JORDAN

JORDAN
Chapter 43



“Pistol yang digunakan oleh sniper itu benar-benar senjata berbahaya. Beruntung peluru


itu menembus di bagian atas dada kanan anda. Turun sedikit saja, pistol itu


akan menembus jantung anda. Kalau sampai itu terjadi, kami tidak mampu


menyelamatkan anda,” terang sang dokter usai membebat lukas bekas tembak di


dada Jordan.


Didetik peluru itu melesat ke arah Lionara, Jordan berhasil bergerak lebih cepat—menjadikan


tubuhnya sebagai tameng bagi istrinya, sehingga peluru itu berakhir menancap di dadanya.


Kejadian itu berlangsung begitu cepat, membuat Lionara seketika membatu ditempatnya.


Tapi kesadarannya langsung kembali, begitu tubuh Jordan jatuh menimpahnya.


Jeritan Lionara langsung membahana penuh dengan ketakutan dan kengerian yang


nyata saat melihat darah memercik dari tubuh Jordan. Bergetar, dia


menepuk-nepuk pipi Jordan yang nyaris menutup dibarengi dengan air matanya yang


mengalir deras. Beruntung saat itu Sam dan anak buah suaminya  segera datang dan membopong tubuh Jordan menuju ke Rumah sakit.


Dan disinilah lelaki itu berakhir, duduk dengan kaku di atas ranjang Rumah Sakit


dan hanya mengetatkan geraham dengan tangan terkepal. Tanpa mempedulikan rasa


sakit ditubuhnya, Jordan malahan sibuk memerintahkan Sam mencari informasi agar


segera menangkap sniper sialan yang menembaknya tadi.


Wajah lelaki itu terlihat datar dan tanpa ekspresi, tapi percayalah hasratnya untuk


membunuh begitu bergelora sekarang. Ia sangat marah. Marah karena


kebahagiaannya diusik. Jika tidak dilampiaskan sekarang juga mungkin akan


berakibat fatal.


Baru saja ia akan menurunkan kakinya, suara pintu terbuka menghentikan pergerakannya.


“Kamu mau kemana?” tanya Lionara dengan tatapan sayu. Langkahnya kian mendekat ke


ranjang Jordan. “Istirahat. Jangan menuruti apapun yang ada di dalam kepalamu


sekarang,” lanjutnya seraya membawa tubuh suaminya kembali berbaring. Lionara


duduk di tepi ranjang.


Sejenak, mereka saling menatap. Lionara memperhatikan lekat rona pucat di wajah suaminya.


Ingatan pasca penembakan tadi kembali membayangi. Jordan tertembak karena


menyelamatkannya. Lalu ketika sadar, bukannya berbaring istirahat, Jordan


malahan berniat keluar. Dan Lionara cukup hafal sifat Jordan. Suaminya itu akan


melancarkan serangan balik—memburu pelaku yang menyerang mereka tadi, tanpa


mempedulikan keadaan tubuhnya yang masih lemah.


Jordan berdarah panas. Ia pantang dipancing sedikit pun—terlebih itu menyangkut orang-orang yang dikasihinya. Lionara tahu itu. Tapi, ia tidak akan membiarkan


Jordan memenuhi hasrat membunuhnya  sekarang.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Jordan pada akhirnya. Tak tahan pada kebisuan istrinya


yang hanya memandanginya. “Dimana Jay?” lanjutnya celingukan.


Lihatlah,  Jordan hanya mengkahwatirkan Lionara dan anak


mereka saja. Namum tidak dengan dirinya sendiri yang jelas-jelas terluka.


Lionara menghela napas berat. Begitu banyak perasaan berkecamuk di dalam dirinya,


marah, kahwatir, cemas, rasa sakit dan sedih dalam satu waktu.


“Aku baik-baik saja. Untuk sementara Jay bersama perawatnya,” tatapan Lionara


terpaku pada bebat di dada Jordan “Harusnya aku yang menanyakan itu padamu. Kamu…tertembak,” Lionara berucap lirih, menatap kahwatir pada Jordan. “Dada kananmu…apakah…apakah sakit? Bagaimana…,”


Jordan membalas dengan senyum teduh menenangkan. “Aku tidak apa-apa. Tidakkah kamu lihat aku sudah baik-baik saja?”


Lionara tidak membalas. Tangannya terangkat menyentuh bebat putih itu. “Rasanya pasti


sakit sekali…” Lionara berucap dengan kesedihan yang nyata. “Seharusnya kamu


tidak mengorbankan dirimu—” guliran bening air mata langsung jatuh menuruni


pipi Lionara tanpa bisa ditahan.


“Lalu membiarkanmu tertembak di depan mataku? Begitu?” sengit Jordan tak suka “Itu


sama saja dengan membunuhku.”


Lionara diam. Jordan menghela napas.


“Kalau aku tidak melakukannya, mungkin aku yang akan kehilanganmu lagi. Dan kalau itu terjadi, aku pun akan ikut mati.” Jemari Jordan bergerak mengusap buliran air


mata istrinya. “I’ve lost everything. I


lost my mom when I was young, I’ve got nothing to left,” kata lelaki itu


lirih. “And I can’t lose you too.”


