JORDAN

JORDAN
Chapter 22



Darah segar membasahi seluruh permukaan aula. Tumpukan mayat tergeletak seperti


barang tidak berharga. Tetapi dari semua pemandangan mengerikan itu, justru ada


yang lebih mengerikan dari itu semua.


Seorang pria dengan tubuh berlumuran darah dan pistol di tangannya. Tertawa dengan


puas. Tawa yang menggetarkan bumi hingga sang sahabat bahkan merinding ngeri.


Semua yang melihat segala kebengisan Jordan kini dilanda kengerian yang luar


biasa saat dengan lihainya tangan Jordan menembaki kepala 50 pemimpin pembunuh


bayaran termasuk anak buah mereka juga.


Jordan yang berdiri saat ini tidak lain adalah seorang monster.


“Bereskan dan pastikan seluruh identitas mereka ditemukan.” Jordan memerintah anak


buahnya yang masih hidup agar membuat laporan kematian untuk seluruh pembunuh


bayaran disana.


Untuk apa?


Tentu saja untuk memberi peringatan pada semua orang bahwa mulai hari ini, wilayah


underground di seluruh daratan Eropa ada di bawah kekuasan Dark soul.


Kedatangan Jordan ke Dubai disamping urusan rapat kerja sama dengan perusahaan minyak DE group.


Ia juga menghadiri pertemuan aliansi pembunuh bayaran yang di adakan secara


tertutup. Dimana salah satu aliansi dalam pertemuan disana adalah target Jordan


untuk dilenyapkan karna telah memiliki nyali menyelinap masuk ke kawasannya dan


berhasil membawa lari beberapa peti senjata miliknya sebelum membombardir salah


satu gudang senjatanya.


Awalnya Jordan hanya menargetkan para tikus kecil yang telah mengusiknya itu, namun seiring


berjalannya rapat, matanya sedikit terusik dengan tingkah salah seorang


pemimpin dari keluarga Smith. Dimana lelaki parubaya yang tengah memangku


seorang wanita penghibur itu, kerap bersikap kasar dengan menampar, menjambak


bahkan menekan api cerutunya pada tubuh pelacur yang masih terbilang sangat


muda tersebut. Sedang pelacur itu hanya tetap diam, menahan semua siksaan


ditubuhnya.


Melihat itu tiba-tiba mengingatkannya pada kejadian yang menimpah ibunya saat di


perkosa secara paksa dan kasar. Darah Jordan seketika mendidih, rahangnya mengeras—sedang


kilat mengerikan terpancar di matanya.


Bedebah!


Dalam gerakan yang nyaris tak terlihat, sebuah pisau tiba-tiba sudah menancap di


tenggorokan lelaki tersebut. Darah terciprat keluar dengan deras, membuat semua


orang yang melihatnya kaget dan melotot karena menyaksikan pria yang Jordan


serang dalam sekelebat mata napasnya sudah terputus.


Ruangan itu seketika hening, namun tak lama kemudian semua yang hadir seketika berdiri


dan mengangkat senjatanya lalu mengarahkan ke arah Jordan.


Jordan melirik mereka semua dengan santai, “Ah, sepertinya hari ini aku akan sangat


bersenang-senang,” Jordan menyeringai


Menghabisi lima puluh pembunuh bayaran bagi Jordan hanyalah semudah membakar semut menjadi tumpukan debuh.


“Dasar sombong! Aku akan menyeretmu dan menjadikanmu peliharaan.” Teriak seorang pria


bertato hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba terdengar suara erangan kesakitan


dan lima titik di tempat beberapa orang yang duduk berdekatan seperti habis di


serang.


Beberapa orang di tempat yang acak terjatuh di lantai seolah-olah di siksa


habis-habisan.


Sinar kepuasan muncul di mata Jordan.


Apa yang di perintahkan pada kedua sahabat dan anak buahnya sebelum masuk tadi


berjalan sangat baik. Evan dan Aldrich adalah penembak jitu dan dalam satu


menit tembakan sudah sekitar 30 orang terlihat tumbang dan meringkuk kesakitan.


Teriakan itu menggema menyadarkan semua orang hingga keributan tidak terhindarkan.


Mereka semua langsung memasang mata dan telinga dengan cermat. Mencari tahu


dimana posisi sniper yang memuntahkan peluru beracun untuk mereka.


Beberapa orang menyadari segera menjauh dan beberapa yang lain langsung merasa terancam


dengan keberadaan Jordan. Semua orang kini yakin, Jordan benar-benar ingin


menghabisi mereka semua.


“Evan!” teriak Jordan, lalu sesuatu melayang dan di tangkap Jordan dengan cepat.


Jordan maju dan dalam satu gerakan cepat beberapa orang itu menjerit dan memuncratkan


darah segar ketika mereka berjatuhan dengan luka tembak di tubuh mereka.


