
“Kau menghajar, Daddymu?”
Tampaknya Josep sudah mengabarkan berita itu sehingga kakeknya langsung menelepon tepat saat dirinya baru menginjakkan kaki di Rumah Sakit. Jordan menerima teleponnya di dekat taman jauh dari kebisingan orang-orang yang berlalu lalang disana.
“Yah, begitulah, Kek. Maaf sudah membuat sedikit goresan di wajah anak emasmu.”
“Syukurlah. Setidaknya kau tidak membuatnya mati dulu sebelum mendapatkan keturunan darimu” kakeknya terkekeh
“Tenang saja. Anakmu masih bernafas, Kek.” Jordan dan kakeknya memang sering melemparkan humor sarkastik sehingga tidak ada yang tersinggung. Itu sudah menjadi lelucon mereka sehari-hari.
“Kapan kau kembali?”
“Besok, Kek”
Jeda beberapa saat
“Daddymu tadi meneleponku. Dia ingin mengubah nama warisan yang seharusnya menjadi milikmu menjadi milik Daniel jika kau tetap bersama Lionara. Sepertinya kau sukses membuat iblisnya keluar lagi kemarin. Bravo, Nak”
“Lalu kakek jawab apa?” Jordan mengabaikan humor Kakeknya yang terakhir
“Tentu saja aku tidak setuju. Enak saja!” gerutu kakeknya di telepon.
“Kenapa? Bukankah Daniel juga cucumu? Lagi pula sejak dulu, aku memang tidak berminat dengan warisan itu jika bukan karna Kakek yang memaksaku”
“Jangan begitu, Nak. Semua itu memang milikmu—sebagai cucu pertama. Dan aku sudah menjanjikannya dengan ibumu begitu kau dilahirkan.”
“Lalu bagaimana dengan si tua itu? kakek jelas tahu dia menolakku”
“Daddymu bisa menolak, tapi selama kakek hidup keputusan mutlak masih ditanganku. Karna itu, segera lahirkan seorang anak sebagai persyaratan agar warisan itu menjadi milikmu sepenuhnya.” Terdengar Kakeknya menghela napas “Pernikahan kalian mungkin tidak berlandaskan cinta—seperti Ayah dan ibumu dulu. Tapi, kali ini
kakek harap kau tidak mengikuti jejak bodoh Ayahmu yang menyia-nyiakan istrinya. Kau harus tetap bersama Lionara sampai maut memisahkan kalian.”
“Sepertinya Kakek sangat menyukai istriku.”
Rikkard tertawa, “Tentu saja aku menyukainya. Karna dia telah berhasil membuat pemain wanita sepertimu terikat dalam pernikahan. Setidaknya aku tidak perlu kahwatir lagi kau akan hidup sendiri.”
Jordan baru saja hendak membuka mulut, ketika tanpa sengaja matanya menangkap sepasang pria dan wanita tengah bercakap santai di bangku taman yang tak jauh darinya. Jika itu adalah orang lain ia sama sekali tidak peduli. Tapi sialnya wanita yang tengah tersenyum manis pada dokter pria sialan itu adalah Lion-nya. Ada suatu perasaan tidak suka saat miliknya didekati oleh orang asing.
“Tenang saja, Kek. Pernikahan ini pasti akan terus berlanjut sampai mau memisahkan.” sahut Jordan penuh penekanan dengan sorot tajam yang tidak lepas dari Lionara dan pria asing itu.
“Good then. Dan kakekmu ini sudah tidak sabar menggendong cicit darimu,”
Jordan tidak lagi membalas kakeknya. Dengan langkah tegas dia sudah berjalan mendekati istrinya yang akan di gendong oleh pria lain.
****
“Bagaimana keadaannya?” tanya Jordan dengan raut serius, sedang dari tadi tangannya tidak lepas menggenggam jemari Lionara yang tidak terinfus.
