
Lionara melirik Jordan agak ketakutan ketika lelaki itu membelokkan mobilnya bukan ke mansion mereka, melainkan ke areal hotel berbintang lima. Lelaki itu sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Dia menyetir dengan tenang tetapi rahangnya menegang menahan marah. Apa lelaki itu akan melampiaskan kemarahan kepadanya sekarang?
Tadi hampir saja Jordan melenyapkan Daniel, jika bukan karna dia yang segera bergerak secara impulsi —memegang mulut gun itu tanpa pikir panjang.
Takut? Lebih dari itu sebenarnya Lionara sangat ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar hebat saat melihat langsung suaminya dalam sekejap berubah bak iblis, dengan aura gelap yang sangat dominan. Tapi, ia tidak bisa hanya berdiam diri saja ketika melihat nyawa yang akan hilang, terlebih orang itu adalah Daniel—mantan kekasihnya. Bahkan yang lain saja tidak sanggup menghentikan kegilaan Jordan. Oleh karna itu, Lionara mengumpankan dirinya sendiri, berharap dewi fourtuna memihak kepadanya agar dapat menghentikan Jordan. Dan berhasil.
Lionara terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Jordan sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang.
“Ayo,” gumamnya datar, meraih tangan Lionara untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah Jordan menyerahkan kunci moilnya kepada petugas hotel untuk di parkir, mereka berjalan bersisian memasuki lobby hotel yang sangat mewah. Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar yang di pilih Jordan. Bahkan didalam lift pun mereka lewati dengan keheningan.
Tepat setelah pintu tertutup, degup jantung Lionara langsung menggila, berdetak tak karuan dengan cepat. Benaknya terus gelisah, menunggu apa yang akan Jordan lakukan setelah mereka hanya berdua. Suasana masih hening, dengan mereka yang masih berdiri, dia di tempatnya tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
Lionara tidak bisa membaca raut wajah Jordan saat ini. Apa yang Jordan pikirkan, bahkan apa yang akan Jordan lakukan. Lionara hanya bisa menunggu. Menunggu Jordan menumpahkan amarahnya padanya.
“Kenapa kamu menghalangiku menembak kepalanya?” Jordan mengucapkan dengan dingin sambil membanting jas sembarangan di sofa kamar.
Lionara membeku, ia menoleh dengan waspada pada Jordan yang ternyata tidak memperhatikannya karna sibuk melepas sepatu.
“Dia saudaramu.” sahut Lionara sekenanya
Jordan terkekeh sinis, “Begitukah? Tapi sayangnya dia bukan saudaraku.”
“Dia anak dari Ayahmu juga.”
Jordan berdiri, lalu maju dan refleks membuat Lionara melangkah mundur hingga membentur dinding kamar.
“Membelanya, eh?” sinis Jordan, mengelus wajah Lioara dengan satu jarinya, tatapannya masih menajam. “aku jadi curiga kamu memiliki hubungan khusus dengannya. Benar begitu?”
Lionara terdiam. “Kamu menyukainya?” tambah Jordan
“Aku sudah menikah denganmu.” Lionara menyahut singkat.
“Ah, ya, benar. Kamu sudah menikah.” Jordan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mundur dan duduk di sofa, memandang Lionara dengan raut tidak terbaca.
“Kalau begitu buktikan.”
“Buktikan apa?”
“Buktikan kalau kamu istriku.”
“Cincin dan buku pernikahan sudah membuktikannya.”
“Tubuhmu belum kamu berikan.”
Jordan memandang Lionara dari atas sampai bawah. “Buka bajumu.”
“Ap-apa?” Lionara menelan salivanya berat, wajahnya memucat.
“Buka bajumu. Masih kurang jelas?”
“Jordan, aku-“
“Warisan itu baru sah menjadi milikku, jika kamu memberiku anak.” sela Jordan.
Lionara kembali terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat saat dengan tegas Jordan menginginkan bagian terpenting dari dirinya, yang tentu saja belum Lionara berikan. Jordan bahkan tersenyum sinis dan melepas sisa pakaian di tubuhnya pelan-pelan.
Jordan bangkit dan tanpa peringatan langsung mengangkat Lionara, lalu menjatuhkannya ke tempat tidur dengan sedikit kasar.
“Suasana hatiku sangat buruk." parau Jordan, matanya berkabut gairah "Aku ingin bercinta, aku ingin menyatu denganmu...,” suara Jordan tersengal, lalu tanpa aba-aba ******* bibir Lionara dengan gairah yang meluap.
Dan… meledaklah. Jordan merasa hasrat langsung membakar tubuhnya sekaligus, menghanguskannya, sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat emosi. Tapi mengingat bagaimana Lionara berciuman dengan Daniel tadi, ada goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya. Karenanya membuat Jordan tak peduli lagi. Lionara adalah istrinya dan siapapun tidak akan ia biarkan mengambil perempuan ini darinya.
Jordan menarik lepas pakaian dan dalaman Lionara hingga sekarang tidak tersisa apapun ditubuh Lionara yang bisa menutupi ketelanjangannya.
