
Nara
bergeming. Sekuat tenaga ia menahan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya
saat ini. bahkan kepalan di tangannya semakin mengetat ketika Rebeca dan Jordan
sudah berhenti di hadapan mereka.
“Hai,”
sapaan lembut mengalun dari bibir wanita itu. Nara bungkam. Rebeca
memperlakukannya seperti orang asing yang tak saling mengenal.
“Kamu
pasti Lionara, kan? Jordan tadi sudah bercerita sedikit tentangmu.” Lanjut
Rebeca tersenyum “Perkenalkan, aku Rebeca—teman kuliahdan tetangganya Jordan
dulu. Kebetulan aku juga baru bergabung di perusahaan beberapa waktu lalu,”
ceria, Rebeca menjulurkan tangannya ke hadapan Nara.
Nara
masih bergeming. Maniknya menatap lurus pada Rebeca yang menyunggingkan senyum.
Ia benci senyuman itu. Masih segar di ingatannya, bagaimana dulu Rebeca dan
kedua orang tuanya dengan kejam memperlakukan ia, adik beserta mamanya yang
depresi, seperti sampah. Bahkan Rebeca lah dulu yang membuka pintu kamar
mamanya yang sengaja ia kunci, agar sang mama tidak kabur pada saat ia berada
di sekolah. Wanita itu membuka pintu dan membiarkan mamanya berlari ke jalanan
hingga berakhir di tabrak oleh sebuah mobil yang tengah melaju kencang.
Setelah
Ayahnya, Nara juga kehilangan mamanya dengan cara yang sangat tragis. Detik itu
hatinya hancur dan dipenuhi kebencian yang menggunung. Seluruh kekayaan orang
tuanya dimanupulasi dan jatuh ke tangan keluarga Rebeca. Ia dan Leon di usir
dari rumah mereka sendiri dan berakhir luntang lantung di jalanan.
Bertahun-tahun ia memendam rasa sakit itu, saat ia berjuang mati-matian hanya
untuk bisa mendapatkan sesuap nasi untuk bertahan hidup, sementara Rebeca dan
keluarganya hidup dengan bergelimang harta—hasil peninggalan orang tuanya.
Dan
setelah bertahun-tahun, wanita ini akhirnya muncul kembali, dan berdiri di
hadapannya tanpa rasa bersalah, seperti
orang asing.
“Ke-kenapa?
Apa aku telah melakukan kesalahan?” lirih Rebeca saat tak mendapatkan respon
dari Nara.
Mata
Nara menatap tajam perempuan ular di hadapannya. Wanita itu kembali memainkan
tak tik layaknya perempuan innocent.
Ia ingin menampar keras wajah itu, tapi otaknya melarang. Ia tidak boleh
bertindak gegabah. Rebeca adalah racun yang bisa menghancurkannya kapan saja.
“Sayang,”
Jordan menyentuh lembut bahu Nara yang begitu tegang. Nara mengerjap, lalu
menoleh kepada Jordan yang kini merangkul bahunya.
“Apa?”
tanya Nara datar
“Rebeca
ingin berkenalan denganmu.” Jordan menunjuk dengan dagu pada uluran tangan
Rebeca yang belum di sambut. “Dibalas dong,”
“Oh.”
Nara kembali menoleh pada Rebeca dan membalas jabatannya dengan ekspresi datar
“Lionara.” Ia sekuatnya, menetralkan hatinya agar tak melakukan kebodohan.
“Aku
minta maaf jika kehadiranku membuatmu menjadi tidak nyaman,” Rebeca berucap
dengan nada bersalah.
Nara
hanya menatap datar.
“Apa
kamu baik-baik saja, Flo?” tanya Daniel dengan nada kahwatir. Sejak tadi ia
sudah memperhatikan perubahan sikap wanita yang dicintainya itu.
“Her name Lionara. Jangan memanggilnya
selain dari itu!” ralat Jordan dengan tatapan tajam.
