JORDAN

JORDAN
Chapter 28



Nara


bergeming. Sekuat tenaga ia menahan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya


saat ini. bahkan kepalan di tangannya semakin mengetat ketika Rebeca dan Jordan


sudah berhenti di hadapan mereka.


“Hai,”


sapaan lembut mengalun dari bibir wanita itu. Nara bungkam. Rebeca


memperlakukannya seperti orang asing yang tak saling mengenal.


“Kamu


pasti Lionara, kan? Jordan tadi sudah bercerita sedikit tentangmu.” Lanjut


Rebeca tersenyum “Perkenalkan, aku Rebeca—teman kuliahdan tetangganya Jordan


dulu. Kebetulan aku juga baru bergabung di perusahaan beberapa waktu lalu,”


ceria, Rebeca menjulurkan tangannya ke hadapan Nara.


Nara


masih bergeming. Maniknya menatap lurus pada Rebeca yang menyunggingkan senyum.


Ia benci senyuman itu. Masih segar di ingatannya, bagaimana dulu Rebeca dan


kedua orang tuanya dengan kejam memperlakukan ia, adik beserta mamanya yang


depresi, seperti sampah. Bahkan Rebeca lah dulu yang membuka pintu kamar


mamanya yang sengaja ia kunci, agar sang mama tidak kabur pada saat ia berada


di sekolah. Wanita itu membuka pintu dan membiarkan mamanya berlari ke jalanan


hingga berakhir di tabrak oleh sebuah mobil yang tengah melaju kencang.


Setelah


Ayahnya, Nara juga kehilangan mamanya dengan cara yang sangat tragis. Detik itu


hatinya hancur dan dipenuhi kebencian yang menggunung. Seluruh kekayaan orang


tuanya dimanupulasi dan jatuh ke tangan keluarga Rebeca. Ia dan Leon di usir


dari rumah mereka sendiri dan berakhir luntang lantung di jalanan.


Bertahun-tahun ia memendam rasa sakit itu, saat ia berjuang mati-matian hanya


untuk bisa mendapatkan sesuap nasi untuk bertahan hidup, sementara Rebeca dan


keluarganya hidup dengan bergelimang harta—hasil peninggalan orang tuanya.


Dan


setelah bertahun-tahun, wanita ini akhirnya muncul kembali, dan berdiri di


hadapannya tanpa rasa bersalah,  seperti


orang asing.


“Ke-kenapa?


Apa aku telah melakukan kesalahan?” lirih Rebeca saat tak mendapatkan respon


dari Nara.


Mata


Nara menatap tajam perempuan ular di hadapannya. Wanita itu kembali memainkan


tak tik layaknya perempuan innocent.


Ia ingin menampar keras wajah itu, tapi otaknya melarang. Ia tidak boleh


bertindak gegabah. Rebeca adalah racun yang bisa menghancurkannya kapan saja.


“Sayang,”


Jordan menyentuh lembut bahu Nara yang begitu tegang. Nara mengerjap, lalu


menoleh kepada Jordan yang kini merangkul bahunya.


“Apa?”


tanya Nara datar


“Rebeca


ingin berkenalan denganmu.” Jordan menunjuk dengan dagu pada uluran tangan


Rebeca yang belum di sambut. “Dibalas dong,”


“Oh.”


Nara kembali menoleh pada Rebeca dan membalas jabatannya dengan ekspresi datar


“Lionara.” Ia sekuatnya, menetralkan hatinya agar tak melakukan kebodohan.


“Aku


minta maaf jika kehadiranku membuatmu menjadi tidak nyaman,” Rebeca berucap


dengan nada bersalah.


Nara


hanya menatap datar.


“Apa


kamu baik-baik saja, Flo?” tanya Daniel dengan nada kahwatir. Sejak tadi ia


sudah memperhatikan perubahan sikap wanita yang dicintainya itu.


“Her name Lionara. Jangan memanggilnya


selain dari itu!” ralat Jordan dengan tatapan tajam.