“Tapi tetap saja ini menyakitkan. Kamu bahkan kehilangan banyak darah,”


“Ini bukan apa-apa, aku sudah pernah tertembak beberapa kali sebelumnya. Kamu juga tentu menyadari itu, bukan?” Jordan bertanya dengan nada sensual, merujuk  pada ketelanjangannya pada saat mereka


bercinta dan bagaimana Lionara mengawasi bekas-bekas luka sayatan dan tembakan


di tubuh Jordan.


Pipi Lionara memerah, refleks tangannya memukul bebat Jordan. “Aku sedang serius,


Jo!”


“Arrgghhsstt…sakit, sayang,” ringis Jordan berlebihan, dan berhasil membuat Lionara langsung gelagapan.


“Maaf, daddy… maaf, aku tidak sengaja..” Lionara nyaris menangis. “Sebentar, Aku


panggilkan dokter!” Lionara beranjak panik, tapi Jordan lebih dahulu mencekal


tangannya, lalu dalam sekali hentakan tubuh wanita itu jatuh menimpahnya.


“Jo—“


“Aku bercanda, sayang. Tidak sakit sama sekali,” kekeh Jordan seraya menarik tubuh


Lionara sepenuhnya ke atas tempat tidur untuk didekapnya lebih erat.


“Luka kamu masih belum kering, Jo! Lepaskan.”


“Makanya jangan banyak bergerak, sayang. Be calm, okay?” Jordan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


Lionara menurut. Kini tangannya mengelusi lembut surai cokelat Jordan, dan hal itu


membuat Jordan merasa sangat nyaman. Kemarahan yang begitu mendominasi tadi


berangsur reda. Berada dalam dekapan istrinya memang selalu membuat Jordan merasakan


perasaan yang begitu damai.


“Yang menembak tadi, kamu kenal?” Lionara membuka suara


Jordan mendongak—wajah mereka hanya berjarak lima senti.


“Sam masih menyelidikinya. Tapi yang pasti dia adalah salah satu musuhku,” Jordan


mengaitkan kedua jemari mereka dan membawa punggung tangan wanita itu untuk diciumnya.


 “Aku memiliki banyak musuh, sayang. Mereka semua


mengharapkanku mati. Tapi sayangnya tidak semudah itu membuatku mati. Karena itulah


mereka berusaha melumpuhkanku dengan memanfaatkan kelemahanku—yaitu kalian. Seandainya mereka menginginkan semua harta yang aku punya, aku akan memberinya tanpa berpikir dua kali. Tapi mereka tidak menginginkannya, karena mereka tahu harta


sesungguhnya yang aku miliki adalah kamu dan anak kita,”


“Aku tidak tahu siapa mereka yang kamu maksud, tapi bisakah kamu berdamai dengan mereka?”


“Tidak semudah itu, Mommy. Tapi jika mereka berhenti mengusikku, maka aku pun akan melakukan hal yang sama. Dan kupikir itu hal yang mustahil terjadi, mengingat aku


pun tidak akan melakukannya.”


“Ya, ya.. You’re the Lucifer.” Lionara


“I love you, Mommy.” bisik Jordan, membalas pelukan Lionara


“Love you too, Daddy.”


****


Pukul 00.15 am


Setelah memastikan istrinya tidur dengan lelap, Jordan turun dari ranjang. Ia mengganti pakaian Rumah sakit dengan hanya jaket hitam, celana jeans serta topi.


“Aku pergi dulu,” dikecupnya kening Lionara lama lalu segera keluar dari kamar


inapnya dengan Sam yang sudah berdiri menanti di depan pintu.


“Dimana dia?” tanyanya dingin


“Ada di ruang bawah tanah, Tuan.” sahut Sam


Tanpa mengeluarkan suara lagi, Jordan melangkah meninggalkan Rumah sakit diikuti tangan kanannya.


Dalam waktu lima belas menit mereka sampai di tujuan. Melewati lorong gelap, Jordan sampai di depan pintu berlapiskan besi dan dinding beton kedap suara. Di sana,


dua penjaga bertubuh tinggi besar, bangkit dari kursi, membungkuk sopan padanya


lantas membukakan pintu ruangan ketika Jordan mengedikkan dagunya tanpa perlu


banyak berkata.


Bau anyir darah, pengap dan pemandangan mengerikan ditemukan disana. Pemandangan seorang


pria lemah yang diikat ke kursi besi dengan mulut yang dilakban, mengalirkan


senyum tipis di bibir Jordan. Tidak ada rasa kasihan, ia menghela langkah ke


dekatnya dan membuka lakbannya.


“Kau masih belum ingin memberitahu siapa yang menyuruhmu?” rendah, Jordan bertanya.


Pria itu menggeleng, masih setia dengan kebungkamannya. Jordan paling malas


berurusan dengan para gangster. Kebanyakan dari mereka lebih baik mati daripada menjerumuskan tuannya.


