JORDAN

JORDAN
Chapter 31



Love yahhh


.


.


Dengan


tubuh gemetar dan mata yang bengkak, Lionara keluar dari kamar mandi. Tak ada


Jordan di kamar itu. Mungkin malam ini Jordan tidak akan tidur sekamar


dengannya, mengingat bagaimana hebatnya kemarahan lelaki itu padanya. Lionara


duduk ditepi ranjang setelah  mengganti


pakaian dengan piyama tidur. Wajahnya menegadah ke langit-langit kamar saat


lagi-lagi bulir bening itu kembali mengalir dari sudut matanya.


Lionara


tidak menyangka kalau dihari jadinya ini berakhir kacau. SEmua kekacauan karena


akal pendeknya membuat ia terus dipenuhi rasa bersalah mendalam. Ketulusannya


menolong Daniel disalah artikan oleh Jordan—beranggapan jika dirinya menjalin


kasih dengan Daniel di belakangnya. Suaminya itu bahkan menyamakan Lionara


dengan Ayahnya yang telah menghianati ibunya. Padahal tidak pernah sekalipun


terlintas dipikirannya untuk menghianati lelaki itu. Lionara bahkan sangat menghargai


pernikahan mereka, meskipun dimulai dengan cara yang salah.


Tapi


biar bagaimana pun kejadian ini adalah kesalahannya juga. Benar kata Jordan,


tidak seharusnya dia yang menolong Daniel, sedang disana masih banyak orang


yang siap dimintai pertolongan—hanya saja, hatinya tadi benar-benar tidak tega


melihat Daniel dalam kondisi tersebut.


Lionara


menghela napas untuk menetralisir perasaannya. Sudahlah, mungkin besok dia akan


mencoba berbicara dan meminta maaf kembali pada Jordan saat lelaki itu sudah


merasa tenang. Yah, semoga besok Jordan mau mendengarkan penjelasannya.


Lionara


menaikkan kakinya ke atas kasur lalu menarik selimut hendak tidur, tapi tanpa


sengaja matanya menangkap dua benda berwarna pink yang terletak di atas sofa.


Keningnya mengerut dalam saat terakhir kali keluar kamar pagi tadi, ia ingat


kedua benda itu tidak ada disana. Penasaran, ia pun turun lalu berjalan


mendekati benda tersebut.


Saat


sampai, Lionara berjongkok dan dapat melihat dengan jelas jika itu adalah kumpulan


roses pink yang dirajut dalam bentuk boneka dan setangkai roses pink di dalam


wadah kaca. Sangat cantik. Tidak hanya itu, di dalam pelukan boneka itu juga


ada sebuah kotak hitam kecil dengan kartu ucapan diatasnya. Lionara mengambil


kartu dan kotak hitam itu—membuka kotak itu lebih dahulu dan menemukan isinya


adalah sebuah gold barcelet yang diatasnya terukir kata Dad di ikuti simbol hati. Kemudian ia membaca isi dalam kartu


ucapan tersebut.




Do you know Mommy,


actually what special gift I have for you on this special day? I will place 24


hot kisses on your lips to celebrate your 24th birthday. But, the problem is,


your lips may end up burning up before I plant the 24th kiss. Happy birthday,


my sweet.


Your lucky husband.


Jordan.


Tangan kiri Lionara membekap mulutnya. Pundaknya naik turun, diikuti


isakan kecil yang lolos dari mulutnya. Nyatanya, ketiga benda yang ada padanya


sekarang ini adalah hadia ulang tahun yang telah dipersiapkan oleh Jordan


untuknya.


****


Sementara


itu, diruang kerja dengan minim pencahayaan, Jordan terus menegak wine dari


botolnya. Dan itu adalah botol kelima yang telah ia habiskan dalam waktu satu


jam. Jordan tidak pernah mabuk di dekat orang lain. Tapi, dia akan minum banyak


jika sendirian saat hati dan pikirannya tengah kacau. Dan kekacauannya saat ini


disebabkan oleh wanita yang ia cintai. Wanita yang tidak pernah menyambut


perasaan cinta yang selalu tumbuh dan berakar di setiap detik kebersamaan


mereka. Terbukti, dari balasan Lionara yang masih saja bertemu dengan Daniel di


belakangnya secara diam-diam— dan kali ini pertemuan itu sampai ke apartemen


pribadi Daniel sehingga membuat hatinya terbakar amarah.