Daniel


tidak menghiraukan. Matanya terus menatap cemas pada Nara yang masih membisu,


dan Jordan membenci itu.  Kemudian Jordan


menarik tubuh Nara hingga menempel di dadanya—memeluknya dengan posesif.


“Tidak


perlu mencemaskan istriku. Sejak mengandung anakku,


dia mudah lelah.” sinis Jordan.


Nara


tidak berkomentar. Ia tahu Jordan dalam mode cemburu. Malahan ia balas memeluk


Jordan dan membenamkan wajahnya di dada pria itu dengan mata terpejam. Bertemu


kembali dengan Rebeca membuat moodnya benar-benar buruk.


“Aku


ngantuk. Kita pulang saja.” gumam Nara


Jordan


melirik Daniel, lalu tersenyum penuh kemenangan saat mendapati raut pias pria


itu. “As you wish, Mommy.” Balasnya,


mengecup pelipis Nara lalu menggendong tubuhnya ala bridal style—meninggalkan


Daniel yang berekspresi sendu, sedang Rebeca dengan ekspresi marah dan bibir


yang terkatup rapat.


****


Rebeca


melempar kasar sling bag-nya ke atas sofa sebelum menghempaskan tubuhnya di


atas ranjang. Ia memijit kepalanya yang terasa ingin pecah sejak berinteraksi


dengan Nara tadi. Sial, wanita itu benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya


secara terang-terangan padanya tadi. Untung saja ia bisa mengendalikan diri


untuk tidak menyerang wanita itu, jika tidak rencana yang sudah ia susun


jauh-jauh hari akan berakhir sia-sia.


Ya,


Rebeca memiliki rencana besar untuk kembali menghancurkan hidup Lionara.


Awalnya


ia tidak berkeinginan lagi untuk melibatkan diri pada kehidupan sepupunya itu.


Sebelas tahun lalu ia sudah berhasil sedikit menyiksa hidup Nara saat kedua


orang tuanya berhasil mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Nara. Bahkan


setelah itu yang ia tahu Nara dan adiknya berakhir menjadi gembel di jalanan


setelah di usir keluar dari rumah oleh orang tuanya. Selebihnya, ia tidak


pernah repot mau mencari tahu bagaimana kelanjutan hidup sepupunya itu. Entah


Nara ikut menyusul kedua orang tuanya yang telah meninggal, atau tetap menjadi


gembel jalanan.


Tapi


berita mengenai pernikahan Jordan yang tersiar enam bulan lalu sontak


membuatnya shock berat. Pasalnya Jordan adalah pria yang selama ini diam-diam


dia sukai dan ia juga berjuang keras untuk meluluhkan hati Jordan agar membalas


perasaannya. Namun, semua kandas di tengah jalan begitu ia mendengar kabar


pernikahan Jordan, dan luar biasanya, wanita yang menjadi istrinya adalah si


gembel Lionara.  Bagaimana bisa?!


Mengetahui


yang menjadi istri dari pria yang ia cintai adalah sepupunya, Rebeca sama


sekali tidak terima. Sampai mati pun ia tidak rela Jordan di pasangkan dengan


Lionara. Karna itulah ia berusaha masuk ke dalam perusahaan Jordan, dengan


menjadi pekerja disana. Pelan-pelan ia akan merebut kembali apa yang seharusnya


menjadi miliknya.


“Lionara…”


desis Rebeca, menatap nyalang langit-langit kamar


Sejak


dulu Rebeca paling benci dengan pemilik nama itu. Lionara terlahir dari


keluarga yang benar-benar sempurna. Kedua orangtuanya saling mencintai dan


sangat menyayangi Lionara, serta memperlakukannya layaknya putri


kerajaan—apapun yang Lionara inginkan semuanya dipenuhi dengan sempurna. Tidak


hanya mendapatkan kasih sayang dari keluarga, di sekolah Lionara juga  mendapatkannya, terlebih Lionara adalah anak


yang berprestasi dan periang.


