
Darah segar membasahi seluruh permukaan aula. Tumpukan mayat tergeletak seperti
barang tidak berharga. Tetapi dari semua pemandangan mengerikan itu, justru ada
yang lebih mengerikan dari itu semua.
Seorang pria dengan tubuh berlumuran darah dan pistol di tangannya. Tertawa dengan
puas. Tawa yang menggetarkan bumi hingga sang sahabat bahkan merinding ngeri.
Semua yang melihat segala kebengisan Jordan kini dilanda kengerian yang luar
biasa saat dengan lihainya tangan Jordan menembaki kepala 50 pemimpin pembunuh
bayaran termasuk anak buah mereka juga.
Jordan yang berdiri saat ini tidak lain adalah seorang monster.
“Bereskan dan pastikan seluruh identitas mereka ditemukan.” Jordan memerintah anak
buahnya yang masih hidup agar membuat laporan kematian untuk seluruh pembunuh
bayaran disana.
Untuk apa?
Tentu saja untuk memberi peringatan pada semua orang bahwa mulai hari ini, wilayah
underground di seluruh daratan Eropa ada di bawah kekuasan Dark soul.
Kedatangan Jordan ke Dubai disamping urusan rapat kerja sama dengan perusahaan minyak DE group.
Ia juga menghadiri pertemuan aliansi pembunuh bayaran yang di adakan secara
tertutup. Dimana salah satu aliansi dalam pertemuan disana adalah target Jordan
untuk dilenyapkan karna telah memiliki nyali menyelinap masuk ke kawasannya dan
berhasil membawa lari beberapa peti senjata miliknya sebelum membombardir salah
satu gudang senjatanya.
Awalnya Jordan hanya menargetkan para tikus kecil yang telah mengusiknya itu, namun seiring
berjalannya rapat, matanya sedikit terusik dengan tingkah salah seorang
pemimpin dari keluarga Smith. Dimana lelaki parubaya yang tengah memangku
seorang wanita penghibur itu, kerap bersikap kasar dengan menampar, menjambak
bahkan menekan api cerutunya pada tubuh pelacur yang masih terbilang sangat
muda tersebut. Sedang pelacur itu hanya tetap diam, menahan semua siksaan
ditubuhnya.
Melihat itu tiba-tiba mengingatkannya pada kejadian yang menimpah ibunya saat di
perkosa secara paksa dan kasar. Darah Jordan seketika mendidih, rahangnya mengeras—sedang
kilat mengerikan terpancar di matanya.
Bedebah!
Dalam gerakan yang nyaris tak terlihat, sebuah pisau tiba-tiba sudah menancap di
tenggorokan lelaki tersebut. Darah terciprat keluar dengan deras, membuat semua
orang yang melihatnya kaget dan melotot karena menyaksikan pria yang Jordan
serang dalam sekelebat mata napasnya sudah terputus.
Ruangan itu seketika hening, namun tak lama kemudian semua yang hadir seketika berdiri
dan mengangkat senjatanya lalu mengarahkan ke arah Jordan.
Jordan melirik mereka semua dengan santai, “Ah, sepertinya hari ini aku akan sangat
bersenang-senang,” Jordan menyeringai
Menghabisi lima puluh pembunuh bayaran bagi Jordan hanyalah semudah membakar semut menjadi tumpukan debuh.
“Dasar sombong! Aku akan menyeretmu dan menjadikanmu peliharaan.” Teriak seorang pria
bertato hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba terdengar suara erangan kesakitan
dan lima titik di tempat beberapa orang yang duduk berdekatan seperti habis di
serang.
Beberapa orang di tempat yang acak terjatuh di lantai seolah-olah di siksa
habis-habisan.
Sinar kepuasan muncul di mata Jordan.
Apa yang di perintahkan pada kedua sahabat dan anak buahnya sebelum masuk tadi
berjalan sangat baik. Evan dan Aldrich adalah penembak jitu dan dalam satu
menit tembakan sudah sekitar 30 orang terlihat tumbang dan meringkuk kesakitan.
Teriakan itu menggema menyadarkan semua orang hingga keributan tidak terhindarkan.
Mereka semua langsung memasang mata dan telinga dengan cermat. Mencari tahu
dimana posisi sniper yang memuntahkan peluru beracun untuk mereka.
Beberapa orang menyadari segera menjauh dan beberapa yang lain langsung merasa terancam
dengan keberadaan Jordan. Semua orang kini yakin, Jordan benar-benar ingin
menghabisi mereka semua.
“Evan!” teriak Jordan, lalu sesuatu melayang dan di tangkap Jordan dengan cepat.
Jordan maju dan dalam satu gerakan cepat beberapa orang itu menjerit dan memuncratkan
darah segar ketika mereka berjatuhan dengan luka tembak di tubuh mereka.
