JORDAN

JORDAN
Chapter 37



“Kamu


tetap enggak mau bangun, sayang?” Jordan berbisik serak—wajahnya masih terbenam


di ceruk leher Lionara, setelah tangisan pilunya mereda.


Hening.


Perlahan, Jordan menegapkan tubuhnya. Melepaskan tubuh kaku Lionara dan kembali


membaringkannya di ranjang. Ia tersenyum hambar, melangkah mundur dengan tubuh


gontai.


“Baik,


kalau begitu. Aku enggak akan maksa kamu lagi. Tapi, sebagai balasannya…”


Ada


jeda. Semua orang disana menatap was-was pada sorot aneh Jordan. Tatapan pria


itu kosong. Tidak ada lagi kesedihan yang tampak disana seperti beberapa saat


lalu. Dan itu jelas ditangkap tidak baik oleh Aldrich dan Evan yang tentunya sangat


mengenal sifat Jordan. Tetapi, keduanya memilih masih diam—menunggu kegilaan


apa lagi yang akan dilakukan sahabat mereka itu. Jordan ketika waras saja masih


sulit dikendalikan, apalagi kini pria itu baru saja kehilangan belahan jiwanya.


“Aku


akan memberikan sedikit pertunjukan yang amat menarik untukmu.” lanjut Jordan,


masih dengan senyum yang sama. “Anggaplah sebagai hadia perpisahan terakhir


dariku sebelum kemudian aku ikut menyusulmu ke dunia dimana pun kamu berada.”


“Jangan


pernah melakukan apapun yang ada di kepalamu sekarang, Jo.” peringat Aldrich,


cukup tahu apa yang akan dilakukan Jordan selanjutnya.


“Sam,”


panggil Jordan, mengabaikan peringatan Aldrich “bawa dia masuk.”


Sam


sudah pasrah. Ia hanya mengangguk, lalu pergi keluar. Selebihnya yang ada


disana saling melempar pandang—mencoba menerka-nerka apa yang akan dilakukan


oleh Jordan. Namun tak lama kemudian, dari arah pintu Sam muncul bersama


Rebecca yang terus berteriak meronta dalam kungkungan tubuh Sam.


“Lepaskan


aku, brengsek!!” maki Rebecca keras, kakinya yang di perban masih terasa sangat


sakit akibat tembakan Josep.


Pria


itu terus menyeret Rebecca dan berhenti tepat di belakang Jordan. “Tuan,” gumam


Sam.


Jordan


berbalik. Iris birunya yang sempat kosong seketika berkilat mengerikan saat


bertatapan dengan Rebecca yang tampak kacau.


Jordan


tersenyum manis, “Hai Rebecca,” santai, tapi bagai lonceng kematian untuk


seorang Rebecca. Refleks, wanita itu mundur—kengerian jelas terpancar di wajah


pucatnya.


“Bagaimana?


Apa sudah merasa lebih baik sekarang?” Jordan memiringkan kepala, bertanya


dengan ketenangan yang luar biasa.


Rebecca


bergeming. Tubuhnya kian gemetar saat Jordan melangkah, mengikis jarak diantara


mereka. Tangan pria itu mengelus wajah pucat pasi Rebecca seringan bulu.


“Sudah


puas bermainnya, hm?” seringai gelap terpatri di bibirnya “Kuucapkan selamat kalau


begitu atas keberhasilanmu membuat istriku akhirnya tidur dengan damai selamanya.


Ingin merayakannya?”


Terdiam,


Rebecca menelan ludahnya susah payah. Sungguh, ia tidak pernah berhadapan


dengan sisi gelap Jordan seperti ini. Pria itu berlipat kali lebih menakutkan


layaknya pria berdarah dingin. Tetapi Rebecca berusaha menguatkan hatinya.


Memberanikan diri menatap iris Jordan.


“Iya,


aku sangat puas.” Rebecca berucap lantang “Aku senang akhirnya perempuan sialan


itu akhirnya mati ditanganku!”


Didetik


setelah Rebecca menyelesaikan kalimatnya, tanpa aba-aba satu tamparan sudah


hinggap di pipinya. Bukan tamparan seorang wanita namun  tamparan pria di pipi lembut wanita hingga


membuat tulang retak seketika. Rebecca jatuh tersungkur ke lantai.


