
Love yahhh
.
.
Dengan
tubuh gemetar dan mata yang bengkak, Lionara keluar dari kamar mandi. Tak ada
Jordan di kamar itu. Mungkin malam ini Jordan tidak akan tidur sekamar
dengannya, mengingat bagaimana hebatnya kemarahan lelaki itu padanya. Lionara
duduk ditepi ranjang setelah mengganti
pakaian dengan piyama tidur. Wajahnya menegadah ke langit-langit kamar saat
lagi-lagi bulir bening itu kembali mengalir dari sudut matanya.
Lionara
tidak menyangka kalau dihari jadinya ini berakhir kacau. SEmua kekacauan karena
akal pendeknya membuat ia terus dipenuhi rasa bersalah mendalam. Ketulusannya
menolong Daniel disalah artikan oleh Jordan—beranggapan jika dirinya menjalin
kasih dengan Daniel di belakangnya. Suaminya itu bahkan menyamakan Lionara
dengan Ayahnya yang telah menghianati ibunya. Padahal tidak pernah sekalipun
terlintas dipikirannya untuk menghianati lelaki itu. Lionara bahkan sangat menghargai
pernikahan mereka, meskipun dimulai dengan cara yang salah.
Tapi
biar bagaimana pun kejadian ini adalah kesalahannya juga. Benar kata Jordan,
tidak seharusnya dia yang menolong Daniel, sedang disana masih banyak orang
yang siap dimintai pertolongan—hanya saja, hatinya tadi benar-benar tidak tega
melihat Daniel dalam kondisi tersebut.
Lionara
menghela napas untuk menetralisir perasaannya. Sudahlah, mungkin besok dia akan
mencoba berbicara dan meminta maaf kembali pada Jordan saat lelaki itu sudah
merasa tenang. Yah, semoga besok Jordan mau mendengarkan penjelasannya.
Lionara
menaikkan kakinya ke atas kasur lalu menarik selimut hendak tidur, tapi tanpa
sengaja matanya menangkap dua benda berwarna pink yang terletak di atas sofa.
Keningnya mengerut dalam saat terakhir kali keluar kamar pagi tadi, ia ingat
kedua benda itu tidak ada disana. Penasaran, ia pun turun lalu berjalan
mendekati benda tersebut.
Saat
sampai, Lionara berjongkok dan dapat melihat dengan jelas jika itu adalah kumpulan
roses pink yang dirajut dalam bentuk boneka dan setangkai roses pink di dalam
wadah kaca. Sangat cantik. Tidak hanya itu, di dalam pelukan boneka itu juga
ada sebuah kotak hitam kecil dengan kartu ucapan diatasnya. Lionara mengambil
kartu dan kotak hitam itu—membuka kotak itu lebih dahulu dan menemukan isinya
adalah sebuah gold barcelet yang diatasnya terukir kata Dad di ikuti simbol hati. Kemudian ia membaca isi dalam kartu
ucapan tersebut.
Do you know Mommy,
actually what special gift I have for you on this special day? I will place 24
hot kisses on your lips to celebrate your 24th birthday. But, the problem is,
your lips may end up burning up before I plant the 24th kiss. Happy birthday,
my sweet.
Your lucky husband.
Jordan.
Tangan kiri Lionara membekap mulutnya. Pundaknya naik turun, diikuti
isakan kecil yang lolos dari mulutnya. Nyatanya, ketiga benda yang ada padanya
sekarang ini adalah hadia ulang tahun yang telah dipersiapkan oleh Jordan
untuknya.
****
Sementara
itu, diruang kerja dengan minim pencahayaan, Jordan terus menegak wine dari
botolnya. Dan itu adalah botol kelima yang telah ia habiskan dalam waktu satu
jam. Jordan tidak pernah mabuk di dekat orang lain. Tapi, dia akan minum banyak
jika sendirian saat hati dan pikirannya tengah kacau. Dan kekacauannya saat ini
disebabkan oleh wanita yang ia cintai. Wanita yang tidak pernah menyambut
perasaan cinta yang selalu tumbuh dan berakar di setiap detik kebersamaan
mereka. Terbukti, dari balasan Lionara yang masih saja bertemu dengan Daniel di
belakangnya secara diam-diam— dan kali ini pertemuan itu sampai ke apartemen
pribadi Daniel sehingga membuat hatinya terbakar amarah.
