
Lionara mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa pedih karena cahaya lampu yang langsung menusuk ke matanya. Dia memejamkan matanya, dan kemudian membukanya lagi, menemukan kembali dinding yang serba putih melingkupi seluruh pandangan matanya. Pandangannya masih remang-remang, tetapi setelah mengerjap-ngerjapkan matanya kembali, semuanya berangsur jelas. Dia sedang berbaring di atas sebuah ranjang berseprei putih dengan selimut yang senada, di tangan kirinya ada jarum infus yang ditutup plester tampak menusuk di sana. Bau obat yang kuat membuatnya tahu dia sedang berada dimana.
Lionara mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang menyebabkannya hingga berakhir berbaring di ranjang Rumah Sakit ini. Dan kejadian terakhir yang di ingatnya adalah saat dirinya berada di antara perseteruan Jordan dan kedua
orangtuanya. Kejadian selanjutnya Josep memukuli Jordan bak kesetanan dan berujung mengambil tongkat bisbol, hendak mengentakkannya pada Jordan yang kemudian entah kenapa membuat tubuhnya bergerak secara impulsif melindungi Jordan dari hantaman itu—melingkupi tubuh Jordan dengan tubuhnya. Entakan dari bisbol itu mengenai kepalanya.
Seketika itulah Lionara merasakan nyeri yang berdennyut di kepalanya. Ia hendak menyentuh kepalanya namun terhalang oleh sesuatu yang berat. Pelan, Lionara menurunkan pandangannya, disana ada lengan kekar yang merangkul erat pinggangnya. Kembali Lionara mendongak, dan mendapati sosok tersebut adalah Jordan yang saat ini tengah terlelap. Lionara baru menyadari di atas ranjang Rumah Sakit berukuran kecil itu, mereka tidur saling bersisian.
Lionara mengerutkan keningnya dan berusaha meredakan rasa nyeri di kepalanya saat gelombang itu kembali menyerang. Dengan tangan yang diinfus, Lionara menggerakkan jemarinya ke kepala dan barulah ia sadar bahwa dikepalanya berbalut perban yang tebal, melingkupi disana.
“Apakah masih sakit?” parau, Jordan langsung menyanggah tubuhnya saat mendengar ringisan Lionara. “sebentar, aku panggilkan dok—”
“Sudah tidak apa-apa” sela Lionara
“Kamu yakin?” nada suaranya masih kahwatir.
Lionara mengangguk, “Iya.”
Jordan menghela napas. Ia kembali berbaring miring disamping Lionara. Sebelah tangannya mengelus perban di kepala Lionara, lalu mengecupnya lama.
“Bodoh.” gumam Jordan “aku menyuruhnmu hanya diam menonton, bukan melemparkan tubuhmu yang kecil ini untuk melindungiku,”
“Lalu melihatmu mati konyol disana tanpa perlawanan.” Lionara melayangkan tatapan datar
Jordan terkekeh pelan, “Aku tidak akan mati semudah itu, Lion. Si tua itu sudah biasa melakukannya. Tubuhku sudah sangat kebal. Tapi tidak dengan tubuh kurusmu ini.” lanjutnya berdecak jengkel “Hampir saja aku benar-benar akan membunuh si tua itu jika sesuatu yang fatal terjadi padamu.”
Lionara tidak menyahut, tetapi dia menyimak sambil menatap wajah suaminya dalam-dalam yang masih terlihat begitu tampan meski dihiasi lebam dan luka.
Jordan berdehem, “kenapa?”
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian seperti itu?” pelan, Lionara bertanya.
“Bukankah Pak Lee sudah memberitahumu?”
“Tidak semuanya.”
Jordan tersenyum ringan—jemarinya membelai pipi Lionara, “Nanti saja. Setelah keadaanmu membaik.”
“Aku sudah baik” sahutnya cepat
“Bukankah barusan kamu meringis?” Jordan mengangkat alis
“Hanya nyeri sedikit.”
Jordan berdecak. Dia menggenggam tangan Lionara, menyatukan jemari mereka. “Baiklah. Tapi kamu harus menghentikanku jika kepalamu tiba-tiba sakit lagi,” titahnya tegas
Lionara mengangguk.
Lalu hening. Jordan tampak sedang menyusun kata-kata sambil menerawang menatap langit-langit kamar, sementara Lionara menunggu.