Daniel
tidak menghiraukan. Matanya terus menatap cemas pada Nara yang masih membisu,
dan Jordan membenci itu. Kemudian Jordan
menarik tubuh Nara hingga menempel di dadanya—memeluknya dengan posesif.
“Tidak
perlu mencemaskan istriku. Sejak mengandung anakku,
dia mudah lelah.” sinis Jordan.
Nara
tidak berkomentar. Ia tahu Jordan dalam mode cemburu. Malahan ia balas memeluk
Jordan dan membenamkan wajahnya di dada pria itu dengan mata terpejam. Bertemu
kembali dengan Rebeca membuat moodnya benar-benar buruk.
“Aku
ngantuk. Kita pulang saja.” gumam Nara
Jordan
melirik Daniel, lalu tersenyum penuh kemenangan saat mendapati raut pias pria
itu. “As you wish, Mommy.” Balasnya,
mengecup pelipis Nara lalu menggendong tubuhnya ala bridal style—meninggalkan
Daniel yang berekspresi sendu, sedang Rebeca dengan ekspresi marah dan bibir
yang terkatup rapat.
****
Rebeca
melempar kasar sling bag-nya ke atas sofa sebelum menghempaskan tubuhnya di
atas ranjang. Ia memijit kepalanya yang terasa ingin pecah sejak berinteraksi
dengan Nara tadi. Sial, wanita itu benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya
secara terang-terangan padanya tadi. Untung saja ia bisa mengendalikan diri
untuk tidak menyerang wanita itu, jika tidak rencana yang sudah ia susun
jauh-jauh hari akan berakhir sia-sia.
Ya,
Rebeca memiliki rencana besar untuk kembali menghancurkan hidup Lionara.
Awalnya
ia tidak berkeinginan lagi untuk melibatkan diri pada kehidupan sepupunya itu.
Sebelas tahun lalu ia sudah berhasil sedikit menyiksa hidup Nara saat kedua
orang tuanya berhasil mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Nara. Bahkan
setelah itu yang ia tahu Nara dan adiknya berakhir menjadi gembel di jalanan
setelah di usir keluar dari rumah oleh orang tuanya. Selebihnya, ia tidak
pernah repot mau mencari tahu bagaimana kelanjutan hidup sepupunya itu. Entah
Nara ikut menyusul kedua orang tuanya yang telah meninggal, atau tetap menjadi
gembel jalanan.
Tapi
berita mengenai pernikahan Jordan yang tersiar enam bulan lalu sontak
membuatnya shock berat. Pasalnya Jordan adalah pria yang selama ini diam-diam
dia sukai dan ia juga berjuang keras untuk meluluhkan hati Jordan agar membalas
perasaannya. Namun, semua kandas di tengah jalan begitu ia mendengar kabar
pernikahan Jordan, dan luar biasanya, wanita yang menjadi istrinya adalah si
gembel Lionara. Bagaimana bisa?!
Mengetahui
yang menjadi istri dari pria yang ia cintai adalah sepupunya, Rebeca sama
sekali tidak terima. Sampai mati pun ia tidak rela Jordan di pasangkan dengan
Lionara. Karna itulah ia berusaha masuk ke dalam perusahaan Jordan, dengan
menjadi pekerja disana. Pelan-pelan ia akan merebut kembali apa yang seharusnya
menjadi miliknya.
“Lionara…”
desis Rebeca, menatap nyalang langit-langit kamar
Sejak
dulu Rebeca paling benci dengan pemilik nama itu. Lionara terlahir dari
keluarga yang benar-benar sempurna. Kedua orangtuanya saling mencintai dan
sangat menyayangi Lionara, serta memperlakukannya layaknya putri
kerajaan—apapun yang Lionara inginkan semuanya dipenuhi dengan sempurna. Tidak
hanya mendapatkan kasih sayang dari keluarga, di sekolah Lionara juga mendapatkannya, terlebih Lionara adalah anak
yang berprestasi dan periang.