“Arrghhhh!!!
Brengsekkkk!!” teriak Jordan, membanding kuat botol bir ditangannya hingga
pecah. Napasnya memburu, wajah dan matanya memerah dengan urat-urat leher yang
menonjol akibat kemarahan yang tak terpeta. Sesak di dadanya kian merajalela
setiap kali mengingat hal itu.
Pengkhianatan
adalah hal yang sulit dimaafkan Jordan. Dulu, Ayahnya yang mengkhianti ibunya
secara terang-terangan dan sekarang Lionara melakukan hal yang sama padanya.
Sekalipun untuk kasus Lionara, Jordan masih tidak terlalu yakin jika istrinya itu
benar-benar mengkhianatinya. Tapi, tetap saja hatinya sangat kecewa saat dengan
mudahnya Lionara melupakan janji mereka dan malah pergi bersama Daniel.
Tidakkah perempuan itu tahu seberapa antusias dan tak sabarnya Jordan seharian
ini dalam mempersiapkan supprise party untuknya, sampai-sampai mengabaikan pertemuan
penting dengan para pemegang saham.
Sempoyongan
Jordan melangkah mendekati meja kerjanya. Ia duduk disana lalu meraih bingkai
foto seorang wanita cantik dengan bayi tampan yang sedang tertidur dalam
pangkuannya. Sosok itu adalah sang Mama dan dirinya ketika bayi. Tangan Jordan membelai foto itu dengan
perasaan remuk redam.
“Seharusnya
waktu itu kau tidak menyelamatkanku. Lihatlah, betapa menyedihkannya hidup
putramu ini sekarang.” racaunya parau “Kupikir nasibku tak akan sesial dirimu,
tapi nyatanya aku lebih mengenaskan.” Jordan tertawa hambar “Tapi… tenang saja
Ma, kali ini aku tidak akan melepaskan apa yang telah menjadi milikku. Akan
kupastikan anakku tidak akan pernah kehilangan keutuhan kedua orang tuanya. Dia
harus menjadi anak yang paling berbahagia, tidak kesepian—sepertiku.”
Bagi
Jordan, Grace adalah satu-satunya yang ia punya, karena ia tak cukup merasakan
kehangatan kasih sayang dari seorang Ayah. Sejak kecil, Grace adalah orang yang
selalu menjadi rumahnya. Memarahinya, menyayangi, menghapus air mata,
menyambutnya di rumah dalam keadaan suka maupun duka.
Kepala
Jordan tertunduk pilu di meja. Dalam kegelapan ruang kerjanya, pria itu
membiarkan air matanya menetes deras tanpa suara. Sudah lama sekali ia tidak
menangis. Mengasihani dirinya sendiri kala mengingat sang Mama diiringi sesak
yang membucah dalam dada akibat rasa kecewanya terhadap Lionara.
Kedua
tangannya menggenggam erat foto Grace. Kesedihan dan rasa kehilangan yang ia
tahan selama bertahun-tahun tumpah begitu saja. Tubuhnya berguncang. Tangisnya
tak bersuara. Namun pilu akan sangat terasa bagi siapapun yang melihatnya.
****
Lionara
menata sarapan yang telah ia masak tadi dari rumah di atas meja pantry kantor.
Setelahnya ia mengahmpiri mesin pembuat kopi, lalu mengambil biji kopi dari rak
yang ada di atas kepalanya. Ia menunggu mesin memproses kopi tersebut.
Saat
bangun tadi, Jordan sudah tidak ada dirumah. Pria itu berangkat ke kantor lebih
awal dari biasanya, dan Lionara tahu penyebabnya. Jordan sedang menghindarinya.
Kemarahan pria itu masih belum surut. Tapi Lionara tidak bisa hanya tinggal
diam saja tanpa melakukan sesuatu untuk membuat hubungan mereka kembali membaik.
Oleh karena itu, sebelum berangkat kerja, ia lebih dahulu memasakkan sarapan
untuk Jordan dan akan ia berikan nanti bersama kopi yang sedang ia buat
sekarang ini.