“Arrghhhh!!!


Brengsekkkk!!” teriak Jordan, membanding kuat botol bir ditangannya hingga


pecah. Napasnya memburu, wajah dan matanya memerah dengan urat-urat leher yang


menonjol akibat kemarahan yang tak terpeta. Sesak di dadanya kian merajalela


setiap kali mengingat hal itu.


Pengkhianatan


adalah hal yang sulit dimaafkan Jordan. Dulu, Ayahnya yang mengkhianti ibunya


secara terang-terangan dan sekarang Lionara melakukan hal yang sama padanya.


Sekalipun untuk kasus Lionara, Jordan masih tidak terlalu yakin jika istrinya itu


benar-benar mengkhianatinya. Tapi, tetap saja hatinya sangat kecewa saat dengan


mudahnya Lionara melupakan janji mereka dan malah pergi bersama Daniel.


Tidakkah perempuan itu tahu seberapa antusias dan tak sabarnya Jordan seharian


ini dalam mempersiapkan supprise party untuknya, sampai-sampai mengabaikan pertemuan


penting dengan para pemegang saham.


Sempoyongan


Jordan melangkah mendekati meja kerjanya. Ia duduk disana lalu meraih bingkai


foto seorang wanita cantik dengan bayi tampan yang sedang tertidur dalam


pangkuannya. Sosok itu adalah sang Mama dan dirinya ketika bayi.  Tangan Jordan membelai foto itu dengan


perasaan remuk redam.


“Seharusnya


waktu itu kau tidak menyelamatkanku. Lihatlah, betapa menyedihkannya hidup


putramu ini sekarang.” racaunya parau “Kupikir nasibku tak akan sesial dirimu,


tapi nyatanya aku lebih mengenaskan.” Jordan tertawa hambar “Tapi… tenang saja


Ma, kali ini aku tidak akan melepaskan apa yang telah menjadi milikku. Akan


kupastikan anakku tidak akan pernah kehilangan keutuhan kedua orang tuanya. Dia


harus menjadi anak yang paling berbahagia, tidak kesepian—sepertiku.”


Bagi


Jordan, Grace adalah satu-satunya yang ia punya, karena ia tak cukup merasakan


kehangatan kasih sayang dari seorang Ayah. Sejak kecil, Grace adalah orang yang


selalu menjadi rumahnya. Memarahinya, menyayangi, menghapus air mata,


menyambutnya di rumah dalam keadaan suka maupun duka.


Kepala


Jordan tertunduk pilu di meja. Dalam kegelapan ruang kerjanya, pria itu


membiarkan air matanya menetes deras tanpa suara. Sudah lama sekali ia tidak


menangis. Mengasihani dirinya sendiri kala mengingat sang Mama diiringi sesak


yang membucah dalam dada akibat rasa kecewanya terhadap Lionara.


Kedua


tangannya menggenggam erat foto Grace. Kesedihan dan rasa kehilangan yang ia


tahan selama bertahun-tahun tumpah begitu saja. Tubuhnya berguncang. Tangisnya


tak bersuara. Namun pilu akan sangat terasa bagi siapapun yang melihatnya.


****


Lionara


menata sarapan yang telah ia masak tadi dari rumah di atas meja pantry kantor.


Setelahnya ia mengahmpiri mesin pembuat kopi, lalu mengambil biji kopi dari rak


yang ada di atas kepalanya. Ia menunggu mesin memproses kopi tersebut.


Saat


bangun tadi, Jordan sudah tidak ada dirumah. Pria itu berangkat ke kantor lebih


awal dari biasanya, dan Lionara tahu penyebabnya. Jordan sedang menghindarinya.


Kemarahan pria itu masih belum surut. Tapi Lionara tidak bisa hanya tinggal


diam saja tanpa melakukan sesuatu untuk membuat hubungan mereka kembali membaik.