“Daddy adalah lelaki brengsek. Dad dan Mom menikah karna dijodohkan. Mom sangat mencintai si tua brengsek itu, tapi sialnya lelaki bodoh itu tidak. Sebaliknya, dia mencintai wanita lain dan tetap menjalin hubungan secara sembunyi dengan cinta pertamanya sekalipun sudah ada istri. Dia menerima pernikahan demi mendapatkan warisan dan kekuasaan dari kakek, dan warisan itu baru akan diserahkan setelah aku lahir. Mom dengan naifnya berpikir jika setelah aku dilahirkan, Dad akan berbalik mencintainya lalu meninggalkan kekasihnya—namun nyatanya tidak. Dia justru semakin sering tidak pulang kerumah dan mengabaikan kami. Mom menangis. Ya, setiap malam aku mendengar suara tangisannya yang menyedihkan.”
Jordan membuka ceritanya dengan kalimat pahit itu. Lionara menyimak tanpa menyahut dengan tatapan yang terus terarah pada Jordan yang tampak tenggelam dengan kisah masa lalunya.
“Sampai peristiwa mengerikan itu terjadi, yang akhirnya membuat kebencianku padanya tak termaafkan.” rendah, mata Jordan berkilat mengerikan. Lionara mengawasi perubahan mimik wajah suaminya.
“Apa yang terjadi?” Lionara memberanikan diri bertanya saat dirasa Jordan tampak enggan melanjutkan.
Jordan menoleh, menatap tajam manik hijau Lionara. Ekspresinya berubah gelap.
“Saat berumur sepuluh tahun, Aku dan Mom diculik oleh sekelompok geng jalanan dan menyekap kami di sebuah gudang—tepatnya di dalam hutan. Mereka meminta uang tebusan dengan jumlah yang tak masuk akal, karena penculik itu yakin Dad pasti akan memenuhi permintaan mereka karena nyawa istri dan pewarisnya dipertaruhkan. Tapi… tahukah kamu respon si tua bangka itu?” Jordan tersenyum culas
Lionara menelan ludahnya—bulu kuduknya merinding melihat senyum tak biasa itu. Tapi dengan cepat dia menyamarkan kegugupannya lalu memberanikan diri memandang Jordan dengan tatapan bertanya.
“Dia tidak datang. Si brengsek itu tidak datang. Dia… lepas tangan. Tidak peduli.” lirih Jordan dengan nada kesakitan. “Penculik itu marah besar. Lalu…lalu mereka mengambil
Mom. Menyeretnya dan…” suara Jordan tercekat berat. Maniknya terpejam rapat saat mengorek ingatan pahit itu “…dan menyetubuhi mom secara bergantian, tepat di depan mataku.”
Lionara terkesiap. Ia bisa melihat dengan jelas raut amarah dan kesakitan yang terpancar dari gestur tubuh lelaki itu. Bibirnya bergetar dipenuhi kengerian.
“Jordan…” gumam Lionara lemah.
“Tidak hanya itu. Mereka juga hendak melenyapkan kami dengan cara membakar hidup-hidup. Tapi entah kekuatan dari mana, Mom yang saat itu nyaris tak berdaya justru bangkit dan dengan cepat mengambil pistol salah satu dari mereka. Dia menembak dengan asal ke arah mereka, lalu menyuruhku berlari secepat mungkin dari sana. Aku menolak. Tapi Mom malah marah dan membentakku dengan keras supaya aku lari dari sana. Dia bilang, aku harus hidup…”
Jordan diam, hanya memperhatikan dan merasakan sentuhan lembut tangan mungil Lion-nya yang menyeka dan mengelus wajahnya. Lionara masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Seolah mengerti bahwa dirinya memang tidak membutuhkan kata-kata panjang yang menghibur. Tenang dan diam. Sangat cantik.
Kemudian Jordan mempersempit jarak mereka. melingkarkan lengannya di tubuh Lionara dan menenggelamkan wajahnya di pelukan hangat wanitanya.
****
Pagi itu, di kursi taman Rumah Sakit, Lionara memilih duduk menyendiri—menikmati udara pagi yang terasa menyegarkan tubuh setelah selama dua hari ini ia hanya mendekam di dalam kamar inapnya. Lionara bosan. Maka dari itu ia memutuskan keluar dan memilih berjalan-jalan di sekitar taman untuk menghirup udara segar. Sedang Jordan, pagi-pagi sekali tadi sudah pamit pergi untuk mengurus rencana kepulangan mereka besok.