Jantung Lionara berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Jordan yang bahkan lebih parah. Dengan perlahan, Lionara memejamkan matanya, melepaskan hatinya, dan bayangan wajah Leon yang tersenyum bahagia saat menceritakan perasaannya di sekolah barunya tempo hari, membuat air mata menetes menuruni sudut matanya yang terkatup erat.
Demi kamu Leon… bisiknya dalam hati bagai mantra yang menyelamatkan jiwanya.
Ini adalah sensasi baru bagi Lionara, merasakan milik Jordan yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat seluruh saraf di tubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitive oleh kebutuhan yang sampai saat ini tidak pernah diketahuinya, kebutuhan untuk mencapai puncak.
Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, Lionara mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik dicengkramnya pundak Jordan dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan atas usaha Jordan untuk menyatu semakin dalam dengannya. Ditempat ini, Jordan Chirtoper telah mengambil keperawanannya.
Jordan menyadari kesakitan yang mendera Lionara, ia sebenarnya tetap ingin melanjutkan niatnya, tapi... ini yang pertama untuk istrinya.
Jordan mengalihkan perhatian Lionara dengan cumbuannya dengan segenap keahliannya. Ini adalah pengalaman pertama bagi Lionara, dia harus membuatnya seindah mungkin—tidak ingin meninggalkan kesan trauma untuk istrinya. Karna itu sambil menggertakkan gigi, menahan gairahnya, Jordan mencoba bergerak selembut mungkin, menarik tubuhnya pelan dari balutan sutra basah dan panas itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi.
Mereka berdua bergumul di kasur. Memuaskan satu sama lain. Udara masih terasa dingin tapi keringat membasahi tubuh mereka akibat api yang tercipta. Jordan memasukinya lebih dalam, menciptakan kenikmatan yang membuat Lionara membuang jauh-jauh pikiran yang menganggap apa yang dilakukannya bersama Jordan ini adalah sebuah kesalahan.
Punggung pria itu menegang dan akhirnya rileks saat mendapatkan pelepasannya juga dalam tubuh Lionara. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Lioara yang masih menormalkan napasnya.
“Aku sudah menahannya sejak lama.” gumam Jordan. Napas mereka terenga-engah bersama.
Lionara menatap langit-langit kamar itu. menenangkan diri, sementara Jordan dengan sangat berhati-hati, mengangkat tubuhnya dari atas Lionara dan bergeser kesamping.
Direngkuhnya tubuh mungil Lionara, sedang kepala wanita itu diletakkan dilengannya. Wanitanya tampak pasrah, mungkin sudah terlalu lelah.
Jordan menoleh dan mencium pipi Lionara, “Aku senang kamu hanya milikku.” bisiknya di telinga Lionara.
****
“Sakit?” tanya Jordan.
Lionara menggeleng, mengalihkan wajahnya yang terasa panas ke samping saat tangan Jordan masih mengusap inti kewanitaannya.
Jordan sedang berjongkok di sebelah bath up—memandikannya. Dan dengan entengnya, Jordan mengusap kulit Lionara dengan sabun beraroma lavender mulai dari punggung lalu ke bagian leher dan dadanya. Bahkan Lionara berulangkali menahan napas ketika jari panjang itu menyusuri inti tubuhnya.
“Kamu tidak marah lagi?” pelan, Lionara akhirnya menyuarakan isi pikirannya. Sejujurnya ia sangat takut dengan sisi Jordan yang lain.
Jordan terdiam untuk sesaat. Ia menghentikan kegiatannya membersihkan tubuh Lionara.
“Tergantung,” Jordan mengucapkan itu sambil mengangkatnya lagi dari bath tub. Lionara sebenarnya ingin menolak, tapi Jordan terlalu dominan sekarang dan menggendongnya lagi, tanpa peduli bahwa jubah yang dipakainya sudah basah sebagian.
“Tergantung?”
“Hm, tergantung bagaimana kamu bisa menyenangkanku.”
Jordan menurunkannya di kasur tempat mereka melakukannya semalam, padahal sekujur tubuhnya masih basah. Jordan mengambil handuk dan mengelapnya dengan lembut. Lionara sempat melihat noda darahnya yang tertinggal di sprei dan ia merasa malunya kembali terbit. Tapi rasa malu itu hanya bertahan sebentar, digantikan oleh rasa terkejut karna Jordan menciumnya.
“Aku ingin lagi,” pinta Jordan
Lionara merasa tidak percaya dengan pendengarannya, tapi pria itu sudah menindihnya hingga membuat Lionara dapat merasakan bukti gairah pria itu menekan bagian tubuhnya yang paling pribadi.
“Jordan, lukamu.. sebaiknya diobati dulu.” cicit Lionara menahan pria itu dengan kedua telapak tangan.
“Luka ini masih bisa menunggu, tapi adikku tidak bisa menunggu,” frontal, Jordan membuka pakaiannya, lalu memeluk dan menciumi Nara kembali.
“Tapi kamu harus ke kantor,” Lionara menggigit bibirnya, menahan *******.