Orang-orang


disana tersentak kaget. Aldrich dan Evan hendak maju tapi…


“Tetap


disana atau kalian kubuat mati juga!” dingin, Jordan mengucapkan ancaman tidak


manusiawinya.


Semua


orang yang mendengar ancaman itu membeku. Tidak ada keraguan, Jordan mengatakan


itu penuh penekanan.


“Jordan-,”


Pria


itu mengabaikan. Ia kembali mendekati tubuh tak bernyawa Lionara.


“Ini


pertunjukan terakhirnya, sayang.” Jordan berkata lembut “Tenang saja, sebelum


aku menyusulmu, setidaknya wanita yang memisahkan kita di dunia ini, harus mati


terlebih dahulu, bukan?” tambahnya seraya menyematkan ciuman di kening Lionara


“Tidak,


Nak. Bukan begini caranya,” parau, Rikkard menggeleng penuh permohonan.


Rikkard


jelas tahu, Jordan telah kehilangan akal sehatnya untuk saat ini. Jiwa


psikopatnya lebih mendominasi.


“Aku


masih ingat, dulu kamu akan menahanku kalau aku mau bunuh orang didepan kamu. Kamu


nangis, suruh aku berhenti. Kamu bilang enggak mau lihat aku jadi pembunuh.


Kamu lebih memilih mengumpankan dirimu untuk menekan monster yang ada dalam


diriku.” Jordan tersenyum getir. Ada keheningan cukup lama. “Karna itu, kalau


kamu masih tidak ingin melihatku membunuh di depanmu… bangun dan cegah aku


lagi. Aku menunggumu…”


Jordan


menyudahi ucapannya dengan kecupan di bibir dingin Lionara, kemudian menatap


orang-orang disekitarnya dengan sorot tajam. “Sebelum wanita itu mati, jangan


ada yang berani-berani mendekat. Karna aku pun tidak akan segan melenyapkan


kalian jika menghalangiku.”


“Jordan,


jangan lakukan itu, son.” Josep menatap sedih sang putra


Pria


itu menulikan telinganya. Berjalan kian mendekati Rebecca yang masih meringis


kesakitan. Lalu…


DUGH!!


Dengan


keras Jordan menendang perut Rebecca hingga terpelanting ke dinding. Wanita itu


meraung kesakitan, menatap Jordan memelas takut. Tapi dengan gilanya Jordan


malah meraih tongkat walkernya disisi ranjang Lionara, kemudian melempar ke


atas, menangkapnya lalu memukulkan tepat pada kepala Rebecca begitu keras.


Wanita itu tidak sempat menghindar, membiarkan tongkat besi Jordan menghantam kepala


dan punggunya berkali-kali. Ia meringkuk, merasakan sakit teramat pada bagian


yang sudah mengeluarkan darah segar. Samar, Rebecca melihat Jordan berjongkok


dan menatapnya penuh kebencian. Dengan sengaja kaki panjang Jordan menginjak


keras luka tembak pada betis Rebecca.


“ARRGGHHHH!!!!”


“Aku


akan memperlambat proses kematianmu, agar kamu merasakan bisa sakit terlebih


dahulu sebelum menghembuskan nafas terakhir.”


Tanpa


pria itu berbicara seperti itu pun, Rebecca sudah kesulitan untuk bernapas. Dia


tidak melawan saat Jordan menyeret tubuhnya dengan tidak berperasaan menuju


balkon. Pria itu bahkan masih memiliki tenaga untuk membunuh dirinya dalam


kondisi cacat sekalipun.


Sampai


akhirnya ia merasa Jordan mengangkat tubuhnya duduk di atas pembatas balkon


itu. Rebecca memandang Jordan yang sudah tersenyum manis. Air matanya jatuh,


tidak adakah seseorang di dunia ini yang menginginkannya untuk hidup?


“Ada


permintaan terakhir?”


Rebecca


tidak menjawab. Ia menoleh kebelakang, memandang permukaan dataran yang begitu


jauh dan tinggi.


Pasti


akan menyakitkan jika terjatuh ke bawah sana.


Tidak


apa-apa. sakitnya mungkin hanya untuk sementara, dia akan terbiasa dan rasa


sakit itu akan membuat dirinya pergi untuk selamanya.