Oleh karena itu, sebelum berangkat kerja, ia lebih dahulu memasakkan sarapan


untuk Jordan dan akan ia berikan nanti bersama kopi yang sedang ia buat


sekarang ini.


“Hai,


Lionara. Mantan upik abu yang sekarang telah berubah menjadi Cinderella. Bagaimana


ulang tahunmu kemarin? Apa hadia dariku membuatmu terkesan? Bagaimana reaksi


Jordan saat melihat istrinya kedapatan sedang merayakan ulang tahun bersama


mantan kekasih?”


Suara


sinis itu—Lionara sangat mengenalnya. Lionara mengepalkan tangannya. Memutar


tubuhnya menghadap Rebeca.


“Jadi


semua ini ulah kamu?”  Lionara menatap


tajam


“Oopss…


ketahuan deh,” Rebeca menutup mulut, tersenyum mengejek. “Aku cuma buat sedikit


surprise loh buat ulang tahun kamu.”


Lionara


tuamu menghancurkan hidupku?!”


Rebeca


tertawa sinis, “Tadinya aku sudah berhenti. Tapi, mendengar kamu menikah dengan


lelaki yang kucintai—itu membuatku sangat marah dan aku berjanji tidak akan


tinggal diam melihatmu hidup tenang dengan Jordan. Jordan adalah milikku. Dia


dari awal milikku. Perempuan menyedihkan sepertimu tidak pantas bersanding


dengannya.”


“Apa


kamu pikir Jordan mau dengan perempuan ular sepertimu?” decih Lionara “Wajahmu


cantik, matamu terlihat damai dan menyejukkan. Suaramu lembut dan sikapmu


terlihat begitu sempurna. Tapi dibalik itu semua ada iblis yang menguasaimu.


Hatimu busuk dan beracun.” Lanjut Lonara mencela dingin.


“Berani


sekali kamu berbicara seperti itu tentangku!” Rebeca menyentak, lalu maju ke


depan—melayangkan tamparan ke wajah Lionara, namun dengan cepat ditangkis oleh


Lionara.


“Jangan


sekali-kali tangan kotormu ini berani menyentuhku lagi.” Desis Lionara tak


kalah tajam, menyentak keras tangan Rebeca hingga wanita itu sedikit terhuyung


ke belakang.


 Mesin kopi di belakang Lionara berbunyi. Tanpa


mempedulikan Rebeca yang menatapnya berang, ia mengambil gelas kopi tersebut


lalu hendak meletakkannya ke nampan yang telah berisi makanan yang ia tata


tadi, sebelum pergerakannya dihentikan oleh ucapan merendahkan Rebeca.


“Kamu


pasti menjebak Jordan dengan tidur bersamanya, sehingga ia bersedia menikahimu,


bukan? Biasanya itulah cara yang dilakukan oleh perempuan rendahan sepertimu.


Pelacur.”


BYURRR


“ARGGGHH!!


APA YANG KAU LAKUKAN?!” Rebeca berteriak kesakitan akibat siraman kopi panas


dari Lionara.


“Itu


akibat mulut kurang ajarmu.” Lionara berucap dingin


“Kau—“


“Ada


apa ini?!”


Lionara


tersentak, tubuhnya membeku saat melihat Jordan dan Samuel di belakangnya sudah


berdiri disana menyaksikan mereka. Jordan datang di saat yang tidak


menguntungkan posisinya.


“Jordan…”


lirih Rebeca parau dengan mata berkaca-kaca.


Jordan


mendekat dan memegang lengan putih Rebeca yang memerah akibat cipratan air


panas tadi—baju Rebeca juga kotor.


“Tadi


aku hanya ingin membantu Nara membuatkan kopi, tapi entah kenapa dia marah, dan


bersikap kekanakan dengan menyiramku dengan kopi panas.” Rebeca berucap parau.


“Dia


berbohong, Jo.” Lionara menggeleng keras.


“Aku


tahu sejak awal Nara tidak suka melihatku. Terlebih saat aku mengatakan jika


dulu kita sangat dekat, dan itu membuatnya semakin tidak menyukaiku. Dia


berpikir aku akan merebutmu darinya.” Rebeca mulai terisak-isak.


“Jangan


percaya, Jo. Dia itu perempuan ular—“


“DIAM!”