Jordan menyeringai senang dan mengangkat pistol yang ada di tangannya dengan wajah


menantang. “Selanjutnya.”


Dengan serentak mereka semua kini maju tanpa ragu. Tujuan utama adalah menghabisi


Jordan.


Jordan merasa senang dan adrenalin semakin terpacu dengan deras.


Suara pukulan, tendangan dan aroma darah yang semakin banyak dan pekat akibat dari


tembakan dan pisau terus bertambah. Gerakan Jordan yang membantai tanpa ampun


seperti tarian berdarah yang sangat indah.


Jordan berhasil membunuh lima puluh pembunuh bayaran dalam satu malam. Evan dan Aldrich tidak


tahu. Apakah mereka harus takut atau bangga. Karena Jordan baru saja


mengguncang dunia bawah tanah.


****


“Jo!”


Jordan mengarahkan tinjunya tepat di rahang pria mabuk, yang sebelum ini menyenggol tubuhnya tanpa sengaja saat


dirinya, Evan dan Aldrich baru saja memasuki Club malam.


Mungkin jika pria itu segera meminta maaf, masalah akan selesai. Namun pria tua berperut buncit itu malah berbalik


marah dan meludah tepat di wajah Jordan.


“Jordan, cukup!”


Kali ini, kaki Jordan turut berperan memberikan tendangan di perut pria itu. Larangan Evan dan Aldrich


seolah menjadi perintah bagi Jordan untuk semakin bringas menghilangkan nyawa


pria di hadapannya. Siku Jordan mendarat tepat dengan kekuatan yang mungkin bisa


meretakkan tulang rusuk pria itu. Ia baru saja menghantamkan pukulan tepat di


hidung pria yang hampir tak berdaya itu ketika tubuhnya di tarik kasar ke


belakang oleh Evan dan Aldrich.


“KAU GILA YA, JO?”


Pandangan Jordan berubah fokus.


Aldrich menatapnya penuh amarah yang jarang ia lihat. Setelah menatap pria yang


berhasil membangkitkan jiwa membunuhnya terkapar di lantai, Jordan berjalan


masuk ke ruang VIP dengan santai.


Evan langsung memeriksa keadaan


pria tua itu, menempelkan kedua jarinya di atas leher pria asing tersebut, dan


menghembuskan napas lega karna pria itu masih bernyawa.


“Bawa dia ke Rumah sakit,” perintah Evan pada anak buah mereka.


****


“Bangsat kau Jo! Aku uda bilang


berhenti, kau tuli atau gimana sih?” gerutu Evan saat masuk dan duduk di depan Jordan.


Jordan tidak menyahut dan


membersihkan sisa darah yang menempel di kulit serta kaus biru tuanya dengan


tisu basah.


“Kau kalau terus-terusan begini


lebih baik kita pulang. Dari pada kami harus melihatmu berubah jadi mesin pembunuh.”


Evan masih bersungut-sungut


sambil meraih wine, lalu meneguknya kasar. Sedang Jordan masih mengabaikan,


turut menegak vodka langsung dari botolnya sampai habis tak bersisa. Kedua mata


Jordan terpejam seiring punggung dan lehernya menyandar penuh di sofa.


Ini kedua kalinya Jordan mengalami kekacauan begini. Pertama saat kehilangan ibunya, dan sekarang karna


istrinya. Otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari masalah yang tak ia


pahami dengan benar. Rasa cemburu benar-benar membuatnya menjadi tak


satu. Tiba-tiba ia merasa hilang arah dan ingin melampiaskannya dengan nafsu


membunuhnya.


“Al,”


“Hm,”


“Kenapa lagi ini anak?” Evan mengangkat satu


alis heran.


Aldrich dan Evan memandang Jordan


bingung. Bagaimana tidak, sejak tiba di Dubai, Jordan tak banyak bicara seperti


sebelumnya. Namun menghadapi pria itu bertingkah aneh seperti ini juga bukan


hal biasa bagi keduanya.


“Aku belum puas,” Jordan bergumam


“Bicara yang jelas,” decak Aldrich


“Aku masih ingin bunuh orang.”


Aldrich dan Evan membelalakkan


mata. Menyelisik sahabat mereka yang kini tengah memejamkan mata.


“Emang lagi sakit otakmu, Jo!” dengus


Evan, mengangkat kaki ke atas meja.


Aldrich menegapkan punggung,


menatap serius pada Jordan yang masih beta menutup mata.


“Katakan, apa sebenarnya yang terjadi?”


“Iya, Jo, kau cerita ke kita kalau


ada masalah. Jangan kembali bertingkah enggak waras begini. Sejak tiba disini


otakmu isinya menyiksa orang. What’s


wrong dude?” timpal Evan


“Atau ini ada hubungannya dengan


Lionara?” tebak Aldrich memicingkan mata.