Jordan menengadakan tangannya kebelakang. Seakan mengerti kemauan tuannya, Sam memberikan


cerutu beserta pemantik ketangan Jordan. Jordan membakar dan menghisap


cerutunya beberapa saat. Kemudian mendudukkan dirinya di meja, tepat di samping pria itu.


“Aku bertanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu?”


Pria itu menaikkan tatapan pada Jordan dan menyeringai tanpa gentar sedikit pun.


“Sampai mati pun aku tidak akan mengatakannya.”


“Begitu?”


“Aghh…”


Jordan mematikan cerutunya di dahi pria itu dengan tanpa ampun. “Disini tidak


ada asbak.” Dalihnya dengan santai sambil menepuk-nepuk kecil kedua tangannya. Lalu


mengeluarkan sebuah belati kecil di saku jaketnya. Dan…


Pria itu berteriak kesakitan saat Jordan mengukirkan pisau belatinya mengikuti lambang tato di lengannya.


“Arghhh…”


ia kembali berteriak menahan sakit ketika tanpa ampun Jordan menancapkan belati


pada lengannya sampai menembus tulang.


“Ini tidak seberapa dengan apa yang coba kau lakukan pada istriku. Kau telah salah


memilih berurusan denganku. Aku terlalu kejam dan biadab.” Jordan menjeda,


bibirnya tersenyum miring. Matanya menilik tanpa ekspresi pada sasarannya. Menampilkan


sosoknya yang tak berhati.


“Dan kesalahan terbesarmu menyentuh keluargaku. Darah dibayar darah. Nyawa dibayar nyawa. Dan—“ Jordan kembali menggantungkan ucapannya sejenak,


“Istri dibayar istri.”


“Apa maksudmu?!” pria itu menatap ngeri pada Jordan. Jordan membalasnya dengan


senyum miring, kemudian ia menjentikkan jarinya tanpa menghilangkan fokus pada


tawanannya.


“ERICK TOLONG AKU… TOLONG AKU ERICK… MEREKA INGIN MENYENTUHKU!!! TIDAK…BERHENTI DISANA!!!”


Tiba-tiba terpampang sebuah video yang menampilkan seorang wanita dengan pakaian yang nyaris telanjang, dikelilingi oleh beberapa pria berbadan besar. Wanita itu


menangis ketakutan, suaranya menggema di seluruh ruangan.


“KAU APAKAN ISTRIKU?! ARGHHH…” Erick kembali berteriak kesakitan saat Jordan merobek lengannya dengan belati yang tertancap di lengannya.


“Anak buahku bisa melecehkan istrimu kapan saja. Kebetulan sudah beberapa bulan ini mereka juga tidak bersenang-senang


dengan tubuh wanita. So, kau bisa tahu bukan betapa sangat buasnya mereka saat


ini”


Erick menggeleng. Pria yang sudah berlumuran darah itu menangis.


“Kumohon jangan lakukan itu. Aku sangat mencintai istriku dan dia sedang hamil-,“


“Kau pikir aku juga tidak mencintai istriku, HAHH??!!”


“ARGHH!”


“Aku bahkan nyaris gila saat kau membidiknya,” Jordan menekan belatinya di lengan Erick sampai menancap pada kursi.


“Lepaskan istriku… kumohon… bunuh saja aku…” ucap Erick penuh permohonan dengan suara terbata menahan sakit.


“Siapa yang memerintahmu?” desis Jordan tidak menghiraukan permohonannya.


Erick menggeleng. Bersikeras pada pendiriannya yang tetap bungkam.


“Sam, perintahkan pada mereka untuk menyetubuhi istri—“


“JANGAN!! JANGAN!! KUMOHON JANGAN… RICHARD… Richard Altemose yang menyuruhku!” potong


Erick dengan cepat, penuh ketakutan.


Jordan menyeringai kejam. Lalu ia beranjak dari meja.


“Bereskan dia dan lepaskan wanita itu!” perintahnya pada anak buahnya.


Jordan berjalan keluar dari ruang penyekapan itu. Dan ketika membuka pintu, Jordan mendengar


suara tembakan di belakangnya. Pria itu telah mati.


Jordan terus berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan darah Erick yang menempel di baju dan tangannya sebelum kembali ke Rumah sakit.


Ia menyalakan kran wastafel—menyeka darah dari si keparat yang telah berani


mengincar istrinya.


PRANG!!


Jordan meninju kaca di depannya sampai pecah. Darah mengucur dari balik buku-buku


jemarinya. Napasnya memburu kasar, rahangnya mengetat dengan kilatan emosi yang tak terbendung ketika mengingat pemilik nama itu.


Richard Altemose… Rossalyn Altemose…


Kedua kakak beradik biadab itu benar-benar akan mati ditangannya.


**To be continued


IG: @rianitasitumorang**


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa


See youuuu


......Jordan Matthew Christoper ......



...Lionara Florentine ...