Jordan menyeringai senang dan mengangkat pistol yang ada di tangannya dengan wajah
menantang. “Selanjutnya.”
Dengan serentak mereka semua kini maju tanpa ragu. Tujuan utama adalah menghabisi
Jordan.
Jordan merasa senang dan adrenalin semakin terpacu dengan deras.
Suara pukulan, tendangan dan aroma darah yang semakin banyak dan pekat akibat dari
tembakan dan pisau terus bertambah. Gerakan Jordan yang membantai tanpa ampun
seperti tarian berdarah yang sangat indah.
Jordan berhasil membunuh lima puluh pembunuh bayaran dalam satu malam. Evan dan Aldrich tidak
tahu. Apakah mereka harus takut atau bangga. Karena Jordan baru saja
mengguncang dunia bawah tanah.
****
“Jo!”
Jordan mengarahkan tinjunya tepat di rahang pria mabuk, yang sebelum ini menyenggol tubuhnya tanpa sengaja saat
dirinya, Evan dan Aldrich baru saja memasuki Club malam.
Mungkin jika pria itu segera meminta maaf, masalah akan selesai. Namun pria tua berperut buncit itu malah berbalik
marah dan meludah tepat di wajah Jordan.
“Jordan, cukup!”
Kali ini, kaki Jordan turut berperan memberikan tendangan di perut pria itu. Larangan Evan dan Aldrich
seolah menjadi perintah bagi Jordan untuk semakin bringas menghilangkan nyawa
pria di hadapannya. Siku Jordan mendarat tepat dengan kekuatan yang mungkin bisa
meretakkan tulang rusuk pria itu. Ia baru saja menghantamkan pukulan tepat di
hidung pria yang hampir tak berdaya itu ketika tubuhnya di tarik kasar ke
belakang oleh Evan dan Aldrich.
“KAU GILA YA, JO?”
Pandangan Jordan berubah fokus.
Aldrich menatapnya penuh amarah yang jarang ia lihat. Setelah menatap pria yang
berhasil membangkitkan jiwa membunuhnya terkapar di lantai, Jordan berjalan
masuk ke ruang VIP dengan santai.
Evan langsung memeriksa keadaan
pria tua itu, menempelkan kedua jarinya di atas leher pria asing tersebut, dan
menghembuskan napas lega karna pria itu masih bernyawa.
“Bawa dia ke Rumah sakit,” perintah Evan pada anak buah mereka.
****
“Bangsat kau Jo! Aku uda bilang
berhenti, kau tuli atau gimana sih?” gerutu Evan saat masuk dan duduk di depan Jordan.
Jordan tidak menyahut dan
membersihkan sisa darah yang menempel di kulit serta kaus biru tuanya dengan
tisu basah.
“Kau kalau terus-terusan begini
lebih baik kita pulang. Dari pada kami harus melihatmu berubah jadi mesin pembunuh.”
Evan masih bersungut-sungut
sambil meraih wine, lalu meneguknya kasar. Sedang Jordan masih mengabaikan,
turut menegak vodka langsung dari botolnya sampai habis tak bersisa. Kedua mata
Jordan terpejam seiring punggung dan lehernya menyandar penuh di sofa.
Ini kedua kalinya Jordan mengalami kekacauan begini. Pertama saat kehilangan ibunya, dan sekarang karna
istrinya. Otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari masalah yang tak ia
pahami dengan benar. Rasa cemburu benar-benar membuatnya menjadi tak
satu. Tiba-tiba ia merasa hilang arah dan ingin melampiaskannya dengan nafsu
membunuhnya.
“Al,”
“Hm,”
“Kenapa lagi ini anak?” Evan mengangkat satu
alis heran.
Aldrich dan Evan memandang Jordan
bingung. Bagaimana tidak, sejak tiba di Dubai, Jordan tak banyak bicara seperti
sebelumnya. Namun menghadapi pria itu bertingkah aneh seperti ini juga bukan
hal biasa bagi keduanya.
“Aku belum puas,” Jordan bergumam
“Bicara yang jelas,” decak Aldrich
“Aku masih ingin bunuh orang.”
Aldrich dan Evan membelalakkan
mata. Menyelisik sahabat mereka yang kini tengah memejamkan mata.
“Emang lagi sakit otakmu, Jo!” dengus
Evan, mengangkat kaki ke atas meja.
Aldrich menegapkan punggung,
menatap serius pada Jordan yang masih beta menutup mata.
“Katakan, apa sebenarnya yang terjadi?”
“Iya, Jo, kau cerita ke kita kalau
ada masalah. Jangan kembali bertingkah enggak waras begini. Sejak tiba disini
otakmu isinya menyiksa orang. What’s
wrong dude?” timpal Evan
“Atau ini ada hubungannya dengan
Lionara?” tebak Aldrich memicingkan mata.