“Hai,
Lionara. Mantan upik abu yang sekarang telah berubah menjadi Cinderella. Bagaimana
ulang tahunmu kemarin? Apa hadia dariku membuatmu terkesan? Bagaimana reaksi
Jordan saat melihat istrinya kedapatan sedang merayakan ulang tahun bersama
mantan kekasih?”
Suara
sinis itu—Lionara sangat mengenalnya. Lionara mengepalkan tangannya. Memutar
tubuhnya menghadap Rebeca.
“Jadi
semua ini ulah kamu?” Lionara menatap
tajam
“Oopss…
ketahuan deh,” Rebeca menutup mulut, tersenyum mengejek. “Aku cuma buat sedikit
surprise loh buat ulang tahun kamu.”
Lionara
tuamu menghancurkan hidupku?!”
Rebeca
tertawa sinis, “Tadinya aku sudah berhenti. Tapi, mendengar kamu menikah dengan
lelaki yang kucintai—itu membuatku sangat marah dan aku berjanji tidak akan
tinggal diam melihatmu hidup tenang dengan Jordan. Jordan adalah milikku. Dia
dari awal milikku. Perempuan menyedihkan sepertimu tidak pantas bersanding
dengannya.”
“Apa
kamu pikir Jordan mau dengan perempuan ular sepertimu?” decih Lionara “Wajahmu
cantik, matamu terlihat damai dan menyejukkan. Suaramu lembut dan sikapmu
terlihat begitu sempurna. Tapi dibalik itu semua ada iblis yang menguasaimu.
Hatimu busuk dan beracun.” Lanjut Lonara mencela dingin.
“Berani
sekali kamu berbicara seperti itu tentangku!” Rebeca menyentak, lalu maju ke
depan—melayangkan tamparan ke wajah Lionara, namun dengan cepat ditangkis oleh
Lionara.
“Jangan
sekali-kali tangan kotormu ini berani menyentuhku lagi.” Desis Lionara tak
kalah tajam, menyentak keras tangan Rebeca hingga wanita itu sedikit terhuyung
ke belakang.
Mesin kopi di belakang Lionara berbunyi. Tanpa
mempedulikan Rebeca yang menatapnya berang, ia mengambil gelas kopi tersebut
lalu hendak meletakkannya ke nampan yang telah berisi makanan yang ia tata
tadi, sebelum pergerakannya dihentikan oleh ucapan merendahkan Rebeca.
“Kamu
pasti menjebak Jordan dengan tidur bersamanya, sehingga ia bersedia menikahimu,
bukan? Biasanya itulah cara yang dilakukan oleh perempuan rendahan sepertimu.
Pelacur.”
BYURRR
“ARGGGHH!!
APA YANG KAU LAKUKAN?!” Rebeca berteriak kesakitan akibat siraman kopi panas
dari Lionara.
“Itu
akibat mulut kurang ajarmu.” Lionara berucap dingin
“Kau—“
“Ada
apa ini?!”
Lionara
tersentak, tubuhnya membeku saat melihat Jordan dan Samuel di belakangnya sudah
berdiri disana menyaksikan mereka. Jordan datang di saat yang tidak
menguntungkan posisinya.
“Jordan…”
lirih Rebeca parau dengan mata berkaca-kaca.
Jordan
mendekat dan memegang lengan putih Rebeca yang memerah akibat cipratan air
panas tadi—baju Rebeca juga kotor.
“Tadi
aku hanya ingin membantu Nara membuatkan kopi, tapi entah kenapa dia marah, dan
bersikap kekanakan dengan menyiramku dengan kopi panas.” Rebeca berucap parau.
“Dia
berbohong, Jo.” Lionara menggeleng keras.
“Aku
tahu sejak awal Nara tidak suka melihatku. Terlebih saat aku mengatakan jika
dulu kita sangat dekat, dan itu membuatnya semakin tidak menyukaiku. Dia
berpikir aku akan merebutmu darinya.” Rebeca mulai terisak-isak.
“Jangan
percaya, Jo. Dia itu perempuan ular—“
“DIAM!”