Jordan membentak. “Jangan mengatakan apapun. Sekarang masuk ke ruanganku!”


Dengan


wajah menggelap, Jordan mengangkat tubuh Rebeca—menggendong ala bridal lalu


membawanya keluar dari sana dengan langkah panjang tanpa menghiraukan wajah


terluka Lionara yang masih mematung ditempatnya dengan kedua tangan yang terkepal


kuat.


****


Lionara


memperhatikan berkas-berkas di atas meja sofa dengan tatapan kosong. Kini ia


dan Jordan tengah duduk saling berhadap-hadapan dengan lelaki itu yang masih


sibuk menatap tab-nya. Sudah lima belas menit berlalu, namun keduanya hanya


saling diam.


Kejadian


Jordan yang melihatnya menyiram Rebeca dengan kopi panas semakin membuat


dirinya terlihat buruk di mata Jordan. Lagi-lagi lelaki itu hanya akan salah


paham padanya. Lionara menelan ludah. Ia mendongak, menatap nanar pada lelaki


di depannya yang memasang wajah datar dari balik kacamata bacanya.


“Jo-Jordan—“


“Mulai


besok dan seterusnya kamu tidak perlu datang ke kantor lagi.” tukas Jordan


dengan cepat dan ringan.


Lionara


membeku. Syok, tentu saja. Tidak menyangka jika kalimat pertama yang


dikeluarkan Jordan adalah pemberhentian dirinya.


“Kenapa?”


tanyanya nyaris tidak terdengar “Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi?”


Jordan


menggeleng. “Ini keputusanku. Aku mau mulai besok kamu tinggal dirumah dan


fokus pada kandunganmu.”


“Tapi


kenapa tiba-tiba? Aku tidak mau hanya dirumah terus.”


“Aku


sedang tidak ingin di bantah, Lionara.” Sanggah Jordan dengan pandangan tajam.


“Atau kamu takut karena tidak bisa bertemu dengan mantan kekasihmu lagi?”


lanjutnya menuding


“A-apa?”


Lionara tercekat. “Kenapa kamu tidak bisa percaya padaku? Sudah berapa kali


kukatakan aku tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Daniel. Kami hanya


berteman.”


“Kalau


begitu buktikan!” suara Jordan naik satu oktaf


Lionara


menghela napas untuk menetralisir perasaannya, berusaha mengeluarkan suaranya.


Sorot matanya tidak sedikit pun beralih dari Jordan.


“Kamu


hanya perlu menuruti semua perkataanku. Jangan membuatku kecewa lagi.” timpal


Jordan datar. Ia bangkit berdiri kemudian berjalan menuju meja kerjanya.


Lionara


maju, meraih lengan Jordan agar berbalik, tapi lelaki itu tetap bergeming. Mata


lionara berkaca-kaca.


“Aku


mohon maafkan aku. Semua yang kamu lihat kemarin tidak seperti yang kamu


simpulkan. Aku tidak pernah menghianatimu. Aku hanya menolong Daniel. Tidak


lebih.”


“Kemasi


barang-barangmu dan pulanglah.” Jordan menepis tangan Lionara “Aku tidak ingin


mendengar apapun lagi.”


“Jordan…”


parau Lionara. Tatapannya sayu, perasaannya tidak karuan.


Jordan


mengabaikan, ia meneruskan langkah dan duduk di di balik meja kerjanya.


“Satu


lagi, minta maaf pada Rebeca. Dia terluka karena ulah kekanakanmu.”


Lionara


menggeleng. Tatapan sayunya berubah tajam namun terdapat kegetiran di dalamnya.


“Untuk


yang satu itu aku tidak akan minta maaf. Dia yang bersalah.” tegas Lionara “Aku


pulang.” tambahnya lalu berbalik menuju pintu keluar. Tapi saat menyentuh knop


pintu, pergerakannya terhenti. Lionara menoleh dari balik bahu.


“Terima


kasih untuk hadia yang kamu berikan. Maaf sudah mengecewakanmu…” lirih Lionara dengan


nada getir sebelum keluar meninggalkan Jordan dalam kebisuannya.


**To be continued


IG: @rianitasitumorangg**