Rebeca
iri dengan kehidupan sempurna Lionara. Perhatian dari orang tua, Rebeca tidak
pernah mendapatkannya. Kedua orang tuanya seakan sibuk dengan dunia mereka
masing-masing. Ayahnya yang gila kerja, mamanya sibuk dengan kegiatan geng
sosialitanya, sedang kakak lelakinya, berandal sekolah yang senang membuat
keributan. Hanya dia seorang yang tetap diam dirumah, sibuk belajar dengan
semua buku-buku pelajarannya. Tidak ada waktu bagi keluarganya untuk sekedar
quality time bersama—saling berbincang hangat layaknya keluarga Lionara.
****
lakukan itu” isak Nara sambil terus meronta saat kedua tangannya dicekal oleh
pelayan di kanan dan kirinya.
“Sshhh, tidak
sekarang, sayang. Ini hukuman karena Mama gila kamu ini sudah berani muntah dan
kencing di celana, hingga membuat seprai menjadi sangat bau dan kotor.” Lagi,
Lucy menceburkan kepala Maria ke dalam bathtub yang penuh dengan air dingin berulang
kali. Wanita itu tersedak dan terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah. Namun Lucy
tetap tidak peduli, ia malah tertawa senang dengan kegiatannya.
“Saya mohon tante…
Mama sungguh tidak mengerti dengan apa yang di perbuatnya.” Raung Nara penuh
permohonan dan berusaha terus merangkak menghampiri Maria yang hampir tak
berdaya—tapi tubuhnya masih terus ditahan.
Lucy tertawa keras,
“Tentu saja dia tidak mengerti. Kan Mama kamu ini gila!”
“Karna itu tolong
hentikan, Tante.” Suara Nara tersendat-sendat—wajahnya dipenuhi air mata. “Nanti…
nanti saya yang cuci seprainya.”
Lucy tidak
menggubris, ia kembali menyiksa Maria.
“Sudah cukup, Ma.”
Rebeca yang sejak tadi hanya menonton dengan datar sambil bersidekap dada akhirnya
mengeluarkan suara “wanita itu sudah pingsan.” lanjutnya, menunjuk dengan mata
Maria yang ternyata memang sudah tak sadarkan diri.
“Ck, dasar tidak
berguna!” decih Lucy, mendorong tubuh Maria membentur lantai dingin kamar
mandi.
“Mama!” teriak Nara
dengan jantung yang berdentam keras. Dengan kekuatan penuh ia mendorong kedua
pelayan yang sejak tadi menahannya, dan berhasil.
Tertatih-tatih Nara
menghampiri Maria yang tergolek pingsan, lalu memangku kepala mamanya dengan
tubuh bergetar. “Ma…Mama… bangun Ma…” isak Nara, menepuk-nepuk wajah pucat
Maria “Ma-maaf… maaf… karena Nara pulang terlambat,”
“Sekali lagi Mama
kamu buat masalah, saya pastikan membuang dia ke jalanan.” peringat Lucy
sebelum keluar dari sana bersama dengan Rebeca dan kedua pelayan tadi.
Ditempatnya, Nara
memeluk Mamanya kian erat. Tubuhnya bergetar
hebat dengan isakan pilu yang menyayat hati. Sungguh, Om dan tantenya
memperlakukan mereka bak binatang setelah berhasil mengorek seluruh harta
keluarganya.
****
“Mama… maaf.. Lio
terlambat pulang… Ma…”
Bibir
Nara bergumam tidak jelas, wajahnya memucat, dengan dahi di penuhi butir
keringat dan tangannya mencengkram kuat dada Jordan yang tidur memeluknya. Sesekali
Nara merintih, ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.
Jordan
terbangun karena cengkraman kuat Nara, lalu segera duduk dan mendapati Nara
yang tengah meracau dalam tidurnya.