Jordan membentak. “Jangan mengatakan apapun. Sekarang masuk ke ruanganku!”
Dengan
wajah menggelap, Jordan mengangkat tubuh Rebeca—menggendong ala bridal lalu
membawanya keluar dari sana dengan langkah panjang tanpa menghiraukan wajah
terluka Lionara yang masih mematung ditempatnya dengan kedua tangan yang terkepal
kuat.
****
Lionara
memperhatikan berkas-berkas di atas meja sofa dengan tatapan kosong. Kini ia
dan Jordan tengah duduk saling berhadap-hadapan dengan lelaki itu yang masih
sibuk menatap tab-nya. Sudah lima belas menit berlalu, namun keduanya hanya
saling diam.
Kejadian
Jordan yang melihatnya menyiram Rebeca dengan kopi panas semakin membuat
dirinya terlihat buruk di mata Jordan. Lagi-lagi lelaki itu hanya akan salah
paham padanya. Lionara menelan ludah. Ia mendongak, menatap nanar pada lelaki
di depannya yang memasang wajah datar dari balik kacamata bacanya.
“Jo-Jordan—“
“Mulai
besok dan seterusnya kamu tidak perlu datang ke kantor lagi.” tukas Jordan
dengan cepat dan ringan.
Lionara
membeku. Syok, tentu saja. Tidak menyangka jika kalimat pertama yang
dikeluarkan Jordan adalah pemberhentian dirinya.
“Kenapa?”
tanyanya nyaris tidak terdengar “Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi?”
Jordan
menggeleng. “Ini keputusanku. Aku mau mulai besok kamu tinggal dirumah dan
fokus pada kandunganmu.”
“Tapi
kenapa tiba-tiba? Aku tidak mau hanya dirumah terus.”
“Aku
sedang tidak ingin di bantah, Lionara.” Sanggah Jordan dengan pandangan tajam.
“Atau kamu takut karena tidak bisa bertemu dengan mantan kekasihmu lagi?”
lanjutnya menuding
“A-apa?”
Lionara tercekat. “Kenapa kamu tidak bisa percaya padaku? Sudah berapa kali
kukatakan aku tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Daniel. Kami hanya
berteman.”
“Kalau
begitu buktikan!” suara Jordan naik satu oktaf
Lionara
menghela napas untuk menetralisir perasaannya, berusaha mengeluarkan suaranya.
Sorot matanya tidak sedikit pun beralih dari Jordan.
“Kamu
hanya perlu menuruti semua perkataanku. Jangan membuatku kecewa lagi.” timpal
Jordan datar. Ia bangkit berdiri kemudian berjalan menuju meja kerjanya.
Lionara
maju, meraih lengan Jordan agar berbalik, tapi lelaki itu tetap bergeming. Mata
lionara berkaca-kaca.
“Aku
mohon maafkan aku. Semua yang kamu lihat kemarin tidak seperti yang kamu
simpulkan. Aku tidak pernah menghianatimu. Aku hanya menolong Daniel. Tidak
lebih.”
“Kemasi
barang-barangmu dan pulanglah.” Jordan menepis tangan Lionara “Aku tidak ingin
mendengar apapun lagi.”
“Jordan…”
parau Lionara. Tatapannya sayu, perasaannya tidak karuan.
Jordan
mengabaikan, ia meneruskan langkah dan duduk di di balik meja kerjanya.
“Satu
lagi, minta maaf pada Rebeca. Dia terluka karena ulah kekanakanmu.”
Lionara
menggeleng. Tatapan sayunya berubah tajam namun terdapat kegetiran di dalamnya.
“Untuk
yang satu itu aku tidak akan minta maaf. Dia yang bersalah.” tegas Lionara “Aku
pulang.” tambahnya lalu berbalik menuju pintu keluar. Tapi saat menyentuh knop
pintu, pergerakannya terhenti. Lionara menoleh dari balik bahu.
“Terima
kasih untuk hadia yang kamu berikan. Maaf sudah mengecewakanmu…” lirih Lionara dengan
nada getir sebelum keluar meninggalkan Jordan dalam kebisuannya.
**To be continued
IG: @rianitasitumorangg**