Rebeca


iri dengan kehidupan sempurna Lionara. Perhatian dari orang tua, Rebeca tidak


pernah mendapatkannya. Kedua orang tuanya seakan sibuk dengan dunia mereka


masing-masing. Ayahnya yang gila kerja, mamanya sibuk dengan kegiatan geng


sosialitanya, sedang kakak lelakinya, berandal sekolah yang senang membuat


keributan. Hanya dia seorang yang tetap diam dirumah, sibuk belajar dengan


semua buku-buku pelajarannya. Tidak ada waktu bagi keluarganya untuk sekedar


quality time bersama—saling berbincang hangat layaknya keluarga Lionara.


****


lakukan itu” isak Nara sambil terus meronta saat kedua tangannya dicekal oleh


pelayan di kanan dan kirinya.


“Sshhh, tidak


sekarang, sayang. Ini hukuman karena Mama gila kamu ini sudah berani muntah dan


kencing di celana, hingga membuat seprai menjadi sangat bau dan kotor.” Lagi,


Lucy menceburkan kepala Maria ke dalam bathtub yang penuh dengan air dingin berulang


kali. Wanita itu tersedak dan terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah. Namun Lucy


tetap tidak peduli, ia malah tertawa senang dengan kegiatannya.


“Saya mohon tante…


Mama sungguh tidak mengerti dengan apa yang di perbuatnya.” Raung Nara penuh


permohonan dan berusaha terus merangkak menghampiri Maria yang hampir tak


berdaya—tapi tubuhnya masih terus ditahan.


Lucy tertawa keras,


“Tentu saja dia tidak mengerti. Kan Mama kamu ini gila!”


“Karna itu tolong


hentikan, Tante.” Suara Nara tersendat-sendat—wajahnya dipenuhi air mata. “Nanti…


nanti saya yang cuci seprainya.”


Lucy tidak


menggubris, ia kembali menyiksa Maria.


“Sudah cukup, Ma.”


Rebeca yang sejak tadi hanya menonton dengan datar sambil bersidekap dada akhirnya


mengeluarkan suara “wanita itu sudah pingsan.” lanjutnya, menunjuk dengan mata


Maria yang ternyata memang sudah tak sadarkan diri.


“Ck, dasar tidak


berguna!” decih Lucy, mendorong tubuh Maria membentur lantai dingin kamar


mandi.


“Mama!” teriak Nara


dengan jantung yang berdentam keras. Dengan kekuatan penuh ia mendorong kedua


pelayan yang sejak tadi menahannya, dan berhasil.


Tertatih-tatih Nara


menghampiri Maria yang tergolek pingsan, lalu memangku kepala mamanya dengan


tubuh bergetar. “Ma…Mama… bangun Ma…” isak Nara, menepuk-nepuk wajah pucat


Maria “Ma-maaf… maaf… karena Nara pulang terlambat,”


“Sekali lagi Mama


kamu buat masalah, saya pastikan membuang dia ke jalanan.” peringat Lucy


sebelum keluar dari sana bersama dengan Rebeca dan kedua pelayan tadi.


Ditempatnya, Nara


memeluk Mamanya kian erat. Tubuhnya  bergetar


hebat dengan isakan pilu yang menyayat hati. Sungguh, Om dan tantenya


memperlakukan mereka bak binatang setelah berhasil mengorek seluruh harta


keluarganya.


****


“Mama… maaf.. Lio


terlambat pulang… Ma…”


Bibir


Nara bergumam tidak jelas, wajahnya memucat, dengan dahi di penuhi butir


keringat dan tangannya mencengkram kuat dada Jordan yang tidur memeluknya. Sesekali


Nara merintih, ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.


Jordan


terbangun karena cengkraman kuat Nara, lalu segera duduk dan mendapati Nara


yang tengah meracau dalam tidurnya.