Jordan


berdecak karena wanita itu seperti sudah rela mati. Ia baru akan mendorong


Rebecca, tapi Evan lebih dulu menarik kuat kerah baju pasiennya hingga membuat kedua


orang itu terjungkir balik ke belakang.


“APA


YANG KAU LAKUKAN?! KAU MAU MATI JUGA, HAH??” suara Jordan bergema—menyorot


“Lalu


kau sendiri apa yang kau lakukan?!” Evan balas berteriak “Kau pikir Lionara


tidak sedih melihatmu seperti ini??!”


“Kalau


dia sedih, suruh dia bangun dan menahanku lagi seperti dulu!!”


Evan


terdiam. Lidahnya terasa keluh untuk membalas.


Tidak


mau membuang waktu, Jordan mengangkat kasar tubuh Rebecca dan bersiap kembali


mendorong wanita itu, tapi suara dari alat pemicu kehidupan Lionara tiba-tiba saja


berbunyi nyaring—layar pemantau elektrokardiograf memunculkan irama jantung Lionara yang kembali.


Terdiam.


Tubuh Jordan menegang—masih belum berbalik, tapi telinganya bisa mendengar


dengan jelas bunyi dari alat itu. Disusul oleh teriakan histeris Leon dan yang


lainnya, memanggil nama istrinya. Jordan juga mendengar derap langkah


terburu-buru dan ucapan samar tim dokter yang kembali mengelilingi ranjang


Lionara—mengecek letak vital yang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya.


Jordan


masih membeku di tempat, ia belum berani berbalik—takut jika ini hanya sekedar mimpi


atau halusinasinya saja.


“Jo,“


Evan menyentuh pundak Jordan yang begitu tegang. Ia meremas, membawa tubuh


Jordan berbalik. “Lepaskan dia… kau berhasil. Lion-mu telah kembali.” mata Evan


berkaca-kaca


“A-apa?”


tercekat, Jordan mengerjap seperti orang linglung. Tapi masih tanpa perasaan,


tangannya menghempaskan tubuh tak berdaya Rebecca ke lantai.


“Ya,


Tuhan. Dia… kembali. Nyonya Lionara bernapas sekarang!” Bukan Evan, tapi itu


suara dokter. “Lionara, nyonya Lionara...,” Dokter terus melakukan beberapa


pertolongan utama, panik, mereka berusaha membuat Lionara bisa sadar


sepenuhnya.


Dan


tak lama, perlahan, kelopak mata Lionara terbuka. Napasnya terdengar sangat


pelan, kosong dan kebingungan.


“Lionara,


Lionara, atur napas kamu. Kami akan segera membawamu ke ruangan ICU untuk


ditangani!” Dokter berusaha memberikan instruksi.


“Jo…”


lirih Lionara kepayahan. Matanya terasa berat, tenggorokannya sakit, disusul


bulir bening yang mengalir.


Dokter


menoleh, menatap Jordan yang masih tampak syok. “Pak Jordan, kemarilah… istri


anda mencari anda,” beritahunya dengan nada haru. Mengingat betapa hanya pria


itulah yang sejak awal bersikeras mengatakan jika istrinya hanya sedang tidur.


Kini


semua mata memandang pada Jordan. Tatapan lega, bahagia dan haru terpancar


jelas di wajah mereka. Disebelahnya, Evan mengangguk seolah memberikan


keyakinan pada Jordan kalau yang di lihatnya sekarang bukanlah mimpi.


Berdebar,


Jordan menyeret langkahnya yang terasa berat. Hanya sepuluh langkah untuk


mencapai ranjang istrinya, tapi jarak itu seolah terasa sangat jauh.


“Sa-sayang…”


parau, tangan Jordan bergetar merangkum wajah kesayangannya. Tubuhnya yang semula dingin,


kini mulai menghangat. Air mata Jordan jatuh begitu saja saat bisa menatap


kembali manik hijau favoritnya tersebut. Ia terisak hebat disana.


“Ka-kamu


berdarah...” Lionara menatap sayu, tangannya terangkat—mencoba menggapai wajah


Jordan yang terciprat darah Rebecca.


Jordan


mengangguk, meraih tangan Lionara dan menautkan jemari mereka. “Iya, berdarah.


Karena itu aku perlu kamu untuk membersihkannya.” Jordan menciumi jemari


Lionara, sedang air matanya terus berjatuhan. “Kamu mau, kan?”


Hanya


di balas anggukan pelan oleh Lionara, sebelum akhirnya kembali menutup mata.


Dan hal itu sontak membuat Jordan kembali panik dengan debaran jantung saling


bertaluan kencang—rasanya ia seperti hampir mati.


Jangan lagi…


kumohon jangan lagi sayang…


“Dokter!“


“Jangan


kahwatir, Pak. Istri anda hanya tertidur biasa. Untuk saat ini beliau belum bisa


berinteraksi lebih banyak, karena alat vital pada tubuhnya masih sangat lemah


dan belum berfungsi sepenuhnya. Butuh waktu agar tubuhnya dapat merespon dengan


baik.”


“Tapi


dok-,”


“Karna


itu, menunggu nyonya sadar kembali, bagaimana kalau anda tidur juga?” Dokter


tersenyum hangat dan saat itu juga satu suntikan mendarat di lengan Jordan.


Jordan menatap dokter marah sebelum mata itu tertutup.


Aldrich


dengan sigap menangkap tubuh Jordan yang hampir jatuh menimpah Lionara.


“Itu hanya suntikkan obat tidur. Pak Jordan perlu bad rest total demi memulihkan tenaganya yang telah terkuras


banyak. Silahkan bawa beliau ke kamarnya kembali” terang sang dokter yang


dibalas anggukan oleh yang lain.


****


LIMA HARI KEMUDIAN


“Enggak, jangan… jangan…”


“Sayang, tolong…


jangan tinggalkan aku… Nggak…”


“Jangan… Lion,  jangan,”


Bibirnya terus mengingau, wajahnya memucat, dengan dahi dipenuhi butir keringat dan tangan meremas kuat selimut. Jordan merintih, ketakutan, tubuhnya bergetar hebat sebelum memaksakan diri untuk terlepas dari lilitan kegelapan pekat nan menyesakkan di alam mimpinya.


Jordan


terduduk di atas ranjang dengan nafas memburu kasar, netra diliputi kesedihan


luar biasa ketika keduanya terbuka. Debar jantung masih bertaluan nyaring—saat


mengingat jelas bagaimana Lionara mengucapkan kalimat perpisahan yang begitu


menyakitinya.


Dan


tanpa terasa, setetes air mata meluncur jatuh, dadanya terasa sesak sekali,


seperti diimpit ribuan kilo besi.


“Lionara…”


Bibirnya


menggumamkan nama itu, dan seperti hantaman yang menyadarkan—tubuh Jordan


langsung berubah tegang. Ingatan sebelum ia menutup mata bergentayangan di


kepala.


“Permisi,


Pak Jordan. Anda sudah bangun rupanya,” seorang suster datang  menyapa. “saya datang untuk menggantikan


botol infus anda.”


Jordan


mengabaikan. Dengan gerakan kasar ia menyingkirkan selimut dan akan mencabut


infus ditangannya sebelum suara pekikan suster itu menahannya.


“Anda


mau kemana? Tubuh anda masih memerlukan istirahat.”


“Diam.


Aku harus melihat istriku!” Jordan berucap dingin


“Istri?”


beo suster dengan kening berkerut “Bukankah nyonya sedang tidur disamping anda?”


Dia menunjuk pada sosok disebelah Jordan.


Terdiam,


Jordan mengikuti arah tunjuk suster.


Deg!


Jantung


Jordan mencelos. Menatap nanar sesosok wanita yang sejak tadi tidak ia sadari


terbaring disana. Lionnya. Istrinya. Sedang tertidur lelap dengan raut yang


tampak damai, sama sekali tidak terusik. Wajahnya sudah tidak sepucat seperti


saat terakhir kali dia melihatnya. Masker oksigennya juga sudah dilepas.


Dadanya


bertaluan nyaring saat kedua mata itu perlahan terbuka dan manik hijau favoritnya


kini sedang menatapnya dengan sempurna.


“Jo…,”


Lionara menggumam pelan, nyaris tidak terdengar. Bibir itu bergerak sangat


halus—serupa bisikan.


To be continued


Bagaimana? uda lega kan? Hehee...


See youuuu


...Lionara Florentine...



...Jordan Christoper...



...