“Istri anda baik-baik saja. Nyeri yang menyerang tadi merupakan efek biasa dari benturan beberapa hari lalu. Sebaiknya istri anda dirawat beberapa hari lagi disini demi—“
“Tidak perlu. Besok kami sudah harus kembali ke Manhattan. Di rumah dia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik” sela Jordan tidak suka dengan tawaran sang dokter. Aura permusuhan menguar begitu kentara. “mungkin anda sudah bisa kembali memeriksa pasien yang lain. Istriku ingin istirahat.”
“Oh.” Mike mengangguk lambat. Sadar itu adalah kode pengusiran untuk dirinya agar segera keluar dari sana. Bahkan sedari tadi tubuh Lionara terus di dempet untuk menegaskan kepemilikan atas diri Lionara—bahwa Jordanlah orangnya.
“Baiklah. Kalau begitu saya permisi”
“Dokter Mike, terimakasih”
“Sama-sama, Nara. Senang berkenalan denganmu” Mike tersenyum ramah kemudian segera berlalu keluar dari sana dibawah tatapan tajam Jordan.
Baru saja terdengar bunyi pintu tertutup, tanpa peringatan Jordan menangkup wajah Lionara kemudian mencium bibirnya. Jordan menciumnya dengan keras seolah melampiaskan rasa panas yang membakar di hatinya.
“Who is he?” tanya Jordan setelah melepas ciumannya.
“Hanya teman,”
“Teman?”
“Ya. Kami berkenalan di malam pertunanganmu kemarin. Dan disangka dia dokter disini juga.”
“Secepat itu kamu sudah menjadikannya teman?” Jordan memicingkan mata tak suka.
“Dia baik, ramah. Tidak ada salahnya, bukan?”
“Sangat.salah. Tidak ada yang namanya pertemanan antar pria dan wanita.” tangan Jordan mengelus bibir bawah Lionara yang terdapat sisa saliva bekas ciumannya tadi. “apalagi kamu sudah menikah Lion…”
“Lalu apa masalahnya?” Nara berusaha tetap tenang saat napas hangat Jordan menerpa
tengkuknya. Dan yang paling parah adalah Jordan tersenyum. Senyum yang berbeda
dengan biasanya. Pria itu sedang marah.
“Sangat salah, sayang. Aku tidak suka istriku
terlibat dengan lelaki lain, untuk urusan apapun itu. karna itu jaga jarak dari
lelaki itu.”
“Kamu tidak bisa membatasi pertemananku,” Lionara tidak terima.
“Aku suamimu. Dan aku sangat berhak menentukan siapa yang layak menjadi temanmu.” tegas Jordan dengan penuh penekanan.
Sedang Lionara langsung bungkam. Pada akhirnya ia memilih mengakhiri lebih dulu perdebatan mereka—berbalik, tidur memunggungi Jordan. Sifat memaksa lelaki ini mulai kelihatan.
Jordan menatap lama punggung itu. Ia menghela napas—bingung dengan apa yang kini tengah ia rasakan. Padahal selama ini ia selalu bisa bersikap tenang dan bisa mengontrol emosi, tapi sejak melihat istrinya dekat dengan lelaki lain, bahkan mampu membuat wajah sedingin es itu sampai tersenyum, tiba-tiba saja membuat darahnya berdesir marah. Dia sungguh tidak suka Lion-nya tersenyum di depan lelaki lain. Giliran di depannya saja, Lionara memasang muka bak Wednesday Adam yang kakuh.
Hell, enak sekali pria itu menikmati
senyum manis istrinya! Tidak akan dia biarkan kejadian tadi terulang kembali.
Jordan turut merebahkan diri disisi Lionara. Tangannya memeluk Lionara dari belakang hingga membuat gadis itu hampir terkesiap dan berniat melepaskan diri, tapi tangan Jordan lebih cepat menahan dan memeluknya semakin erat.
“Shhh…Tidurlah. Aku tidak akan melakukan apapun. Hanya tidur.” Bisiknya
Lionara memejamkan mata dan tertidur dalam pelukan itu. Sekarang Lionara baru bisa merasa hangat dan terlindungi setelah bertahun-tahun merasa ketakutan dan sendirian. Meski mungkin ini hanya sementara Lionara ingin menikmatinya.
