
“Kamu
tetap enggak mau bangun, sayang?” Jordan berbisik serak—wajahnya masih terbenam
di ceruk leher Lionara, setelah tangisan pilunya mereda.
Hening.
Perlahan, Jordan menegapkan tubuhnya. Melepaskan tubuh kaku Lionara dan kembali
membaringkannya di ranjang. Ia tersenyum hambar, melangkah mundur dengan tubuh
gontai.
“Baik,
kalau begitu. Aku enggak akan maksa kamu lagi. Tapi, sebagai balasannya…”
Ada
jeda. Semua orang disana menatap was-was pada sorot aneh Jordan. Tatapan pria
itu kosong. Tidak ada lagi kesedihan yang tampak disana seperti beberapa saat
lalu. Dan itu jelas ditangkap tidak baik oleh Aldrich dan Evan yang tentunya sangat
mengenal sifat Jordan. Tetapi, keduanya memilih masih diam—menunggu kegilaan
apa lagi yang akan dilakukan sahabat mereka itu. Jordan ketika waras saja masih
sulit dikendalikan, apalagi kini pria itu baru saja kehilangan belahan jiwanya.
“Aku
akan memberikan sedikit pertunjukan yang amat menarik untukmu.” lanjut Jordan,
masih dengan senyum yang sama. “Anggaplah sebagai hadia perpisahan terakhir
dariku sebelum kemudian aku ikut menyusulmu ke dunia dimana pun kamu berada.”
“Jangan
pernah melakukan apapun yang ada di kepalamu sekarang, Jo.” peringat Aldrich,
cukup tahu apa yang akan dilakukan Jordan selanjutnya.
“Sam,”
panggil Jordan, mengabaikan peringatan Aldrich “bawa dia masuk.”
Sam
sudah pasrah. Ia hanya mengangguk, lalu pergi keluar. Selebihnya yang ada
disana saling melempar pandang—mencoba menerka-nerka apa yang akan dilakukan
oleh Jordan. Namun tak lama kemudian, dari arah pintu Sam muncul bersama
Rebecca yang terus berteriak meronta dalam kungkungan tubuh Sam.
“Lepaskan
aku, brengsek!!” maki Rebecca keras, kakinya yang di perban masih terasa sangat
sakit akibat tembakan Josep.
Pria
itu terus menyeret Rebecca dan berhenti tepat di belakang Jordan. “Tuan,” gumam
Sam.
Jordan
berbalik. Iris birunya yang sempat kosong seketika berkilat mengerikan saat
bertatapan dengan Rebecca yang tampak kacau.
Jordan
tersenyum manis, “Hai Rebecca,” santai, tapi bagai lonceng kematian untuk
seorang Rebecca. Refleks, wanita itu mundur—kengerian jelas terpancar di wajah
pucatnya.
“Bagaimana?
Apa sudah merasa lebih baik sekarang?” Jordan memiringkan kepala, bertanya
dengan ketenangan yang luar biasa.
Rebecca
bergeming. Tubuhnya kian gemetar saat Jordan melangkah, mengikis jarak diantara
mereka. Tangan pria itu mengelus wajah pucat pasi Rebecca seringan bulu.
“Sudah
puas bermainnya, hm?” seringai gelap terpatri di bibirnya “Kuucapkan selamat kalau
begitu atas keberhasilanmu membuat istriku akhirnya tidur dengan damai selamanya.
Ingin merayakannya?”
Terdiam,
Rebecca menelan ludahnya susah payah. Sungguh, ia tidak pernah berhadapan
dengan sisi gelap Jordan seperti ini. Pria itu berlipat kali lebih menakutkan
layaknya pria berdarah dingin. Tetapi Rebecca berusaha menguatkan hatinya.
Memberanikan diri menatap iris Jordan.
“Iya,
aku sangat puas.” Rebecca berucap lantang “Aku senang akhirnya perempuan sialan
itu akhirnya mati ditanganku!”
Didetik
setelah Rebecca menyelesaikan kalimatnya, tanpa aba-aba satu tamparan sudah
hinggap di pipinya. Bukan tamparan seorang wanita namun tamparan pria di pipi lembut wanita hingga
membuat tulang retak seketika. Rebecca jatuh tersungkur ke lantai.