Masih tidak ada sahutan beberapa
saat setelahnya, hingga membuat Evan tak sabar beranjak dari duduknya,
mendekatkan diri pada Jordan yang masih bergeming dalam posisinya, lalu
menemukan napas pria itu telah berhembus teratur. Jordan tertidur.
“Bedebah!”
****
Jordan tengah berjalan menyusuri
gedung perkantoran milik Ikram Al Barak.
Pria timur tengah yang merupakan salah satu teman dekatnya saat kuliah.
Tidak untuk rapat. Ia hanya berjalan-jalan
saja. Karena Sam yang sedang melakukan rapat bersama Ikram untuk membicarakan kerja
sama mereka. Di Dubai, ia hanya bekerja pada hari pertama, selebihnya Sam yang
menggantikannya dalam setiap rapat. Jordan hanya ingin sedikit merenggangkan
pikirannya yang berkecamuk. Setelah Evan dan Aldrich mengultimatumnya agar tidak
lagi melenyapkan nyawa orang, maka inilah yang dilakukannya—berjalan-jalan
dengan sesekali memperhatikan sekitar.
Jordan harus mengakui, tidak
hanya memiliki selera interior yang bagus, Ikram juga sangat memiliki selera
yang bagus ketika memilih karyawatinya. Mereka semua berparas cantik dan
bertubuh seksi, dimana sesekali ia mendapatkan tatapan nakal dari mereka.
sementara Jordan tidak terlalu menghiraukan. Ia sedikit mempertanyakan
kenormalannya sebagai pria setelah menikahi Lionara Florentine.
Jordan tersenyum miring,
bisa-bisanya sekarang ia tidak terlalu tergoda oleh wanita-wanita yang
menggiurkan itu. Miliknya hanya akan bereaksi jika perempuan itu adalah
Lionara. Dan itu sangat menyebalkan. Ia menjadi tidak bisa menuntaskan hasrat
kelaki-lakiannya dengan para wanita di tempat ini.
“Jordan?!”
Jordan yang tengah memperhatikan
pemandangan sekitar gedung melalui dinding kaca gedung, dikejutkan oleh suara
lembut yang memanggil namanya.
Memutar tubuh, maniknya langsung
bertemu sesosok wanita cantik, bertubuh tinggi dan seksi kian mendekati
tempatnya. Kakinya sangat jenjang, dibalut dengan sepatu high heels yang mempercantik penampilannya. Perempuan itu tersenyum
manis ke arahnya yang tidak segan di balas ramah oleh Jordan.
“Bagaimana kamu bisa ada disini?”
tanya wanita itu kemudian
“Aku hanya sedang berjalan-jalan,”
Wanita itu mengernyit heran. Mungkin
aneh, bagaimana bisa orang asing seperti dirinya menjadikan gedung perkantoran
elite yang dijaga ketat dengan tidak sembarang orang bisa masuk dijadikan
tempatnya berjalan-jalan.
“Lalu kamu? Apa yang kamu lakukan
disini?” Jordan bertanya balik
“Tidak jauh berbeda denganmu,”
wanita itu menyengir cantik “aku menemani papa. Tapi beliau sedang ikut rapat
di dalam.”
Jordan mengangguk. Tadi hanya
sekedar basa basi saja.
“Oya, kemarin aku sudah mengirim
cv-ku ke perusahaanmu. Apa kamu sudah melihatnya?”
“Cv?” Jordan mengerut kening “untuk
apa kamu mengirimnya?”
“Tentu saja untuk bekerja.” Cengirnya
“Bukankah Papamu juga memiliki
perusahaan yang cukup besar?”
“Papa minta aku agar belajar
mengelolah bisnis, karna untuk kedepannya aku yang mungkin akan lebih sering
menghandle urusan kantor, mengingat papa sudah terlalu tua.”
“So?”
“Jadi kupikir kalau untuk
belajar, bekerja dibawah perusahaanmu merupakan pilihan yang tepat. Apalagi kamu
adalah pemimpim yang luar biasa dan tidak diragukan lagi kehebatannya. Dan sebagai
teman sekelas merangkap tetangga apartemen sewaktu kuliah dulu, kuharap kamu mau
menerimaku.” pinta wanita itu dengan wajah memelas
Jordan tidak berkomentar. Matanya
hanya menatap lurus pada wanita itu.
“Ayolah, Jangan menolakku, hm?”
suaranya penuh harap. “dulu kamu juga sering meminta bantuanku untuk menghandle
teman-teman kencanmu itu,”
Jordan menghela napas, lalu
mengangguk. “Baiklah. Minggu depan kamu bisa langsung datang bekerja.”
“Serius?” mata gadis itu berbinar
ceria
Jordan hanya terkekeh sebagai
respon.
“Yay.. thank you so much, babe!”
pekik wanita itu berjingkrak kesenangan, tanpa segan langsung memeluk erat
tubuh Jordan. Sedang Jordan tampak tidak keberatan dengan itu.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg**