya wajah kamu juga agak pucat itu,”
Nara menggeleng cepat, “Enggaklah. Istirahat di rumah nanti juga uda baikan.”
“Kamu yakin?”
Nara menyunggingkan senyumnya, lalu mengangguk “Yakin, Sheryl” sahutnya berusaha
terlihat semangat.
“Yaudah deh kalau gitu. Tapi minimal kamu makan dikit dong. Biar perutmu enggak kosong
begitu,” titah Sheryl, menunjuk makanan di piring Nara yang masih utuh.
“Iya.” Nara menyahut singkat.
Tidak hanya berselera makan, bahkan sudah seminggu ini Nara susah tidur entah apa
penyebab pastinya. Mungkin karena terlalu banyak mempelajari ilmu yang
diberikan Sam, atau mungkin karena Jordan yang sampai saat ini tidak ada
kabarnya. Masih segar diingatan Nara, bagaimana hari itu Jordan terlihat sangat
berbeda. Tatapannya begitu dingin dan sepanjang hari di kantor moodnya buruk. Ia
terus membentak pada siapapun yang membuat kesalahan. Kesalahan sekecil apapun
yang biasanya akan di tolerir. Bahkan kadang pada karyawan yang tidak membuat
kesalahan. Apalagi pada karyawan yang jelas-jelas melakukan kesalahan besar.
Saat akan berangkat ke Dubai pun Jordan enggan mengucapkan sepatah kata dengannya. Begitu
Nara selesai menyusun barang-barang Jordan di koper, lelaki itu hanya menyuruh
Sam membawanya ke mobil dan berlalu begitu saja dari depannya. Sedang biasanya
Jordan melakukan sesuatu sebelum pergi. Ia sering mencium Nara meski Nara tidak
membalas, atau menepuk pipi Nara, atau setidaknya mengelus kepalanya. Tapi kali
ini tidak ada yang terjadi.
Dan selama kepergiannya ke Dubai, tak sekalipun Jordan menayakan atau memberinya
kabar. Didiamkan tanpa alasan yang jelas seperti itu membuat Nara terus
bertanya-tanya apakah dia telah melakukan kesalahan yang besar, sehingga berhasil
menyinggung perasaan suaminya itu. Seingatnya malam sebelum Jordan mendiamkannya,
mereka masih baik-baik saja. Tapi kenapa saat bangun lelaki itu berubah seratus
delapan puluh derajat.
****
Nara merasakan dirinya berada dalam kondisi setengah tidur dan setengah sadar, dia
tahu bahwa pagi sudah menjelang meskipun langit mungkin masih gelap tertutup
awan akibat hujan lebat yang tak berhenti mengguyur bumi sejak kemarin. Bahkan kemarin
ia pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup akibat memilih pulang naik
angkutan umum.
Hujan yang deras mengingatkannya pada perpisahan terakhir dengan sang mama. Mamanya
berakhir depresi setelah mendengar Ayahnya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Nara
terpaksa harus mengunci Mamanya di dalam kamar karena kerap ingin mengakhiri
hidupnya demi menyusul sang Ayah. Tapi hari itu, saat Nara baru pulang sekolah,
ia melihat Mamanya berhasil keluar dari kamar lalu berlari ke jalan raya di
tengah derasnya hujan dan kilat petir yang menggelegar. Nara mengejarnya tapi
saat jarak mereka tinggal sedikit lagi, sebuah mobil dari arah berlawanan lebih
dulu menghantam tubuh mamanya hingga membuat wanita setengah baya itu langsung
meninggal di tempat.
Nara mengerjapkan matanya yang tiba-tiba basah sebelum membukanya. Lalu menyadari
ada dimana dirinya sekarang. Matanya masih mengantuk dan merasakan dorongan
untuk tidur kembali, tetapi sesuatu memaksanya membuka pikiran dan membaca
posisinya sekarang.
Dirinya masih berbaring di atas ranjang, berbaring miring dan memeluk sesuatu yang
hangat yang dikiranya sebagai guling dan sebangsanya, tetapi ternyata bukan.
Dia sedang memeluk Jordan yang terlelap di buaian dadanya. Ya, Jordan berbaring
miring dengan mata terpejam di pelukan lengan Nara. Sisi kepalanya ada di dada
Nara sementara napas hangat Jordan meniup disana, dan kedua lengan Nara memeluk
kepala dan pundak Jordan dengan erat sementara sebelah tangan Jordan memeluk
pinggangnya.
Jordan?
Kapan dia kembali?
Nara membeku dan tidak berani bergerak sementara dagunya tepat menempel di pucuk
kepala sang suami yang rebah di dadanya.
milik Jordan. Rambut itu terasa begitu lembut dan halus ketika menyentuh
kulitnya.
Kelembutan itu membuat Nara merasa begitu nyaman hingga dirinya mengantuk kembali. Dengan gerakan
setengah tidur, ia menggesekkan sisi pipinya ke rambut sang suami, lalu tanpa
bisa menahan diri, Nara menunduk lalu mengecup pucuk kepala Jordan dan
mengeratkan pelukannya. Dipejamkannya mata dan tertidur kembali dengan tenang
dan nyaman.
****
“Kamu kenapa?” tanya Nara saat melihat Jordan sedang memijit pelipisnya. Lelaki itu
baru saja keluar dari walk in closet dengan wajah yang terlihat pucat.
“Gak apa-apa.” Jordan duduk di pinggir ranjang lalu mengulurkan dasi yang ia pegang
sejak tadi pada Nara, “Pakaikan.” ujarnya datar
Lelaki itu masih bersikap acuh tak acuh. Menghela napas, Nara mendekat dan mengambil dasi
itu dari tangan Jordan, lalu mulai menyimpulkannya pada kerah leher kemeja Jordan.
Suasana mendadak menjadi canggung. Nara sadar, manik Jordan sejak tadi tak lepas
memandangi wajahnya, dan itu membuatnya sedikit salah tingkah.
“Semalam pulang jam berapa?” mengalihkan kecanggungannya, pada akhirnya Nara memilih
mengeluarkan suara lebih dulu—menilik Jordan hanya fokus menatapnya, enggan bercerita.
“Dua.”
Jawaban yang erlalu singkat. Bukan Jordan sekali.
Nara berdehem, “Ke-kenapa tidak membangunkanku?”
“Untuk apa?”
Gerakan tangan Nara tiba-tiba terhenti. Ia menatap dalam pada manik biru Jordan yang masih menyorotnya lekat. Jelas sekali kalau lelaki ini masih marah padanya.
“Oh.” jawaban itu sekaligus menyelesaikan tugasnya menyimpul dasi Jordan “selesai.”
Nara menepuk-nepuk pelan bahu Jordan, lalu akan pergi dari hadapan lelaki itu sebelum tubuhnya di tahan oleh tangan Jordan yang kini melingkari
pinggangnya, sedang wajahnya terbenam di perut Nara.
“Jo—“
“Kepalaku sakit.” gumamnya “perutku mual—“
Belum sempat Nara berkomentar, Jordan sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi sambil
membekap mulutnya.
Kahwatir, Nara ikut menyusul.
HOEK…
HOEK…
Jordan terlihat sedang muntah-muntah di depan closet duduk sekarang, wajahnya pucat
pasi.
“Jordan, kamu ada salah makan apa? kita ke dokter setelah ini,”
Nara mengurut tengkuk Jordan, lalu kemejanya di buka oleh Nara. Kusut dan basah.
“Gak usah. Mungkin asam lambungku naik. Nanti sembuh sendiri.”
Nara menangkup pipi Jordan, seraya menyeka wajahnya yang basah dengan tisu.
“Kamu sering telat makan?”
Jordan mengangguk lemah. “Beritahu Sam, aku tidak bisa pimpin rapat hari ini.”
Nara mengangguk, lalu menuntun Jordan lalu membaringkannya di ranjang. Nara mengambil
minyak dan membalurinya di perut keras Jordan. Setelah dirasa Jordan terlihat
sedikit lebih baik, ia segera turun kebawah—menyiapkan makanan dan obat untuk
Jordan. Nara memasak dengan cepat walaupun ada banyak pelayan dirumah, tapi ia
melakukannya sendiri.
Dengan hati-hati, Nara membuka pintu kamar dengan tangan yang membawa nampan. Ia meletakkan
nampannya di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian mengelus kening Jordan
lembut, membuat lelaki itu membuka matanya.
“Makan dulu,” kata Nara pelan
“Aku tidak berselera.” lirih Jordan
“Tapi kamu harus makan. Gimana asam lambung kamu mau sembuh kalo kamu telat makan
terus.”
Jordan memasang wajah masam. Sungguh, ia benar-benar tidak mood makan. Membayangkan makanan masuk ke dalam mulutnya saja, Jordan sudah mual.
“Habis makan, kamu bisa tidur lagi,” bujuk Nara
Dengan terpaksa, Jordan bangun perlahan dibantu Nara. Wanita itu mulai menyuapkan bubur
ke mulut Jordan pelan-pelan dan sabar. Sekilas Jordan menatap jijik sendok di
tangannya, walau pada akhirnya Jordan tetap membuka mulutnya dan mengunyahnya
tanpa semangat.
Setelah itu Nara merapikan alat makan ke dapur—membiarkan Jordan duduk bersandar di
atas kasur.
“Mau kemana?” tanya Jordan saat melihat Nara keluar dari walk in closet dengan pakaian rapih.
“Kantor. Sam pasti membutuhkan bantu—“
“Siapa yang mengijinkanmu pergi?” Jordan menaikkan alis.
“Tapi-,”
“Ganti pakaian lalu naik kesini.” titah Jordan tegas
Nara mendesah lelah, “Jo...”
“Ganti atau aku yang gantikan?” ancamnya dengan nada suara penuh penekanan.
Nara menghembuskan napas kasar, dan tanpa menyahut lagi ia berbalik mengganti
pakaiannya.
To be continued
IG: @rianitasitumorang
...Ughh, Baby besar masih ngambekk**......