Orang-orang
disana tersentak kaget. Aldrich dan Evan hendak maju tapi…
“Tetap
disana atau kalian kubuat mati juga!” dingin, Jordan mengucapkan ancaman tidak
manusiawinya.
Semua
orang yang mendengar ancaman itu membeku. Tidak ada keraguan, Jordan mengatakan
itu penuh penekanan.
“Jordan-,”
Pria
itu mengabaikan. Ia kembali mendekati tubuh tak bernyawa Lionara.
“Ini
pertunjukan terakhirnya, sayang.” Jordan berkata lembut “Tenang saja, sebelum
aku menyusulmu, setidaknya wanita yang memisahkan kita di dunia ini, harus mati
terlebih dahulu, bukan?” tambahnya seraya menyematkan ciuman di kening Lionara
“Tidak,
Nak. Bukan begini caranya,” parau, Rikkard menggeleng penuh permohonan.
Rikkard
jelas tahu, Jordan telah kehilangan akal sehatnya untuk saat ini. Jiwa
psikopatnya lebih mendominasi.
“Aku
masih ingat, dulu kamu akan menahanku kalau aku mau bunuh orang didepan kamu. Kamu
nangis, suruh aku berhenti. Kamu bilang enggak mau lihat aku jadi pembunuh.
Kamu lebih memilih mengumpankan dirimu untuk menekan monster yang ada dalam
diriku.” Jordan tersenyum getir. Ada keheningan cukup lama. “Karna itu, kalau
kamu masih tidak ingin melihatku membunuh di depanmu… bangun dan cegah aku
lagi. Aku menunggumu…”
Jordan
menyudahi ucapannya dengan kecupan di bibir dingin Lionara, kemudian menatap
orang-orang disekitarnya dengan sorot tajam. “Sebelum wanita itu mati, jangan
ada yang berani-berani mendekat. Karna aku pun tidak akan segan melenyapkan
kalian jika menghalangiku.”
“Jordan,
jangan lakukan itu, son.” Josep menatap sedih sang putra
Pria
itu menulikan telinganya. Berjalan kian mendekati Rebecca yang masih meringis
kesakitan. Lalu…
DUGH!!
Dengan
keras Jordan menendang perut Rebecca hingga terpelanting ke dinding. Wanita itu
meraung kesakitan, menatap Jordan memelas takut. Tapi dengan gilanya Jordan
malah meraih tongkat walkernya disisi ranjang Lionara, kemudian melempar ke
atas, menangkapnya lalu memukulkan tepat pada kepala Rebecca begitu keras.
Wanita itu tidak sempat menghindar, membiarkan tongkat besi Jordan menghantam kepala
dan punggunya berkali-kali. Ia meringkuk, merasakan sakit teramat pada bagian
yang sudah mengeluarkan darah segar. Samar, Rebecca melihat Jordan berjongkok
dan menatapnya penuh kebencian. Dengan sengaja kaki panjang Jordan menginjak
keras luka tembak pada betis Rebecca.
“ARRGGHHHH!!!!”
“Aku
akan memperlambat proses kematianmu, agar kamu merasakan bisa sakit terlebih
dahulu sebelum menghembuskan nafas terakhir.”
Tanpa
pria itu berbicara seperti itu pun, Rebecca sudah kesulitan untuk bernapas. Dia
tidak melawan saat Jordan menyeret tubuhnya dengan tidak berperasaan menuju
balkon. Pria itu bahkan masih memiliki tenaga untuk membunuh dirinya dalam
kondisi cacat sekalipun.
Sampai
akhirnya ia merasa Jordan mengangkat tubuhnya duduk di atas pembatas balkon
itu. Rebecca memandang Jordan yang sudah tersenyum manis. Air matanya jatuh,
tidak adakah seseorang di dunia ini yang menginginkannya untuk hidup?
“Ada
permintaan terakhir?”
Rebecca
tidak menjawab. Ia menoleh kebelakang, memandang permukaan dataran yang begitu
jauh dan tinggi.
Pasti
akan menyakitkan jika terjatuh ke bawah sana.
Tidak
apa-apa. sakitnya mungkin hanya untuk sementara, dia akan terbiasa dan rasa
sakit itu akan membuat dirinya pergi untuk selamanya.