“Mama… maaf…”
Jordan
kembali mendengar rintihan Nara. Dari nada suara juga wajah Nara yang dipenuhi
butir keringat, ia bisa pastikan jika istrinya itu tengah bermimpi buruk.
Jordan
membungkukkan badannya, dan perlahan tangannya terulur menyeka peluh yang
membanjiri kening istrinya.
“Sayang…
bangun,” Jordan menepuk-nepuk pelan pipi Nara “Sayang, buka mata kamu,”
Cukup
lama Jordan mencoba membangunkannya, hingga kemudian netra hijau itu terbuka
dan diliputi kesedihan yang luar biasa. Nafas Nara terengah, setetes air mata
meluncur jatuh, dadanya terasa sesak sekali, seperti dihimpit ribuan kilo besi.
Ia tidak menyangka, kebahagiaan keluarganya hancur begitu saja.
“Mimpi
buruk, hm?” Jordan bertanya lembut sambil menyeka air mata Nara, lalu
mendudukkan tubuh istrinya.
“Jordan…”
serak Nara dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Kamu
minum dulu ya,” sela Jordan, mengambil gelas berisi air di nakas sebelah
ranjang.
Nara
menurut, dan langsung meneguk minuman itu sampai habis. Setelahnya Jordan
kembali meletakkan gelas itu ditempat semula.
“Kamu
mimpi tentang Mama kamu?” tanya Jordan sambil mengusap-usap pipi Nara dengan
ibu jarinya. Nara mengangguk samar.
“Mau cerita?”
Nara
diam. Hanya maniknya yang menatap iris biru Jordan yang terasa menenangkan.
Melihat
kebisuan Nara, Jordan bisa menyimpulkan jika istrinya itu belum siap untuk
bercerita sekarang.
“Baiklah,
ceritanya bisa lain kali.” Jordan tersenyum hangat, lalu menangkup wajah Nara,
mengecup kening, kedua mata Nara yang berair, hidung dan terakhir mengisap
lembut bibirnya.
“Kita
bobo lagi ya, bentar lagi uda mau pagi.”
Nara
mengangguk, dan tanpa banyak bicara, Jordan kembali membaringkan tubuhnya dan
Nara dengan posisi kepala Nara berbantalkan sebelah lengannya dan sebelah lagi
melingkar di perut Nara—membelai lembut dan pelan.
“Jangan
mimpi buruk lagi, Mommy. Mimpiin tentang kita bertiga aja. Daddy dan baby. Setujuh?”
Nara
tersenyum. Meraih tangan Jordan di perutnya, menyatukan jemari mereka dan
menciumnya lama—dengan kedua mata yang ditutup. “Thank you, Daddy.”
Jantung
Jordan berdebar keras, wajahnya merona. Kesenangan. Ini pertama kalinya Nara
berinisiatif mencium tangannya dan memanggilnya dengan sebutan yang teramat manis
itu. Daddy.
“Ulang
dong. Tadi kamu bilang apa?”
“Malas!”
“Sekali
aja. Tadi apa? Thank you… apa?” senyum terukir lebar, kantuk benar-benar hilang
seluruhnya.
“Thank
you Mommy Lion. Terus kalau balasnya, apa itu…?”
“Ngantuk
Jo. Tidur.” Nara menyurukkan kepalanya di dada Jordan.
“Sekali
aja, Mommy,” Jordan mengguncang bahunya, penuh harap. “Bilang dulu, tadi apa?”
Nara
mengembuskan napas, lalu mendongak. “Thank you, Daddy.” Lantas mengecup singkat
bibir bawel suaminya.
Jordan
balas menangkup wajah Nara, kemudian menaburkan ciuman di kedua pipi, kening,
bibir, dagu, ditutup dengan gigitan gemas di hidung bangirnya.
“You’re welcome,
Mommy. I love you.”
“Aku
ngantuk. Peluk aku.” pinta Nara dan Jordan langsung mendekapnya erat-erat
dengan senang hati.
**To be continued
IG: @rianitasitumorangg**