Masih tidak ada sahutan beberapa


saat setelahnya, hingga membuat Evan tak sabar beranjak dari duduknya,


mendekatkan diri pada Jordan yang masih bergeming dalam posisinya, lalu


menemukan napas pria itu telah berhembus teratur. Jordan tertidur.


“Bedebah!”


****


Jordan tengah berjalan menyusuri


gedung perkantoran milik Ikram Al  Barak.


Pria timur tengah yang merupakan salah satu teman dekatnya saat kuliah.


Tidak untuk rapat. Ia hanya berjalan-jalan


saja. Karena Sam yang sedang melakukan rapat bersama Ikram untuk membicarakan kerja


sama mereka. Di Dubai, ia hanya bekerja pada hari pertama, selebihnya Sam yang


menggantikannya dalam setiap rapat. Jordan hanya ingin sedikit merenggangkan


pikirannya yang berkecamuk. Setelah Evan dan Aldrich mengultimatumnya agar tidak


lagi melenyapkan nyawa orang, maka inilah yang dilakukannya—berjalan-jalan


dengan sesekali memperhatikan sekitar.


Jordan harus mengakui, tidak


hanya memiliki selera interior yang bagus, Ikram juga sangat memiliki selera


yang bagus ketika memilih karyawatinya. Mereka semua berparas cantik dan


bertubuh seksi, dimana sesekali ia mendapatkan tatapan nakal dari mereka.


sementara Jordan tidak terlalu menghiraukan. Ia sedikit mempertanyakan


kenormalannya sebagai pria setelah menikahi Lionara Florentine.


Jordan tersenyum miring,


bisa-bisanya sekarang ia tidak terlalu tergoda oleh wanita-wanita yang


menggiurkan itu. Miliknya hanya akan bereaksi jika perempuan itu adalah


Lionara. Dan itu sangat menyebalkan. Ia menjadi tidak bisa menuntaskan hasrat


kelaki-lakiannya dengan para wanita di tempat ini.


“Jordan?!”


Jordan yang tengah memperhatikan


pemandangan sekitar gedung melalui dinding kaca gedung, dikejutkan oleh suara


lembut yang memanggil namanya.


Memutar tubuh, maniknya langsung


bertemu sesosok wanita cantik, bertubuh tinggi dan seksi kian mendekati


tempatnya. Kakinya sangat jenjang, dibalut dengan sepatu high heels yang mempercantik penampilannya. Perempuan itu tersenyum


manis ke arahnya yang tidak segan di balas ramah oleh Jordan.


“Bagaimana kamu bisa ada disini?”


tanya wanita itu kemudian


“Aku hanya sedang berjalan-jalan,”


Wanita itu mengernyit heran. Mungkin


aneh, bagaimana bisa orang asing seperti dirinya menjadikan gedung perkantoran


elite yang dijaga ketat dengan tidak sembarang orang bisa masuk dijadikan


tempatnya berjalan-jalan.


“Lalu kamu? Apa yang kamu lakukan


disini?” Jordan bertanya balik


“Tidak jauh berbeda denganmu,”


wanita itu menyengir cantik “aku menemani papa. Tapi beliau sedang ikut rapat


di dalam.”


Jordan mengangguk. Tadi hanya


sekedar basa basi saja.


“Oya, kemarin aku sudah mengirim


cv-ku ke perusahaanmu. Apa kamu sudah melihatnya?”


“Cv?” Jordan mengerut kening “untuk


apa kamu mengirimnya?”


“Tentu saja untuk bekerja.” Cengirnya


“Bukankah Papamu juga memiliki


perusahaan yang cukup besar?”


“Papa minta aku agar belajar


mengelolah bisnis, karna untuk kedepannya aku yang mungkin akan lebih sering


menghandle urusan kantor, mengingat papa sudah terlalu tua.”


“So?”


“Jadi kupikir kalau untuk


belajar, bekerja dibawah perusahaanmu merupakan pilihan yang tepat. Apalagi kamu


adalah pemimpim yang luar biasa dan tidak diragukan lagi kehebatannya. Dan sebagai


teman sekelas merangkap tetangga apartemen sewaktu kuliah dulu, kuharap kamu mau


menerimaku.” pinta wanita itu dengan wajah memelas


Jordan tidak berkomentar. Matanya


hanya menatap lurus pada wanita itu.


“Ayolah, Jangan menolakku, hm?”


suaranya penuh harap. “dulu kamu juga sering meminta bantuanku untuk menghandle


teman-teman kencanmu itu,”


Jordan menghela napas, lalu


mengangguk. “Baiklah. Minggu depan kamu bisa langsung datang bekerja.”


“Serius?” mata gadis itu berbinar


ceria


Jordan hanya terkekeh sebagai


respon.


“Yay.. thank you so much, babe!”


pekik wanita itu berjingkrak kesenangan, tanpa segan langsung memeluk erat


tubuh Jordan. Sedang Jordan tampak tidak keberatan dengan itu.


To be continued


IG: @rianitasitumorangg**