Jordan menghentikan isapannya pada leher Lionara, lalu mengangkat wajah—menyeringai setan.
“Aku mengambil cuti. Kita akan melanjutkan honeymoon yang tertunda. Sore nanti kita akan ke Venesia, bersenang-senang sejenak sekaligus membuat anak disana.” ucap Jordan. “sepertinya bercinta secara rutin efektif untuk mempercepat kehamilanmu.”
Dan Lionara harus pasrah kembali ketika tubuhnya dihujam Jordan dengan gairah lelaki itu sangat tinggi.
****
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore sementara langit sudah gelap sejak tadi. Jordan menatap Lionara dan memperhatikan wanita itu tidur kelelahan. Sesudah berhubungan untuk yang kedua kalinya, mereka makan lalu setelah itu Jordan mengajaknya lagi untuk yang ketiga kalinya sebelum Lionara tertidur. Mereka sekarang beristirahat di kamar dalam jet pribadinya.
Istrinya hanya memakai jubah tidur saat Jordan menggendongnya dengan hati-hati agar tidak membangunkan tidur lelapnya saat memasuki Jet. Dan belum satu jam sejak pindah ke dalam Jet, Jordan sudah menginginkannya lagi. Ia benar-benar gila.Padahal Lionara juga lebih banyak pasif di banding merayunya. Tipe wanita yang belum berpengalaman.
Lionara masih lelap dalam tidurnya, tidak tampak terganggu dengan jari Jordan yang membelai halus pipinya. Tidak tahan Cuma memperhatikan wajah tidurnya, ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Lionara—menghisapnya pelan.
“Kamu… sungguh membuatku tergila-gila,” erang Jordan frustasi. Ia mati-matian mengabaikan juniornya yang tengah bertegangan tinggi di bawah sana dan akan sesekali bergesekan dengan lutut Lionara.
Jordan meraih ponselnya—mengecek email yang masuk dari Samuel sejak beberapa jam yang lalu belum ia lihat. Matanya seketika berkilat tajam saat membaca keseluruhan informasi yang dikirimkan oleh kepercayaannya. Disana tertera, tepatnya tiga tahun lalu, Daniel dan istrinya pernah menjalin hubungan. Mereka adalah sepasang
kekasih. Mereka terpaksa berpisah karna Josep mengetahui hubungan keduanya, dan kemudian menentang keras sehingga membuat Daniel terpaksa meninggalkannya. Josep mengirimnya kuliah di London.
Tidak hanya itu, Samuel juga menyertakan beberapa foto Daniel dan Lionara yang tampak mesra—dan di dalam foto itu keduanya tersenyum, sangat bahagia.
PRAKK
Sialan!
Jordan membanting kuat ponsel itu ke dinding pesawat hingga layarnya retak seketika. Napasnya memburuh—gelegak kemarahan kembali memenuhi dirinya.
“Jadi ini alasan putra si ****** itu kembali,” Jordan terkekeh rendah “Bagus, bagus sekali…”
“Ada apa?”
Lionara terbangun, saat dengan samar ia mendengar geraman tertahan Jordan. Jordan menoleh dan mendapati wajah istrinya yang masih terlihat sangat mengantuk.
“Ada yang kamu sembunyikan dariku?” todongnya langsung dengan mata yang memicing tajam.
“Apa?” Lionara mengernyit, ia masih linglung.
“Kamu berencana meninggalkanku?” tanyanya lagi.
Menyadari aura yang berbeda dari Jordan, Lionara duduk dan menatapnya seksama. “Bisakah kamu mengatakannya dengan kalimat yang jelas?”
“Jawab saja pertanyaanku tadi,” Jordan menunduk, memuta-mutar cincin yang melingkar di jari manis Lionara, “Kamu akan meninggalkanku?” ulangnya tanpa sadar menekan sedikit keras jari perempuan itu.
“Apa aku bisa melakukannya?” Lionara menahan ringisan.
“Coba saja kalau kamu berani!” tukas Jordan penuh peringatan.
Melihat gurat kemarahan suaminya, ia mencoba tersenyum tipis, sangat tipis. “Maka jangan tanyakan lagi, jika kamu sudah tahu jawabannya,”
Jordan tidak menjawab, ia mendorong pelan tubuh Lionara kembali barbaring di kasur, sedang tubuh besarnya langsung menindih.
“Right! Jawaban itu yang kutunggu. Kamu milikku.”
Cepat-cepat Jordan meraih simpul tali jubah tidur Lionara dan menariknya.
“Apa yang kamu lakukan?” wanita itu menahan tangan Jordan.
“Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri,”
Wajah Lionara langsung memerah. “Kita baru saja melakukannya.” cicitnya
“Oh, ya? Aku lupa.” Jawabnya enteng. Tali itu sudah terlepas dan tubuh Lionara yang sudah polos terpampang dihadapannya. “Sekali lagi saja.”
“Sekali lagi?”
“Iya… sekali lagi untuk hari ini.”
To be continued
IG:@rianitasitumorangg