****
“Aku ingin mengubah nama warisan untuk Jordan menjadi Daniel.” ucap Josep saat melakukan panggilan video dengan Rikkard
“Kenapa lagi?” Rikkard bertanya malas sambil menyesap wine di tangannya
“Anak itu sudah keterlaluan. Dia mengacaukan pertunangannya dan membuatku sangat malu.” geram Josep
“Bukankah kalian berdua selalu seperti itu.” Rikard berucap santai sembari meletakkan kembali gelas winenya.
“Ini sudah diluar batas, Dad! Dia bahkan menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya, terlebih itu tanpa sepengetahuanku!”
“Memangnya sejak kapan anakmu itu mau meminta ijinmu dulu?” Rikkard menaikkan alis
Josep terdiam. Benar. Sejak kapan Jordan mau meminta ijinnya? Anak itu bahkan selalu bertindak sesuka hati. Terlebih semenjak Ibunya meninggal, kehidupan Jordan menjadi sangat bebas. Melanggar semua aturan yang sudah dibuatnya, terlibat tawuran, bermain judi, balapan liar, mabuk-mabukan, dan seringnya memprovakasi dirinya dengan segala tindakan yang membuatnya frustasi. Anaknya itu bahkan tidak mau tinggal satu atap dengannya—lebih memilih tinggal dengan Rikkard—kakeknya.
Berapa kali pun Josep menghajarnya agar anaknya itu jera membuat onar, tapi tetap saja ia kembali ke kebiasaannya semula—bahkan semakin parah dari sebelumnya.
Namun demikian, Jordan adalah anak yang jenius. Terbukti dia selalu mendapatkan nilai terbaik saat di sekolah sampai menyelesaikan kuliahnya di Harvard. Setelah lulus, Jordan langsung bergabung bekerja di perusahaan milik
keluarga dan siapa sangka, di tangan anak yang kerap menimbulkan masalah untuknya itu, nyatanya dalam waktu singkat mampu meningkatkan penghasilan perusahaan berkat otak jeniusnya.
Bangga?
Tentu saja sebagai Ayah dia sangat bangga. Tapi tetap saja hatinya merasa kosong saat darah dagingnya sendiri menolak dirinya sebagai Ayah. Josep tidak pernah berhasil menyentuh kedalaman hati sang putra.
“Dengar, Son. Jangan lagi menambah luka di hatinya yang bahkan belum sembuh dengan menyerahkan haknya kepada anakmu yang lain. Itu akan membuat kadar kebenciannya terhadapmu semakin besar.” Rikkard mulai berbicara saat Josep masih tetap diam “Cukup dengan Grace yang kau sia-siakan. Jangan putranya.”
“Jordan anakku juga, kalau Dad lupa.” tukas Josep tidak terima
“Jika dia anakmu maka jangan merubah apapun lagi.” tegas Rikkard
“Tapi kali ini dia sudah keterlaluan, Dad. Dia menganggapku benar-benar seperti musuh yang harus dihancurkan. Bahkan Rossalyn dan anak-anakku yang tidak bersalah pun turut ia benci.” Josep mengusap wajahnya frustasi. “dan jika dia terus mempertahankan wanita yang tidak jelas asal usulnya itu menjadi istrinya, maka aku akan tetap pada keputusanku. Daniel yang akan menggantikannya.”
“Jangan lupa kalau daddymu yang tua ini masih hidup, Josep. Keputusan mutlak masih ditanganku.” Rikkard tersenyum sinis “dan satu lagi, jangan salahkan Jordan jika dia tumbuh menjadi pribadi yang mengerikan. Salahkan dirimu sendiri yang gagal menjadi sosok daddy untuknya.” Putus Rikkard mengakhirin panggilan video mereka.
To be continued
IG: rianitasitumorangg