Jordan
berdecak karena wanita itu seperti sudah rela mati. Ia baru akan mendorong
Rebecca, tapi Evan lebih dulu menarik kuat kerah baju pasiennya hingga membuat kedua
orang itu terjungkir balik ke belakang.
“APA
YANG KAU LAKUKAN?! KAU MAU MATI JUGA, HAH??” suara Jordan bergema—menyorot
“Lalu
kau sendiri apa yang kau lakukan?!” Evan balas berteriak “Kau pikir Lionara
tidak sedih melihatmu seperti ini??!”
“Kalau
dia sedih, suruh dia bangun dan menahanku lagi seperti dulu!!”
Evan
terdiam. Lidahnya terasa keluh untuk membalas.
Tidak
mau membuang waktu, Jordan mengangkat kasar tubuh Rebecca dan bersiap kembali
mendorong wanita itu, tapi suara dari alat pemicu kehidupan Lionara tiba-tiba saja
berbunyi nyaring—layar pemantau elektrokardiograf memunculkan irama jantung Lionara yang kembali.
Terdiam.
Tubuh Jordan menegang—masih belum berbalik, tapi telinganya bisa mendengar
dengan jelas bunyi dari alat itu. Disusul oleh teriakan histeris Leon dan yang
lainnya, memanggil nama istrinya. Jordan juga mendengar derap langkah
terburu-buru dan ucapan samar tim dokter yang kembali mengelilingi ranjang
Lionara—mengecek letak vital yang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya.
Jordan
masih membeku di tempat, ia belum berani berbalik—takut jika ini hanya sekedar mimpi
atau halusinasinya saja.
“Jo,“
Evan menyentuh pundak Jordan yang begitu tegang. Ia meremas, membawa tubuh
Jordan berbalik. “Lepaskan dia… kau berhasil. Lion-mu telah kembali.” mata Evan
berkaca-kaca
“A-apa?”
tercekat, Jordan mengerjap seperti orang linglung. Tapi masih tanpa perasaan,
tangannya menghempaskan tubuh tak berdaya Rebecca ke lantai.
“Ya,
Tuhan. Dia… kembali. Nyonya Lionara bernapas sekarang!” Bukan Evan, tapi itu
suara dokter. “Lionara, nyonya Lionara...,” Dokter terus melakukan beberapa
pertolongan utama, panik, mereka berusaha membuat Lionara bisa sadar
sepenuhnya.
Dan
tak lama, perlahan, kelopak mata Lionara terbuka. Napasnya terdengar sangat
pelan, kosong dan kebingungan.
“Lionara,
Lionara, atur napas kamu. Kami akan segera membawamu ke ruangan ICU untuk
ditangani!” Dokter berusaha memberikan instruksi.
“Jo…”
lirih Lionara kepayahan. Matanya terasa berat, tenggorokannya sakit, disusul
bulir bening yang mengalir.
Dokter
menoleh, menatap Jordan yang masih tampak syok. “Pak Jordan, kemarilah… istri
anda mencari anda,” beritahunya dengan nada haru. Mengingat betapa hanya pria
itulah yang sejak awal bersikeras mengatakan jika istrinya hanya sedang tidur.
Kini
semua mata memandang pada Jordan. Tatapan lega, bahagia dan haru terpancar
jelas di wajah mereka. Disebelahnya, Evan mengangguk seolah memberikan
keyakinan pada Jordan kalau yang di lihatnya sekarang bukanlah mimpi.
Berdebar,
Jordan menyeret langkahnya yang terasa berat. Hanya sepuluh langkah untuk
mencapai ranjang istrinya, tapi jarak itu seolah terasa sangat jauh.
“Sa-sayang…”
parau, tangan Jordan bergetar merangkum wajah kesayangannya. Tubuhnya yang semula dingin,
kini mulai menghangat. Air mata Jordan jatuh begitu saja saat bisa menatap
kembali manik hijau favoritnya tersebut. Ia terisak hebat disana.
“Ka-kamu
berdarah...” Lionara menatap sayu, tangannya terangkat—mencoba menggapai wajah
Jordan yang terciprat darah Rebecca.
Jordan
mengangguk, meraih tangan Lionara dan menautkan jemari mereka. “Iya, berdarah.