Selama dua hari ini lelaki itu tidak sekalipun beranjak dari sisinya. Jordan menjaganya—mengurus semua kebutuhannya disana. Dari mulai menyuapi makan, melap tubuh Lionara yang belum di ijinkan untuk mandi, dan jika Lionara ingin ke toilet, Jordan yang akan menggendongnya kesana. Lionara sudah berulang kali protes karna Jordan memperlakukannya bak orang lumpuh yang tidak bisa apa-apa, tapi dengan menyebalkannya lelaki itu enggan mendengarkan. Jordan tidak bekerja, setia menemaninya. Dan kalau pun ada pekerjaan yang mendesak, ia memilih mengerjakannya disana saat Lionara tengah tertidur. Lionara baru bisa bernapas lega setelah akhirnya Jordan mau tidak mau harus keluar sendiri untuk mengurus persiapan kepulangan mereka.
Mengingat semua kejadian itu membuat senyum Lionara tersungging. Sikap lelaki itu sudah seperti seorang
suami yang sangat mencintai istrinya. Tapi sebenarnya Lionara tahu, Jordan melakukan itu disebabkan rasa bersalahnya atas perseteruan gila antara dia dan sang Ayah yang membuat Lionara berakhir menjadi korban. Jordan menikahinya tanpa cinta. Dan Lionara juga menerima pernikahan itu tanpa cinta. Jordan memerlukannya sebagai alat untuk membalas Ayahnya.
Lionara memejamkan mata lelah, entah sampai kapan dirinya harus berada dalam perang dingin antara
Ayah dan anak itu. Tiba-tiba kesedihan itu kembali menelusup kedalam hatinya. Dia teringat akan Ayah dan ibunya yang telah lama tiada. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya—memberikannya kasih sayang yang begitu besar, jauh berbeda dengan apa yang dialami Jordan. Jordan masih memiliki Ayah kandung, tetapi memikirkannya dengan penuh dendam.
“Udara disini jauh lebih segar dari pada di dalam sana, bukan?”
Teguran itu membuat Lionara yang tengah memejamkan mata, langsung membukanya cepat. maniknya langsung bertatap dengan wajah muda berkacamata yang tampan dan ramah. Lionara mengamati lelaki itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter. Tapi lelaki didepannya ini tampak tidak asing…
“Hai, kita bertemu lagi” lelaki itu tersenyum ramah. “kupikir aku tadi salah mengenali orang, ternyata tidak. Syukurlah” tanpa meminta ijin, lelaki itu langsung duduk di sebelah Lionara
Lionara berdehem pelan, “Anda… lelaki di pesta itu, kan? Nama Anda…” Lionara mencoba mengingat
“Mike Imanuel Jefferson”
“Oh” Lionara manggut-manggut
“Namamu?” kejar Mike “waktu itu kamu sama sekali belum menyebutkan nama,”
“Kupikir Anda sudah tahu setelah keributan itu”
Mike terkekeh, “Tidak terlalu jelas. Suasana disana terlalu riuh. Karna itu aku ingin mendengarnya langsung darimu”
“Lionara Florentine.” Lionara menyahut singkat.
“Nama yang indah,” puji Mike tulus “oh ya, apa yang terjadi dengan kepalamu?” Mike menatap perban yang melingkar di kepala Lionara
“Hanya kecelakaan kecil.” Lionara menyentuh perbannya sekilas “Anda dokter disini?”
“Hanya sementara. Lusa aku sudah di pindah tugas ke Manhattan,”
“Manhattan? Aku juga tinggal disana.”
“Benarkah?” mata Mike berbinar senang
“Ya. Besok kami sudah harus kembali kesana,”
“Kami?” Mike mengernyit “maksudmu kamu dengan—“
“Arghhh…” tiba-tiba saja Lionara meringis—langsung menyentuh kepalanya yang tiba-tiba kembali berdenyut nyeri.
Refleks, Mike dengan sigap langsung mendekat, menyentuh kedua pundak Lionara. Ia menatap Lionara cemas. “Astaga, kamu tidak apa-apa? kepalamu sakit? sebaiknya kita masuk agar aku bisa memeriksamu”
“Aku baik-baik saja—“
“Aku dokter. Aku yang lebih tahu kondisi pasien,” sela Mike karna Lionara berusaha menolak.
Tanpa menunggu balasan gadis itu, Mike segera melingkarkan tangannya di punggung dan belakang lutut Lionara, lalu mengangkat tubuh mungil Lionara ke dalam gendongannya. Tapi baru saja ia berbalik, tiba-tiba suara berat itu langsung menghentikannya.
“Biar aku yang membawa, istriku”
Disana, beberapa langkah dari mereka, Jordan berdiri angkuh dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
To be continued
IG: rianitasitumorangg