“Mama… maaf…”


Jordan


kembali mendengar rintihan Nara. Dari nada suara juga wajah Nara yang dipenuhi


butir keringat, ia bisa pastikan jika istrinya itu tengah bermimpi buruk.


Jordan


membungkukkan badannya, dan perlahan tangannya terulur menyeka peluh yang


membanjiri kening istrinya.


“Sayang…


bangun,” Jordan menepuk-nepuk pelan pipi Nara “Sayang, buka mata kamu,”


Cukup


lama Jordan mencoba membangunkannya, hingga kemudian netra hijau itu terbuka


dan diliputi kesedihan yang luar biasa. Nafas Nara terengah, setetes air mata


meluncur jatuh, dadanya terasa sesak sekali, seperti dihimpit ribuan kilo besi.


Ia tidak menyangka, kebahagiaan keluarganya hancur begitu saja.


“Mimpi


buruk, hm?” Jordan bertanya lembut sambil menyeka air mata Nara, lalu


mendudukkan tubuh istrinya.


“Jordan…”


serak Nara dengan mata yang masih berkaca-kaca.


“Kamu


minum dulu ya,” sela Jordan, mengambil gelas berisi air di nakas sebelah


ranjang.


Nara


menurut, dan langsung meneguk minuman itu sampai habis. Setelahnya Jordan


kembali meletakkan gelas itu ditempat semula.


“Kamu


mimpi tentang Mama kamu?” tanya Jordan sambil mengusap-usap pipi Nara dengan


ibu jarinya. Nara mengangguk samar.


 “Mau cerita?”


Nara


diam. Hanya maniknya yang menatap iris biru Jordan yang terasa menenangkan.


Melihat


kebisuan Nara, Jordan bisa menyimpulkan jika istrinya itu belum siap untuk


bercerita sekarang.


“Baiklah,


ceritanya bisa lain kali.” Jordan tersenyum hangat, lalu menangkup wajah Nara,


mengecup kening, kedua mata Nara yang berair, hidung dan terakhir mengisap


lembut bibirnya.


“Kita


bobo lagi ya, bentar lagi uda mau pagi.”


Nara


mengangguk, dan tanpa banyak bicara, Jordan kembali membaringkan tubuhnya dan


Nara dengan posisi kepala Nara berbantalkan sebelah lengannya dan sebelah lagi


melingkar di perut Nara—membelai lembut dan pelan.


“Jangan


mimpi buruk lagi, Mommy. Mimpiin tentang kita bertiga aja. Daddy dan baby. Setujuh?”


Nara


tersenyum. Meraih tangan Jordan di perutnya, menyatukan jemari mereka dan


menciumnya lama—dengan kedua mata yang ditutup. “Thank you, Daddy.”


Jantung


Jordan berdebar keras, wajahnya merona. Kesenangan. Ini pertama kalinya Nara


berinisiatif mencium tangannya dan memanggilnya dengan sebutan yang teramat manis


itu. Daddy.


“Ulang


dong. Tadi kamu bilang apa?”


“Malas!”


“Sekali


aja. Tadi apa? Thank you… apa?” senyum terukir lebar, kantuk benar-benar hilang


seluruhnya.


“Thank


you Mommy Lion. Terus kalau balasnya, apa itu…?”


“Ngantuk


Jo. Tidur.” Nara menyurukkan kepalanya di dada Jordan.


“Sekali


aja, Mommy,” Jordan mengguncang bahunya, penuh harap. “Bilang dulu, tadi apa?”


Nara


mengembuskan napas, lalu mendongak. “Thank you, Daddy.” Lantas mengecup singkat


bibir bawel suaminya.


Jordan


balas menangkup wajah Nara, kemudian menaburkan ciuman di kedua pipi, kening,


bibir, dagu, ditutup dengan gigitan gemas di hidung bangirnya.


“You’re welcome,


Mommy. I love you.”


“Aku


ngantuk. Peluk aku.” pinta Nara dan Jordan langsung mendekapnya erat-erat


dengan senang hati.


**To be continued


IG: @rianitasitumorangg**