Karena itu aku perlu kamu untuk membersihkannya.” Jordan menciumi jemari
Lionara, sedang air matanya terus berjatuhan. “Kamu mau, kan?”
Hanya
di balas anggukan pelan oleh Lionara, sebelum akhirnya kembali menutup mata.
Dan hal itu sontak membuat Jordan kembali panik dengan debaran jantung saling
bertaluan kencang—rasanya ia seperti hampir mati.
Jangan lagi…
kumohon jangan lagi sayang…
“Dokter!“
“Jangan
kahwatir, Pak. Istri anda hanya tertidur biasa. Untuk saat ini beliau belum bisa
berinteraksi lebih banyak, karena alat vital pada tubuhnya masih sangat lemah
dan belum berfungsi sepenuhnya. Butuh waktu agar tubuhnya dapat merespon dengan
baik.”
“Tapi
dok-,”
“Karna
itu, menunggu nyonya sadar kembali, bagaimana kalau anda tidur juga?” Dokter
tersenyum hangat dan saat itu juga satu suntikan mendarat di lengan Jordan.
Jordan menatap dokter marah sebelum mata itu tertutup.
Aldrich
dengan sigap menangkap tubuh Jordan yang hampir jatuh menimpah Lionara.
“Itu hanya suntikkan obat tidur. Pak Jordan perlu bad rest total demi memulihkan tenaganya yang telah terkuras
banyak. Silahkan bawa beliau ke kamarnya kembali” terang sang dokter yang
dibalas anggukan oleh yang lain.
****
LIMA HARI KEMUDIAN
“Enggak, jangan… jangan…”
“Sayang, tolong…
jangan tinggalkan aku… Nggak…”
“Jangan… Lion, jangan,”
Bibirnya terus mengingau, wajahnya memucat, dengan dahi dipenuhi butir keringat dan tangan meremas kuat selimut. Jordan merintih, ketakutan, tubuhnya bergetar hebat sebelum memaksakan diri untuk terlepas dari lilitan kegelapan pekat nan menyesakkan di alam mimpinya.
Jordan
terduduk di atas ranjang dengan nafas memburu kasar, netra diliputi kesedihan
luar biasa ketika keduanya terbuka. Debar jantung masih bertaluan nyaring—saat
mengingat jelas bagaimana Lionara mengucapkan kalimat perpisahan yang begitu
menyakitinya.
Dan
tanpa terasa, setetes air mata meluncur jatuh, dadanya terasa sesak sekali,
seperti diimpit ribuan kilo besi.
“Lionara…”
Bibirnya
menggumamkan nama itu, dan seperti hantaman yang menyadarkan—tubuh Jordan
langsung berubah tegang. Ingatan sebelum ia menutup mata bergentayangan di
kepala.
“Permisi,
Pak Jordan. Anda sudah bangun rupanya,” seorang suster datang menyapa. “saya datang untuk menggantikan
botol infus anda.”
Jordan
mengabaikan. Dengan gerakan kasar ia menyingkirkan selimut dan akan mencabut
infus ditangannya sebelum suara pekikan suster itu menahannya.
“Anda
mau kemana? Tubuh anda masih memerlukan istirahat.”
“Diam.
Aku harus melihat istriku!” Jordan berucap dingin
“Istri?”
beo suster dengan kening berkerut “Bukankah nyonya sedang tidur disamping anda?”
Dia menunjuk pada sosok disebelah Jordan.
Terdiam,
Jordan mengikuti arah tunjuk suster.
Deg!
Jantung
Jordan mencelos. Menatap nanar sesosok wanita yang sejak tadi tidak ia sadari
terbaring disana. Lionnya. Istrinya. Sedang tertidur lelap dengan raut yang
tampak damai, sama sekali tidak terusik. Wajahnya sudah tidak sepucat seperti
saat terakhir kali dia melihatnya. Masker oksigennya juga sudah dilepas.
Dadanya
bertaluan nyaring saat kedua mata itu perlahan terbuka dan manik hijau favoritnya
kini sedang menatapnya dengan sempurna.
“Jo…,”
Lionara menggumam pelan, nyaris tidak terdengar. Bibir itu bergerak sangat
halus—serupa bisikan.
To be continued
Bagaimana? uda lega kan? Hehee...
See youuuu
...Lionara Florentine...
...Jordan Christoper...
...